
"Papa, Papa membeli semua balon ini untuk apa?" tanya Alma." Kan Alma cuma mau beli satu balon aja Pa."
Setelah kakek tua itu pergi, Alma menatap balon-balon yang saat ini, masih di pegang ayahnya. Alma merasa heran pada ayahnya. Kenapa ayahnya itu membeli balon sebanyak itu.
Alma tidak menyangka kalau ayahnya akan membeli semua balon kakek itu.
"Untuk Papa bagi-bagikan ke teman-teman kamu. Pasti mereka seneng," jawab Ifan.
Irene turun dari mobilnya. Dia kemudian melangkah menghampiri Ifan yang sedang membagi-bagikan balon ke anak-anak kecil, teman-teman sekolahnya Alma.
Irene benar-benar terharu saat melihat Ifan. Dia memang lelaki yang baik. Walau dia pernah menjadi orang miskin, tapi setelah dia kaya, dia tidak pernah sombong seperti orang-orang lain. Dia masih rendah hati dan selalu menolong orang-orang yang membutuhkan.
"Ini buat kamu," ucap Ifan pada salah satu anak perempuan temannya Alma yang kebetulan lewat di depan Ifan.
"Papanya Alma lagi bagi-bagi balon ya? dalam acara apa?" tanya ibu anak itu pada Ifan.
Ifan tersenyum.
"Nggak ada acara apa-apa Bu. Cuma iseng aja tadi, borong balonnya bapak yang tadi di sini. Kasihan dia. Balonnya belum ada yang beli," ucap Ifan.
"Semakin hari, papanya Alma ini, semakin dermawan aja ya. Udah tampan, kaya raya, baik hati pula. Beruntung nanti wanita yang bisa dapatin papanya Alma. Kalau aku masih sendiri dan belum punya suami, aku juga ngga akan mungkin nolak deh, dapat lelaki seperti Pak Ifan ini."
Glek.
Irene hanya bisa menelan ludahnya saat mendengar pujian wanita itu pada Ifan. Hati Irene, benar-benar nggak enak. Dia sepertinya cemburu kalau ada wanita yang memuji-muji Ifan. Walau pun, wanita itu jauh lebih tua dari pada Irene.
Ifan hanya menanggapi ucapan ibu itu dengan santai. Sementara Irene sejak tadi, masih menahan cemburu di dadanya.
'Ih, ini orang. Ganjen banget sih. Udah punya suami aja, masih puji-puji Mas Ifan. Ngeselin banget sih. Kalau lama-lama Mas Ifan ada di sini, akan dapat berapa banyak pujian, dari wanita-wanita di sini," batin Irene.
Irene mendekat ke arah Ifan.
"Mas, kamu kan harus ke kantor. Mau sampai kapan kamu di sini?" bisik Irene.
"Iya sayang. Sebentar lagi. Ini masih sisa tiga," ucap Ifan.
"Buat aku aja sini!"
Irene mengambil paksa balon yang ada di tangan Ifan. Sudah benar-benar habis kesabaran Irene. Sejak tadi, Ifan masih belum mau beranjak dari sekolah Alma.
"Hehe...kamu kenapa sih Ren? kamu ngiri sama anak-anak?" Ifan hanya terkekeh.
"Nggak. Siapa yang ngiri. Aku cuma capek aja. Sebenarnya kamu mau ke kantor, apa kamu mau caper sama ibu-ibu di sini?" tanya Irene.
Ifan mengernyitkan alisnya, bingung dengan sikap Irene. Tapi, Ifan tahu kalau sekarang Irene sedang cemburu.
"Caper? caper sama siapa sayang?" tanya Ifan lagi.
"Kamu seneng ya, di puji banyak wanita di sini," ucap Irene dengan nada kesal.
"Ha ha ha... kamu cemburu sayang?" Ifan justru tertawa renyah.
Irene menyilang kan tangannya di dadanya.
"Nggak. Aku nggak cemburu. Aku cuma capek aja. Dari tadi berdiri di sini terus. Aku mau masuk ke dalam sama Alma. Tapi kamu malah tebar pesona di sini," ucap Irene yang membuat Ifan terbahak-bahak.
"Hahaha... tebar pesona? lucu sekali kamu sayang."
Saking gemasnya pada tingkah Irene, Ifan langsung menarik hidung Irene.
"Auh... sakit Mas." Irene mengusap-usap hidung mancungnya yang sakit karena Ifan tarik.
Beberapa saat kemudian, Bu Resti datang.
Ifan buru-buru melangkah menghampiri Bu Resti.
"Selamat pagi Bu..." ucap Ifan.
__ADS_1
"Pagi Pak Ifan," balas Bu Resti.
"Saya mau titip anak saya Bu."
"Oh, iya Pak Ifan."
"Saya mau ajak Irene pergi sebentar. Nanti kami akan jemput Alma lagi ke sini Bu."
"Oh, iya Pak iya."
"Kalau sudah waktunya pulang, tolong ya Bu. Temani Alma dulu sebelum kami jemput ke sini lagi."
"Iya Pak iya. Bapak tenang saja. Saya pasti akan selalu jagain Alma."
Ifan menatap ke arah Alma.
"Sayang, Papa dan Mama Iren, pergi dulu ya. Kamu sama Bu guru dulu ya, dan jangan nakal."
Alma mengangguk. "Iya Pa."
Bu Resti meraih tangan Alma dan menggandengnya untuk masuk ke dalam kelas.
"Ayo Al."
Alma menurut untuk ikut Bu guru Resti masuk ke dalam kelas.
Setelah Alma menghilang dari pandangan Ifan, Ifan kemudian mendekat ke arah Irene.
"Kenapa masih berdiri di sini? ayo dong, masuk ke mobil. Tuh kan, udah aku kasih tiga balon," ucap Ifan.
"Sebenarnya aku nggak butuh balon-balon ini. Tapi..."
"Tapi kamu cemburu kan? sudahlah. Apa yang mesti kamu cemburuin dari lelaki setia seperti aku sayang."
Ifan merangkul bahu Irene dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Setelah Irene masuk ke dalam mobil, Ifan pun menyusul Irene untuk masuk ke dalam mobilnya juga. Mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan sekolah Alma.
"Ke kantor aku sayang," jawab Ifan.
"Hah, ke kantor? untuk apa?"
"Aku lagi ada acara sama karyawan-karyawan aku."
"Oh. Apa harus ajak aku juga?" tanya Irene lagi.
"Iya dong. Kamu nggak bosen apa, setiap hari ngantar Alma sekolah terus. Sekali-kali dong, kita ngadain yang seru-seru dengan rekan-rekan aku di kantor."
"Iya deh iya. Aku nurut aja."
Sesampai di parkiran kantor, Irene dan Ifan turun. Mereka kemudian melangkah masuk ke dalam kantor. Ifan mengajak Irene untuk ke ruang kerjanya.
"Aku mau kerja dulu sayang," ucap Ifan.
"Terus, aku mau ngapain di sini?" tanya Irene.
"Ya kamu duduk temani aku. Dan khusus hari ini, kamu jadi asisten pribadi aku sayang."
"Apa! asisten pribadi?"
"Iya. Kamu tinggal temani aku aja sayang. Dan kamu harus izinkan aku, untuk selalu memandang wajah kamu yang cantik itu."
"Okelah. Untuk hari ini, aku ikhlas kalau kamu mau memandang wajah aku."
"Ya harus ikhlas dong. Kan aku calon suami kamu. Sebentar lagi kita juga halal kan."
"Iya."
Di sisi lain, Arjun dan Bobi sudah sampai di depan rumahnya. Sepulang sekolah, Indah tidak menjemput mereka ke sekolah. Dan ke dua anaknya, Arjun dan Bobi, di antar gurunya pulang.
__ADS_1
"Mama kamu ada di dalam nggak sih?" tanya Pak Burhan guru Arjun dan Bobi.
"Nggak tahu Pak," jawab Arjun dan Bobi serempak.
"Kenapa dia tidak menyusul kalian ke sekolah?" tanya Pak Burhan.
"Nggak tahu Pak, kenapa dengan Mama aku," ucap Bobi.
Arjun dan Bobi turun dari motor Pak Burhan. Begitu juga dengan Pak Burhan. Setelah Pak Burhan memarkirkan motornya di bawah pohon mangga yang ada di depan rumah Indah, Pak Burhan kemudian melangkah ke arah teras depan rumah Indah bersama ke dua anak Indah itu.
"Itu motor Mama kamu kan Bob, Jun?" tanya Pak Burhan menatap sebuah sepeda motor yang terparkir di halaman sebelah rumah.
"Iya Pak," jawab Bobi
"Berarti Mama kamu masih ada di dalam."
"Mungkin Pak," ucap Bobi lagi.
"Assalamualaikum... Assalamualaikum..." Bobi, Arjun dan Pak Burhan memberi salam. Namun, tidak ada balasan dari dalam rumah itu.
Bobi dan Arjun saling menatap.
"Ke mana Mama ya Kak?" tanya Arjun pada Bobi.
"Nggak tahu dek," jawab Bobi.
Pak Burhan mengetuk pintu rumah Indah. Setelah beberapa lama,Indah membuka pintu rumahnya.
Pak Burhan terkejut saat melihat Indah. Mata Indah tampak bengkak. Seperti habis nangis. Namun, Pak Burhan tidak berani untuk bertanya. Dia justru memilih untuk langsung pulang.
"Bu Indah. Saya ke sini, cuma mau ngantar Bobi dan Arjun pulang," ucap Pak Burhan.
"Oh. Iya Pak. Makasih banyak ya Pak. Dan maaf, kalau udah merepotkan bapak, karena saya tidak bisa menjemput anak-anak saya," ucap Indah.
Pak Burhan tersenyum.
"Ibu lagi sakit ya?" tanya Pak Burhan.
"Sedikit nggak enak badan Pak," jawab Indah.
"Oh. Ya udah. Kalau gitu, saya permisi dulu ya Bu. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam" Setelah berpamitan pada Indah, Pak Burhan kemudian melangkah ke arah motornya terparkir.
Pak Burhan naik ke atas motor dan menyalakan mesin motornya.
"Ayo Bu," ucap Pak Burhan sebelum pergi.
"Iya Pak. Makasih banyak Pak."
Pak Burhan kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah Bobi dan Arjun.
Setelah kepergian Pak Burhan, Bobi dan Arjun masuk ke dalam. Mereka kemudian menuju ke kamar. Bobi dan Arjun terkejut saat kamar mereka sudah acak-acakan tidak karuan.
"Lho Kak. Kok barang-barang di kamar kita pada pecah gini ? kenapa ya?" ucap Bobi.
"Siapa ya yang sudah mengacak-acak kamar kita? apa mungkin ada maling yang masuk ke kamar kita ya Kak?" ucap Arjun
Ke dua anak itu tampak heran. Karena banyak sekali barang-barang mereka yang pecah.
"Sudah. Jangan kasih tahu Mama. Nanti kita bisa diomelin. Nanti Mama fikir, kita yang mecahin semua ini. Kita lapor sama Tante Iren aja nanti, kalau dia pulang kerja," ucap Bobi.
"Iya Kak. Pasti Mama nggak tahu, tentang kamar ini. Pasti ada orang yang udah masuk ke kamar ini dan ngacak-ngacak barang-barang kita," ucap Arjun.
Mereka berfikir kalau yang memecahkan barang-barang di kamarnya itu maling.
***
__ADS_1