Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Suami pembohong


__ADS_3

Sinar mentari di pagi ini, sudah menelusup masuk ke dalam celah -celah jendela kamar Irene.


Pagi ini, Irene sudah siap untuk ke rumah Ifan. Irene melangkah ke luar dari kamarnya. Dia melihat Indah sudah tampak rapi dengan dua anaknya yang sudah memakai seragam sekolah.


"Jam berapa ini? masih setengah enam, kenapa Mbak Indah udah rapi banget begitu. Arjun dan Bobi, juga kelihatan rapi begitu," ucap Irene.


Irene kemudian melangkah mendekati Indah.


"Mbak Indah. Mau ke mana? rapi banget?" tanya Irene.


"Eh Iren. Mbak ada urusan sebentar. Kalau kamu mau makan, Mbak udah masak nasi. Kamu tinggal buat telor dadar sendiri. Banyak telor tuh di kulkas," ucap Indah sebelum pergi.


Irene mengangguk. "Iya Mbak."


"Ayo Arjun, Bobi, kita berangkat ke sekolah sekarang," ajak Indah pada ke dua anaknya.


Indah kemudian ke luar dari rumahnya.


Irene merasa aneh dengan sikap Indah sekarang. Indah tampak terburu-buru sekali pergi ke luar. Dan Irene tidak tahu sebenarnya mau ke mana Indah itu.


"Mbak Indah sebenarnya mau ke mana ya. Kenapa dia pergi ke luar dengan terburu-buru banget," ucap Irene.


Irene yang penasaran dengan Indah, kemudian melangkah ke depan. Mbak Indah tampak sudah naik ke atas motor bersama dengan ke dua anaknya yang membonceng di belakang.


Irene tidak tinggal diam. Irene kemudian mengikuti Indah dengan motornya. Ya, sekarang Indah dan Irene memang punya motor sendiri-sendiri.


Irene mengendarai motornya untuk mengikuti Indah. Sesampai di depan sekolah Bobi dan Arjun, Indah menghentikan motornya. Begitu juga dengan Irene yang masih ada di belakang kakaknya.


Indah kemudian melajukan motornya lagi dan pergi meninggalkan sekolah anak-anaknya. Begitu pun dengan Irene yang masih setia mengikuti kakaknya.


Tepat di depan sebuah bangunan gedung, Indah turun dari motornya. Indah menatap ke arah gedung itu. Gedung yang belum jadi, tampak masih banyak kuli bangunan wira-wiri di sekitar gedung itu. Mungkin mereka itu adalah para pekerja bangunan rekan-rekannya Teguh.


"Benarkah suamiku kerja di sini," ucap Indah.


Indah buru-buru turun dari motornya. Dia kemudian melangkah untuk mencari suaminya. Indah tidak perduli kalau banyak lelaki ada di sekitar sana.


"Kok Mbak Indah masuk ke sana. Mau ngapain dia ke sini? aku jadi penasaran. Siapa sih, orang yang mau ditemuinya," ucap Irene.


Irene turun dari motornya. Dia kemudian melangkah mengikuti Indah masuk ke dalam.


"Cari siapa Mbak?" tanya seorang lelaki berpawakan tinggi menyapa Indah.


"Saya mau cari suami saya," jawab Indah


Lelaki itu mengernyitkan alisnya.


"Suami Mbak siapa?" tanya lelaki itu.


"Teguh namanya. Benarkah dia ada di sini?"


"Teguh?"


"Iya. Saya istrinya. Saya ingin bertemu dengannya."


"Tunggu ya. Saya panggilkan dulu."


Lelaki itu kemudian melangkah untuk memanggil Teguh.


"Teguh," ucap lelaki itu.


"Eh, iya Pak."

__ADS_1


"Ada yang mencari kamu di luar."


"Siapa Pak?"


"Seorang wanita. Katanya istrimu."


"Istriku?"


'Siapa yang datang ke sini. Istriku yang mana. Dina atau Indah. Kalau yang datang ke sini Indah, bisa mati aku' batin Teguh.


Teguh kemudian melangkah untuk menghampiri istrinya.


"Indah. Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Teguh yang tampak syok dengan kedatangan Indah.


"Mas Teguh," ucap Indah.


Dengan mata berkaca-kaca, Indah menatap ke arah suaminya. Indah tiba-tiba saja menangis histeris.


"Jahat kamu Mas. Jahat...! selama ini kamu sudah bohongin aku Mas. Kamu bilang kamu itu ada di Bali. Tapi ternyata kamu kerja di sini. Dan ke mana kamu selama ini Mas. Kenapa kamu tidak mau menghubungi aku lagi hah...!"


Indah tiba-tiba menarik kerah baju suaminya. Dia kemudian memukul-mukul dada bidang suaminya.


"Aku benci lelaki pembohong seperti mu Mas. Aku benci sama kamu...!"


Irene membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka kalau yang akan di temui Mbak Indah itu adalah Mas Teguh.


"Jadi ternyata Mas Teguh yang akan Mba Indah temui. Aku benar-benar nggak nyangka. Kalau Mas Teguh, ternyata ada di Jakarta. Kata Mbak Indah, Mas Teguh itu lagi ada di Bali. Apa jangan-jangan, Mas Teguh udah bohongin Mbak Indah selama ini," gumam Irene.


Semua rekan kerja Teguh itu hanya bisa menyaksikan, bagaimana istri Teguh melabrak suaminya dan menangis histeris di depan semua para pekerja.


Mungkin beban mental yang terlalu berat, sudah membuat wanita itu, menangis saat bertemu suaminya. Membuat Teguh malu dengan semua teman-temannya.


Teguh, lelaki yang terkenal pendiam itu hanya bisa memperhatikan sekeliling. Dia tidak menyangka saja, Indah berani datang ke tempat kerjanya.


Sudah hampir seminggu Teguh hilang kontak. Dan Teguh juga belum lagi mentransfer uang ke Indah. Padahal, kebutuhan Indah sekarang sangat banyak. Belum lagi, dua anaknya, akan memasuki tes semester satu. Dan mereka berdua harus melunasi pembayaran sekolah untuk bisa ikut tes semesteran dan terima rapor.


"Indah. Jangan seperti ini. Malu dilihatin teman-teman ku. Indah, kita bicarakan semua masalah kita baik-baik di rumah aja ya. Jangan di sini," ucap Teguh.


Irene tidak tinggal diam. Dia tidak ingin mempermalukan kakaknya di depan umum. Irene langsung melangkah ke arah Indah yang sudah histeris.


"Mbak Indah cukup Mbak. Cukup! kasihan Mas Teguh Mbak. Dia lagi kerja di sini. Dia lagi cari uang. Ayo Mbak kita pulang! malu Mbak dilihatin banyak orang," ucap Irene.


"Hiks...hiks...aku nggak mau pulang. Aku masih ingin bicara dengan suamiku."


Irene merangkul bahu kakaknya. Dia kemudian membawa kakaknya pergi ke luar.


Hiks...hiks..hiks..


"Apa maksud Mas Teguh membohongi aku. Apa Ren...!" ucap Indah di sela-sela Isak tangisnya.


"Aku juga nggak tahu Mbak. Kenapa Mas Teguh membohongi Mbak," ucap Irene.


Tiba-tiba saja, Irene kefikiran dengan Irwan.


'Duh, jangan sampai deh, masalah rumah tangga aku dengan Mas Irwan terulang kembali pada Mbak ku. Kasihan Mbak ku kalau Mas Teguh benar-benar mengkhianatinya. Karena Mbak Indah itu wanita yang rapuh. Dia belum tentu kuat, jika di berikan ujian seperti aku.'


Indah menatap ke arah Irene.


"Irene. Kenapa kamu ngikutin aku?" tanya Indah.


"Maaf Mbak. Aku tadi cuma khawatir aja sama Mbak. Jadi aku ikutin Mbak. Mbak tampak buru-buru sekali tadi."

__ADS_1


Indah masih mencoba untuk menenangkan dirinya.


Ring ring ring ...


Suara deringan ponsel Irene tiba-tiba saja berbunyi.


"Duh, pasti Mas Ifan nih yang nelpon," ucap Irene.


Irene kemudian merogoh tas kecilnya untuk mengangkat panggilan dari Ifan.


"Tunggu dulu di sini ya Mbak. Aku angkat telpon dulu. Ini Mas Ifan nelpon."


Dia melangkah menjauh dari Indah yang masih menangis.


"Halo Mas."


"Sayang. Kamu lagi ada di mana? kenapa kamu belum datang ke rumah sayang?"


"Mas Ifan, maafin aku Mas. Aku lagi ada di ..."


"Di mana?"


"Di pinggir jalan Mas. Lagi menemani Mbak Indah."


"Kamu mau datang ke sini kan?"


"Iya sebentar lagi. Aku mau nenangin Mbak indah dulu Mas."


"Emang kenapa dengan Mbak Indah?"


"Nanti aku ceritain Mas. Dia lagi ada masalah dengan suaminya."


"Ya udah deh,"


Setelah bertelponan dengan Ifan, Irene melangkah kembali untuk menghampiri Indah.


Irene terkejut saat melihat Mbak Indah sudah naik ke atas motor.


"Mbak Indah. Turun Mbak!" ucap Irene.


Indah menatap tajam ke arah Irene.


"Kenapa kamu nyuruh Mbak turun?"


"Mbak Indah mending bonceng aku aja deh."


"Kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa Mbak. Tapi keadaan Mbak sekarang nggak stabil. Aku takut Mbak nggak bisa konsentrasi bawa motornya. Karena Mbak kan lagi emosi."


Indah mengusap sisa-sisa air matanya.


"Aku nggak apa-apa. Aku mau pulang aja Ren."


"Tapi Mbak hati-hati ya nyetirnya. Nggak boleh nyetir sambil emosi."


Indah mengangguk.


"Aku juga bawa motor Mbak. Tapi aku mau langsung ke rumah Alma . Dia pasti udah nungguin."


"Iya Ren."

__ADS_1


Irene kemudian naik ke atas motornya. Indah meluncur untuk pulang ke rumah, sementara Irene meluncur untuk ke rumah Ifan.


__ADS_2