
Jam setengah enam pagi, Ifan dan Alma sudah siap untuk berangkat ke rumah Irene. Alma sudah memakai seragam sekolahnya, sementara Ifan sudah memakai pakaian kantor.
Ifan melangkah pergi ke luar dari rumahnya sembari menggandeng anaknya. Di luar, sudah tampak ada Mbok Inah yang sedang menyapu halaman depan rumah Ifan.
Mbok Inah terkejut saat melihat Ifan. Karena tidak biasanya Ifan dan Alma berangkat pagi-pagi sekali tanpa menunggu Irene datang.
"Lho. Pak Ifan, mau ke mana pagi-pagi gini?" tanya Mbok Inah.
"Saya mau ke rumah Iren. Sekalian mau mengantar Alma sekolah," jawab Ifan.
"Mbak Iren nggak ke sini?" tanya Mbok Inah.
Ifan menggeleng.
"Dia hari ini nggak bisa datang ke sini Mbok," ucap Ifan menjelaskan.
"Oh. Pak Ifan nggak mau sarapan dulu?" tanya Mbok Inah.
"Nggak Mbok. Aku harus buru-buru menemui Irene," jawab Ifan.
Sesampai di dekat mobilnya, Ifan kemudian membuka pintu mobilnya. Dia kemudian menyuruh Alma masuk ke dalam mobil.
"Ayo Al. Masuk!"
Alma mengangguk. Dia kemudian masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Ifan. Dia juga ikut masuk ke dalam mobil.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah. Mereka akan pergi ke rumah Irene untuk menjemput Bobi dan Arjun. Karena Ifan sudah janji pada Irene, akan mengantar mereka ke sekolah.
Sesampai di depan rumah Indah, Ifan dan Alma pun turun. Mereka melangkah ke arah teras dan mereka mengetuk pintu rumah Indah.
Tok tok tok...
Beberapa saat kemudian, Irene ke luar. Dia tersenyum saat melihat Ifan dan Alma.
"Mas Ifan, Alma. Kalian udah datang. Cepat amat? Bobi ama Arjun aja belum aku bangunin," ucap Irene.
"Nggak apa-apa. Ini juga kan belum ada jam enam."
"Ayo Al. Masuk. Ayo mas!" ajak Irene pada Ifan dan Alma.
Irene menggandeng Alma untuk masuk ke dalam rumah Indah. Ifan juga masuk ke dalam setelah Irene mempersilahkannya.
Ifan dan Alma kemudian duduk di ruang tamu.
"Kalian udah sarapan belum?" tanya Irene pada Ifan dan Alma.
Alma menggeleng.
"Aku belum sarapan Ma. Soalnya Papa ngajak aku cepat-cepat berangkat," ucap Alma menjelaskan.
"Kalian ikut sarapan di sini aja ya. Aku sudah masak nasi goreng banyak," ucap Irene.
"Terserah Mama aja deh," ucap Alma
"Ya udah. Kalau gitu, mama juga mau siap-siap untuk bangunin Bobi dan Arjun. Kalian mau tunggu di sini, atau mau tunggu di ruang makan aja?" tanya Irene.
"Tunggu di sini aja Ren. Nggak enak aku Ren. Katanya kakak ipar kamu ada di rumah," ucap Ifan.
"Iya. Dia ada di ruang tengah sekarang."
Irene kemudian melangkah untuk ke kamar Bobi dan Arjun. Dia kemudian membangunkan Bobi dan Arjun.
"Bobi. Arjun. Bangun! udah siang sayang. Mau sampai kapan kalian tidur? kalian kan harus berangkat sekolah."
Bobi dan Arjun mengerjapkan matanya. Mereka kemudian menatap Irene.
"Mana Mama?" tanya Arjun sembari beringsut duduk. Begitu juga dengan Bobi uang mengikuti adiknya duduk.
"Mama kamu, masih di kamar Nak. Dia lagi sakit. Sekarang Arjun mandi sama Tante dulu ya?" ucap Irene.
"Papa mana?" tanya Arjun lagi " Kalau mama sakit, aku mau sama papa aja."
"Duh, sama Tante Iren aja ya, papa kamu sepertinya juga lagi capek. Kasihan kan Papa. Baru pulang udah di suruh mandiin kamu."
"Iya deh."
__ADS_1
Akhirnya Arjun mau juga mandi dengan Irene setelah Irene membujuknya. Biasanya setiap hari, Arjun mandi sama ibunya. Atau kalau Teguh di rumah, dia juga biasa mandi sama Teguh. Sementara Bobi si sulung, sudah bisa apa-apa sendiri.
Setelah Bobi dan Arjun siap, Irene mengajak mereka berdua untuk makan di ruang makan.
"Kalian tunggu di sini ya. Tante mau panggil Om Ifan dan Alma. Tante mau ngajak mereka sarapan juga," ucap Irene pada ke dua ponakannya.
"Alma udah datang ke sini Tan?" tanya Bobi.
"Iya sayang," jawab Irene singkat.
"Asyik...jadi kita mau naik mobil nih Tan?" tanya Arjun.
Irene mengangguk.
"Iya sayang."
Irene kemudian melangkah ke ruang tamu untuk memanggil Ifan dan Alma. Irene kemudian mengajak Ifan dan Alma untuk berbaur dengan Bobi dan Arjun ke ruang makan.
Alma dan ayahnya duduk. Begitu juga dengan Irene. Dia juga ikut duduk bersama mereka semua.
Irene mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Bobi, Arjun, Alma dan Ifan. Mereka kemudian sarapan bersama pagi ini.
"Gimana nasi gorengnya enak?" tanya Irene menatap satu persatu anak-anak itu.
"Enak Tante," jawab Bobi.
"Masakan Mama aku memang selalu enak. Makanya Papa aku, semakin cinta aja sama Mama" celetuk Alma.
Irene dan Ifan lantas tertawa saat mendengar ucapan Alma.
"Siapa ya, yang ngajarin Alma soal cinta-cintaan?" tanya Irene.
Irene menatap Ifan.
"Bukan aku pastinya dong, dia itu emang anak yang cerdas. Bisa menangkap semua obrolan orang dewasa, makanya kita sebagai orang tua, harus berhati-hati dalam berbicaralah,"ucap Ifan.
"Iya Mas. Benar apa kata kamu."
Teguh merasa sangat lapar pagi ini. Dia yang tahu kalau di ruang makan ada anak-anaknya yang sedang makan, Teguh kemudian melangkah untuk ke meja makan.
Teguh hanya tersenyum.
"Oh. Nggak. Nikmati aja makanannya. Saya mau nyeduh kopi saja."
Teguh kemudian melewati meja makan. Dia kemudian melangkah ke dapur untuk membuat kopi sendiri. Biasanya setiap di rumah, Indah yang selalu membuatkan dia kopi.
Setelah sarapan selesai, tiba-tiba saja Indah ke luar dari kamarnya. Dia kemudian melangkah ke arah Irene dengan jalan yang sempoyongan.
"Iren," ucap Mbak Indah.
Semua orang terkejut saat melihat Mbak Indah tiba-tiba saja pingsan di depan mereka.
Irene dan Ifan membelalakkan matanya. Sementara Teguh yang masih ada di dapur, segera melangkah untuk menolong istrinya.
"Iren. Kenapa dengan Indah?" tanya Teguh yang sudah meraih tubuh istrinya dan memangku kepala istrinya.
"Nggak tahu Mas. Tiba-tiba saja, Mbak Indah pingsan," Jawab Irene.
"Em, kita bawa dia ke rumah sakit aja. Saya bawa mobil. Kalian bisa bawa Mbak Indah ke mobil," ucap Ifan.
"Iya," ucap Teguh.
Teguh kemudian membopong tubuh Indah dan melangkah ke arah depan. Begitu juga dengan Ifan dan Irene.
Ifan kemudian membuka pintu mobilnya.
"Masukan saja Mas Teguh Mbak Indah ke mobil," pinta Ifan.
Teguh kemudian memasukkan tubuh Indah ke dalam mobil.
"Mana anak-anak?" tanya Ifan menatap sekeliling.
Beberapa saat kemudian, ke tiga anak itu ke luar dari rumah.
"Ayo...ayo! Kalian harus ke sekolah. Sekarang kalian harus masuk ke dalam mobil. Kita ke sekolah. Sekalian antar Mamanya Arjun ke rumah sakit," ucap Ifan.
__ADS_1
"Kamu juga ikut ya Ren. Untuk temani kakak kamu." Ifan menatap Irene lekat.
"Iya Mas."
"Biar aku menyusul pakai motor," ucap Teguh.
Ifan, Irene dan anak-anak, kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah itu, mereka meluncur pergi meninggalkan rumah. Sementara Teguh, dia akan menyusul ke rumah sakit dengan motornya.
Ifan mengendarai mobilnya sampai ke sekolah Alma.
Alma kemudian turun dari mobil ayahnya.
"Sayang. Papa dan Mama, mau antar Mamanya Arjun ke rumah sakit. Nggak apa-apa kan kamu sendiri dulu di sini?" tanya Ifan pada Alma
"Iya Papa. Nggak apa-apa kok. Alma udah berani kok sekolah sendiri. Yang penting Papa jangan sampai telat jemputnya."
"Iya sayang. Anak Papa memang pintar."
Setelah mencium tangan Iren dan Ifan, Alma melangkah masuk ke dalam sekolahnya. Ifan kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah Bobi dan Arjun.
Sesampai di depan sekolah SD, Arjun dan Bobi kemudian turun. Mereka melangkah masuk ke dalam sekolahnya. Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, Ifan mengantar Indah ke rumah sakit.
Ifan dan Irene kemudian turun dari mobilnya setelah Ifan sampai di depan rumah sakit. Ifan melangkah masuk ke dalam rumah sakit untuk memanggil suster.
"Suster tolong. Ada pasien pingsan di mobil saya," ucap Ifan menuturkan.
"Oh. Baik Pak. Tunggu ya." Suster itu masuk ke dalam.
Setelah itu, empat orang suster, kemudian mendorong Indah sampai masuk ke dalam ruangan UGD.
Sementara Ifan dan Irene tampak masih berada di depan ruangan UGD. Mereka masih tampak cemas dan khawatir dengan kondisi Indah.
Irene sejak tadi masih mondar-mandir di depan ruangan UGD. Dia masih cemas memikirkan kondisi kakaknya. Beberapa saat kemudian, Teguh datang dan menghampiri Ifan dan Irene.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Teguh khawatir.
"Kenapa Mas Teguh ke sini? seharusnya Mas Teguh itu pulang ke istri ke dua Mas," ucap Irene dengan sinis.
"Apa maksud kamu Ren? aku ke sini karena aku khawatir dengan keadaan istriku."
"Nggak usah pura-pura baik deh Mas. Mbak aku seperti ini karena Kamu Mas Teguh...! kamu yang sudah membuat Mbak aku sakit. Kalau sampai Mas terjadi apa-apa dengan Mbak aku, aku nggak akan pernah memaafkan Mas Teguh."
Ifan sejak tadi masih bingung dengan percekcokan di antara Irene dan Teguh.
"Ada apa ini sebenernya? kenapa kalian malah ribut di sini. Sudahlah Ren. Biarkan aja Mas Teguh di sini. Lagian, Mas Teguh itu kan suaminya Mbak Indah."
Beberapa saat kemudian, seorang dokter ke luar dari ruangan UGD. Teguh, Ifan dan Irene buru-buru melangkah ke arah dokter untuk menanyakan kondisi Indah saat ini.
"Dokter. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Teguh.
Dokter tersenyum.
"Bu Indah tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mungkin dia terlalu banyak fikiran dan kelelahan," jelas dokter.
"Nggak ada yang serius kan Dok?" tanya Irene
"Nggak ada. Ini kan biasa di alami oleh ibu hamil."
"Apa? hamil?" ketiga orang itu tampak terkejut saat mendengar kabar kehamilan Indah. Mereka tidak menyangka kalau Indah itu ternyata hamil.
Teguh tampak berfikir.
'Kenapa Indah harus hamil lagi sih. Bobi sama Arjun aja masih kecil-kecil,' batin Teguh.
Begitu juga dengan Irene. Dia tampak berfikir.
'Kenapa Mbak Indah harus hamil, di tengah-tengah badai rumah tangga yang sedang menimpanya. Rumit sekali hubungan rumah tangga Mbak Indah dengan Mas Teguh' batin Irene.
"Kita tinggal menunggu Bu Indah sadar saja. Mungkin sebentar lagi, dia akan siuman. Kalian tidak perlu cemas."
"Iya Dok." ucap Teguh.
"Saya cuma mau berpesan pada suami Mbak Indah. Tolong ya. Mulai sekarang isrtinya harus di jaga baik-baik. Karena usia kandungan yang masih muda, masih rawan mengalami keguguran. Jadi saya mohon. Jaga istri anda baik-baik. Jangan terlalu capek, dan banyak fikiran. Karena itu akan mempengaruhi kesehatan ibu dan bayi yang ada di dalam kandungan."
Teguh mengangguk. "Iya Dok."
__ADS_1
Dokter kemudian melangkah pergi setelah dia berpamitan dengan Ifan, Irene dan Teguh.