Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Kepulangan Teguh.


__ADS_3

Sore ini, Teguh sudah bersiap-siap untuk pulang. Teguh sudah berada di parkiran.


Teguh mendekat ke arah sepion motornya. Dilihatnya, bekas cakaran sudah membekas di pipinya.


"Duh, Indah kenapa bisa seperti ini sih, kenapa dia harus mencakar-cakar aku begini," ucap Teguh sembari mengusap-usap bekas cakaran yang ada di pipinya.


Beberapa saat kemudian, Imran temannya menghampirinya.


"Guh. Udah mau pulang?" tanya Imran.


Teguh hanya mengangguk. Dia kemudian menatap ke arah Imran.


"Sekarang kamu tinggal di mana emang?" tanya Imran.


Teguh diam. Teguh memang lelaki yang pendiam dan sangat tertutup. Dia juga jarang bergaul sama teman-temannya. Jadi setiap dia ngobrol dengan teman-temannya, hanya seperlunya saja.


"Aku masih di tempat yang sama kok," jawab Teguh sekenanya.


"Kemarin aku ketemu istri kamu. Katanya kamu itu nggak pulang ke rumah istri kamu. Benar nggak sih?" tanya Imran lagi yang membuat Teguh bingung untuk menjawabnya. Teguh tidak mungkin cerita ke teman-temannya kalau sekarang dia tinggal di rumah istri ke dua nya.


Teguh masih diam.


'Ah, kenapa Imran harus bertanya seperti ini. Aku kan masih pengantin baru. Tidak mungkin aku akan meninggalkan Dina dan pulang ke rumah Indah.' batin Teguh.


"Iya. Itu memang benar. Aku sekarang ngontrak rumah sendiri. " jawab Teguh.


"Suami istri, kok bisa tinggalnya misah? kalian lagi pisah ranjang?"


"Nggak juga. Aku cuma lagi mau fokus sendiri dulu. Soalnya ribet, kalau di rumah. Anak-anak aku rewel- rewel. Kalau di rumah, mereka sering sekali meminta aku untuk menemani mereka jalan-jalan. Mereka juga manja-manja. Jadi malas aja kalau di rumah."


"Ya kan, bisa tinggal ajak mereka jalan-jalan. Toh, gaji kamu juga sudah lumayan. Kan seminggu sekali kamu juga libur."


"Iya sih. Tapi, aku punya alasan sendiri yang membuat aku belum bisa pulang ke rumah Indah." Teguh menegaskan.


Imran hanya bisa mengernyitkan alisnya heran.


Teguh sudah naik ke atas motornya. Dia tidak mau terlalu banyak bicara dengan Imran. Dia malas juga untuk cerita kalau sekarang dia punya dua istri.


"Aku cabut dulu ya," ucap Teguh.


"Lho. Kok cabut, buru-buru amat," ucap Imran.


"Iya. Soalnya lagi banyak urusan di rumah."


Teguh kemudian mengendarai motornya dan meninggalkan tempat kerjanya.


"Aneh banget sih tuh orang. Jangan-jangan, dia tinggal sama wanita simpanannya lagi. Ah, ngomong apa aku ini. Mana mungkin lelaki pemalu seperti dia, punya wanita simpanan. Tapi alasan anak. Nggak masuk akal banget tadi."


Sesampai di sebuah rumah kontrakan minimalis, Teguh menghentikan motornya. Dia kemudian turun dari motornya dan melangkah ke arah teras.


Teguh mengetuk pintu rumahnya. Beberapa saat kemudian, seorang wanita cantik tampak tersenyum padanya.


Dia Dina, wanita yang sudah tiga bulan ini dinikahi Teguh. Dan membuat Teguh, lupa dengan istri dan anaknya.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Dina saat melihat luka bekas cakaran di pipi Teguh.


"Oh, sayang. Ini bukan apa-apa kok."

__ADS_1


"Seperti bekas cakaran?"


"Iya. Tadi di tempat kerja aku, nggak sengaja aku dicakar kucing."


"Kok bisa?"


"Kucingnya dekat-dekat aku makan. Terus, dia sampai nyakar pipi aku."


"Ya ampun, kamu harus di obati Mas."


Dina menggandeng suami barunya itu masuk ke dalam rumah.


Dina dan Teguh memang sudah lama menjalin hubungan asmara. Mungkin sudah sekitar dua tahunan. Dan sekarang, hubungan mereka sudah berakhir di pelaminan, tanpa sepengetahuan Indah istri pertamanya.


Dina juga sudah tahu kalau Teguh itu sudah punya istri dan anak. Tapi kalau yang namanya cinta, apapun akan Dina lakukan demi mendapatkan cinta Teguh. Dan sekarang, Dina sudah mendapatkan Teguh seutuhnya.


Walau dia hanya dinikahi siri oleh Teguh. Bagi Dina, biarlah jadi istri ke dua yang penting, dia bisa sama-sama memiliki Teguh dan mendapatkan cinta Teguh.


Teguh dan Dina sudah duduk di ruang tengah. Dina bangkit berdiri dan dia melangkah untuk mengambil salep.


Beberapa saat kemudian, Dina duduk kembali di sisi Teguh.


"Aku salepin ya luka kamu," ucap Dina.


"Iya dek," ucap Teguh.


Dina kemudian perlahan-lahan memakaikan salep di pipi suaminya.


"Hati-hati dek. Perih." Teguh tampak masih memegangi pipinya.


"Sabar sedikit Mas," ucap Dina.


"Dek. Mas mau pulang," ucap Teguh tiba-tiba yang membuat Dina terkejut.


"Pulang ke mana?" tanya Dina.


"Pulang ke rumah istri pertama Mas."


"Jangan. Kalau Mas pulang adek sama siapa Mas?" Dina tampak sedih.


"Kamu nggak apa-apa kan untuk sementara tidur sendiri dulu? Mas nggak akan lama kok pulangnya," Teguh masih memohon agar istri ke duanya itu mau mengizinkannya pulang.


"Mas, adek takut kalau Mas pulang, nanti Mas bisa lupain adek. Adek nggak mau Mas, Mas sampai melupakan adek," ucap Dina.


"Dek. Tapi Mas harus pulang. Kasihan Indah dan anak-anak Mas. Kan Mas udah kasih adek jatah tiga bulan. Itu juga atas keinginan adek kan," ucap Teguh.


"Tapi kita kan lagi program hamil Mas. Gimana kalau gagal. Kamu pengin punya anak perempuan kan?"


"Iya sih. Tapi, tolonglah. Sekali ini aja. Mas janji, Mas pasti akan cepat kembali ke sini. Dan Mas juga ingin berbuat adil pada ke dua istri Mas. Kamu kan sudah Mas kasih waktu tiga bulan."


Sudah tiga bulan, Dina melarang Teguh untuk pulang ke rumah istri dan anaknya. Alasannya, karena sekarang mereka sedang ikut program hamil. Karena Teguh menginginkan anak perempuan. Namun Indah belum bisa memberikannya.


Tapi, Dina takut kalau Teguh pulang ke rumah istri pertamanya dia tidak akan kembali lagi ke rumahnya.


"Mas, tapi kamu janji ya. Kamu akan kembali lagi ke rumah aku."


Teguh tersenyum.

__ADS_1


"Iya. Aku janji. Aku akan cepat kembali dek."


"Ya udah. Aku izinkan kamu Mas."


"Makasih ya sayang."


****


Malam ini Irene masih menemani Indah di kamarnya.


"Kepala aku sakit banget Ren."


"Mbak mau aku ambilkan obat?" tanya Irene.


"Nggak usah. Ini cuma migrain biasa aja Ren. Nanti juga sembuh sendiri."


"Mbak. Mulai sekarang, Mbak nggak boleh mikirin macam-macam Mbak. Apalagi mikirin Mas Teguh."


"Ren. Bagaimana Mbak nggak emosi. Mas Teguh udah keterlaluan. Dia udah bohongin Mbak."


"Tapi di buat santai aja Mbak. Aku yakin, Mas Teguh nggak akan macam-macam sama Mbak. Dia itu bukan Mas Irwan. Mas Teguh itu lelaki yang baik. Dia kalem dan nggak genit seperti Mas Irwan."


"Iya Ren. Mbak juga mikirnya gitu. Tapi, Mbak takut kalau ternyata Mas Teguh itu mengkhianati Mbak. Mbak nggak tahu, bagaimana rasanya jika sampai suami Mbak punya wanita lain di luar sana."


Irene sejak tadi masih mencoba untuk menenangkan Mbak Indah. Irene nggak mau, hal-hal buruk terjadi pada kakaknya.


Tok tok tok. .


Suara ketukan pintu sudah terdengar dari luar rumah.


"Ada tamu. Apa itu mas Ifan ya. Kenapa dia balik lagi ke sini," ucap Irene.


"Coba lihat, siapa yang datang Ren. Barangkali itu suami Mbak."


Irene mengangguk.


Dia kemudian melangkah untuk membuka pintu depan.


Irene terkejut saat melihat Teguh ada di depan pintu.


"Mas Teguh," ucap Irene.


Irene langsung menarik Teguh ke depan.


"Kenapa Mas Teguh baru pulang? dari mana Mas Teguh ini heh...!"


"Mas Teguh Mbak kasihan sama Mbak Indah dan anak-anak. Mereka udah nungguin Mas Teguh dari kemarin."


Teguh hanya diam.


"Maafkan aku Ren."


"Mas Teguh. Aku tahu Mas Teguh itu sibuk dengan pekerjaan Mas. Tapi Mas Teguh seharusnya mikir dong. Kalau selain pekerjaan, Mas Teguh itu punya keluarga yang harus Mas perhatikan. Seperti Mbak Indah, Bobi dan Arjun."


"Maaf Ren. Iya aku tahu. Izinkan aku masuk Ren. Aku mau ketemu istri dan anak aku."


"Silahkan. Silahkan Mas Teguh masuk. Tapi ingat. Mas harus hati-hati bicara dengan Mbak Indah. Jangan membuat dia jadi tambah sedih.

__ADS_1


Teguh mengangguk.


"Aku janji Ren."


__ADS_2