
Pagi ini, Irene masih berada di kamarnya. Samar-samar, dia mendengar suara orang bicara dari dalam kamar sebelah.
"Kapan kamu pulang Mas. Aku kangen banget sama kamu. Kenapa kamu nggak ngasih kabar aku lagi sih," ucap Indah yang masih menatap foto suaminya.
Irene mendengarkan dengan seksama suara orang bicara.
"Mbak Indah, lagi bicara sama siapa sih di dalam," ucap Irene. Dia tampak penasaran dengan kakaknya.
Irene yang penasaran, langsung membuka pintu kamarnya. Dia kemudian melangkah ke arah kamar Mbak Indah.
Dia terkejut saat melihat Mbak Indah, sedang bicara sendirian di dalam kamarnya.
Irene melangkah masuk ke dalam kamar Mbak Indah. Dia kemudian menghampiri Mbak Indah.
"Mbak. Lagi ngapain?" tanya Irene.
Indah menatap ke arah Irene. Dia buru-buru menyeka air matanya. Mbak Indah kemudian bangkit berdiri.
"Iren. Kamu udah mau berangkat?" tanya Indah.
Iren menggeleng.
"Masih pagi banget Mbak. Ini juga kan hari minggu. Alma juga sekolahnya libur. Dan Mas Ifan juga libur. Jadi aku santai ajalah. Nggak usah buru-buru banget datang ke sana."
"Oh." Mbak Indah manggut-manggut.
"Mbak kenapa? Mbak habis nangis?" tanya Irene.
"Mbak nggak apa-apa.Cuma lagi ke ingat Mas Teguh aja."
"Mbak kangen sama Mas Teguh?" tanya Irene."Kenapa nggak telpon aja Mbak?"
"Nggak bisa Ren. Telpon Mas Teguh nggak aktif dari kemarin. Dan Mbak nggak tahu, Mas Teguh kenapa. Udah tiga hari, dia nggak bisa dihubungi. Dan dia juga udah tiga hari ini, nggak ngasih kabar," jelas Mbak Indah.
Irene menghela nafas dalam. Dia kemudian memegang bahu Indah dan menatap Indah lekat. Dia mencoba untuk menenangkan Indah.
"Sabar ya Mbak. Kita doakan saja, semoga Mas Teguh baik-baik aja di luar kota. Dia itu lelaki yang baik kok. Mbak nggak usah khawatir sama dia. Kita doakan saja, semoga Mas Teguh selalu di lancarkan pekerjaannya," ucap Irene.
Indah mengangguk.
"Sekarang di mana anak-anak?" tanya Irene.
"Mereka masih tidur di kamarnya. Dan Arjun, dia semalam nggak tidur Ren.Dia baru tidur tadi pagi," jawab Mbak Indah.
"Lho. Kenapa Mbak?" tanya Irene lagi.
"Arjun sakit. Semalam dia demam dan panas tinggi."
"Ya ampun Mbak. Kenapa Mbak nggak periksakan dia ke dokter. Kasihan Mbak."
"Nggak Ren. Semalam udah Mbak kasih obat penurun panas."
"Oh. Gitu. Terus?"
__ADS_1
"Nggak tahu Ren. Panasnya belum mau turun. Makanya tadi aku kompres dia. Engga tahu nanti siang akan turun apa nggak panasnya."
"Ya udah. Kalau nggak turun-turun, nanti langsung bawa dia aja ke dokter. Takutnya Arjun terkena gejala DBD atau tifus."
"Iya."
Di sela-sela Mbak Indah dan Irene mengobrol. Tiba-tiba saja, ketukan pintu terdengar dari luar rumah mereka.
Tok tok tok ..
Irene dan Indah saling menatap.
"Siapa yang ngetuk pintu pagi-pagi begini ya Mbak," ucap Irene.
"Kamu tunggu di sini aja. Biar Mbak yang bukain. Mungkin itu tetangga," ucap Mbak Indah.
Mbak Indah kemudian melangkah ke depan untuk membuka pintu depan.
Mbak Indah terkejut saat melihat seorang anak perempuan cantik berada di depan pintu. Dia tersenyum pada Indah.
"Assalamualaikum," ucap Alma.
"Wa'alakiumsalam," jawab Indah.
"Hei. Kamu siapa?" tanya Indah, yang belum mengenal betul anaknya Ifan.
"Nama aku Alma. Mama Iren ada di dalam?" tanya Alma.
"Mama Iren?" Indah terkejut dengan panggilan anak kecil itu pada Irene.
'Sebenarnya anaknya siapa sih ini. Kenapa dia panggil Irene mama. Dan mana orang tua anak ini. Kok cuma mobilnya doang. Kemana orangnya' batin Indah. Sejak tadi, dia masih memperhatikan mobil yang terparkir di depan rumahnya.
"Ren...! Iren...!" seru Indah memanggil Iren.
Beberapa saat kemudian, Irene menghampiri Indah.
"Ren, ini anak siapa? kamu kenal anak ini?" tanya Indah.
Irene terkejut saat melihat Alma. Dia tersenyum lebar pada Alma.
"Alma? kamu ke sini? sama siapa?" tanya Irene sembari menatap ke sekeliling. Namun, dia tidak melihat Ifan ada di depan rumahnya.
"Kemana papa kamu?" Irene berjongkok di depan Alma, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Alma.
"Papa lagi beli sesuatu di depan Ma. Katanya aku di suruh tunggu dulu di sini," ucap Alma.
"Oh. Ya udah masuk yuk!"
Irene mengajak Alma masuk ke dalam rumahnya. Baru kali ini Alma main ke rumah Irene. Padahal sudah sejak dulu dia ingin main ke rumah Irene. Tapi Irene tidak pernah membolehkan Ifan main ke rumahnya karena Irene belum resmi bercerai dengan Irwan.
Irene tidak mau, menjadi bahan gosipan tetangga. Apalagi kalau sampai ada tetangga yang melihat Ifan sering main ke rumah Irene dengan mengajak Alma. Pasti, mereka akan berfikiran macam-macam.
Dan setelah Irene resmi bercerai,Ifan baru berani mengajak Alma main ke rumah Irene.
__ADS_1
"Ayo duduk sayang!" pinta Irene.
Sejak tadi Mbak Indah masih menatap anak kecil itu. Dari dulu, Mbak Indah juga memang ingin punya anak perempuan. Karena ke dua anaknya lelaki semua. Setelah melihat Alma, dia jadi merasa senang.
"Ini anaknya Mas Ifan Mbak," ucap Irene menjelaskan.
"Oh. Anaknya Ifan? pantas aja cantik banget. Terus, Ifannya ke mana? kok cuma ada mobilnya doang, ke mana orangnya?" tanya Indah.
"Nggak tahu," ucap Irene.
"Sayang, kenalin. Itu namanya Tante Indah. Itu kakaknya mama Iren" Irene memperkenalkan Alma pada Indah kakaknya.
"Halo Tante...!" sapa Alma.
"Halo cantik siapa namanya?" tanya Indah.
"Alma," jawab Alma.
"Oh. Alma. Nama yang bagus," ucap Indah.
"Ren, sudah sedekat apa sih, hubungan kamu dengan Ifan dengan anaknya. Kok dia sudah memanggil kamu mama?"
"Hehe...Mbak. Sudahlah. Nanti aku jelaskan," ucap Irene.
Beberapa saat kemudian, Ifan datang.
"Assalamualaikum," ucap Ifan.
"Wa'alakiumsalam." jawab Irene dan Indah bersamaan.
"Mas, dari mana aja kamu Mas? kenapa kamu tinggalin Alma sendirian?" tanya Irene.
Ifan tersenyum.
"Aku baru beli martabak di depan sana," jawab Ifan.
"Ifan. Ayo masuk! duduk sini!" Indah mempersilahkan Ifan masuk dan duduk.
Ifan mengangguk. "Iya Mbak."
Ifan kemudian duduk berbaur bersama Indah dan Irene.
"Ini Mbak, aku bawa martabat buat Mbak." Ifan meletakan martabak di atas meja.
"Makasih ya Fan. Harusnya nggak usah repot-repot," ucap Indah.
"Nggak apa-apa Mbak. Sama sekali nggak ngerepotin kok."
"Benar apa kata Iren. Kalau sekarang, kamu itu sudah berubah ya."
"Berubah gimana Mbak. Perasaan nggak ada yang berubah," ucap Ifan.
"Ya udah. Mbak tinggal dulu ke dalam. Siapa tahu, kalian mau ngobrol-ngobrol dulu."
__ADS_1
Mbak Indah bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan Irene dan Ifan di ruang tamu.
****