
Alma tersenyum.
"Yang benar Tante. Alma boleh panggil Tante Mama?"
"Iya sayang. Boleh."
Alma merentangkan tangannya. Dia ingin sekali memeluk Irene. Irene mendekat ke arah Alma. Setelah itu, dia memeluk Alma dengan erat.
"Mama..."
Irene meneteskan air matanya. Dia terharu, saat ada seorang anak kecil yang mau memanggilnya Mama.
'Kenapa ya, baru kemarin mereka saling kenal. Tapi, kenapa mereka sepertinya udah dekat banget begitu. Apa mungkin, karena mereka memang saling membutuhkan. Irene yang mengharapkan seorang anak. Dan anak aku, yang merindukan kasih sayang Mama.'
Irene melepas pelukannya. Dia kemudian mengusap air matanya.
"Mama..." ucap Alma dengan mata berbinar.
Ehem...
Ifan berdehem.
"Mentang-mentang udah punya mama baru, papa di cuekin," ucap Ifan.
Irene dan Alma menatap lekat ke arah Ifan.
"Nggak apa-apa kan Mas, kalau aku menganggap Alma seperti anak kandung aku sendiri?" tanya Irene.
"Nggak apa-apa. Terusin aja udah pelukannya. Aku nggak mau ganggu kok."
Ifan melangkah pergi.
"Kamu mau ke mana Mas?" tanya Irene.
"Mau ke luar sebentar. Mau beli makan dulu. Kamu belum makan kan?"
Irene menggeleng.
"Ya udah. Kamu tunggu dulu di sini sama Alma. Aku ke luar dulu sebentar."
"Iya Mas."
****
Ting.
Suara notifikasi sudah terdengar dari ponsel Irwan.
Irwan meraih ponselnya dan membaca chat dari istrinya.
(Sayang. Maaf, aku nggak bisa pulang. Mungkin besok aku baru bisa pulang. Aku lagi ada lemburan sayang)
__ADS_1
Irwan menggenggam ponselnya dengan kuat. Setelah itu, dia membanting ponselnya.
'Dasar istri ngga tahu diri. Udah di izinkan kerja, malah ngelunjak. Untuk apa dia nginap di kantor. Untuk apa dia tidak pulang. Kalau saja aku tahu di mana kantor Irene. Udah aku susulin dia sejak tadi. Aku yakin, Irene sekarang pasti sedang bersama lelaki yang mengantarnya pulang waktu itu.'
Irwan merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya. Dia mencoba untuk memejamkan matanya. Tapi, sejak tadi Irwan tidak bisa tidur. Dia akan bisa tidur, kalau di temani istrinya. Tanpa Irene, Irwan tidak akan bisa tidur nyenyak.
Irwan melangkah keluar dari kamarnya. Setelah itu, dia mengambil motornya. Ya, sekarang Irwan sudah tidak punya mobil lagi.
Hanya motor satu-satunya kendaraan yang Irwan punya saat ini. Mobil yang Irwan punya, sudah di sita karena dia tidak bisa membayar cicilan mobilnya.
Jika saja, Irwan dan Irene tidak bisa membayar angsuran rumah mereka, mungkin rumah yang sekarang mereka tempati akan di sita juga.Dan mereka tidak akan punya rumah lagi. Karena rumah dan mobil punya Irene dan Irwan beli dengan sistem kredit.
Setelah Irwan di PHK dari kantornya, dia masih menganggur dan belum mendapat pekerjaan lagi sampai sekarang. Saat ini, Irwan hanya mengandalkan Irene saja untuk menjadi tulang punggungnya.
Sementara, dia sejak sembuh dari sakitnya, masih berleha-leha di rumahnya tanpa melakukan pekerjaan apapun. Dia hanya bisa menuntut Irene untuk menjadi istri yang sempurna seperti apa yang dia inginkan.
Irwan melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Dia akan pergi ke rumah orang tuanya. Dia bingung jika di rumah sendiri tanpa Irene. Irwan merasa hidupnya terlantar semenjak Irene kerja.
Sesampai di depan rumah orang tuanya, Irwan menghentikan laju motornya. Dia turun dari motornya dan melangkah ke arah teras depan rumah orang tuanya.
Tok tok tok ...
Irwan mengetuk pintu rumahnya. Beberapa saat kemudian, Fatma adiknya membuka pintu.
"Eh, Kak Irwan. Kamu udah bisa naik motor Kak?" tanya Fatma yang sejak tadi masih menatap Irwan.
"Mama dan Papa mana?" tanya Irwan pada Fatma.
"Mereka udah tidur Kak. Kakak ke sini sendiri? mana Kak Iren?" tanya Fatma.
"Lho. Kok gitu? kenapa Kak? kakak lagi marahan ya sama Kak Iren?" Fatma mengikuti kakaknya masuk.
Irwan menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.
"Kak. Kakak lagi marahan sama Kak Iren?" tanya Fatma lagi.
"Kamu tahu Irene itu ke mana sekarang?" Irwan menatap tajam ke arah adiknya.
Fatma menggeleng.
"Dia itu tadi chat aku. Katanya dia nggak mau pulang.Dia mau lembur sampai besok," jelas Irwan.
"Apa! sebenarnya Kak Iren itu kerja apa sih Kak? masak karyawan wanita harus lembur sampai pagi. Kecuali, kalau kerja di PT yang ada sistim shiftnya."
"Aku nggak tahu dia kerja apa. Nggak jelas banget. Katanya sih di kantor. Tapi nggak tahu kantor yang mana dan kantor apa. Mana ada kantor yang mempekerjakan karyawannya selama 24 jam."
"Terus kakak sekarang ke sini mau apa?"
"Aku mau tidur di sini lah. Malas di rumah sendiri terus."
Irwan melangkah pergi meninggalkan adiknya dan menuju ke kamar yang biasa dia tempati saat dia main ke rumah orang tuanya.
__ADS_1
Fatma hanya geleng-geleng kepala saat melihat kakaknya.
"Nggak tahu deh, mereka kenapa lagi. Hah, lagian Kak Irwan udah biasa kayak gitu. Posesif banget sama istrinya."
Fatma kemudian melangkah untuk ke kamarnya. Dia tidak begitu ingin mengurusi urusan kakak dan kakak iparnya.
****
Setelah membeli makanan di luar, Ifan kemudian kembali ke ruangan Alma.
Dia kemudian menghempas tubuhnya di atas sofa.
"Lama amat sih Mas ke luarnya. Sampai Alma tidur lagi," ucap Irene menatap Ifan lekat.
"Maaf Ren. Tadi ngantri soalnya."
"Banyak yang beli ya Mas?" tanya Irene.
"Iya. Soalnya ini kan udah malam. Nggak ada yang jualan lagi, kecuali Abang ini. Kalau tadi sore sih masih banyak yang jualan di sekitaran rumah sakit."
"Namanya juga rumah sakit Mas. Kalau mau makanan serba ada dan tinggal pilih itu sih di cafe atau restoran."
Ifan menatap Irene lekat.
"Ren. Kamu udah chat suami kamu? kamu udah izin sama dia kalau malam ini, kamu nggak akan pulang?" tanya Ifan.
"Iya Mas. Aku udah chat Mas Irwan kok."
"Terus, gimana? dia bilang apa?"
"Cuma di read doang. Dia ngga balas Mas."
"Tapi dia nggak apa-apa kan, dia nggak marah kan sama kamu?"
"Sudahlah. Ngga usah ngurusin Mas Irwan. Marah juga udah biasa."
"Udah biasa gimana maksud kamu? aku nggak enak nih, kalau nyuruh kamu nginap di sini jagain Alma. Nanti, kalau kamu kena marah suami kamu gimana?"
"Dia emang udah biasa marah-marah Mas. Mau aku salah, mau aku benar, dia selalu saja marah. Mau pulang cepat, pulang lama, sama aja. Pasti ujung-ujungnya marah."
'Kasihan kamu Ren. Punya suami kasar seperti itu. Andai saja, dulu kita tidak egois dan menuruti ego orang tua kita, kita pasti sudah bahagia Ren.'
"Sabar ya Ren. Kamu mau makan? aku udah beli nasi goreng nih buat kamu."
"Aku memang belum makan Mas, sejak tadi pagi. Dari rumah kan biasanya aku masak dulu untuk sarapan. Karena kamu nyuruh aku berangkat pagi, ya aku nggak sempat masak dan sarapan."
"Maafkan aku ya Ren."
"Ngga apa-apa Mas. Santai ajalah."
Ifan melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Sini Ren. Duduk di sini. Kita makan bareng di sini. Mumpung Alma tidur. Kalau dia bangunkan, nanti dia akan ngerecokin kita makan."
Irene mengangguk. Dia kemudian menurut untuk duduk di samping Ifan.