Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Pernikahan Ifan dan Irene (end)


__ADS_3

Setelah berfikir semalaman penuh, akhirnya Teguh memutuskan untuk mentalak istri ke duanya demi mempertahankan anak dan istri pertamanya.


Teguh sekarang sadar. Kalau Indah dan anak-anaknya adalah keluarganya yang sangat berharga. Apalagi saat dia tahu kalau Indah sekarang sedang mengandung anaknya yang ke tiga.


Teguh sekarang, lebih mementingkan keluarganya dari pada pekerjaannya. Terbukti, setiap hari dia selalu menyibukkan diri bermain dengan anak-anak. Dan setiap libur, dia juga berada di rumah dan menemani anak-anak main.


Setelah beberapa bulan, Ifan sudah menentukan tanggal pernikahannya dengan Irene. Dan hari ini, adalah hari pernikahan Ifan dengan Irene.


Semua tamu mulai dari teman-teman Ifan, sampai rekan bisnis Ifan undang semua di acara pernikahannya. Dan ini, adalah pernikahan Ifan yang ketiga. Namun pernikahan ini terkesan jauh penuh mewah dari pernikahan yang pertama dan yang ke dua. Begitu juga dengan Irene. Dia mengundang sahabat-sahabatnya juga ke acara itu.


Di dalam kamarnya, tepatnya di rumah Ifan sang mempelai lelaki, Bu Atik masih tampak berada d dekat Irene yang sedang di rias.


"Iren. Maafkan untuk semua kesalahan ibu ya sama kamu," ucap Bu Atik.


Irene hanya tersenyum.


"Iya Bu. Aku udah maafin ibu kok."


"Karena kemarin-kemarin, ibu sempat memperlakukan kamu dengan buruk."


"Iya Bu. Nggak apa-apa."


"Padahal ibu yakin, kalau kamu adalah wanita yang terbaik untuk Ifan dan ibu yang terbaik untuk Alma. Dan pantas saja anak saya tidak bisa melupakan kamu Irene. Kamu cantik dan baik. Cucu saya saja sudah sangat sayang sama kamu."


Irene tersenyum.


"Ibu. Apakah sekarang ibu sudah merestui hubungan saya dengan Mas Ifan? saya berharap banget ibu akan merestui pernikahan kami."


"Iya, ibu sudah merestuinya Nak."


"Irene takutnya, ada yang mengganjal di hati ibu."


"Nggak Nak. Ibu sudah ikhlas kok."


"Makasih ya ibu."


Bu Nani mendekat ke arah anaknya.


"Bu Atik. Saya mau minta maaf ya atas semua perbuatan saya dulu sama keluarga ibu. Maafkan semua kesalahan-kesalahan kami."


"Iya Bu Nani. Saya sudah memaafkannya."


Bu Atik tiba-tiba saja memeluk Bu Nani dengan erat. Mereka sudah bisa memaafkan kesalahan mereka masing-masing di masa lalu.


Mereka sudah sama-sama sadar, kalau menjadi orang yang egois itu bisa menghancurkan kehidupan orang lain termasuk anak-anaknya.


Seperti Ifan dan Irene, yang masih sama-sama saling mencintai namun, orang tua mereka memaksa mereka untuk berpisah. Dan setelah ini, mungkin sudah tidak akan ada yang memisahkan Ifan dan Irene lagi.


"Irene. Kamu udah siap kan?" tanya Bu Nani.


"Belum Tan. Sebentar lagi," ucap seorang wanita yang sejak tadi masih merias wajah Irene.


"Duh. Lama amat sih. Katanya sebentar lagi penghulunya datang," ucap Bu Nani. Dia sudah tidak sabar ingin melihat pernikahan Ifan dan Irene.


"Tunggu dulu Bu Nani. Jangan terburu-buru. Biarkan Mbak ini merias dulu," ucap Bu Atik.


"Tapi tamu-tamunya juga sudah pada nungguin," ucap Bu Nani.


Bu Atik menggandeng Bu Nani ke luar.


"Sudah. Jangan ganggu Irene. Dia belum selesai. Biarkan periasnya merias wajah Irene dulu secantik mungkin," ucap Bu Atik.


"Iya."

__ADS_1


Bu Nani dan Bu Atik kemudian ke luar dari kamar Irene.


Irene sejak tadi masih menatap ke arah pantulan dirinya yang ada di depan cermin.


"Wah, Mbak Iren ini masih cantik ya ternyata. Masih seperti gadis," ucap perias.


"Ah, masak sih? aku udah tua kok."


"Benar. Mbak ini cantik banget. Pasti nanti, Pak Ifan pangling deh sama Mbak."


"Kenapa ya. Aku jadi berdebar-debar gini mau ketemu Mas Ifan. Padahal sejak kemarin juga biasa aja."


"Udah biasa hal seperti ini mah. Semua pengantin juga akan merasakannya. Entah itu yang masih gadis ataupun yang udah janda."


Setelah selesai di rias, periasnya kemudian membawa Irene sampai ke depan.


Semua orang menatap ke arah Irene. Mereka tampak berbisik-bisik. Mungkin mereka pangling dengan pengantinnya. Begitu juga dengan Ifan yang sudah duduk dan siap untuk melakukan ijab kabul pernikahannya.


Beberapa saat kemudian,Ifan pun mengucapkan akad nikahnya.


"Saya terima nikahnya Irene binti Feri Setiawan dengan mas kawin tersebut di bayar tunai," ucap Ifan dengan lantang.


"Bagaimana saksi. Sah?"


"Sah."


Sah...


"Alhamdulillah."


Akhirnya pernikahan Ifan dan Irene sah juga. Mereka sekarang sudah resmi menikah.


Ifan meraih tangan Irene dan menyematkan cincin di jari manis Irene. Tanpa ada rasa canggung lagi, dia kemudian mencium kening istrinya. Sementara Irene mencium punggung tangan suaminya.


Beberapa saat kemudian, Irene dan Ifan sudah berdiri berjajar di depan para tamu. Para tamu itu bersalaman dengan ke dua pengantin untuk memberikan doa restu.


"Iya. Makasih."


"Selamat ya Pak Ifan. Anda benar-benar hebat, sudah memilih wanita secantik istri anda," ucap Tuan Smith rekan bisnis Ifan.


"Iya Mr Smith. Kebahagiaan tersendiri untuk saya karena Mr. Sudah bersedia datang ke pesta pernikahan saya ini."


"Iya. Saya pasti akan datang ke sini."


Giliran Indah dan Teguh yang menghampiri Irene.


"Selamat ya Irene. Mbak seneng banget, akhirnya kamu bersatu lagi dengan Ifan."


"Iya Mbak. Makasih ya."


"Semoga samawa ya?" ucap Teguh.


"Iya Mas. Makasih ya. Untuk kalian juga. Semoga samawa," ucap Irene.


Irene bahagia melihat Teguh dan Indah sudah mesra lagi seperti dulu. Karena Teguh sekarang sudah berubah dan benar-benar menceraikan istri ke duanya. Karena pernikahan Teguh dan Dina juga cuma pernikahan siri. Jadi mudah saja untuk Teguh mentalak Dina..


Indah dan Teguh sangat bahagia bisa hadir di acara besar itu. Mereka juga sangat tidak menyangka kalau tamu-tamu Ifan adalah orang-orang penting semua. Membuat mereka minder.


Irene tiba-tiba saja memegang perut kakaknya yang sudah membesar.


"Semoga nular ya Mbak," ucap Irene.


"Iya Ren. Semoga kamu bisa cepat di kasih momongan."

__ADS_1


****


Ifan dan Irene sudah tampak berada di kamarnya. Mereka masih tampak canggung satu sama lain. Walau ini bukan pertama untuk mereka, tapi tetap saja mereka masih canggung untuk melakukan malam pertamanya.


Ifan meraih tangan Irene.


"Sayang. Apa kamu sudah siap?" tanya Ifan.


Irene tersenyum.


"Sebenarnya aku sudah siap Mas. Tapi..."


"Tapi apa?"


"Aku nggak bisa melayani kamu malam ini."


"Kenapa sayang?"


"Karena aku lagi haid Mas."


"Apa! kok bisa haid. Kemarin aja nggak kok." Ifan tampak kecewa.


"Hehe... Mas. Aku kan perempuan normal. Ya wajarlah kalau setiap bulan ada jadwal haid. Kamu gimana sih."


"Apa nggak bisa gitu sayang, haidnya di tunda dulu Minggu depan."


"Hehe...Mas. Ya nggak bisa lah Mas. Mana ada haid bisa di tunda. Ada-ada aja kamu Mas."


"Tapi kalau cium masih boleh kan?"


Irene mengangguk.


Di saat Ifan dan Irene sudah mendekatkan wajahnya dan bibir mereka sudah saling menempel, suara ketukan pintu tiba-tiba saja terdengar dari luar kamar Ifan.


Tok tok tok...


"Siapa sih itu, ganggu aja. Nggak tahu ada orang mau asyik juga ,"


gerutu Ifan


Ifan melangkah ke pintu kamarnya. Dilihatnya Alma tersenyum padanya.


"Malam Papa..."


Ifan membelalakkan matanya saat melihat Alma.


"Alma. Mau ngapain kamu pakai bawa-bawa bantal dan selimut?" tanya Ifan.


"Alma pengin tidur di sini bareng kalian. Boleh kan Papa?"


"Apa! tidur di sini? ya nggak boleh dong Alma." ucap Ifan.


"Tapi Alma pengin tidur sama Mama Iren. Alma pengin di bacakan dongeng. Karena malam ini, Alma nggak bisa tidur."


Irene melangkah ke arah Alma.


"Alma boleh kok tidur di sini sama Mama. Sini sayang masuk!"


Irene menggandeng Alma untuk masuk ke dalam kamarnya. Mereka kemudian naik ke atas tempat tidur.


"Hah. Dasar bocah. Gagal deh, malam pertama," gerutu Ifan sembari menutup pintu.


Ifan kemudian melangkah dan berbaring di samping Irene. Dia berharap Alma cepat tidur. Agar dia tidak mengganggu waktu-waktu manis mereka.

__ADS_1


Tamat.


Terimakasih yang sudah mampir dan membaca dari awal sampai akhir novel ini. Terimakasih yang sudah memberi dukungan like dan komennya.


__ADS_2