
Malam ini, Bu Atik sudah sampai di teras depan rumah Ifan. Kedatangan Bu Atik malam ini, tidak sendiri. Tapi dia bersama Widi. Wanita yang akan dia jodohkan dengan Ifan anaknya.
"Tan. Sepertinya rumahnya sepi ya," ucap Widi.
"Ifan ada di dalam kok. Dia cuma tinggal sama anaknya saja di sini," jelas Bu Atik.
"Di rumah semewah ini, Mas Ifan tinggal sama anaknya aja? pasti ada pembantu lah Tan."
"Iya, ada satu. Mbok Inah namanya. Dan kalau satunya, dia pengasuh Alma. Namanya Intan. Tapi nggak tahu, dia masih kerja di sini atau nggak."
Bu Atik mengetuk pintu rumah Ifan. Beberapa saat kemudian, Mbok Inah datang dan membukanya.
"Eh, ada Ibu. Mau cari Pak Ifan ya?" tanya Mbok Inah.
Bu Atik tersenyum.
"Iya. Ifan ada di dalam kan?" tanya Bu Atik.
"Pak Ifannya belum pulang Bu. Mungkin dia ke rumah sakit," jelas Mbok Inah.
Bu Atik mengernyitkan alisnya bingung.
"Siapa emang yang sakit?" tanya Bu Atik.
"Non Alma," jawab Mbok Inah.
"Apa! Alma sakit? kenapa Ifan nggak ngasih tahu aku ya kalau Alma sakit? sudah sejak kapan dia sakit?" tanya Bu Atik lagi.
"Sudah sejak kemarin Bu."
"Kenapa Mbok Inah nggak ngabarin saya kalau Alma sakit."
"Maaf Bu. Saya kelupaan. Soalnya, kerjaan saya banyak. Saya juga, bolak-balik ke rumah sakit nungguin Non Alma juga."
Bu Atik menatap Widi.
"Cucu saya lagi ada di rumah sakit sekarang Wid. Kita ke rumah sakit aja ya Wid."
"Iya Tan."
"Ya udah. Saya mau ke rumah sakit Mbok. Jaga rumah ya Mbok. Sebelum Ifan pulang, kunciin semua pintu. Takut ada maling." Pesan Bu Atik sebelum pergi.
"Iya Bu."
Bu Atik kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah Ifan. Dia dan Widi akan ke rumah sakit untuk melihat kondisi Alma.
__ADS_1
Widi sejak tadi masih diam. Entah apa yang dia fikirkan sekarang. Mungkin dia kefikiran kejadian kemarin saat Ifan menolak mentah-mentah untuk dijodohkan dengannya.
Tapi Bu Atik memaksa sekali agar Widi dan Ifan bisa menikah. Bu Atik dan suaminya juga sudah mengatur rencana untuk mempercepat pernikahan Ifan dan Widi.
"Tan. Lebih baik, batalkan aja deh, rencana perjodohan aku dan Mas Ifan," ucap Widi tiba-tiba yang membuat Bu Atik terkejut.
"Lho. Kenapa emang?" Bu Atik menatap lekat Widi yang duduk di sisinya.
"Sepertinya Mas Ifan nggak suka sama aku Tan. Kemarin aja dia nolak untuk dijodohkan dengan aku."
"Jangan bicara seperti itu Wid. Ifan itu anak baik. Kalau kamu sudah menikah dengan dia, Tante yakin kamu pasti akan bahagia."
"Tapi kan, kita tidak saling cinta Tan. Dan kita juga belum saling kenal."
"Semua itu butuh proses Wid. Cinta itu bisa datang kalau kalian sudah menikah. Kalau kalian mau membuka hati kalian masing-masing."
"Nah, Tante kan tahu kalau semua butuh proses. Makanya, aku nggak mau cepat-cepat nikah dengan Mas Ifan. Aku dan Mas Ifan aja belum saling kenal. Dan aku juga butuh restu dari Alma juga Tan. Apa Alma mau menerima aku sebagai ibunya?"
"Ya udah kalau kamu mau saling kenal dulu dengan Ifan. Nggak apa-apa. Kamu dekatin dulu Alma. Biar dia mau menerima kamu sebagai ibunya."
Beberapa saat kemudian, taksi yang ditumpangi Bu Atik dan Widi sudah sampai di depan rumah sakit. Mereka turun dari taksi dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
Sebelum ke ruangan Alma, Bu Atik melangkah ke arah resepsionis.
"Tunggu sebentar Bu."
Suster menatap Bu Atik.
"Dia ada kamar rawat nomer 19 Bu. Ibu bisa lurus saja ke depan, lalu nanti belok kiri. Di situ Bu, tempat Alma."
"Makasih ya Sus."
Bu Atik dan Widi melangkah ke ruangan Alma. Bu Atik buru-buru masuk ke dalam ruangan itu.
"Mama, Papa kenapa belum datang ya?" tanya Alma pada Irene.
"Tunggu sebentar sayang. Sebentar lagi, pasti ayah kamu sampai kok."
Bu Atik terkejut saat melihat wanita yang di panggil Mama oleh Alma.
"Heh, siapa kamu? beraninya kamu dekatin cucuku?" Bu Atik tampak emosi dengan wanita yang ada di dekat Alma.
Irene menoleh ke arah Bu Atik. Irene membelalakkan matanya saat melihat Bu Atik mantan mertuanya.
"Kamu, kamu bukannya Irene? kenapa kamu bisa ada di sini? dan kenapa cucu saya bisa panggil kamu Mama heh...!"
__ADS_1
Irene bangkit berdiri. Dia benar-benar merasa tidak enak pada Bu Atik.
"Saya...!"
Plak.
Bu Atik tiba-tiba saja menampar Irene dengan keras. Membuat pipi Irene memerah. Sementara Widi, yang tidak tahu menahu dengan masalah Bu Atik dengan Irene, hanya bisa melongo menatap kejadian itu. Sementara Alma menangis.
"Nenek. Kenapa nenek tampar Mama aku?"
Bu Atik menatap tajam ke arah Alma
"Mama, kamu bilang? dia itu bukan mama kamu Alma. Sadar Alma. Mama kamu itu sudah meninggal. Dia itu orang jahat."
"Nggak. Tante Iren orang baik. Diq nggak jahat."
Bu Atik mendorong tubuh Irene.
"Apa yang sudah kamu lakukan Irene. Kamu sudah meracuni fikiran anak dan cucu saya. Apa selama ini kamu yang sudah membuat Ifan selalu membantah dengan saya heh...!"
"Maaf Bu. Saya tidak pernah meracuni fikiran anak ibu. Apalagi Alma."
"Apa mau kamu sebenarnya. Setelah anak saya kaya raya, kamu sekarang kembali. Dan kamu mau menggantikan Weni jadi mamanya Alma? jangan mimpi kamu Irene...!"
"Kamu tahu, apa yang sudah orang tua kamu lakukan terhadap anak saya dulu. Apa kamu lupa itu heh...!"
Irene tidak bisa menjawab apapun . Dia hanya bisa menundukan kepalanya dan menangis.
"Sekarang kamu ke luar dari sini...! kamu pergi dari sini, dan jangan pernah muncul lagi di depan Alma."
Irene menatap Alma sekilas. Dia kemudian pergi meninggalkan ruangan Alma.
Irene melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.
"Aku tahu, kalau ibu sangat membenciku. Dan ini semua karena ibu dan ayah aku. Mereka yang sudah membuat ibunya Mas Ifan sangat membenci aku. Hiks...hiks..."
Bu Atik menghela nafas dalam. Dia mencoba untuk meredam emosinya.
Widi melangkah dan mendekat ke arah Bu Atik.
"Tan. Apa yang sebenarnya terjadi? dan siapa wanita itu? dan kenapa Tante menampar dia. Seharusnya Tante jangan lakukan itu Tan?"
"Aku benar-benar membenci dia. Dia wanita yang dulu sudah menghancurkan perasaan anak saya. Begitu juga dengan orang tuanya. Saya belum bisa melupakan kejadian itu."
Widi diam. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Bu Atik. Sepertinya Bu Atik sangat marah sekali saat melihat Irene ada di dalam ruangan Alma.
__ADS_1