
Ifan sejak tadi masih diam. Dia bingung dengan apa yang harus dia katakan sekarang pada Alma anaknya. Sejak tadi, Alma masih merengek meminta Ifan untuk mengantarnya ke rumah Irene besok.
Sebenarnya Ifan tidak enak, jika dia harus ke rumah Irene lagi. Ifan tidak mau, kejadian waktu itu terulang lagi. Ifan tidak mau membuat suami Irene cemburu dan menyangka Ifan itu selingkuhan Irene.
"Papa kenapa? kok Papa diam aja?" tanya Alma menatap ayahnya lekat.
"Papa nggak apa-apa kok sayang," jawab Ifan.
"Papa mau kan, antarkan aku ke rumahnya Tante Iren?"
"Iya sayang iya. Papa mau kok. Kamu tenang aja ya. Besok kita akan ke sana." Akhirnya Ifan menyetujui juga dengan keinginan Alma itu.
"Makasih Papa." Alma tiba-tiba saja memeluk Ifan dengan erat. Dia terlihat sangat bahagia.
"Sekarang Alma tidur dulu ya. Udah malam sayang. Gambarnya, lanjutin besok aja ya sayang," ucap Ifan sembari menangkup wajah Alma.
Alma mengangguk.
"Iya Papa."
Ifan kemudian mengecup kening Alma. Setelah itu dia membereskan peralatan sekolah Alma. Ifan memasukan semua barang-barang Alma ke dalam tas Alma.
Setelah itu Ifan mengajak Alma untuk ke kamarnya.
"Alma, sekarang Alma tidur ya. Besok Alma harus bangun pagi-pagi soalnya. Papa mau ngajak Alma jalan-jalan."
Alma hanya mengangguk.
Setelah itu, Alma memejamkan matanya dan langsung terlelap. Sepertinya Alma lelah dengan aktifitasnya seharian ini.
Ifan tersenyum saat menatap Alma. Ifan kemudian mencium kening Alma.
"Selamat tidur sayang. Selamat malam, semoga mimpi indah."
Ifan menaikan selimut Alma dan menyelimuti Alma dengan selimut tebalnya.
Setelah itu Ifan mematikan lampu kamar Alma dan melangkah pergi meninggalkan Alma di kamarnya.
***
Pagi ini, Ifan masih menyantap sarapannya di ruang makan. Seperti biasa, dia hanya makan berdua bersama Alma anaknya.
"Papa. Kita mau ke rumah Mama Iren kan?" tanya Alma.
"Iya sayang," jawab Ifan singkat.
Sebenarnya Ifan malas juga kalau harus mengantarkan Alma ke rumah Irene. Ifan tidak mau membuat keributan lagi dengan suami Irene.
Tapi di sisi lain, dia juga nggak tega, jika dia harus menolak permintaan Alma. Selama ini, Ifan tidak pernah menolak keinginan anaknya. Apa yang Alma inginkan, pasti akan Ifan turuti. Karena Ifan sangat sayang sama anaknya itu.
"Sayang. Kalau kamu mau papa antarkan ke rumah Tante Iren, kamu harus habiskan dulu makannya ya," ucap Ifan di sela-sela kunyahannya.
Alma mengangguk. Dengan semangat dia langsung menghabiskan makanannya.
'Nggak nyangka sama Alma. Sekarang dia berubah sejak dekat dengan Irene. Pengaruh Irene begitu besar terhadap Alma. Sampai-sampai Alma menginginkan Iren jadi ibunya.' Batin Ifan
Setelah menghabiskan makanannya, Ifan bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah pergi untuk memanggil Mbok Inah yang ada di dapur.
"Mbok. Tolong mandikan Alma dan bantu dia untuk siap-siap. Aku akan membawanya ke luar," ucap Ifan.
"Oh. Baik Pak."
__ADS_1
Mbok Inah melangkah ke arah Alma. Sementara Ifan melangkah menuju ke kamarnya.
"Cah ayu, Mandi sama si Mbok ya," ucap Mbok Inah.
Alma mengangguk.
"Wah, cah ayu sekarang pintar ya. Nurut sama si Mbok."
"Iya dong. Kata Mama Iren, aku harus nurut. Nggak boleh rewel. Karena kalau aku nurut sama Papa, sama Oma, sama semuanya, Tuhan akan sayang sama aku. Dan kalau aku berdoa, Tuhan akan segera mengabulkannya."
"Iya sayang. Betul. Ayo ikut si Mbok."
"Iya."
Mbok Inah kemudian melangkah pergi menggandeng Alma untuk ke kamar Alma. Dia akan memandikan Alma, sekaligus membantu Alma untuk bersiap-siap. Karena hari ini, Ifan akan mengajak anaknya jalan-jalan.
Beberapa saat kemudian, Ifan sudah siap untuk mengajak Alma pergi. Begitu juga dengan Alma. Dia juga sudah cantik dengan rambut panjangnya yang sudah di ikat dua.
"Mbok. Tolong bawa barang-barang Alma ke mobil!" pinta Ifan.
"Pak Ifan, mau ke mana? kok bawa barang-barang banyak?" tanya Mbok Inah.
"Aku sekalian mau ngajak Alma jalan-jalan," jawab Ifan.
"Oh." Mbok Inah manggut-manggut.
Mbok Inah kemudian membawakan barang-barang majikannya itu ke dalam bagasi mobil. Setelah itu dia menggandeng Alma sampai ke dalam mobil.
Setelah Alma masuk mobil, Ifan ikut masuk ke dalam mobil.
"Mbok. Tolong jaga rumah ya. Kalau ada apa-apa, langsung aja hubungi saya," pesan Ifan sebelum dia pergi.
"Siap Pak."
"Papa benar, mau ngajak Alma jalan-jalan?" tanya Alma.
"Iya sayang."
"Pa, Alma pengin jalan-jalan sama Mama Iren," ucap Alma yang membuat Ifan terkejut.
'Hem, Iren lagi, Irene lagi. Kapan sih anak aku, sehari aja nggak nyebut nama Irene,' batin Ifan.
Ifan menghela nafas dalam. Dia tidak mengiyakan langsung ucapan Alma. Dia masih tampak berfikir. Sebenernya dia ingin Alma melupakan agar dia tidak terus merengek minta diantar ke rumah Irene.
Tapi, Alma memang anak yang pintar. Setiap ayahnya berjanji, dia pasti akan selalu menagihnya. Sebelum Ifan mengantar ke rumahnya Irene, Alma pasti akan terus menagihnya.
"Papa. Kita akan ke rumah Mama Iren dulu kan?" tanya Alma lagi.
"Sayang. Papa mau ngajak kamu ke pantai. Ke rumah Tante Irennya nanti aja ya."
"Yah Papa. Tapi aku mau sekarang. Aku ingin Mama Iren ikut sama kita." Alma sudah menekuk wajahnya. Dia tampak kecewa dengan jawab ayahnya.
"Tapi sayang..."
"Pokoknya aku mau ke rumah Mama Iren!" Alma sudah mulai memaksa ayahnya.
"Iya iya iya, kita ke rumah Tante Iren sekarang."
Ifan sudah tidak bisa lagi menolak permintaan anaknya untuk ke rumah Irene. Akhirnya Ifan mengalah juga. Akhirnya terpaksa Ifan lajukan mobilnya ke rumah Iren.
Beberapa saat kemudian, Ifan sudah sampai di depan rumah Irene. Namun, rumah Irene tampak sepi.
__ADS_1
"Kayaknya Tante Iren nggak ada di rumah sayang. Rumahnya sepi," ucap Ifan menatap Alma lekat.
"Kita turun papa. Kita samperin Tante Iren sekarang!" pinta Alma.
"Aduh sayang. Coba deh, rumahnya sepi sayang. Tante Iren nggak ada di dalam."
"Papa. Aku mau kita turun sekarang. Kita samperin Mama Iren."
'Duh anak aku ini, kadang-kadang sangat menyebalkan sekali. Nggak enak,aku kalau harus ketemu sama suami Iren lagi. Apa yang akan aku katakan kalau aku ketemu dengan suami Iren lagi. Mending kalau Iren yang buka pintu. Gimana kalau suaminya lagi yang buka pintu. Bisa kena hajar lagi dong aku' batin Ifan.
Tiba-tiba saja, pandangan Ifan terpaku pada sosok seorang lelaki yang sedang menggandeng seorang anak kecil, dan di sisinya ada seorang wanita yang berjalan berdampingan dengan lelaki itu.
Ifan mengucek matanya.
"Itu suami Iren kan. Lelaki yang waktu itu nonjok aku waktu aku mencari Iren ke rumahnya. Kok dia bisa bersama wanita itu. Siapa wanita itu. Kenapa bukan Iren," gumam Ifan.
Ifan sangat penasaran melihat pemandangan yang ada di depannya.
Suami Irene tampak naik ke motor diikuti wanita dan anak kecil yang ikut naik juga ke motor suami Irene.
"Sebentar ya sayang. Tunggu dulu di sini. Biar Papa yang turun," ucap Ifan.
"Papa mau ketemu Mama Iren kan? aku ikut ...!"
"Ssstttt. Alma tunggu dulu di sini ya. Biar papa aja yang turun."
"Iya deh. Tapi papa janji ya. Bawa Tante Iren ke sini."
"Iya sayang. Iya."
Ifan kemudian turun untuk menemui Irwan. Dia melangkah menghampiri Irwan.
"Tunggu. Kalian mau ke mana?" tanya Ifan menatap Ifan dan Ajeng bergantian.
Irwan terkejut saat melihat Ifan. Irwan segera mencopot helmnya.
"Kamu lagi. Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Irwan sinis.
"Aku ke sini mau tanya soal Irene," jawab Ifan jujur.
"Irene? Irene sudah nggak tinggal di sini lagi. Dia sudah pergi dari sini."
"Apa! pergi ke mana?" Ifan tampak terkejut.
"Mana aku tahu," ucap Irwan dengan mudahnya
"Bukankah kamu suaminya Irene. Seharusnya kamu tahu dong ke mana perginya Irene."
"Irene sudah aku usir dari rumah,"ucap Irwan yang membuat membelalakkan matanya.
"Apa! di usir dari rumah? apa maksud kamu?"
"Tanyakan sendiri sama dia. Kenapa aku bisa ngusir dia dari rumah."
"Terus sekarang ke mana dia?" tanya Ifan tampak khawatir.
Irwan hanya mengedikan bahunya.
"Mana aku tahu."
Ifan mulai mengepalkan tangannya geram. Dia menatap Irwan tajam dengan rahang yang sudah mulai mengeras.
__ADS_1
Ifan tiba-tiba saja sudah mencengkeram kerah baju Irwan.
"Kurang ajar kamu. Kamu benar-benar sudah nggak waras. Kamu sudah mengusir Irene istri kamu sendiri dari rumah. Kamu akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Irene."