Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Surat cerai


__ADS_3

Ring ring ring..


Suara ponsel Irene tiba-tiba saja terdengar. Irene mengerjapkan matanya dan meraba ke sampingnya tidur untuk mencari ponselnya.


Irene kemudian mengangkat telpon dari Ifan.


"Halo..."


"Halo Ren. Kamu udah tidur?"


"Baru aja Mas aku mau tidur."


"Maaf ya ganggu."


"Nggak apa-apa Mas. Kamu dari mana aja sih Mas. Kamu udah membuat aku cemas. Tadi sore, aku telpon kamu. Dan kamu tiba-tiba saja mematikan saluran telpon kamu. Apa yang sebenarnya terjadi? aku mendengar ada seorang anak kecil yang tenggelam. Anak siapa itu Mas? apakah itu Alma?"


"Iya Ren. Alma baru aja tenggelam."


"Terus, bagaimana keadaan dia sekarang Mas?"


"Alma baik-baik aja. Dia sekarang sudah istirahat. Tadi dia tidur dan sekarang dia bangun. Katanya dia kangen sama kamu."


"Oh iya? sekarang dia ada di mana Mas?"


"Ini. Alma ada di dekat Aku Ren."


"Sini Mas, berikan telponnya pada Alma."


"Iya Ren."


Ifan kemudian memberikan telponnya pada Alma. Dia kemudian memberikan kesempatan untuk Iren dan Alma mengobrol.


"Tante. Aku kangen."


"Iya Al. Tante juga kangen sama kamu."


"Mama, kapan Mama ke rumah Alma?"


"Besok ya sayang. Besok Mama akan ke situ."


"Iya Mama. Aku senang banget deh kalau mama mau datang ke rumah Alma terus. Alma juga ingin Mama tinggal di sini."


"Alma, nggak bisa dong. Kan Mama udah punya rumah sendiri."


"Kalau gitu, Alma pengin main ke rumah Mama."


"Iya. Kapan-kapan ya Al."


*****


Pagi ini, Irene sudah siap untuk ke rumah Ifan. Dia kemudian buru-buru melangkah ke depan. Irene terkejut saat melihat ada sebuah amplop yang ada di depannya berdiri.


"Apa ini." Irene memungut amplop yang sepertinya berisi surat.


Irene kemudian membuka amplop itu dan membaca surat yang ada di dalamnya.


Tiba-tiba saja, Irene meneteskan air matanya. Dia terkejut saat melihat apa isinya. Ternyata isinya adalah surat cerai dari Irwan suaminya.


"Surat cerai," ucap Irene.


Irene meremas surat itu dan membuangnya.

__ADS_1


"Jahat sekali kamu Mas. Kenapa kamu harus menceraikan aku," ucap Irene.


Irene menangis. Dia kemudian duduk di teras depan rumahnya.


"Lho Ren. Kamu kok masih ada di sini? kenapa kamu belum berangkat?" tanya Mbak Indah.


Irene menatap Mbak Indah.


"Lho. Kamu kok nangis?"Mbak Indah terkejut.


"Mas Irwan Mbak. Mas Irwan benar-benar mau menceraikan aku. Dia sudah mengajukan gugatannya ke pengadilan."Irene menuturkan.


"Apa! yang benar kamu Ren?"


Irene mengangguk."Iya benar Mbak."


Mbak Indah menatap ke arah surat yang sudah diremas Irene. Mbak Indah kemudian melangkah untuk mengambil surat itu.


Mbak Indah terkejut saat melihat surat itu.


"Ya ampun, ternyata benar ini surat cerai dari suami kamu," ucap Mbak Indah.


Irene mengangguk. "Iya Mbak."


Mbak Indah mendekat ke arah adiknya. Dia kemudian duduk di sisi adiknya.


Mbak Indah menatap Irene lekat.


"Jangan nangis Ren! nggak pantas kamu menangisi lelaki itu. Nggak pantas dia ditangisi Ren," ucap Mbak Indah.


"Mbak. Apakah jodoh aku dan Mas Irwan hanya sampai di sini?" Irene menatap Mbak Indah lekat.


"Ren. Mungkin Irwan itu bukan lelaki yang terbaik untuk kamu. Kamu sabar ya Ren. Mungkin kamu itu belum berjodoh dengan Irwan. Mbak yakin, Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang baik untuk kamu Ren. Percayalah."


Irene mengangguk.


"Iya Ren. Hati-hati di jalan ya."


Irene kemudian mencium punggung tangan Mbak Indah sebelum dia pergi. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan rumah untuk menunju ke rumah Alma.


Sudah dua hari Irene tidak ke rumah Alma karena sakit. Sejak kemarin Irene sakit kepala dan mual. Mungkin dia masuk angin. Dan setelah minum obat dan periksa ke dokter, keadaan Irene berangsur pulih dan membaik. Dan hari ini, dia bisa kerja kembali ke rumah Ifan.


***


Sepulang sekolah, Alma tidak langsung pulang ke rumahnya. Namun, Ifan membawa Alma dan Irene ke kantornya.


Sesampai di depan parkiran kantor, Ifan mengajak Irene dan Alma turun.


"Ayo turun. Kita masuk ke dalam!" ajak Ifan.


"Iya Papa," ucap Alma.


Ifan kemudian mengajak Irene dan Alma masuk ke dalam kantornya.


"Mas, ini ruangan kamu?"tanya Iren.


"Iya Ren."


"Mas, ruangan kamu besar ya."


"Iya. Duduk Ren!"pinta Ifan.

__ADS_1


"Iya Mas."


Irene kemudian duduk. Begitu juga dengan Alma yang mengikuti Irene duduk di sisinya.


Siang ini, Irene masih menemani Ifan di kantor. Sejak tadi Irene masih bersama Alma. Dia masih bercanda-canda ria dengan Alma.


Entah kenapa setiap kali Irene bertemu dengan Alma, hatinya sangat bahagia. Dia merasa semua beban yang ada di dalam hidupnya menjadi berkurang.


"Tante. Aku pengin main ke rumah Tante deh,"ucap Alma.


"Alma mau main ke rumah Tante?" tanya Irene.


"Iya Tan."


"Kapan-kapan ya Al. Nanti Tante ajak main."


"Iya Tan."


Irene belum menceritakan apapun pada Ifan tentang semua masalahnya dengan suaminya. Menurutnya, tidak perlu juga Irene menceritakan semuanya sama Ifan.


"Ren. Aku butuh penjelasan kamu Ren," ucap Ifan tiba-tiba.


Irene menatap Ifan lekat.


"Penjelasan apa Mas?" tanya Irene.


"Kemarin aku ke rumah kamu. Dan kata suami kamu, kamu sudah tidak tinggal di sana lagi. Dan kata dia, dia sudah mengusir kamu dari rumah. Apa semua itu benar?" tanya Ifan


Deg.


Irene terkejut saat mendengar ucapan Ifan.


"Siapa yang bilang begitu Mas?" tanya Irene menatap Ifan lekat.


"Suami kamu yang bilang langsung sama aku."


"Apa saja yang dia katakan?"


"Banyak yang dia katakan Ren. Dia mengatakan kalau dia sudah tidak membutuhkan kamu lagi. Dia akan menceraikan kamu."


Irene tiba-tiba saja menangis. Sebenarnya Irene tidak mau menangis di depan Ifan. Dia tidak mau terlihat lemah di depan mantan suaminya.


Namun, Irene tidak bisa untuk menahannya lagi. Sudah terlalu sakit hatinya. Irene hanya bisa menangis dan menangis.


Alma terkejut saat melihat Irene menangis.


"Tante Iren. Tante Iren kenapa nangis?" tanya Alma.


"Tante Iren nggak apa-apa Al. Tante Iren cuma lagi sedih aja," jawab Irene.


Alma membuka tasnya. Dia kemudian merogoh tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Ini Tan. Ada cokelat. Kata papa, coklat ini bisa menghilangkan kesedihan Tante. Coba deh di makan."


Irene mencoba untuk menenangkan dirinya. Dia kemudian menatap Ifan.


"Terima aja Ren. Alma masih punya banyak cokelat kok."


Irene tersenyum.


"Makasih banyak ya sayang."

__ADS_1


"Sekarang. Alma minta Tante senyum. Karena Alma nggak suka melihat Tante menangis."


"Iya sayang. Tante nggak akan nangis lagi. Tante akan senyum terus."


__ADS_2