Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Kemarahan Irwan


__ADS_3

Malam ini, Irwan masih menunggu istrinya pulang. Sudah lebih dari jam delapan malam, Irene belum pulang juga ke rumahnya. Itu yang membuat Irwan merasa resah. Irwan takut, akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan menimpa Irene di jalan.


Irwan masih duduk di atas kursi rodanya. Dia menatap ke arah luar jendela kamarnya.


Beberapa saat kemudian, deru mobil sudah terdengar dari luar rumah Irwan. Irwan menatap tajam ke arah luar. Dimana Irene turun dari mobilnya bersama seorang lelaki yang mengantarnya pulang.


"Siapa lelaki itu," gumam Irwan.


Irwan tidak tahu siapa lelaki yang mengantar pulang Irene. Karena lelaki itu tampak asing bagi Irwan.


Irwan mengepalkan tangannya geram saat melihat kedatangan istrinya. Dia sudah menahan gemuruh di hatinya. Irwan benar-benar cemburu saat tahu Irene di antar pulang oleh lelaki lain.


Beberapa saat kemudian, Irene membuka pintu kamarnya. Irwan langsung menatap tajam ke arah Irene.


"Dari mana aja kamu Irene? kenapa jam segini kamu baru pulang? dan siapa orang yang tadi mengantar kamu pulang?" tanya Irwan setelah Irene sampai di kamarnya.


Sorot mata Irwan sangat tajam. Dia seperti ingin menguliti istrinya habis-habisan, karena Irene pulang malam dan dia melihat istrinya itu pulang dengan seorang lelaki.


Irene yang melihat kemarahan suaminya itu hanya bisa menundukan kepalanya.


"Maaf Mas. Aku kemalaman pulangnya. Aku lagi banyak lemburan Mas." Irene memberi alasan agar Irwan tidak curiga dengan kerjaannya yang sekarang.


"Lemburan? lemburan apa heh ...! dan siapa lelaki yang tadi ngantar kamu pulang?" Irwan sudah meninggikan nada suaranya.


"Itu tadi, teman kerja aku Mas," jawab Irene.


Irwan menghela nafas dalam. Sejak tadi, dia masih menahan gemuruh di dadanya. Tangannya mencengkeram kursi rodanya dengan kuat. Ingin rasanya dia meluapkan emosinya saat ini juga pada Irene.


Perasaan Irene benar-benar tidak enak. Dia tahu kalau sekarang suaminya itu sedang menahan amarah. Sebenarnya, Irene juga tidak ingin membuat Irwan marah. Tapi mau bagaimana lagi. Irene sudah terikat dengan kerjaanya di tempat mantan suaminya.


Jika Irene tiba-tiba ke luar dari tempat Ifan, lalu bagimana dengan janji Irene untuk membayar hutangnya yang dua puluh juta itu.


Irene tidak bisa pulang awal waktu, karena tadi dia dan Ifan terjebak macet di jalan waktu mau pulang. Dan Irene juga lupa mengabari Irwan karena baterai handphonnya habis.


"Kalau kamu mau pulang malam, seharusnya kamu ngabarin aku Irene. Kamu sudah membuat aku khawatir," ucap Irwan datar.


"Maafkan aku Mas. Aku sudah membuat kamu cemas dan menunggu lama. Ini kan, hari awal-awal aku kerja. Aku masih dalam masa training. Tadi bosku di kantor, menyuruh aku untuk ngelembur."


Sebisa mungkin, Irene mencoba meyakinkan Irwan agar Irwan mau percaya dengan ucapannya. Irene tidak mau suaminya sampai curiga dan mengetahui apa pekerjaan dia sebenarnya.


Irene sama sekali tidak mau Irwan tahu, kalau Irene kerja di rumah mantan suaminya dan menjadi pengasuh anak mantan suaminya. Irene tidak tahu apa yang akan terjadi pada rumah tangganya nanti, jika sampai Irwan tahu Irene kerja di rumah mantan suaminya.


'Mas Irwan nggak boleh tahu, kalau sekarang aku kerja sebagai pengasuh anak mantan suamiku. Kalau Mas Irwan tahu, bisa gawat urusannya,' batin Irene.

__ADS_1


"Terserah kamu Irene. Sekarang buatkan aku makan. Dari tadi aku lapar," ucap Irwan. Sepertinya Irwan sudah tidak mau mempermasalahkan hal tadi. Irwan mencoba untuk selalu percaya pada Irene.


Sebenarnya Irwan itu, lelaki yang sangat keras kepala. Setiap dia meminta sesuatu, Irene harus selalu menuruti semua keinginan suaminya.Walau bagaimanapun juga, Irwan adalah suami Irene. Dan Irene juga sangat mencintai Irwan. Irene tidak pernah menolak apa yang menjadi keinginan Irwan.


"Kamu mau makan? Aku bawa makanan kok Mas. Aku baru beli tadi di luar," ucap Irene.


"Aku nggak mau. Aku maunya makanan masakan kamu Irene."


Irene tidak bisa membantah keinginan Irwan. Dia harus tetap memasak untuk makan malam suaminya. Karena Irwan tida suka dengan makanan yang dibeli d luar. Walau capek, tapi Irene tetap harus melaksanakan kewajibannya untuk melayani suaminya.


Irwan saat ini, sedang menginginkan makan masakan Irene. Memang Irwan lebih suka masakan Irene dari pada masakan di luar. Dan setiap hari Irene harus memasak untuk suaminya.


"Baiklah. Aku akan masak sekarang Mas. Kamu tunggu di sini ya?"


Irwan mengangguk.


Tanpa berganti baju dan mandi terlebih dahulu, Irene kemudian melangkah ke arah dapur untuk memasak.


Irene masih berkutat di dapur. Dia memasak untuk makan malam suaminya. Setelah semua masakan siap, Irene kemudian menyiapkan semua makanan itu di atas meja makan.


Setelah semuanya siap, Irene menghampiri Irwan yang masih ada di kamar.


"Mas, kamu mau makan sekarang?" tanya Irene.


"Iya. Bisa kamu bantu aku untuk ke ruang makan?" tanya Irwan.


"Bisa dong Mas."


Irene kemudian membantu Irwan untuk naik ke kursi roda. Setelah itu, Irene mendorong kursi roda suaminya sampai ke ruang makan.


Irwan tersenyum saat melihat banyak makanan sudah tersaji di atas meja makan.


"Kamu masak banyak banget menu kesukaan aku," ucap Irwan.


Irene tersenyum.


"Iya dong Mas. Aku ingin kamu cepat sehat dan cepat sembuh. Biar kamu, bisa kerja lagi."


"Iya sayang. Tapi, ini nggak kebanyakan? takutnya nanti nggak ada yang makan."


"Nggak apa-apa.


Irene kemudian mencedokan nasi berserta lauk pauknya ke dalam piring.

__ADS_1


"Ini Mas, buat kamu. Kamu makan yang banyak ya," Irene menyodorkan piring yang berisi makanan kepada suaminya.


"Makasih ya sayang."


"Iya Mas."


Irwan kemudian lekas makan. Sementara Irene hanya bisa menemani Irwan saja tanpa ikut makan.


"Kamu kenapa diam aja? kamu nggak ikut makan?" tanya Irwan.


Irene menggeleng.


"Aku masih kenyang Mas."


"Kenyang? emang kamu udah makan?"


"Aku udah makan di luar mas."


Wajah Irwan tiba-tiba saja berubah. Tangannya sudah mulai mengepal geram. Rasanya dia memang cemburu. Fikiran buruknya saat ini, sudah memenuhi otaknya. Ingin dia meluapkan emosinya itu saat ini juga. Namun Irwan tahan agar dia tidak marah ke Irene.


'Aku yakin, Irene pasti sudah makan malam di luar bersama lelaki yang mengantarnya tadi' batin Ifan.


"Mas, kamu kenapa? kenapa makanannya di diamin aja begitu?" tanya Irene.


"Aku nggak selera makan. Makanan kamu nggak enak," ucap Irwan tiba-tiba.


"Apa...!" Irene terkejut saat mendengar ucapan Irwan.


"Benarkah masakan aku nggak enak."


Irene yang penasaran, kemudian mencicip masakannya sendiri. Namun, rasanya enak. Tidak seperti apa yang suaminya katakan.


"Mas, ini rasanya enak kok. Dan bumbunya udah cukup pas. Apanya yang nggak enak. Aku masak juga seperti biasa yang kamu makan." Irene tampak bingung dengan perubahan sikap suaminya.


'Hati aku yang nggak enak Irene. Kenapa kamu harus pulang dengan lelaki. Itu membuat aku cemburu Irene.' batin Irwan.


"Mas, kamu sebenarnya kenapa sih?" Irene sudah mulai penasaran dengan perubahan sikap suaminya.


"Kamu udah makan di luar dengan lelaki itu?" tanya Irwan menatap tajam istrinya.


Irene terkejut mendengar ucapan Irwan. Memang sebelum pulang, Ifan sudah mengajak Irene makan di luar bersama Alma juga. Makanya Irene pulang sampai malam.


"Em... aku memang sudah makan di kantor Mas. Dan aku nggak makan sama lelaki itu kok. Dia cuma mengantar aku pulang aja," bohong Irene. Irene tidak mau membuat suaminya semakin murka .

__ADS_1


Irene selalu mencari alasan agar Irwan tidak semakin terbakar cemburu. Karena setiap kali Irwan tahu kalau Irene dekat sama lelaki, Irwan selalu cemburu. Dan dia selalu marah-marah pada Irene.


__ADS_2