
Di dalam kamarnya, Teguh masih berbaring dengan istri mudanya. Sejak kepulangannya satu minggu yang lalu ke rumah Indah, dia belum kembali lagi ke rumah Indah. Padahal dia tahu kalau Indah itu sedang hamil anaknya.
Teguh bingung sekarang. Dia dalam dilema. Di satu sisi, dia harus menemani istri mudanya yang tidak mau ditinggalkan, dan di sisi lain, Indah dan anak-anaknya juga masih sangat membutuhkannya.
Teguh menghadapkan tubuhnya ke arah Dina.Teguh menatap Dina lekat. Malam ini, Dina tampak sudah tertidur pulas.
"Indah lagi ngapain sekarang ya," ucap Teguh.
Teguh ternyata sejak tadi masih memikirkan istri pertamanya. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya karena telah mengkhianati istrinya.
"Indah lagi hamil sekarang. Dia masih butuh aku. Seharusnya aku berada di sampingnya. Bukannya malah menemani Dina di sini," gumam Teguh.
Teguh beringsut duduk. Dia menatap ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
'Sudah satu minggu aku di sini. Seharusnya aku sudah kembali ke rumah Indah lagi. Aku sekarang punya dua istri. Aku harus bisa adil dengan istri-istriku.'' batin Teguh.
Teguh turun dari ranjangnya. Dia kemudian membuka lemarinya untuk mengambil baju. Teguh ganti baju. Setelah itu, dia mengambil jaketnya.
'Aku harus ke rumah Indah sekarang. Mumpung Dina sudah nyenyak. Aku ingin tahu keadaan Indah.'
Teguh kemudian mengendap-endap untuk ke luar dari kamar istri ke duanya. Karena jika sampai Dina tahu kepergian Teguh, Dina bisa mengamuk dan tidak memperbolehkan Teguh pergi menemui istri pertamanya.
Teguh mengambil kunci motor. Setelah itu, dia ke luar lewat pintu belakang. Teguh mengambil motornya yang ada di garasi. Setelah itu, dia pun meluncur pergi meninggalkan rumah Dina.
Setelah kepergian Teguh, tiba-tiba saja Dina terbangun. Dina meraba ke sampingnya tidur. Tidak dilihatnya Teguh ada di sana.
"Hah, ke mana Mas Teguh. Kenapa dia nggak ada di sini," gumam Dina.
Dina terkejut saat tidak melihat suaminya ada di sisi nya. Dina kemudian beringsut duduk. Dia menatap ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
Dina turun dari ranjangnya. Dia kemudian ke luar dari kamarnya untuk mencari suaminya.
"Mas... Mas Teguh...! kamu di mana Mas?" seru Dina.
Dina mencari Teguh ke kamar mandi, ke ruang tamu, ruang tengah, dan terakhir dia melihat ke dapur. Dina terkejut saat pintu dapur tidak terkunci.
"Kok pintu dapur ke buka. Perasaan sudah aku kunci deh. Apakah suamiku pergi lewat pintu belakang,"gumam Dina.
Dina yang penasaran, kemudian membuka pintu belakang. Dia melangkah ke arah garasi.
"Mas Teguh pergi. Motornya juga nggak ada di sini. Jangan-jangan, dia pergi ke rumah Indah lagi. Benar-benar kurang ajar Mas Teguh."
__ADS_1
Dina kemudian melangkah dan masuk ke dalam rumahnya. Dina benar-benar kecewa dengan suaminya. Kenapa diam-diam, dia pergi meninggalkannya tanpa izin dulu dengannya.
"Aku harus telpon Mas Teguh. Aku harus suruh dia pulang. Kenapa sih dia mau pergi nggak bilang dulu sama aku."
Dina melangkah ke arah ponselnya untuk menelpon Teguh.
Dina menekan nomer Teguh. Namun, Teguh tidak mengangkat telponnya. Membuat Dina geram.
"Kemana sih sebenernya Mas Teguh ini. Kenapa aku telpon nggak pernah di angkat," geram Dina.
****
Teguh masih berada di perjalanan ke rumah Indah. Ponselnya sejak tadi masih bergetar. Beberapa kali, Dina menelponnya. Namun Teguh tidak mau mengangkat telponnya. Dia tidak perduli dengan panggilan dari Dina.
"Pasti itu Dina lagi nyariin aku. Biarin ajalah. Aku malas kalau di atur-atur terus. Dina kebanyakan ngekang aku sekarang," ucap Teguh di sela-sela menyetirnya.
Beberapa saat kemudian, Teguh sudah sampai di depan rumahnya. Teguh turun dari motornya. Dia kemudian melangkah ke arah teras rumahnya.
Tok tok tok ..
Teguh sudah mengetuk pintu rumahnya. Namun, belum ada satu orang pun yang membuka pintu.
Sejak tadi, Indah dan Irene masih berbincang-bincang soal kedatangan Ifan dan orang tuanya tadi.
Irene menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara ketukan pintu dari depan rumah.
"Mbak. Dengar nggak sih, sepertinya di depan ada suara orang mengetuk pintu deh," ucap Irene.
"Iya. Tapi siapa ya yang malam-malam gini bertamu," ucap Indah.
"Aku lihat dulu deh," ucap Irene.
"Nggak usah. Biar Mbak aja yang lihat ke depan."
"Ya udah Mbak."
Indah kemudian melangkah pergi ke depan untuk membuka pintu. Indah terkejut saat melihat suaminya sudah ada di depan pintu.
"Mas Teguh, mau ngapain kamu ke sini?" tanya Indah.
Teguh tersenyum.
__ADS_1
"Sayang. Boleh aku masuk?" tanya Teguh.
Indah diam. Dia bingung harus bicara apa dengan suaminya. Sebenarnya dia masih sangat kesal dengan Teguh. Dia juga sudah muak melihat wajah Teguh. Tapi, Indah terpaksa mempersilahkan Teguh masuk ke rumah karena tidak mungkin Indah untuk mengusir Teguh. Karena rumah yang Indah tempati
itu rumahnya Teguh. Justru Teguh yang sekarang numpang di rumah istri ke duanya.
Indah menutup pintu kembali setelah Teguh masuk.
Teguh meraih tangan Indah. Namun, Indah segera menghempaskan nya.
"Nggak usah sentuh-sentuh aku mas," ucap Indah dengan ketus.
"Sayang, kamu kenapa sih? aku kangen sama kamu."
"Nggak usah banyak basa-basi Mas. Kenapa kamu malam-malam ke sini?" tanya Indah. Dia sama sekali tidak ingin menatap wajah suaminya .
"Aku kangen sama kamu Indah. Aku khawatir dengan keadaan kamu dan calon anak kita."
Indah melangkah pergi meninggalkan Teguh di ruang tamu. Dia tidak mau bicara dengan suaminya sedikit pun. Hati Indah masih terluka dan masih sangat sakit karena pengkhianatan Teguh.
Indah kembali ke dapur untuk menemui Irene, sementara Teguh, menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.
"Siapa Mbak?" tanya Irene.
"Lelaki itu," jawab Indah.
"Lelaki itu siapa?"
"Ayahnya anak-anak."
"Dia ke sini? mau ngapain dia ke sini?"
"Biarkan saja lah Ren. Terserah apa mau dia."
Setelah selesai membereskan dapur, Irene kemudian melangkah ke kamarnya. Sementara Indah melangkah ke kamar anak-anaknya untuk tidur bersama mereka. Karena Indah tahu, jika dia ke kamarnya, Teguh pasti akan masuk dan akan merayu-rayunya lagi.
Setelah semua orang terlelap, Teguh bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah ke kamar Indah. Namun, dia tidak melihat Indah ada di kamarnya.
"Indah kenapa harus tidur di kamar anak-anak sih. Kenapa dia tidak tidur di sini aja sama aku. Padahal, aku itu kan kangen sama dia"
Teguh kemudian masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. Teguh kemudian memejamkan matanya dan tidur. Karena sebenarnya dia memang sudah sangat mengantuk.
__ADS_1