
Sore ini, Alma masih bermain air, di sebuah kolam renang yang ada di dalam Water Park. Sejak tadi, Alma masih berada di sisi kolam renang menunggu ayahnya kembali.
Semetara Ifan yang sejak tadi masih menemani Alma berenang, melangkah meninggalkan Alma untuk mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya.
Ifan merogoh ponselnya yang masih ada di dalam tasnya. Dia terkejut saat menatap ponselnya. Sudah ada beberapa panggilan yang tak terjawab dari teman-temannya. Juga ada tiga panggilan tak terjawab dari Irene.
Ifan melebarkan matanya dan tersenyum.
"Irene. Dia sudah menghubungi aku ternyata," ucap Ifan.
Ifan kemudian menekan nomer Irene dan menghubungi balik Irene.
"Halo .." suara Irene sudah terdengar dari balik telpon.
"Halo Ren."
"Halo Mas. Maaf ya Mas. Aku baru bisa menghubungi kamu."
"Oh. Nggak apa-apa. Kenapa kamu nggak ke rumah aku?"
"Aku sakit Mas dari kemarin. Dan hape aku mati. Untuk mainan ponakan."
"Apa! ponakan? kamu ada di mana sebenarnya sekarang Ren?"
"Oh, aku lagi main di rumah Mbak Indah."
"Mbak Indah? benar kamu lagi main di sana?"
"Iya benar Mas. Aku memang lagi main ke sini. Dan sampai sini, aku malah jatuh sakit."
"Kamu nggak bohong kan Ren?"
"Nggak Mas. Aku nggak bohong. Untuk apa aku bohongin kamu."
"Kamu lagi sakit Ren?"
"Iya. Makanya aku nggak bisa ke rumah kamu. Dan hape aku juga mati dari kemarin. Waktu aku sakit, hape aku untuk mainan anak-anak Mbak Indah. Jadi aku nggak pegang hape dari kemarin Mas."
"Kamu kapan bisa ke rumah aku lagi?"
"Nggak tahu Mas. Nunggu aku pulih dulu. Nggak apa-apa kan Mas, kalau aku izin dulu."
"Iya nggak apa-apa. Tapi aku pengin ngomong sesuatu sama kamu. Makanya aku pengin ketemu sama kamu."
"Ngomong apa Mas? ngomong aja sekarang."
"Ini sesuatu yang sangat penting Ren. Nggak bisa bicara sekarang. Dan kita juga ngga bisa bicara di telpon."
Di saat Ifan sedang mengobrol dengan Irene di telpon, tiba-tiba saja seorang lelaki datang menghampiri Ifan.
"Pak. Maaf Pak."
Ifan menoleh ke arah lelaki yang sepertinya pengunjung water park itu juga.
"Ada apa?" tanya Ifan menatap lekat lelaki sepantarannya itu.
"Itu, tadi ada anak perempuan berambut panjang tenggelam. Apa itu anak bapak? soalnya saya tadi lihat bapak sama anak kecil itu."
"Apa! tenggelam?" Ifan tampak terkejut.
"Iya Pak."
'Ya ampun. Tadi Alma aku tinggal di sisi kolam renang. Kenapa dia bisa tenggelam.' batin Ifan.
__ADS_1
Ifan buru-buru melangkah untuk menghampiri Alma.
Di sisi lain Irene terkejut saat samar-samar mendengar suara seseorang mengatakan kalau ada anak kecil yang tenggelam.
"Sebenarnya, Mas Ifan itu ada di mana sih. Kok tiba-tiba dia matiin telponnya. Dan siapa yang tenggelam," gumam Irene.
Irene tampak berfikir.
"Mungkinkah anak kecil itu Alma," gumam Irene.
Irene benar-benar tidak tenang. Dia sejak tadi masih menghubungi Ifan lagi. Namun, ponsel Ifan sudah keburu mati.
*****
Malam ini, Indah masih berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malamnya.Teguh suaminya, tampak masih membantunya di dapur.
"Sayang. Sebenarnya, adik kamu sama suaminya itu kenapa sih? mereka lagi marahan?" tanya Teguh pada istrinya.
Indah menatap Teguh.
"Sebenarnya Irwan sudah mengusir adik aku dari rumahnya Mas," jawab Indah yang membuat suaminya terkejut.
"Apa! Jadi Irene di usir oleh suaminya? kok bisa sih?" Teguh benar-benar tidak menyangka dengan ucapan istrinya.
"Aku juga nggak tahu pasti apa masalahnya. Tapi kata Irene, Irwan sedang dekat sama seorang wanita," jelas Indah.
"Wanita siapa?" tanya Teguh penasaran.
"Katanya sih tetangga baru dekat rumah Irwan," jawab Indah.
"Tetangga baru Irwan?"
"Iya. Dia janda anak satu Mas."
"Aku sih cuma dengar dari Irene aja Mas. Dan nggak tahu kejadian pastinya. Dan Irene pulang ke sini juga diam-diam. Tanpa sepengetahuan dari ayah dan ibu."
"Jadi, ayah dan ibu belum tahu masalah ini?"
"Jangan sampailah mereka tahu dulu soal ini Mas. Bikin pusing nanti Mas."
"Iya sih. Orang tua kamu itu memang selalu bikin pusing. Makanya aku nggak pernah betah tinggal di rumah orang tua kamu lama-lama."
"Oh iya Mas. Apa kamu mengizinkan Irene untuk tinggal di sini?" tanya Indah.
"Ya itu sih, terserah kamu sayang. Ini kan rumah kamu juga. Dan aku juga jarang ada di rumah kan. Kalau Irene mau tinggal di sini lama, juga nggak apa-apa. Untuk menemani kamu dan anak-anak di rumah."
"Makasih banyak ya Mas."
Setelah masakan Indah matang, Indah kemudian menyajikan masakan itu di atas piring saji. Setelah itu dia membawanya ke meja makan dan meletakannya di sana.
"Mas, sekarang kamu panggilkan anak-anak sana! biar aku yang panggil Irene." ucap Indah.
"Iya sayang."
Teguh kemudian melangkah untuk ke kamar anak-anaknya. Sementara Indah melangkah ke kamar Irene untuk memanggil Irene.
Sesampai di depan kamar Irene, Indah mengetuk pintu kamar Irene.
Tok tok tok...
Beberapa saat kemudian, Irene membuka pintu kamarnya.
"Ren. Kita ke ruang makan yuk? Mbak udah masak banyak malam ini."
__ADS_1
"Mbak. Mbak dan Mas Teguh duluan deh yang makan.Nanti aku nyusul. Aku masih kenyang."
"Benar ya. Perut kamu itu nggak boleh kosong Ren. Nanti magh kamu kambuh."
"Iya Mbak. Aku tahu."
Irene masuk kembali ke dalam kamarnya. Sementara Indah, melangkah untuk kembali ke ruang makan. Di sana, sudah tampak suami dan anak-anaknya berkumpul.
"Arjun, Bobi. Kalian udah ambil nasi?" tanya Indah.
"Udah Ma. Udah di ambilkan Papa. Soalnya kami lapar. Nunggu mama kelamaan," ucap Bobi ajak sulung Indah.
"Oh. Ya ampun. Maafin Mama ya."
Indah kemudian duduk berbaur bersama anak mereka.
Indah mengambil piring. Dia kemudian mencedokan nasi dan lauk pauk untuk suaminya.
"Ini Mas buat kamu." Indah menyodorkan piring ke arah suaminya.
"Makasih ya sayang."
Indah mengangguk. "Iya Mas. Sama-sama."
Teguh, Indah, dan ke dua anaknya kemudian makan bersama. Sejak tadi, mereka masih menikmati makan malamnya.
Suasana makan malam kali ini, begitu sangat hening. Hanya sendok dan garpu yang sejak tadi masih terdengar bersahut-sahutan.
Indah memang jarang sekali merasakan suasana seperti sekarang. Karena suaminya jarang sekali berada di rumah. Suami Indah adalah seorang mandor bangunan. Dia sering sekali pergi ke luar kota untuk urusan proyeknya.
"Sayang. Minggu depan bos aku mengajak aku untuk ke luar kota," ucap Teguh di sela-sela makanannya.
Indah menghentikan kunyahannya. "Ke luar kota?"
"Iya."
"Minggu depan Mas? cepat banget," ucap Indah.
"Iya sayang. Kamu nggak apa-apa kan kalau aku tinggal dengan anak-anak di sini? soalnya aku kayaknya mau lama di sana."
"Di mana Mas? dan berapa lama?" tanya Indah.
"Paling cepat satu bulan sayang. Dan Minggu depan aku sudah harus berangkat ke Bali," jawab Teguh.
"Jauh juga ya Mas."
"Nggak jauh-jauh amat kok sayang. Masih sekitaran pulau Jawa juga kan."
"Iya sih."
Setelah makan malam selesai, Bobi dan Arjun bangkit berdiri.
"Mama, Papa. Aku ke kamar dulu ya. Kita mau main lagi," ucap Arjun.
"Lho. Kok main sayang. Besok kalian mau sekolah kan. Belajar!
jangan mainan melulu," ucap Teguh.
"Papa minggu depan akan pergi ke Bali. Kalian di rumah nggak boleh nakal dan bandel ya. Sekarang kan ada Tante Indah. Kalian sudah ada temannya kan. Nggak cuma sama mama doang," lanjut Teguh.
Teguh menasihati ke dua anak laki-lakinya yang menurutnya terbilang sangat bandel. Bobi yang sudah berumur sepuluh tahun, dan Arjun yang masih berumur tujuh tahun. Mereka memang anak-anak yang sangat aktif.
"Iya Pa," ucap Arjun dan Bobi kompak. Setelah itu mereka melangkah pergi untuk ke kamarnya.
__ADS_1