Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Tangisan Alma.


__ADS_3

Setelah makan malam selesai, Ifan mengantarkan Irene untuk pulang ke rumahnya.


Sesampai di depan rumah Mbak Indah, Ifan menghentikan laju mobilnya.


Irene menatap Ifan lekat.


"Makasih Mas, untuk makan malamnya. Dan makasih banget untuk cincinnya. Jujur aku bahagia banget malam ini Mas," ucap Ifan.


Ifan meraih tangan Irene.


"Sayang, kamu itu tidak pantas untuk di sakiti. Kamu itu seperti berlian. Irwan pasti akan menyesal telah menceraikan kamu dan memilih wanita lain. Seandainya Irwan sudah membuang kamu, maka aku akan memungut kamu lagi. Aku tidak perduli masa lalu kamu dengan Irwan seperti apa. Yang penting, sekarang aku sudah memiliki kamu lagi," ucap Ifan.


Irene tersenyum. Dia tampak gugup saat melihat Ifan menatapnya lekat.


"Mas, aku turun dulu ya."


"Iya sayang."


Irene kemudian turun dari mobil Ifan. Begitu juga dengan Ifan yang ikut turun dari mobilnya. Ifan kemudian mendekat ke arah Irene.


Ifan memang masih sama seperti dulu. Dia lelaki yang sangat perhatian pada Irene. Dia lelaki yang selalu menjadikan Irene ratu di dalam hatinya.


Sampai saat ini, belum ada wanita yang bisa menggantikan posisi Irene di hati Ifan. Termasuk Weni ibunya Alma. Karena Ifan dan Weni menikah juga tanpa cinta. Dulu hanya Weni yang mencintai Ifan. Sementara Ifan belum bisa untuk move on dari Irene sampai saat ini.


"Ren, selamat malam. Sampai jumpa besok ya. Aku pulang dulu," ucap Ifan sembari menyibak rambut Irene ke belakang telinga.


"Iya Mas. Hati-hati di jalan ya," ucap Irene.


Tanpa permisi, Ifan sudah mencium kening Irene sangat lama. Ifan kemudian melepaskan bibirnya. Dia menatap lekat Irene.


"Sebenarnya aku masih kangen sama kamu Ren. Aku masih pengin bareng kamu terus," ucap Ifan sebelum dia pergi.


"Mas. Setiap hari kan kita udah bareng," ucap Irene.


"Iya sih. Tapi kan kita ketemu juga cuma sebentar."


"Mas, ya sabar dong. Nanti kalau kita udah halal, kita juga akan bareng terus setiap malam."


"Aku benar-benar udah nggak sabar sayang."


Sejak tadi, Indah masih mengintip dari jendela, kemesraan Irene dan Ifan.


"Mesra banget sih mereka. Seperti muda-mudi yang baru kasmaran aja. Kapan Mas Teguh bisa seromantis ini sama aku. Hubungan aku dengannya aja, sudah sangat renggang sekarang, gara-gara LDR an," ucap Irene.


Beberapa saat kemudian, ketukan pintu terdengar. Indah segera melangkah untuk membuka pintu rumahnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Iren.


"Wa'alakiumsalam," jawab Indah.

__ADS_1


Indah menatap adiknya lekat.


"Kenapa Mbak?" tanya Irene.


"Bau-baunya, ada yang lagi kasmaran nih. Cie...wajah kamu kelihatan happy banget gitu, Setelah dicerai Irwan, jadi tambah bahagia aja," ledek Mbak Indah.


Irene tersenyum.


"Apaan sih Mbak."


Indah menatap ke jari manis Irene.


"Wah, kamu dapat cincin bagus dari mana? apakah Ifan yang sudah memberikannya untuk kamu?" Indah meraih tangan Irene.


"Iya Mbak."


"Kapan ya, Mas Teguh mau memberikan cincin seperti ini untuk aku. Sejak kamu ada di sini, dia jadi nggak pernah pulang. Alasannya, kerjaannya diperpanjang melulu. Padahal kata dia, dia mau pergi cuma satu bulan. Dan ini udah mau empat bulan lho Ren," ucap Indah.


Dia tampak sedih. Karena suaminya belum pernah pulang sejak kepergiannya tiga bulan yang lalu.


"Sabar Mbak. LDR an itu memang berat. Seandainya aku jadi Mbak, aku juga nggak mungkin sanggup untuk hidup jauh dari suami."


Irene menutup pintu depan. Dia dan Indah kemudian melangkah masuk ke dalam rumahnya. Mereka kemudian duduk di ruang tengah.


"Kamu dari mana aja sih sama Ifan?" tanya Mbak Indah yang sudah mulai kepo.


"Eh, katanya kamu mau ngajak anaknya Ifan main ke sini? kapan?" tanya Indah.


"Mas Ifannya masih sibuk. Nanti mungkin Mbak. Alma juga lagi ada tes di sekolahnya. Sebentar lagi, Alma kan mau masuk SD. Jadi lagi repot banget ikut banyak les."


"Oh. Gitu." Mbak Indah manggut-manggut.


"Terus, gimana kabar mantan mertua kamu itu? apakah dia masih mau menjodoh-jodohkan Ifan dengan wanita lain?" tanya Mbak Indah lagi.


Irene menggeleng.


"Udah nggak Mbak. Ibu kayaknya udah nyerah deh Mbak. Dia cuma diam aja, sekarang melihat aku ada di rumah Mas Ifan. Biasanya dia ngomel mulu. Persis banget kayak ibu kita Mbak."


"Yah, namanya orang tua. Aku juga gitu sama anak aku. Bawel. Karena kalau wanita nggak bawel, anak-anak nggak ada yang mau nurut."


"Iya ya. He...he... pengin deh Mbak. Aku punya anak."


"Semoga saja, setelah kamu nikah sama Ifan, kamu akan cepat punya anak."


"Amin. Ya udah Mbak. Aku mau ke kamar dulu ya."


"Iya Ren."


****

__ADS_1


Sesampai di depan rumahnya, Ifan kemudian turun dan melangkah ke teras depan rumah.


Huhuhuhu...


Suara tangisan Alma sudah terdengar dari dalam rumah. Ifan buru-buru membuka pintu depan dan melangkah untuk menghampiri anaknya.


"Sabar ya Non. Sebentar lagi juga nanti ayah kamu pulang," Mbok Inah tampak masih mencoba untuk menenangkan Alma.


"Mbok. Kenapa dengan Alma?" tanya Ifan.


"Gara-gara neneknya pergi, dia jadi nangis Pak Ifan. Katanya Papa lama sekali pulangnya. Dan katanya dia nggak punya teman."


Alma menatap Ifan tajam.


"Kenapa papa nggak ajak Alma makan malam sama Mama?" tanya Alma.


"Alma kan pengin ikut. Kenapa Alma harus di tinggal sendiri di rumah sama nenek."


Ifan tersenyum dan mendekat ke arah Alma.


"Alma. Kenapa kamu harus nangis sih? kan Alma ada si Mbok. Nenek pulang ya biarin aja. Untuk apa di tangisi."


Mbok Inah menatap Ifan.


"Pak Ifan. Kenapa Mbak Iren nggak di ajak tinggal di sini aja sih?"


Ifan tersenyum.


Andai saja, Ifan dan Irene tidak punya hubungan spesial, mungkin Ifan sudah mengajak Irene tinggal di rumahnya.


Tapi, Ifan tidak berani membawa Irene untuk tinggal bersamanya karena sekarang mereka sudah menjalin hubungan cinta lagi. Bagaimana seandainya Ifan sampai khilaf pada Irene.


"Bukan muhrim Mbok. Nanti aja, kalau udah aku halalin," ucap Ifan.


Mbok Inah tersenyum. Dia tahu, bagaimana hubungan Ifan dengan Irene. Dan Mbok Inah juga sudah tahu kalau Ifan dan Irene itu mantan suami istri.


"Yah, semoga Pak Ifan dan Mbak Iren berjodoh ya Pak. Dan kalian bisa dipersatukan lagi."


"Amin."


Ifan masih mencoba menenangkan tangisan Alma. dia kemudian menggendong Alma.


"Sudah, jangan nangis. Papa kan sekarang udah pulang. Papa janji, nanti papa akan ajak Alma sama Mama Iren ya jalan-jalan." Ifan mengusap air mata anaknya.


"Benar ya Pa?" Alma yang saat ini masih berada di dalam gendongan ayahnya, menatap lekat ke arah ayahnya.


"Iya sayang."


Ifan kemudian melangkah membawa Alma masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2