Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Tiba-tiba di cerai


__ADS_3

Pagi ini, Irwan masih duduk di ruang makan bersama Irene istrinya. Sejak tadi, Irwan masih diam. Dia tidak bicara sesuatu apapun pada Irene. Mungkin sudah dari kemarin Irwan mendiami Irene. Sepertinya saat ini, Irwan memang sedang marah pada Irene.


Begitu juga dengan Irene. Pagi ini, dia masih menyantap sarapannya tampak banyak bicara.


"Kamu kenapa sih Mas, dari tadi diam aja?" tanya Irene di sela-sela kunyahannya.


"Kemarin malam, ada lelaki datang ke sini nanyain kamu," ucap Irwan.


"Siapa?" tanya Irene pura-pura tidak tahu. Padahal dia sudah tahu kalau lelaki itu Ifan.


"Aku nggak kenal sama dia. Tapi dia nyari kamu malam-malam. Ada apa sebenarnya Ren?" Irwan menatap tajam ke arah Irene.


"Nggak ada apa-apa kok Mas. Mungkin dia teman kantor aku dan dia ada perlu sama aku Mas," jelas Irene.


"Ren. Jujur sama aku Ren. Kamu sekarang berubah Ren. Ada apa sebenernya sama kamu Ren?" tanya Irwan.


"Apanya yang berbuah Mas. Aku nggak berubah kok. Perasaan kamu aja kali Mas."


"Kamu kemarin malam nggak pulang. Kamu ke mana sebenarnya Ren? apa kamu dengan lelaki itu?" terka Irwan.


Irene bingung dengan apa yang akan dia katakan lagi pada Irwan. Semalam, dia memang bersama Ifan. Tapi tidak ada yang dia lakukan kecuali menemani Alma di rumah sakit.


"Semalam aku di rumah sakit Mas," ucap Irene.


"Kamu di rumah sakit. Untuk apa?" tanya Irwan penasaran.


"Aku lagi menemani Alma," jujur Irene.


"Siapa Alma?" Irwan menatap lekat wajah Irene. Ingin tahu siapa Alma itu.


"Dia anak teman aku," jawab Irene.


"Teman kamu yang mana?"


Irene hanya bisa meremas jari jemarinya saat Irwan melontarkan banyak pertanyaan padanya.


Irwan bangkit berdiri. Setelah itu, dia melangkah ke kamar Irene. Dia mengambil baju-baju Irene dan mengepaknya ke dalam koper.


Irene tidak tinggal diam. Dia melangkah untuk melihat Irwan di kamarnya. Irene terkejut saat suaminya sudah mengepaki baju-bajunya ke dalam kopernya.


"Mas, itu baju-baju aku, mau kamu apakan?" tanya Irene.


"Aku minta kamu pergi dari sini Ren. Aku nggak mau lihat wajah kamu lagi. Kamu udah banyak bohongin aku," ucap Irwan yang sejak tadi masih mengepaki baju-baju Irene dan memasukkannya ke dalam kopernya.


Irwan menghadapkan tubuhnya ke arah Irene.


"Aku mau kamu pergi dari sini Ren...!" Irwan mengusir Irene dengan tiba-tiba.


"Kamu kenapa Mas? kamu ngusir aku?"


"Menurut kamu?"Irwan sudah menatap nanar istrinya.


"Mas, aku nggak mau pergi dari sini Mas. Aku nggak mau cerai dari kamu."

__ADS_1


"Tapi aku nggak mau bertahan dengan kamu Irene. Kamu tidak bisa memberikan aku keturunan. Maafkan aku Irene."


"Maksud kamu apa Mas?"


"Aku ingin kita cerai Ren."


"Cerai?"


"Iya. Aku akan ceraikan kamu sekarang juga Irene."


Air mata Irene seketika itu juga menetes membanjiri pipinya, saat mendengar ucapan suaminya. Irene tidak menyangka kalau tiba-tiba saja Irwan mengusirnya dan dia akan menceraikan Irene.


Irwan menyeret koper Irene keluar. Irene hanya bisa menangis mengekor di belakang Irwan.


"Mas, tolong Mas, jangan usir aku dari sini. Aku mohon."


"Maaf Ren. Aku nggak bisa terima kamu lagi di sini."


"Lalu kenapa Mas?"


"Karena aku nggak cinta lagi sama kamu.Aku sudah jatuh cinta pada wanita lain Ren."


"Apa? semudah itu kah Mas, kamu menghempaskan aku. Tujuh tahun lebih Mas, aku menemani kamu dari nol. Dan sekarang kamu ngusir aku begitu aja. Aku benar-benar nggak nyangka sama kamu Mas. Kamu tega banget sama aku."


Irwan tidak mau menghiraukan lagi ucapan Irene. Irwan kemudian buru-buru menutup pintu rumahnya.


"Mas. Mas Irwan. Buka pintunya Mas. Kamu nggak bisa dong Mas, ngusir aku begitu aja. Mas Irwan...!" Irene mengetuk pintu rumah Irwan dengan keras. Tapi, Irwan sama sekali tidak mau menghiraukan Irene. Sampai akhirnya, Irene menyerah.


'Apa hanya karena masalah kecil saja, Mas Irwan sampai tega mengusir aku. Apakah mungkin kemarahan Mas Irwan itu ada kaitannya dengan kedatangan Mas Ifan kemarin' batin Irene di sela-sela langkah kakinya.


Beberapa saat kemudian, taksi pun sampai di depan Irene berdiri. Irene kemudian masuk ke dalam taksi. Setelah itu, taksi itu pun, meluncur pergi meninggalkan rumah Irwan.


Sejak tadi, Irene masih menatap ke luar. Jalanan di pagi ini, memang sudah padat merayap. Irene masih menangis di dalam taksi. Sejak tadi, dia masih disibukan mengusap pipinya yang basah.


"Kenapa Mbak? kok nangis?" tanya sopir taksi. Sejak tadi rupanya dia masih memperhatikan Irene dari spion mobilnya.


"Aku tidak apa-apa Pak," jawab Irene.


Dia kembali mengusap sisa-sisa air mata yang ada di pelupuk matanya.


Ring ring ring...


Suara ponsel Irene, tiba-tiba aja berdering. Irene segera mengangkat telponnya.


"Halo..."


"Halo Ren. Kamu masih di rumah?"


"Iya Pak Ifan. Saya masih di rumah."


"Kamu mau ke sini nggak?"


"Emang Alma udah mau ke sekolah?"

__ADS_1


"Belum sih. Alma masih lemas Ren. Dia belum aku izinin berangkat ke sekolah."


"Oh. Maaf Pak Ifan. Sepertinya hari ini, aku nggak bisa ke sana Pak. Aku mau ke rumah kakak aku."


"Oh. Gitu?"


"Maaf ya Pak. Aku juga, lagi nggak enak badan."


"Ya udahlah kalau begitu. Aku tutup dulu ya telponnya. Jaga kesehatan dan jaga diri kamu baik-baik ya."


"Iya Pak Ifan."


Irene mengusap air matanya. Hatinya begitu sakit saat suaminya mengusir dia tanpa alasan yang jelas. Padahal selama ini, pengorbanan Irene sudah begitu banyak untuk suaminya.


Dia rela meminjam uang dua puluh juta pada Ifan untuk membiayai operasi Irwan. Sementara dari keluarga Irwan saja, tidak ada yang mau membantunya.


Beberapa saat kemudian, taksi Irene sudah sampai di depan rumah Indah kakak Irene. Sebelum turun, Irene menatap ke arah rumah Indah.


"Mbak Indah ada di dalam nggak ya," ucap Irene.


Irene turun dari taksi. Dia kemudian membayar ongkos taksi.


"Makasih Mbak."


"Iya sama-sama Pak."


Irene melangkah ke teras depan rumah Indah. Dia kemudian mengetuk pintu rumah Indah.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum."


Beberapa saat kemudian, Indah tampak membuka pintu. Indah tersenyum saat melihat kedatangan Adiknya.


"Wa'alakiumsalam," ucap Indah.


Indah menatap adiknya heran.


"Lho. Kamu mau ke mana? kenapa pakai bawa koper segala? apa kamu mau pergi ?"


Irene menggeleng. Tiba-tiba saja, dia memeluk kakak perempuannya itu dengan erat.


"Mbak Indah. Hiks...hiks...hiks..."


Irene menangis di pelukan Indah. Indah melepaskan pelukannya. Setelah itu, dia menatap lekat Irene.


"Irene, kamu kenapa sayang?" tanya Indah sembari menangkup wajah adik kesayangannya.


Indah juga mengusap air mata Irene.


"Kenapa kamu nangis dan bawa-bawa koper segala?"


"Ceritanya panjang Mbak. Apakah aku boleh masuk?" tanya Irene.

__ADS_1


"Tentu dong Ren. Ayo masuk!"


Indah mempersilahkan adiknya masuk ke dalam rumahnya.


__ADS_2