
Mentari di pagi ini, sudah memancarkan sinarnya. Indah sejak tadi masih duduk di sisi tempat tidur. Dia masih berada di dekat anaknya.
Sejak tadi Indah masih menatapi satu persatu dari wajah putra-putranya. Bobi dan Arjun.
Hari ini, hari minggu. Arjun dan Bobi libur sekolah. Indah tersenyum saat melihat anak-anaknya.
"Sayang, kalian apa nggak mau bangun? udah jam segini, kenapa kalian masih pulas aja sih," ucap Indah.
Indah kemudian melangkah ke arah jendela kamarnya. Dia membuka gorden jendela. Pancaran sinar mentari, sudah memantul masuk ke dalam kamar Bobi dan Arjun. Indah menatap ke luar kamarnya. Tiba-tiba saja, dia teringat dengan suaminya. Lelaki yang semalam dia tinggalkan di ruang tamu begitu saja.
"Mas Teguh, tidur di mana ya. Apa dia tidur di ruang tamu, atau dia pulang lagi ke rumah istrinya," ucap Indah.
Indah kemudian melangkah mendekat ke arah anak-anaknya.
"Sayang. Bangun yuk sayang. Udah pagi sayang," ucap Indah sembari menyibak selimut anak-anak.
Bobi mengerjapkan matanya. Dia kemudian menatap ke arah ibunya.
"Mama," ucap Bobi.
Bobi beringsut duduk dan menatap kearah jam dinding.
"Jam berapa Ma?" tanya Bobi mengucek matanya.
"Udah jam enam sayang. Kamu nggak mau bangun?" tanya Indah pada anaknya.
"Arjun masih tidur ya Ma?" Bobi menatap Arjun yang masih nyenyak tidur.
"Iya. Nggak tahu, dia kenapa nggak mau bangun. Biarkan saja lah adikmu. Mungkin dia masih ngantuk," ucap Indah.
Bobi menatap ke arah ibunya.
"Lapar Ma," ucap Bobi sembari memegangi perutnya.
"Benarkan kamu lapar. Semalam kamu nggak ikut Mama makan malam, jadikan pagi-pagi gini udah lapar. Ya udah. Sekarang bangun, terus langsung ke kamar mandi. Setelah mandi, baru nanti kita sarapan."
"Iya Ma."
Bobi kemudian turun dari tempat tidurnya. Dia melangkah untuk mengambil handuk. Setelah itu, dia berlari ke luar dari kamarnya untuk ke kamar mandi.
Setelah Bobi pergi, Arjun tiba-tiba saja mengerjapkan matanya. Dia tersenyum saat melihat ibunya.
"Mama semalam tidur di sini ya sama aku dan kakak?" tanya Arjun.
Indah mengangguk. "Iya sayang."
"Kenapa Mama nggak tidur di kamar Mama sendiri?"
"Mama semalam kedinginan sayang. Jadi Mama semalam tidurnya memeluk kalian."
"Emang semalam papa nggak pulang lagi ya Ma?"
Indah diam. Dia menundukkan kepalanya. Cuma Arjun yang setiap hari menanyakan Teguh. Entah kenapa anak itu, lengket sekali dengan ayahnya. Hampir setiap hari dia menanyakan keberadaan ayahnya.
"Kenapa Mama diam aja?" tanya Arjun lagi.
"Semalam Papa pulang sayang,"
"Terus, sekarang papa ke mana?"
"Mama nggak tahu. Mungkin papa masih ada di kamar, atau pergi lagi."
Arjun buru-buru turun dan melangkah ke luar dari kamar. Dia kemudian masuk ke dalam kamar ayahnya. Tampak, Teguh masih terlelap di dalam kamarnya.
"Papa..." Arjun segera naik ke atas tempat tidur ayahnya.
"Papa bangun. Udah pagi papa."
Teguh mengerjapkan matanya saat anaknya membangunkannya.
Teguh tersenyum saat menatap Arjun.
"Sayang. Kamu udah bangun?" tanya Teguh pada anak bungsunya.
"Papa aku kangen. Papa jangan pergi lagi papa."
Teguh mengusap kepala anaknya. Dia kemudian beringsut duduk.
"Iya sayang. Papa nggak akan pergi lagi," ucap Teguh.
Teguh turun dari ranjangnya. Dia kemudian menggandeng anaknya ke luar dari kamar.
__ADS_1
Di depan pintu, Indah sudah berdiri. Dia menatap ke arah suaminya tajam.
"Indah," ucap Teguh.
"Kamu masih di sini Mas? aku fikir, kamu udah kembali ke rumah istri muda kamu."
"Aku kangen sama kalian. Makanya aku pulang."
Indah melangkah pergi meninggalkan Teguh. Dia kemudian ke dapur untuk menghampiri Irene.
"Hem.. wangi banget udah," ucap Irene.
"Ren," ucap Indah.
Irene menoleh dan menatap ke arah Indah.
"Kamu lagi masak apa?" tanya Indah mendekat ke arah Irene.
Irene tersenyum.
"Aku lagi bikin bubur kacang Mbak. Aku lagi pengin bubur kacang ijo."
"Oh." Indah mengerucutkan bibirnya membentuk huruf O.
"Sekalian, Mbak kan lagi hamil. Jadi Mbak harus makan yang bergizi. Biar anak yang ada dalam kandungan Mba itu sehat."
"Makasih ya Ren. Kamu uda perhatian banget sama Mbak."
Irene tersenyum.
"Tadi Bobi kelaparan. Katanya dia ingin makan."
"Kebetulan dong Mbak. Ini juga udah mau matang buburnya. Dan lauk sisa semalam juga kan masih banyak di kulkas. Bisa di makan lagi kan."
"Iya. Nanti Mbak akan angetin semua dan nanti akan Mbak sajikan di meja makan."
Ring ring ring...
Suara ponsel Irene tiba-tiba saja berdering. Irene menatap ponselnya yang ada di sampingnya.
Irene tersenyum saat melihat panggilan dari Ifan.
"Halo Mas."
"Halo sayang. Lagi ngapain?"
"Aku lagi masak bubur kacang ijo Mas."
"Wah, kayaknya enak nih."
"Iya Mas. Kalau kamu mau, datang aja ke sini. Sekalian bawa Alma ke sini."
"Iya. Sebenernya aku nelpon kamu, aku ingin ngajak kamu ke panti asuhan Ren."
"Ke panti?"
"Iya. Aku mau berbagi lagi dengan anak-anak panti."
"Oh. Begitu Mas. Ya udah Mas. Aku bisa kok pergi sama kamu. Kita akan pergi sekarang?"
"Nggak. Nanti siangan aja. Almanya aja, belum bangun."
"Oh. Belum bangun. Bangunin dong Mas."
"Udah. Tapi dia nggak mau. Mungkin semalam dia tidurnya kemalaman. Dan dia juga sepertinya lelah."
"Ya udah biarin aja deh. Kasihan jangan di bangunin."
"Ya udah. Nanti aku jemput kamu jam sembilan ya."
"Iya Mas."
"Ya udah. Kamu sekarang lanjutin aja masak buburnya."
"Iya Mas."
"Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
Irene kemudian menutup saluran telponnya. Dia kemudian melanjutkan memasak bubur kacang ijo.
__ADS_1
Teguh masih menatap ke arah istrinya. Sejak tadi, Indah tampak masih menyiapkan sarapan bersama Irene. Setelah mandi, Bobi pun melangkah ke ruang makan dan langsung duduk di sana.
"Wah, makanannya enak-enak banget ya," ucap Bobi.
"Siapa suruh semalam kamu nggak ikut makan. Semalam kan seru. Ada Alma di sini," ucap Irene sembari meletakan lauk di atas meja.
"Bobi. Kalau Bobi udah lapar, Bobi boleh kok makan dulu."
"Nggak. Nunggu Mama dan papa aja."
"Papa. Ayo kita makan! kenapa papa masih di sini?" ajak Arjun yang sudah tampak rapi karena dia sudah mandi dengan ayahnya.
"Iya sayang."
Arjun menarik tangan ayahnya dan mengajak ayahnya untuk ikut sarapan di ruangan makan.
Teguh benar-benar merasa canggung sekali dengan sikap Irene dan Indah. Mereka cuek sekali dengan Teguh. Jangankan mengajaknya sarapan, menyapanya pun tidak.
Setelah semua berkumpul di ruang makan, Indah kemudian mencedokan makanan untuk anak-anak dan untuk dirinya sendiri. Sementara Teguh di cuekin.
Irene tersenyum.
"Sini Mas, biar aku yang ambilin."
"Oh. Tidak usah Ren. Aku bisa ambil sendiri kok."
Teguh kemudian mengambil nasi dan lauk pauknya.
"Makan Mas! maaf ya Mas. Aku nggak buatkan minum hangat buat Mas Teguh. Kalau mau buat minuman hangat, bisa buat sendiri Mas. Di dapur masih ada Setok kopi, gula, susu dan teh. Mas Teguh bisa pilih mau minuman yang mana," ucap Irene.
Sejak tadi, hanya Irene yang mengajak Teguh ngobrol. Sementara Indah, hanya bisa diam tanpa berucap sepatah kata pun.
Irene, Teguh, Indah dan ke dua anaknya, kemudian sarapan bersama dia ruang makan.
Ring ring ring...
Ponsel Teguh yang ada di depan Teguh berdering.
Teguh hanya menatap ponselnya sekilas.
'Duh, kenapa Dina nelpon lagi sih,' batin Teguh.
Di sela-sela kunyahannya, ternyata sejak tadi Indah masih memperhatikan suaminya.
'Aku yakin, itu pasti yang nelepon istri barunya Mas Teguh,' Indah berucap dalam hati.
"Kenapa nggak di angkat Mas?" tanya Irene.
"Nggak penting."
"Angkat aja Mas, kalau penting," ucap Irene lagi.
"Udah. Biarin aja."
Teguh hanya membiarkannya.
Hoek..Hoek...
Tiba-tiba saja, Indah mual. Indah langsung berlari untuk ke kamar mandi. Dia menuntaskan muntahnya di sana. Teguh dan Irene saling menatap. Mereka kemudian melangkah untuk menghampiri Indah yang ada di dalam kamar mandi.
Tok tok tok...
Irene mengetuk kamar mandi.
"Mbak. Lama amat Mbak? Mbak nggak apa-apa kan?" tanya Irene.
"Indah, kamu nggak apa-apa?" tanya Teguh.
Indah menatap pantulan dirinya di cermin. Dia kemudian membasuh mulutnya dan wajahnya. Setelah itu, dia melangkah ke luar dari kamar mandi.
"Mbak Indah, nggak apa-apa?" tanya Iren khawatir.
"Aku nggak apa-apa kok," jawab Indah.
"Sayang. Kamu mau aku antar periksa ke dokter?"
Indah menatap tajam suaminya.
"Nggak pergi. Urus aja istri baru kamu itu. Kamu nggak perlu memikirkan aku lagi Mas."
Indah melangkah pergi meninggalkan Teguh. Teguh hanya bisa diam saat dicueki oleh istrinya.
__ADS_1