Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Pertemuan dua keluarga


__ADS_3

"Kamu yakin Fan, dengan keputusan kamu itu?" tanya Bu Atik di dalam perjalanan ke rumah Irene.


"Iya. Aku yakin," jawab Ifan. Dia memang sudah mantap akan menikahi Irene dan akan menjadikan Irene ibu sambung untuk Alma.


Karena menurut Ifan, Alma itu sudah sangat dekat dengan Irene. Dia sudah sayang dengan Irene dan begitu juga sebaliknya. Yang Ifan lihat, Irene juga sudah menganggap Alma anak kandungnya sendiri. Dia sangat sayang sama Alma.


"Kamu nggak akan nyesel kalau nanti kamu menikah lagi dengan Iren?" tanya Bu Atik lagi.


"Nggaklah. Untuk apa aku nyesel. Irene itu kan wanita yang baik Bu," ucap Ifan yang masih ngotot ingin menikahi Irene.


"Sebenarnya ibu itu nggak pernah setuju kamu nikah sama Irene. Ibu masih belum bisa melupakan apa yang sudah orang tua Irene itu lakukan," ucap Bu Atik.


"Ya sudahlah Bu. Itu kan udah masa lalu, untuk apa masih di ungkit-ungkit lagi. Kita itu tidak boleh menyimpan dendam. Lebih baik kita itu saling memaafkan," ucap ayah Ifan.


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan untuk sampai ke rumah Indah, akhirnya mobil Ifan sampai juga di depan rumah Indah.


Ifan memarkirkan mobilnya di depan rumah Indah. Setelah itu, Ifan dan Alma turun dari mobilnya. Begitu juga dengan ke dua orang tua Ifan. Mereka ikut turun dan mengikuti langkah Ifan.


"Ini rumah siapa Fan?" tanya Bu Atik yang baru pernah melihat rumah Indah.


"Ini rumahnya Mbak Indah," jawab Ifan.


"Oh. Sekarang Indah tinggal di sini," ucap ayah Ifan.


"Iya. Dia ikut suaminya di sini," ucap Ifan.


"Kenapa kita tidak ke rumah orang tua Irene Fan?" tanya ayah Ifan.


"Karena Irene tidak tinggal dengan ke dua orang tuanya. Dia sekarang tinggal di rumah Mbak Indah. Menemani Mbak Indah di sini. Karena suami Mbak Indah juga kan nggak pernah di rumah." Ifan menjelaskan.


"Oh gitu." Ayah Ifan manggut-manggut.


Setelah sampai di teras depan rumah, Ifan mengetuk pintu rumah Indah.


Beberapa saat kemudian, Indah membuka pintu rumahnya. Indah tersenyum dan langsung mencium tangan ke dua orang tua Ifan.


"Tante, Om, apa kabar? lama ya, kita nggak ketemu," ucap Indah.


Orang tua Ifan hanya tersenyum.


"Kamu Indah ya. Kamu sudah punya rumah sendiri sekarang?" tanya Bu Atik.


"Iya Tante. Alhamdulillah," jawab Indah


"Mana anak kamu?" tanya Bu Atik lagi.


"Mereka ada di dalam Tan. Ayo masuk Tante, Om!" Indah mempersilahkan ke dua orang tua Ifan masuk ke dalam.


Ifan dan ke dua orang tuanya kemudian masuk ke dalam rumah Indah. Mereka melangkah sampai ke ruang tengah.


Di ruang tengah, sudah tampak ada Bu Nani dan Pak Feri. Mereka tampak masih berbincang-bincang dengan Irene.


"Assalamualaikum," ucap ke dua orang tua Ifan.


Bu Nani dan Pak Feri terkejut saat melihat kedatangan Ifan dan ke dua orang tuanya. Mereka masih sangat mengenali mereka.


"Kalian?" ucap Bu Nani menatap tajam ke arah Pak Trisno dan Bu Atik.


"Apa kabar Bu Nani, Pak Feri. Sudah lama ya, kita tidak berjumpa?" ucap ayah Ifan.


"Irene, apa ini?" ucap Pak Feri yang tampak syok saat melihat kedatangan Ifan dan kedua orang tuanya.


"Ayah, ibu. Ini Mas Ifan dan ke dua orang tuanya. Tamu yang Iren maksudkan itu," ucap Irene.


"Apa! kenapa bisa?" ucap Pak Feri.


"Tante, Om. Kenapa berdiri aja! Silahkan duduk!" Indah mempersilahkan ke dua orang tua Ifan duduk.


"Ayo Fan. Duduk!" ucap Indah lagi.

__ADS_1


Ke dua orang tua Ifan, kemudian duduk berbaur bersama orang tua Irene.


Irene mendekat ke arah Bu Atik dan Pak Trisno. Dia kemudian mencium punggung tangan mereka.


Bu Atik dan Pak Trisno beberapa saat terdiam. Begitu juga dengan Pak Feri dan Bu Nani. Mereka masih tidak menyangka saja kalau mereka akan dipertemukan lagi dengan Ifan dan ke dua orang tuanya. Orang-orang yang pernah mereka hina beberapa waktu lalu.


Ke dua orang tua Ifan dan ke dua orang tua Irene masih diam. Mereka tampak larut dalam fikiran mereka masing-masing.


Indah tersenyum.


"Kenapa kalian pada diam-diaman seperti ini sih?" Indah menatap satu persatu dari mereka.


Irene tersenyum.


'Semoga, ini awal yang baik. Semoga setelah ini, orang tua aku dan orang tua Mas Ifan bisa berbaikan.' batin Irene.


"Oh, Pak Feri, apa kabar Pak. Lama ya, kita nggak bertemu," ucap Pak Trisno membuka percakapan.


Pak Feri masih diam. Sejak tadi dia hanya bisa sesekali menatap ke arah Ifan.


Ifan yang tampak berbeda. Dari segi penampilannya saja juga sudah berbeda. Dia wangi, baju yang dipakainya, juga terkesan beda dari yang lain. Karena baju yang Ifan pakai itu, baju yang harganya mahal.


"Nak Ifan, kamu sekarang sudah berubah," ucap Pak Feri.


Ifan hanya tersenyum.


"Maafkan saya ya Nak, dulu saya sudah pernah jahat sama Nak Ifan," ucap Pak Feri lagi.


"Ibu juga minta maaf ya, sama kamu Nak Ifan. Karena dulu ibu sempat tidak merestui hubungan kamu dengan Irene," ucap Bu Nani.


"Nggak apa-apa Bu, Pak," ucap Ifan.


"Saya benar-benar menyesal. Kenapa dulu saya membiarkan kalian bercerai. Andai dulu saya melarang kalian untuk bercerai, mungkin kalian masih bersama,"ucap Bu Nani lagi.


'Andai sejak dulu aku masih bersama Irene, aku tidak mungkin bisa seperti sekarang. Karena semua yang aku miliki adalah milik Weni yang akan diwariskan ke Alma anak kandungnya. Aku dan Irene itu sebenarnya tidak punya apa-apa.' batin Ifan.


"Syukurlah kalau kalian sudah mau sadar, dengan kesalahan kalian di masa lalu," ucap Bu Atik.


Indah dan Irene kemudian mengajak mereka semua untuk makan malam.


"Sekarang kita ke ruang makan. Ayo, Tante, Om!" ajak Indah pada ke dua orang tua Ifan.


Indah ingin sejenak melupakan masalahnya dengan suaminya.


Pertemuan keluarga kali ini, berjalan dengan lancar tanpa ada percekcokan lagi. Sepertinya ke dua orang tua Ifan dan Irene itu sudah bisa saling memaafkan satu sama lain. Dan mereka sudah mau akur.


Selesai makan malam, mereka semua kembali duduk di ruang keluarga untuk berbincang-bincang. Begitu juga dengan Alma yang sudah ikut-ikutan duduk di samping neneknya.


"Sebenarnya saya mengumpulkan kalian semua di sini, karena ada yang ingin saya bicarakan," ucap Ifan.


Semua orang menatap ke arah Ifan. Termasuk ke dua orang tua Irene.


"Saya ingin meminta doa restu pada kalian semua di sini," ucap Ifan lagi.


"Saya ingin kembali lagi bersama Irene. Saya ingin menikahinya. Saya ingin menjadikan Irene ibu untuk anak saya Alma" lanjut Ifan..


Semua orang saling menatap.


"Ayah, Ibu. Apakah kalian akan merestui aku untuk kembali lagi dengan Mas Ifan?" tanya Irene menatap ke dua orang tuanya.


Bu Nani dan Pak Feri diam. Mereka tampak berfikir. Sebenarnya mereka sangat malu saat bertemu Ifan lagi. Mereka masih mengingat betul kejadian di masa lalu. Mereka sempat memperlakukan Ifan dengan buruk di waktu itu.


"Saya sih, terserah Irene saja. Karena yang akan menjalaninya kan Irene. Sekarang saya sudah tidak mau memaksa-maksa Irene lagi," ucap Pak Feri.


"Saya juga. Yang terpenting bagi saya, adalah kebahagiaan Irene sekarang. Kalau Irene bahagia, saya pun akan ikut bahagia."


Ifan menatap ke arah orang tuanya.


"Bagaimana Pak, Bu. Apakah kalian memberikan aku restu. Jika aku menikah lagi dengan Irene?" Ifan menatap orang tuanya.

__ADS_1


"Bapak sudah merestui kamu Ifan. Karena bapak tahu, Irene itu wanita yang baik. Bapak juga melihat, kalau Irene itu sayang sekali dengan Alma cucu bapak," ucap ayah Ifan.


Bu Atik sejak tadi masih diam. Rasanya Bu Atik masih berat dengan keputusan Ifan. Dia sedikit kecewa karena dari semua wanita yang dia pilihkan untuk Ifan, tidak ada satupun yang berjodoh dengan Ifan.


"Ya, saya juga terserah Ifan aja," ucap Bu Atik pada akhirnya. Dia juga tidak mau egois dengan memilihkan jodoh untuk Ifan.


'Aku fikir, pertemuan orang tuaku dan orang tuanya Mas Ifan, akan terjadi percekcokan. Tapi ternyata , Alhamdulillah. Semua merestui aku kembali dengan Mas Ifan.' batin Irene.


Setelah perbincangan di ruang tengah selesai, Bu Nani dan Pak Feri memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Ya udah. Udah malam Iren. Bapak dan ibu pulang dulu ya," ucap Pak Feri.


"Mau saya antar Pak, Bu?" tanya Ifan.


"Tidak usah Nak Ifan. Bapak bawa motor kok," ucap Pak Feri.


Setelah Pak Feri dan Bu Nani berpamitan dengan semuanya. Mereka kemudian pergi meninggalkan rumah Indah.


"Mama..! Mama...! Arjun nangis Mama...!" seruan Bobi dari dalam kamarnya.


"Duh, kenapa lagi sih mereka" gumam Indah.


Indah menatap ke arah orang tua Ifan.


"Om, Tante, aku tinggal dulu ya. Anak aku nangis."


"Kenapa anak kamu?" tanya Bu Atik


"Biasa lah. Paling berebut mainan," jawab Indah.


Indah kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah ke kamar anak-anaknya.


Sekarang hanya ada Irene, Ifan, Alma, Bu Atik dan Pak Trisno yang ada di ruang tengah. Mereka sejak tadi masih bercakap-cakap membahas acara pertunangan Ifan ke depannya.


"Kalau sekarang sih, saya tidak terlalu mengatur Ifan, Nak Iren. Karena kamu tahu sendiri kan, kalau sekarang Ifan itu seperti apa? dia sudah dewasa, mandiri, dan dia bisa mengatur urusannya sendiri. Karena dia sekarang seorang pengusaha. Dan saya yang menjadi orangtuanya, sebenarnya merasa minder juga."


Irene tersenyum.


"Lho. Kok minder Pak? kan Mas Ifan anak bapak. Bukan orang lain," ucap Irene.


"Iya. Tapi ya minder aja. Terlebih kalau Ifan mengajak bapak ketemu sama teman-temannya, termasuk rekan-rekan bisnisnya. Bapak malu," ucap Pak Trisno lagu.


"Bapak ini, ada-ada saja," ucap Ifan terkekeh.


"Irene. Udah malam Iren. Alma juga udah tidur, lihat deh," ucap Bu Atik sembari menunjukan Alma ke Ifan dan Irene.


Kepala Alma masih tampak ada di pangkuan Bu Atik. Dia ternyata sudah terlelap.


Ifan dan Irene tersenyum saat melihat Alma.


"Kita pulang sekarang ya Ifan. Kasihan Alma."


"Kalau Mas Ifan ngebolehin Alma tidur di sini, ya nggak apa-apa tidur di sini aja bareng aku Almanya," ucap Irene.


"Sayang. Alma nggak bawa baju ganti. Kapan-kapan aja ya nginep di sininya," ucap Ifan.


"Oh. Ya udah deh. Kalau kalian mau pulang sekarang."


Setelah berpamitan pada Irene, Ifan dan keluarganya kemudian melangkah ke depan. Sementara Irene mengikuti di belakang mengantar mereka sampai depan.


"Mas Ifan, bapak, ibu. Hati-hati ya di jalan" ucap Irene.


"Iya Iren,"ucap Bu Atik yang masih menggendong Alma.


Mereka semua masuk ke dalam mobil.


Irene melambaikan tangannya sampai mobil Ifan menghilang dari hadapannya.


Irene kemudian masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintunya. Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya dan duduk di sisi ranjangnya.

__ADS_1


"Nggak nyangka, kalau aku akan berjodoh lagi dengan Mas Ifan. Dan orang tua kami juga setuju semua aku kembali lagi sama Mas Ifan," ucap Irene.


__ADS_2