
Pagi ini, Pak Feri masih mondar-mandir di kamarnya. Sementara istrinya masih berbaring di atas ranjangnya. Bu Nani, tampak masih sakit. Sejak kemarin, dia batuk-batuk dan belum sempat Pak Feri periksa ke dokter, karena Pak Feri tidak punya uang, untuk memeriksa istrinya ke dokter.Dia masih harus mengandalkan uang dari anak-anaknya seperti Irene.
"Ke mana sih ini anak. Dihubungi, kenapa dari kemarin-kemarin nggak bisa-bisa,"gerutu Pak Feri.
"Ada apa sih Yah? kenapa dari tadi ayah mondar-mandir aja?" tanya Bu Nani dengan nada lemah.
"Ayah cuma lagi menghubungi Iren Bu. Dari kemarin, ponsel Irene nggak bisa dihubungi. Ke mana ya tuh anak. Padahal ayah itu lagi butuh uang banget sekarang," ucap Pak Feri.
"Emang, uang kita yang kemarin ke mana Yah?" tanya Bu Nani.
"Udah habis lah Bu. Untuk kebutuhan hidup kita," jawab Pak Feri.
"Makanya. Ayah kalau kerja yang benar dong Yah. Walau kita itu sudah tidak punya anak sekolah, tapi kita juga harus tetap berhemat. Kita tidak boleh boros terus dan mengandalkan uang dari anak-anak," ucap Bu Nani memberikan nasihat pada suaminya agar berhenti menjadi orang yang boros.
"Ayah juga sudah kerja maksimal Bu. Tapi, udah dasarnya Tuhan ngasih kita rezeki segitu," ucap Pak Feri.
Pak Feri sekali lagi menghubungi Irene. Namun, Irene susah sekali untuk dihubungi. Mungkin, itu semua karena Irene ingin menjauh dari ke dua orang tuanya. Dia tidak ingin ayahnya tahu dulu, kalau dia dan Irwan sudah bercerai.
Yah, kemarin adalah sidang perceraian Irwan dan Irene yang terakhir. Dan sekarang, mereka sudah resmi bercerai. Namun, sampai dengan perceraiannya dengan Irwan, Irene belum memberi tahu kepada ke dua orang tuanya.
"Aku harus temui Iren sekarang," ucap Pak Feri.
"Mau ke mana Yah?" tanya Bu Nani.
"Aku mau ke rumah Irwan. Aku mau bertemu Iren."
"Jangan pinjam uang lagi lah yah, sama Iren. Kasihan dia kalau harus di pinjamin uang terus," ucap Bu Nani.
"Nggak apa-apa Bu. Kita sekarang lagi membutuhkan. Cuma Iren yang bisa membantu kita. Karena Irene juga sekarang kerja kan?"
Pak Feri memang tidak bisa di nasihati. Setiap istrinya menasihati, dia selalu saja membantah.
Pak Feri melangkah pergi meninggalkan rumahnya. Dia akan pergi ke rumah Irwan untuk menemui Irene.
Pak Feri menunggu taksi di pinggir jalan. Setelah taksi berhenti tepat di depannya berdiri, Pak Feri pun masuk ke dalam taksi.
Dia kemudian meluncur pergi meninggalkan rumahnya untuk menuju ke rumah Irwan dengan taksi.
Beberapa saat kemudian, taksi Pak Feri sampai di depan rumah Irwan. Pak Feri terkejut saat melihat ada ramai-ramai di dalam rumah Irwan.
"Ada apa ini. Ramai banget di rumah Irene. Seperti ada pesta di dalam," ucap Pak Feri sembari menatap ke sekeliling rumah Irwan.
__ADS_1
Pak Feri yang sejak tadi masih di selimuti rasa penasaran, segera melangkah masuk ke dalam rumah Irwan. Dia terkejut saat melihat Irwan sedang melakukan ijab kabul dengan seorang wanita di dalam.
"Saya terima nikahnya, Ajeng Kartika Sari Binti..."
"Tunggu ...!" ucap Pak Feri.
Beberapa orang yang ada di dalam rumah Irwan menoleh ke arah Pak Feri dan menatap tajam Pak Feri. Mereka semua terkejut saat melihat kedatangan Pak Feri. Begitu juga dengan Irwan sang mempelai lelaki.
"Mas, siapa itu Mas," bisik Ajeng.
"Tunggu di sini! aku akan temui dia dulu," ucap Irwan.
Ajeng mengangguk.
Irwan kemudian melangkah pergi meninggalkan Ajeng untuk menemui Pak Feri.
"Ayah," ucap Irwan.
"Sini kamu...! apa-apaan kamu ini hah...! kamu mau nikah lagi? dan ke mana anak saya?" Pak Feri tidak mendapati anaknya ada di dalam. Pak Feri kemudian menyeret Irwan ke luar.
"Mana Irene? dan kenapa bisa kamu mau nikah lagi dengan wanita itu?" tanya Pak Feri bingung.
"Aku sudah menceraikan Irene ayah. Dan Irene sekarang tidak tinggal di sini lagi," jelas Irwan.
"Cuma satu alasan aku Ayah. Karena Irene tidak bisa memberikan aku keturunan," ucap Irwan.
"Ya ampun Irwan. Terus sekarang ke mana Irene anak aku?" tanya Pak Feri khawatir.
"Dia sudah pergi dari rumah ini. Dan dia sudah tidak tinggal di sini lagi," kawan Irwan.
"Apa! kamu benar-benar jahat Irwan. Kenapa sih, kamu tega sama Irene. Sekarang dia tinggal di mana Irwan?"
"Aku juga nggak tahu di mana Iren. Mungkin saja kan dia tinggal di rumah kakaknya."
Pak Feri hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakukan Irwan. Dia tidak menyangka dengan apa yang sudah Irwan lakukan pada Irene.
Pak Feri sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah Irwan dan kembali masuk ke dalam taksi untuk mencari keberadaan Irene.
Setelah Pak Feri pergi, Irwan melangkah masuk ke dalam rumahnya untuk melakukan acara ijab kabulnya kembali bersama Ajeng.
"Bagaimana. Apakah Nak Irwan sudah siap?" tanya pak penghulu.
__ADS_1
"Maaf. Tadi ada kerusuhan sedikit. Saya sekarang sudah Pak," ucap Irwan.
"Baiklah. Kita mulai sekarang."
Irwan kemudian mengucapkan ijab kabulnya dengan sempurna di depan penghulu.
"Bagaimana saksi? sah?" tanya penghulu menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu dan juga pada dua orang saksi.
"Sah...!"
"Alhamdulillah."
Setelah pernikahan itu sah, Irwan kemudian menyematkan cincin kawinnya di tangan istri barunya. Setelah itu, dia mencium kening istri barunya.
Ajeng menatap Irwan lekat. Dia kemudian mencium punggung tangan Irwan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
Dio anak lelaki yang masih berada di sisi Ajeng, mendekat. Dia kemudian ikut mencium tangan Irwan.
"Papa," ucap Dio.
Irwan kemudian mencium kening Dio. Dia benar-benar bahagia karena dia sudah berhasil menikahi janda sebelah rumahnya.
****
Di sisi lain, Pak Feri sudah sampai di depan rumah Indah anaknya. Dia turun dari taksi dan melangkah ke teras depan rumah Indah.
Sesampai di depan rumah Indah, Pak Feri kemudian mengetuk pintu rumah Indah.
Beberapa saat kemudian, Indah pun ke luar dari rumahnya.
Dia tersenyum saat melihat ayahnya.
"Ayah," ucap Indah.
"Indah. Mana Iren? apa kamu melihat Iren?" tanya Pak Feri menatap Indah penuh selidik.
"Ada apa ayah mencari Iren?"
"Ayah lagi butuh uang untuk memeriksa ibu kamu ke dokter."
"Ibu sakit?" tanya Indah. Dia tampak tidak percaya dengan perkataan ayahnya.
__ADS_1
Karena selama ini, Pak Feri sering sekali berbohong. Dia sering pura-pura sakit dan meminta uang pada Indah untuk berobat. Membuat Indah tidak percaya lagi dengan ucapan ayahnya.