Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Terkurung di dalam kamar mandi


__ADS_3

Siang ini, Ifan sudah mengumpulkan semua karyawannya di kantin kantornya. Kantin di kantor Ifan itu sangat luas. Bisa menjangkau karyawan Ifan yang jumlahnya ribuan.


Ifan sudah berdiri di depan para karyawannya. Karyawan Ifan juga bingung kenapa bosnya itu mengumpulkan mereka di kantin. Bukan di tempat meeting saja.


"Saya mengundang kalian ke sini, karena saya mau mentraktir semua karyawan-karyawan di sini makan siang. Kalian tidak perlu merogoh kocek lagi untuk makan di kantin ini. Karena saya yang akan membayar makan siang kalian di ibu kantin," ucap Ifan.


Semua karyawan Ifan saling menatap.


"Kalian bisa makan sepuasnya di sini. Dan saya juga sudah menyediakan banyak menu yang saya pesan dari luar untuk kalian semua. Mungkin sebentar lagi akan datang."


"Dan satu lagi, sekalian saya akan mengenalkan pada kalian calon istri saya. Dia adalah penyemangat hidup saya, cinta pertama saya, dan cinta terakhir saya. Dan dia adalah Irene. Calon ibu untuk anak saya. Dan saya akan segera menggelar acara tukar cincin dengan dia. Dan mungkin satu bulan atau dua bulan lagi, saya akan mengadakan pesta besar pertunangan saya dengan Irene. Yang akan di susul dengan pesta pernikahan saya dengan dia."


Irene benar-benar terharu sekali dengan kejutan ini. Ternyata inilah kejutan besar itu. Irene meneteskan air matanya. Namun, dia langsung mengusapnya kasar.


"Mas, aku benar-benar terharu sekali dengan semua ini. Kamu mengumpulkan semua karyawan kamu, hanya untuk mengenalkan aku pada mereka semua?"


"Sayang, aku ingin seluruh dunia tahu, kalau kamu adalah milik aku. Dan bila perlu, aku akan jumpa pers dengan para wartawan agar mereka mau meliput kita."


"Jangan Mas. Lebay banget deh, pakai ngundang wartawan segala. Emang kita ini artis?"


"Nggak apa-apa kan sayang. Karena aku akan menunjukan kalau aku benar-benar cinta sama kamu."


"Mas, tapi orang tua aku belum tahu dengan hubungan kita ini."


"Iya juga sih ya Ren. Ya udah, kamu atur dong pertemuan aku dengan orang tua kamu. Aku ingin minta restu pada orang tua kamu."


"Aku nggak tahu deh Mas. Akan seperti apa nanti reaksi orang tua kita kalau mereka dipertemukan. Ibu kamu pasti benci sekali dengan orang tua aku. Terutama dengan ayah aku."


"Hehe... udahlah sayang. Jangan fikirin itu dulu. Kita seneng-seneng dulu di sini. Nikmati momen-momen ini."


Irene tersenyum.


Irene dan Ifan kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di kantin kantor. Mereka tampak berbaur dengan para karyawan.


Sejak tadi, Ifan masih menatap ke arah Irene.


"Mas, kenapa kamu ngelihatin aku kayak gitu sih. Malu kan dilihatin karyawan kamu."


"Hehe..untuk apa aku malu. Aku nggak perduli mereka mau ngomong apa sayang. Sebentar lagi kamu kan akan jadi ibunya Alma."


Ring ring ring...


Suara ponsel Irene mengejutkan Irene dan Ifan.


"Siapa yang nelpon?" tanya Ifan.


"Tunggu ya Mas. Aku angkat telpon dulu."


Irene kemudian merogoh ponsel yang ada di tasnya.


"Inikan nomernya Bobi dan Arjun. Ngapain mereka nelpon aku? tumben banget, ada apa ya. Mereka nggak mungkin nelpon kalau ngga ada yang penting," gumam Irene.


"Siapa sayang yang nelpon?" tanya Ifan.


"Ini Mas, ponakan aku. Nggak tahu mereka mau bicara apa."


"Angkat aja sayang. Mungkin mereka mau bicara penting."


Irene kemudian mengangkat panggilan dari Bobi.


"Halo Bob. Ada apa Bob. Tumben banget nelpon Tante?" tanya Irene.


"Tante bisa pulang sekarang nggak Tan? aku takut nih."


"Apa! takut. Takut kenapa Bob? ada apa?"


"Tan. Kamar aku berantakan sekali Tan. Dan juga, mainan aku dan Arjun banyak yang rusak. Dan semua barang-barang yang ada di kamar aku juga pada pecah. Aku rasa tadi waktu aku dan Arjun ke sekolah, ada orang yang mau maling deh."


"Apa! ada maling masuk?"


"Iya Tan. Aku takut."


"Terus Mama kamu ke mana?"

__ADS_1


"Nggak tahu Mama ke mana. Waktu aku pulang sih, mama ada. Tapi nggak tahu sekarang ada di mana."


"Ya udah. Nanti Tante pulang."


Irene kemudian menutup saluran telponnya. Dia menatap ke arah Ifan.


"Ada apa sayang?"


"Ponakan aku nelpon. Katanya kamarnya berantakan karena ada maling yang masuk."


"Maling? di siang bolong gini ada maling?"


"Nggak tahu aku Mas. Boleh nggak Mas, aku pulang sebentar. Aku khawatir sama mereka berdua. Aku takut terjadi apa-apa di rumah."


"Ya udah. Ayo aku antar. Sekalian aku mau jemput Alma."


Irene tersenyum.


"Makasih ya Mas."


"Iya sayang."


Ifan dan Irene kemudian melangkah bersama meninggalkan kantin. Mereka ke luar dari kantor dan melangkah ke parkiran untuk mengambil mobilnya.


Ifan membuka pintu mobilnya. Setelah itu, dia menyuruh Irene masuk.


"Masuk sayang."


"Iya Mas."


Irene kemudian masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Ifan yang ikut masuk ke dalam mobilnya.


Ifan kemudian menyalakan mesin mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan kantornya.


Sejak tadi, Irene tampak masih cemas memikirkan dua ponakannya di rumah.


'Apa ya, yang sebenarnya terjadi di rumah. Apa benar, kalau di siang bolong gini, ada maling masuk ke kamar Bobi dan Arjun.' batin Irene.


"Sayang. Kamu kenapa?" tanya Ifan."Kamu lagi mikirin ponakan kamu ya?"


"Iya Mas. Ada apa ya sebenernya di rumah. Apa jangan-jangan, ini semua ulah Mbak Indah. Tadi pagi kan dia emosi banget. Mungkin saja pulang-pulang dia nangis dan ngamuk berantakin kamar Bobi."


"Ya udah. Kita nanti cek dulu keberadaan Mbak Indah."


"Iya Mas. Tapi kita mau ke sekolah Alma dulu kan? untuk jemput dia."


"Iya."


Beberapa saat kemudian, Ifan dan Irene sudah sampai di depan sekolah Alma. Alma sudah tampak berada di depan gerbang.


"Pasti dia sudah nungguin dari tadi deh."


Irene kemudian turun dari mobilnya untuk menghampiri Alma.


"Sayang. Udah nunggu dari tadi ya?" tanya Irene.


"Kenapa lama sekali Mama?"


"Maaf ya sayang. Tadi mama dan papa lagi ada acara di kantor. Dan tadi kejebak macet sedikit. Ayo kita masuk sayang."


"Iya."


Irene menggandeng Alma untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah Irene dan Alma masuk, Ifan kemudian melanjutkan meluncur untuk ke rumah Mbak Indah.


"Lho. Kok kita ke rumah Mama? kenapa nggak pulang ke rumah kita papa?" tanya Alma.


"Sayang. Mama lagi ada urusan sebentar. Nggak apa-apa kan sayang,kalau mampir ke rumah Mama dulu?" tanya Irene


Alma mengangguk.


Irene kemudian turun dari mobilnya dan buru-buru masuk ke rumahnya dan melangkah menuju kamar Bobi.


Irene terkejut saat melihat kamar Bobi. Irene yang penasaran, melangkah dan melihat ke kamar Mbak Indah . Kamar Indah juga sama acak-acakan.

__ADS_1


"Nggak salah lagi. Ini pasti perbuatannya Mbak Indah."


Irene mencari Indah dan ke dua anak Indah yang tampak tidak ada di dalam rumah. Tiba-tiba saja, Irene mendengar suara seseorang menangis dari arah belakang.


"Hiks...hiks...hiks..."


Ifan mendekat ke arah Irene.


"Sayang. Ada apa?" tanya Ifan.


"Mas, aku dengar suara orang menangis. Itu seperti Mbak Indah. Dia pasti ada di halaman belakang rumah."


"Ya udah. Kita samperin sayang," ucap Ifan.


"Iya Mas."


Ifan dan Irene kemudian melangkah untuk menemui Indah yang ada di halaman belakang rumah. Sebelum sampai ke belakang, Irene dan Ifan mendengar suara meminta tolong.


"Tolong...! Tolong...! Mama...! tolong...! keluarin aku dari sini...!" seru Bobi.


Irene menatap ke arah kamar mandi.


"Itu seperti suara Bobi dan Arjun. Apa mereka ada di dalam kamar mandi. Kenapa mereka meminta tolong," ucap Irene.


Irene dan Ifan kemudian melangkah ke arah kamar mandi.


"Bobi, Arjun. Apa kalian ada di dalam?" tanya Irene.


"Tante buka pintunya Tante. Tolong...!" seru Bobi dari dalam kamar mandi.


"Tolong, keluarkan kami dari sini!" seru Arjun.


Ifan langsung mendobrak pintu kamar mandi. Dan ternyata benar, kalau Arjun dan Bobi terkurung di dalam kamar mandi.


Bobi dan Arjun langsung berhambur memeluk Tantenya.


"Tante aku takut," ucap Arjun.


"Mama ngurung kami di kamar mandi Tante," jelas Bobi.


"Apa!" Irene terkejut.


Irene dan Ifan saling menatap.


"Mas Mbak Indah Mas," ucap Irene..


"Sekarang di mana Mama kamu?"tanya Ifan.


"Mama ada di belakang," jawab Arjun.


Ifan dan Irene kemudian melangkah ke belakang rumah. Dilihatnya Indah tampak masih duduk di halaman belakang rumah.


Irene dan Ifan segera menghampiri Indah.


"Mbak Indah," ucap Irene.


Indah menoleh ke arah Irene dan Ifan. Dia langsung mengusap air matanya. Indah kemudian berdiri dan menghadapkan tubuhnya ke arah Ifan dan Irene.


"Irene," ucap Indah. Matanya tampak sembab dan bengkak. Sepertinya sudah sejak tadi pagi dia menangis.


"Apa yang terjadi Mbak?" tanya Irene.


Indah menghela nafas dalam.


"Mana Mas Teguh? apa kamu sudah membawa Mas Teguh pulang? aku kangen sama suamiku. Suruh dia pulang ke rumah aku Irene. Aku kangen," ucap Indah.


'Duh, ini semua gara-gara Mas Teguh nih. Awas kamu Mas. Aku akan cari kamu sampai ketemu. Kamu sudah membuat jiwa Kakak aku terguncang lagi. Kamu sudah bohongin dia. Semoga saja kamu tidak sampai mengkhianati dia. Kalau sampai kamu mengkhianati dia, aku nggak akan pernah memaafkan kamu. Aku akan cabik - cabik kamu Mas." batin Irene.


"Irene. Apa Mbak mu depresi lagi? apa hanya karena suaminya membohonginya, dia bisa sedepresi ini?" gumam Ifan.


Ifan merasa iba saat melihat Indah. Mungkinkah hanya karena Teguh membohonginya, bisa membuat Indah depresi lagi, sampai-sampai dia tega mengurung anak-anaknya di dalam kamar mandi.


"Aku nggak tahu Mas," ucap Irene.

__ADS_1


"Bawa dia masuk ke dalam. Biarkan dia istirahat. Agar dia nggak kayak orang linglung begini," ucap Ifan.


Irene dan Ifan kemudian membawa Mbak Indah masuk ke dalam rumah. Mereka akan mencoba untuk menenangkan Mbak Indah. Mbak Indah memang tidak bisa mengendalikan emosinya, setiap kali dia emosi. Mungkin karena beban berat di hatinya yang membuat jiwanya selalu terganggu.


__ADS_2