Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Balon untuk Alma.


__ADS_3

Indah sudah sampai di depan rumahnya. Indah buru-buru turun dari motornya. Dia berlari masuk ke dalam rumahnya.


Dia melanjutkan menangis di dalam rumahnya.


"Kenapa Mas Teguh, bisa bohongi aku. Apakah mungkin, Mas Teguh itu punya wanita simpanan. Lalu, siapa? siapa yang sudah membuat Mas Teguh berpaling dari aku. Siapa...!" ucap Indah setengah berteriak.


Aaagghhhh...


"Aku benci Mas Teguh. Aku benci...!"


Indah sejak tadi, masih menangis. Dia belum bisa meredam emosinya. Semua unek-uneknya, dia keluarkan dengan ratapan, tangisan, dan teriakan. Fikirannya saat ini, sangat frustasi. Sementara Teguh, tampak tidak perduli dengan keadaan istrinya sekarang.


Di dalam perjalanan ke rumah Ifan, Irene masih merasa khawatir dengan keadaan kakaknya. Emosi kakaknya sedang tidak stabil saat ini.


Irene tahu, Indah itu beda dari dia. Indah itu mudah depresi saat dia sedang punya masalah besar. Terkadang, Indah suka sekali menyakiti dirinya sendiri atau mencoba untuk menyakiti orang lain.


Irene tidak mau keadaan mental Indah kembali terguncang karena sekarang Indah punya anak. Irene takut dan merasa was-was, bagaimana jika Bobi dan Arjun akan menjadi korban dalam masalah ini.


Irene takut, kalau Indah bisa saja menyakiti dua anaknya. Karena dulu, Indah itu pernah depresi dan dia juga sering bolak-balik ke psikiater untuk berobat.


Sesampai di depan rumah Ifan, Irene turun dari motornya. Dia kemudian melangkah ke teras depan rumah Ifan. Sebelum mengetuk pintu, Alma dan ayahnya ke luar.


"Mama...!" seru Alma sembari merentangkan tangannya.


Alma langsung memeluk Irene dengan erat. Begitulah setiap hari. Alma selalu memeluk Irene setiap Irene datang dan setiap Irene mau pulang. Anak itu sangat menyenangkan sekali dan membuat hari-hari Irene selalu bahagia.


"Sayang. Udah cantik banget ya. Siapa yang udah kuncir rambut Alma?" tanya Irene.


Alma hanya tersenyum.


"Siapa? si Mbok ya?" terka Irene.


Alma menggeleng.


"Bukan si Mbok Mama. Tapi papa."


"Oh ya. Papa kamu pintar ya ternyata."


Irene menatap ke arah Ifan.


"Maaf ya Mas. Kalau aku lama."


"Nggak apa-apa. Ini juga masih jam tujuh. Belum terlambat sayang."


"Ya udah Mas. Kita berangkat sekarang yuk," ajak Irene.


"Iya."


Ifan, Irene dan Alma, mereka kemudian masuk ke dalam mobil. Mereka kemudian meluncur ke arah sekolah Alma.


Sejak tadi, Irene masih diam. Walau saat ini dia sedang berada di dekat Ifan, tapi fikirannya melayang jauh ke Mbak Indah.


'Duh, Mbak Indah sekarang lagi ngapain ya. Apa dia lagi nangis karena udah dikecewakan Mas Teguh, mudah-mudahan saja dia nggak depresi lagi seperti dulu," batin Irene.


Ifan tampak sesekali memperhatikan Irene. Irene tampak tidak fokus. Irene terkejut saat tiba-tiba saja, Ifan menyentuh tangannya dan menggenggamnya erat.


"Mas," ucap Irene.


"Kamu kenapa sayang? dari tadi diam aja? apa sih yang lagi kamu fikirkan?" tanya Ifan pada Irene.


"Aku lagi mikirin Mbak Indah Mas," jawab Irene singkat.


"Kenapa dengan Mbak Indah sayang? kata kamu, Mbak Indah lagi punya masalah sama suaminya. Masalah apa sayang?" tanya Ifan ingin tahu.


Irene menghela nafas dalam.


"Kamu masih ingat nggak Mas, dulu. Kakak aku pernah di rujuk ke rumah sakit jiwa gara-gara dia depresi karena diputusin pacarnya."


Ifan tampak mengingat kejadian itu.


"Iya. Aku ingat. Emang kenapa?" tanya Ifan lagi.


"Aku takut Mbak Indah akan mengalami hal itu lagi."


"Kenapa kamu bisa berfikiran ke arah situ sayang? emang masalah apa yang bisa membuat Kakak kamu kembali depresi lagi?"

__ADS_1


"Mas, tadi aku nggak sengaja ngikutin Mbak Indah. Dan ternyata, Mbak Indah itu menemui Mas Teguh," ucap Irene menjelaskan.


"Mas Teguh? katanya Mas Teguh ada di Bali. Ketemu di mana Mas Teguh dengan Mbak Indah?" tanya Ifan yang masih belum mengerti dengan masalah yang dihadapi Mbaknya Irene.


"Ternyata Mas Teguh itu masih ada di Jakarta Mas. Dan tadi pagi, Mbak Indah itu ke tempat kerjanya Mas Teguh. Dan kamu tahu Mas, apa yang sudah Mbak Indah lakukan di sana?"


"Apa!"


"Dia itu menangis seperti orang histeris gitu. Dia memukul-mukul Mas Teguh dan mencakar-cakar suaminya. Bayangin deh. Malu-maluin banget kan kakak aku itu. Dan yang lebih anehnya lagi, Mas Teguh tidak mau mengejarnya. Dia membiarkan Mbak Indah pergi. Untungkan ada aku. Aku bisa nenangin Mbak Indah."


Ifan tampak berfikir.


"Kenapa ya dengan Kakak ipar kamu itu. Kenapa dia tega bohong sama Mbak Indah."


"Aku takut, kejadian itu akan terulang lagi pada Mbak Indah," ucap Irene tiba-tiba.


"Kejadian apa?"


"Mas Irwan. Dia mengusir aku, mentalak aku, dan sekarang dia udah nikah lagi sama perempuan lain."


Irene tampak sedih sangat mengingat kejadian itu. Irene tidak mau hal yang sama akan terulang lagi di kehidupan kakaknya.


Sakit. Memang sangat sakit, saat Irene di campakan oleh lelaki yang sangat di cintainya. Dia diusir dari rumah, di cerai, dan di khianati. Suaminya menikah lagi dengan tetangga sebelah rumahnya. Padahal Irene sudah membuang banyak biaya untuk operasi Irwan dan pengobatan Irwan.


Tapi Irwan memang lelaki yang tidak tahu berterima kasih. Justru dia malah lebih memilih menikah dengan janda anak satu, dengan alasan Irene tidak bisa memberikan dia anak.


Namun, kehancuran Irene hanya sebentar saja. Karena ada Ifan, cinta sejatinya yang selalu menguatkan dirinya agar dia tetap tabah menjalani kehidupannya.


Dan di sisi Irene, ada Alma. Anak kesayangan Irene yang selalu menjadi penyemangat di kehidupannya. Membuat hari-hari Irene selalu bahagia sampai sekarang.


"Tapi aku yakin, Mas Teguh tidak akan mungkin mengkhianati Mbak Indah Ren. Aku juga kenal sama kakak ipar kamu itu Ren. Dia lelaki yang pendiam, tidak banyak tingkah, dan kalem. Ibadahnya juga rajin, masak sih, dia bisa khianati Mbak Indah. Mas Teguh bohong, mungkin karena ada alasan tertentu yang membuatnya terpaksa bohong."


"Entahlah. Aku nggak tahu. Cuma Mas Teguh yang tahu apa yang membuatnya bisa membohongi Mbak Aku," ucap Irene.


"Sayang, sekarang coba kamu telpon Mbak kamu. Siapa tahu dia masih nangis atau mungkin, dia belum pulang ke rumahnya," ucap Ifan.


Irene mengangguk. "Iya Mas. Mudah-mudahan saja sih, dia nggak ngelantur dan pergi ke mana gitu. Mudah-mudahan dia sampai ke rumahnya."


Irene mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. Dia kemudian mencoba untuk menelpon Mbak Indah.


"Halo...." suara Mbak Indah dari seberang telepon.


"Ada di rumah Ren. Ada apa?"


"Mbak Indah, baik-baik aja kan?"


"Iya. Aku baik-baik aja kok."


"Mbak. Kalau ada apa-apa, Mbak bisa hubungi aku ya."


"Iya Ren."


"Aku lagi mau ngantar Alma ke sekolah. Kalau Mbak sakit, istirahat aja. Nggak usah masak deh. Nanti aku pesankan makanan aja ya. Biar bisa di antar ke rumah Mbak."


"Iya Ren. Makasih."


"Ya udah. Aku tutup dulu ya Mbak, telponnya. Assalamualaikum"


"Wa'alakiumsalam."


Irene menutup saluran telponnya.


"Gimana Ren?" tanya Ifan.


"Mbak Indah sudah ada di rumah Mas. Alhamdulillah dia nggak apa-apa," ucap Irene.


"Syukurlah kalau begitu."


Irene tampak lega setelah tadi dia mendengar suara Indah.


Sesampai di depan sekolah Alma, Ifan menghentikan laju mobilnya.


"Sayang, sudah sampai sayang," ucap Ifan pada anaknya.


Alma yang duduk di jok belakang, buru-buru turun dari mobil ayahnya. Begitu juga dengan Irene, dia sudah membuka pintu mobilnya. Namun, Ifan mencekal tangannya.

__ADS_1


"Sayang."


Irene menoleh ke arah Ifan.


"Apa Mas? jangan minta yang macem-macem deh. Aku mau turun."


Ifan terkekeh.


" Hehe... sayang, siapa yang minta cium. Aku nggak mau minta itu. Aku cuma mau minta, kamu nggak usah turun," ucap Ifan.


"Kenapa Mas? kenapa aku nggak boleh turun? Kan aku harus temani anak kamu sekolah." Irene menatap Ifan lekat.


"Aku punya kejutan untuk kamu."


"Kejutan apa?"


"Ya nanti kamu juga tahu sendiri. Pokoknya kamu harus ikut aku."


"Terus Alma gimana?" tanya Irene.


"Biarin aja Alma di sini. Dia udah gede kok. Dan tahun depan kan, dia juga udah masuk SD. Biarkan saja dia sendiri. Nggak usah di temani."


"Tapi Mas, apa Alma mau?"


"Biar nanti aku yang turun."


Ifan kemudian turun dari mobilnya. Dia tidak melihat Alma.


"Pergi ke mana anak aku, apa dia sudah masuk ke dalam kelas?" ucap Ifan.


Ifan tampak mencari-cari Alma. Dia menatap ke sekeliling. Ternyata Alma sudah berada di depan kakek pedagang balon.


"Kalo yang ini berapa Kek?" tanya Alma pada kakek itu.


Alma tampak masih menawar harga balon. Ifan hanya bisa geleng-geleng kepala dan dia melangkah menghampiri Alma.


"Alma mau beli balon?" tanya Ifan.


Alma mengangguk.


"Iya Papa. Boleh kan? sekalian aku mau belikan buat Mama Iren dan Papa," ucap Alma sembari menatap lekat ke agan ayahnya.


Ifan tersenyum.


"Kamu yakin, mau belikan mama Iren balon?"


"Iya dong Papa."


Ifan menatap iba pada kakek pedagang balon.


Kakek itu sudah tua, tapi dia masih mau berjualan balon.


"Pak. Bapak baru ya di sini?" tanya Ifan.


"Iya Pak. Saya baru mencoba jualan di sini," jawab kakek tua itu.


"Berapa Pak harga balonnya?" tanya Ifan.


"Ini lima ribuan aja Pak," jawab kakek tua itu.


"Murah banget Pak. Nggak rugi di jual lima ribuan?"


"Nggak apa-apa untung sedikit. Yang penting, laku dan laris manis. Biar istri dan anak-anak saya bisa makan."


Ifan merasa tidak tega pada bapak penjual balon itu. Ifan pernah merasakan, bagaimana rasanya hidup dalam kemiskinan. Ingin beli apa-apa juga sulit. Karena duitnya nggak ada. Makanya selama ini, Ifan sangat perhatian pada orang-orang miskin.


"Aku ambil semua deh Pak balonnya," ucap Ifan.


Kakek tua itu terkejut saat Ifan memborong semua balon-balon dagangannya.


Ifan memberikan uang satu juta ke kakek itu. Padahal, semua balon-balon kakek itu tidak sampai sejuta.


"Wah, ini banyak sekali Pak," ucap kakek tua itu. Dia terharu sampai-sampai air matanya menetes membasahi pipi keriputnya.


"Nggak apa-apa. Terima aja Pak. Uang itu, bisa buat modal bapak besok. Biar besok, bapak bisa kulakan balon agak banyak lagi."

__ADS_1


"Alhamdulillah ya Allah... terimakasih Engkau telah mempertemukan aku dengan malaikat penolong sebaik bapak ini. Semoga bapak selalu di beri keberkahan dan kesuksesan ya Pak," ucap kakek tua itu.


"Iya. Makasih doanya ya Pak."


__ADS_2