
"Ada apa sebenarnya Ren? kenapa kamu datang ke sini? kamu lagi ada masalah sama Irwan?" tanya Indah setelah dia duduk dengan adiknya di ruang tengah.
"Hiks...hiks... apa boleh Mbak Indah, aku tinggal di sini untuk sementara waktu?" tanya Irene di sela-sela tangisannya.
Irene sejak tadi masih menangis. Sesekali dia mengusap air matanya dengan telapak tangannya.
"Ya boleh dong. Kamu itu kan adik aku. Aku akan dengan senang hati menerima kamu tinggal di sini," ucap Indah menatap Irene lekat.
"Tapi, bagaimana dengan Mas Teguh?" Irene merasa tidak enak, dengan Teguh kakak iparnya.
"Mas Teguh, nggak apa-apa kok. Dia pasti akan ngizinin kamu untuk tinggal di sini bersama aku. Lagian, Mbak juga masih punya satu kamar kosong."
"Iya Mbak."
"Kamu belum cerita. Sebenarnya kamu kenapa? ayo dong, cerita sama Mbak. Kamu sebenarnya kenapa? apa yang terjadi?" tanya Indah. Dia tampak mendesak adiknya untuk cerita tentang masalahnya.
Namun, Irene masih bungkam. Dia belum mau menjawab pertanyaan kakaknya.
"Ren. Kamu kenapa?" tanya Indah sekali lagi.
"Aku... em... aku... di usir Mbak oleh Mas Irwan dari rumah," jawab Irene pada akhirnya.
"Apa! Irwan ngusir kamu?" Indah membelalakkan matanya, terkejut mendengar penuturan Irene.
"Kamu yakin Ren dengan ucapan kamu itu?" tanya Indah.
"Iya Mbak. Mas Irwan udah ngusir aku dari rumah. Dia juga mau menceraikan aku."
"Kok Irwan tega banget sih sama kamu. Dia mau menceraikan kamu, apa alasannya?"
"Dia bilang kalau aku ini mandul Mbak. Aku nggak bisa punya anak. Dan katanya, dia itu sudah tidak mencintai aku lagi Mbak."
"Astaga... Irwan benar-benar keterlaluan." Indah tampak geram dengan Irwan.
Sudah sejak dulu, Indah itu tidak pernah suka dengan perangai Irwan. Tapi, orang tua Irene yang memaksa Irene untuk menikah dengan Irwan. Karena menurut mereka, Irwan itu lelaki yang mapan, punya pekerjaan tetap. Dan yang pasti, dia dari keluarga yang terpandang.
Berbeda dari Ifan. Dulu, dia itu bekerja hanya sebagai kuli serabutan. Dan gaji yang dia dapatkan, tidak seberapa di bandingkan dengan gaji Irwan yang kerja kantoran.
Makanya, orang tua Irene lebih memilih untuk memisahkan Ifan dengan Irene dan memaksa Irene untuk menikah dengan Irwan.
__ADS_1
"Di saat aku sudah mulai mencintai dia dan melupakan lelaki masa lalu aku, sekarang dia malah mencampakkan aku begitu saja Mbak. Sakit banget hati aku Mbak," ucap Irene sembari memegang dadanya.
"Kemarin aja, aku bela-belain untuk mencari pinjaman untuk operasi kaki dia. Tapi, dia sama sekali nggak ada ngertinya," lanjut Irene.
"Kamu yang sabar ya. Biar Mbak, yang akan bicara sama dia. Dia sudah keterlaluan sekali kalau begitu. Mbak tidak akan tinggal diam. Mbak harus ke rumah Irwan dan meminta penjelasan darinya."
"Tidak perlu Mbak. Tidak usah. Percuma juga Mbak ke sana, kalau ujung-ujungnya hanya berantem sama dia."
"Tapi Mbak nggak terima adik Mbak, di perlakukan seperti ini."
"Biarin aja Mbak. Aku juga udah malas bertahan dengan Mas Irwan. Jujur selama ini, aku memang nggak pernah bahagia Mbak, hidup dengan lelaki itu. Aku bertahan dengan dia, karena ayah dan ibu."
"Ayah dan ibu, yang seharusnya tanggung jawab untuk semua masalah ini. Karena mereka yang sudah menjodohkan kamu dengan Irwan. Dari dulu Mbak itu tidak pernah melihat gelagat baik dari suami kamu. Dan sekarang terbuktikan kalau dia itu memang lelaki tidak tahu diri."
"Aku juga malas Mbak. Ketemu sama ibu dan ayah. Dia selalu merecoki aku terus. Uang tabungan aku aja hampir habis karena di pinjam mereka."
"Bukan cuma kamu. Mbak juga sama. Mereka juga sering banget minjam ke Mbak. Dan yang terakhir kemarin. Mereka minta uang untuk modal usaha. Entahlah apa mau mereka."
"Ya udah. Sekarang kita ke kamar yuk. Mbak akan antar kamu ke kamar kamu."
"Makasih Mbak."
Irene dan Indah bangkit berdiri. Setelah itu, mereka melangkah pergi ke salah satu kamar kosong yang ada di dalam rumah Indah. Irene juga tidak lupa membawa barang-barangnya ke kamar itu.
Irene tersenyum.
"Makasih ya Mbak."
"Iya, sama-sama."
"Ya udah. Kalau kamu mau beres-beres silahkan. Soalnya kamar ini juga kotor. Belum di bersihkan. Mbak juga nggak tahu kan kalau kamu mau ke sini."
"Iya Mbak. Aku bisa kok beresin sendiri."
"Ya udah. Masih banyak kerjaan yang harus Mbak kerjakan Ren. Mbak ke dapur dulu ya. Kamu beres-beres dan istirahat aja dulu di sini."
"Iya Mbak."
Irene masuk ke dalam kamar itu. Setelah itu dia duduk di sisi ranjang.
__ADS_1
Irene menatap ke sekeliling. Kamar Indah, memang beda dari kamar yang ada di rumah suaminya. Kamar Mbak Indah, jauh lebih kecil dari kamar yang ada di rumah suaminya.
Tapi, Irene bersyukur karena kakaknya, masih mau mengizinkan dia untuk tinggal di rumahnya untuk sementara waktu.
****
"Apa! kamu sudah menceraikan istri kamu?" Ajeng tampak terkejut saat mendengar penuturan Irwan.
"Iya. Aku sudah ceraikan dia demi kamu Jeng."
"Apa kamu sudah gila Mas? kenapa kamu ceraikan istri kamu, hanya gara-gara aku."
"Karena aku cinta sama kamu Jeng. Aku pengin nikah sama kamu."
Ajeng kembali terkejut saat mendengar ucapan Irwan. Ajeng sama sekali tidak tahu, kalau ternyata Irwan sudah mengusir isrtinya dan mau menceraikan dia.
Ajeng hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat Irwan.
Kemarin Irwan pernah bilang ke Ajeng, kalau dia suka sama Ajeng. Karena Ajeng tidak mau, menjadi istri ke dua, dan Ajeng tidak mau, menikah dengan lelaki yang statusnya masih menjadi suami orang. Jadi dia menolak Irwan mentah-mentah.
Dan sekarang Ajeng tidak menyangka kalau Irwan sudah melakukan hal yang kelewat batas. Yaitu, dia mengusir istrinya sendiri dari rumah dan dia juga akan menceraikannya.
Irwan meraih tangan Ajeng.
"Jeng. Aku mohon. Terima aku ya, untuk jadi suami kamu. Aku janji, kalau aku akan membahagiakan kamu dan aku juga akan menerima anak kamu."
"Tapi Mas..."
"Please Jeng. Jangan tolak cinta aku. Karena aku sudah sayang banget sama Dio anak kamu. Juga sayang sama kamu.'
Ajeng masih syok. Dia tambah Syok lagi, saat Irwan mengambil kotak perhiasan dari dalam sakunya. Dia memperlihatkan sebuah cincin cantik pada Ajeng. Dan cincin itu, juga terlihat seperti cincin mahal.
"Kalau kamu mau terima cinta aku, kamu ambil cincin ini Jeng. Tapi, kalau kamu tolak cinta aku, buang aja cincin ini..." ucap Irwan sembari jongkok di depan Ajeng duduk.
"Mas, aku belum bisa jawab sekarang. Karena aku nggak tahu, mau jawab apa. Kamu tiba-tiba banget begini. Membuat aku syok Mas. Aku masih belum mengerti dengan semua ini Mas. Kita itu baru kenal beberapa hari, tapi kamu bilang kamu udah cinta sama aku. Aku bingung Mas."
"Jeng. Aku akan tunggu kamu Jeng sampai kamu siap."
"Kalau kamu serius, aku akan tunggu kamu sampai kamu menceraikan istri kamu. Tapi, aku juga mau mengenal kamu lebih jauh dulu. Aku nggak bisa terima kamu dadakan seperti ini Mas."
__ADS_1
"Baiklah. Aku mulai cinta sama kamu, sejak pertama kali aku berjumpa dengan kamu Jeng."
"Apa kamu tahu, aku sudah bosan sama istri aku Jeng. Dia nggak bisa ngasih aku keturunan. Dia juga sekarang, udah berubah. Dia nggak perhatian lagi sama aku seperti dulu. Semenjak dia kerja."