
Dina membanting ponselnya di atas tempat tidurnya. Dia benar-benar geram dengan suaminya. Karena semalaman, Teguh tidak mau mengangkat telpon darinya. Dina sangat kesal karena Teguh sudah meninggalkan rumah dengan diam-diam tanpa izin dari Dina.
"Ke mana sih Mas Teguh. Kenapa dia jadi ninggalin aku begini. Dia sama sekali tidak mau mengangkat telponnya. Aku chat dia aja nggak pernah di balas. Aku yakin, dia pasti sekarang ada di rumah istri pertamanya," gerutu Dina
"Aku benar-benar muak lama-lama dengan lelaki itu. Aku fikir, aku bisa manfaatin dia. Tapi ternyata, susah juga dia untuk di manfaatin. Dan istrinya juga. Mau-maunya sih dia masih mempertahankan pernikahannya. Padahal dia sudah tahu, kalau suaminya itu udah nikah lagi."
Sejak tadi Dina bergumam sendiri. Dia tampak masih kesal dengan Teguh suaminya. Sebenarnya, Dina itu ingin memanfaatkan Teguh saja. Karena Teguh itu lelaki penurut. Dia mau di suruh-suruh apa saja, termasuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Semenjak Teguh berada di rumahnya, Dina bisa memerintah Teguh untuk melakukan apapun dengan sesuka hatinya. Seperti Memasak nasi, mencuci piring, menyapu, dan melakukan pekerjaan apapun.
Teguh memang lelaki yang baik. Waktu dia berada di rumah Indah, dia juga sering bantu-bantu Indah mencuci, menyuapi anak-anak, menyapu, bahkan memasak.
"Aku harus cari tahu alamat istrinya Mas Teguh, aku harus temui Mas Teguh. Aku yakin, Mas Teguh pasti ada di sana," ucap Dina.
****
Selesai sarapan, Irene kemudian mencuci piring. Setelah itu, Irene mandi dan bersiap-siap untuk pergi. Karena hari ini, Ifan akan mengajaknya ke panti asuhan.
Setelah siap, Irene melangkah ke luar dari kamarnya. Dia menatap ke arah Teguh yang masih bermain-main di ruang tengah bersama ke dua anaknya.
Selama Teguh berada di rumah, Indah sama sekali tidak mau bicara dengannya. Dia memang sudah muak dengan suaminya. Seandainya saja dia tidak hamil, mungkin saja dia sudah mengurus perceraiannya dengan Teguh.
"Mau ke mana Ren?" tanya Teguh pada adik iparnya.
Irene menatap Teguh.
"Aku mau pergi Mas," jawab Irene.
"Mau pergi ke mana?" tanya Teguh lagi.
"Aku mau pergi sama Mas Ifan. Aku mau ke panti hari ini. Mas Teguh, nggak mau kemana-mana kan?" tanya Irene
Teguh menggeleng.
"Aku nggak mau pergi kok ke mana-mana kok. Hari ini, aku cuma mau temani anak-anak aja di rumah," jawab Teguh.
"Mas Teguh, aku nitip Mbak Indah ya. Soalnya aku mau lama mungkin pulangnya Mas," pesan Irene sebelum pergi .
Teguh hanya mengangguk.
Irene kemudian melangkah pergi ke luar dari rumahnya untuk menunggu Ifan di luar.
Beberapa saat kemudian, mobil Ifan datang.
"Pas banget Mas Ifan datang," ucap Irene..
Ifan turun dari mobilnya dan melangkah menghampiri Irene.
"Sayang, cantik banget kamu sayang," puji Ifan setelah berada di dekat Irene..
Irene tersenyum.
"Pagi-pagi, udah gombal aja," ucap Irene..
"Beneran lho sayang. Kamu cantik banget pakai gaun itu." Ifan masih menatap lekat wanita yang sudah ada di dekatnya. Wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Ayo masuk!" Ifan merangkul Irene dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Setelah masuk mobil, Irene menatap Alma.
"Alma, kamu cantik sekali, pagi ini," ucap Irene.
__ADS_1
Alma hanya menyeringai. Dia masih asyik dengan aktifitasnya mainan game di handphonenya.
Setelah Ifan dan Irene masuk ke dalam mobil, Ifan kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah Irene. Dia akan mengajak Irene dan Alma ke panti seperti waktu itu.
"Mas, kita mau ke panti yang waktu itu?" tanya Irene.
"Iya sayang. Aku mau memberikan sumbangan beberapa bingkisan snak dan baju untuk anak-anak panti."
Setelah Ifan dan Irene menempuh satu jam perjalanan , akhirnya Ifan dan Irene sampai juga di depan panti. Setelah Ifan memarkirkan mobilnya di depan rumah panti, Ifan, Irene dan Alma kemudian turun dari mobilnya.
Beberapa anak-anak panti, melangkah menghampiri mereka. Mereka menyerbu Ifan.
"Alma datang...! Alma datang...!" seru mereka.
Mereka mendekat ke arah Ifan dan mencium tangan Ifan dan Irene. Salah satu anak, masuk ke dalam untuk memanggil Bu Nunung ibu panti.
"Bunda, ada Alma bunda," ucap Jefri anak kecil sepantaran Alma.
"Mereka datang ke sini?" tanya Bu Nunung pada Jefri.
"Iya Bunda," jawab Jefri.
Bu Nunung buru-buru melangkah ke depan untuk menemui Ifan dan anaknya.
"Bu Nunung, apa kabar?" tanya Ifan saat melihat Bu Nunung.
"Ya ampun, Pak Ifan. Mau datang ke sini, kok nggak bilang-bilang dulu," ucap Bu Nunung.
Bu Nunung mengajak Ifan dan Irene bersalaman.
"Masuk yuk!" ajak Bu Nunung pada mereka.
"Sebentar Bu. Saya punya bingkisan untuk anak-anak. Saya mau bagi-bagikan dulu untu anak-anak. Mumpung mereka masih pada kumpul di sini," ucap Ifan.
Sebelum masuk ke dalam rumah panti, Ifan dan Irene kemudian membagi-bagikan bingkisan untuk anak-anak panti. Seperti biasanya, setiap kali Ifan datang ke panti, dia akan membawa bingkisan untuk anak-anak panti dan memberikan bantuan berupa uang untuk panti asuhan itu.
Setelah semua kebagian, anak-anak panti itu pun bubar karena sudah mendapatkan bagian mereka masing-masing.
"Alhamdulillah. Makasih banyak ya Pak Ifan. Bapak sudah mau berbagi lagi ke sini. Semoga bapak di berikan kelancaran rezekinya dan di dekatkan jodohnya."
"Amin," ucap Irene dan Ifan kompakan.
"Kalau begitu, ayo masuk ke dalam. Nanti biar saya buatkan minum." Bu Nunung kemudian mempersilahkan Ifan dan Irene masuk ke dalam.
"Iya Bu," ucap Ifan.
Ifan, Irene dan Alma, kemudian masuk ke dalam rumah panti.
****
Siang ini, Indah masih berdiri di dekat jendela kamarnya. Dia masih menatap ke luar jendela. Seperti ada sesuatu yang sedang dia fikirkan saat ini. Mungkin saja dia masih kefikiran dengan pengkhianatan dan kebohongan suaminya.
Sejak Teguh berada di rumahnya, Indah sama sekali tidak mau mendekati suaminya. Apalagi menyapanya. Sejak tadi, Teguh masih tampak asyik bermain bersama ke dua anaknya di ruang tengah, sementara Indah, sejak pagi masih mengurung diri di dalam kamarnya.
"Sayang. Kalian tunggu di sini ya. Papa mau bicara sama mama kamu," ucap Teguh.
"Iya Papa," ucap Arjun.
Teguh bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah ke arah kamarnya untuk menemui Indah. Dia ingin bicara dengan Indah. Dia tidak nyaman kalau Indah mendiaminya.
"Indah kenapa sih, dari tadi ngelamun aja," gumam Teguh. Teguh mendekat ke arah Indah. Setelah sampai di belakang Indah,
__ADS_1
Teguh memegang bahu Indah yang membuat Indah terperanjat.
Indah menoleh ke arah suaminya.
"Mas Teguh. Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Indah menatap tajam suaminya.
"Sayang. Aku kangen sama kamu. Tolong dong. Jangan diamin aku seperti ini sayang!" pinta Teguh.
"Mas, aku belum bisa melupakan apa yang sudah kamu lakukan ke aku Mas. Hati aku sakit Mas. Sakit sekali saat kamu membohongi aku dan mengkhianati aku," ucap Indah sembari memegangi dadanya.
"Terus sekarang, kamu mau apa Mas? mau apa? apa kamu belum puas untuk menyakiti Aku?" lanjut Indah yang membuat Teguh terdiam.
"Maafkan aku Indah. Aku khilaf. Andai waktu bisa aku putar kembali, aku pun tidak ingin menyakiti dan mengkhianati kamu," ucap Teguh.
"Khilaf kamu bilang Mas. Bukan khilaf. Tapi kamu memang sengaja. Apa kurangnya aku selama ini Mas. Aku sudah menemani kamu dari nol dan sudah berkorban banyak untuk kamu. Aku juga sudah melahirkan dua orang jagoan, Bobi dan Arjun. Apa lagi yang kamu cari dari wanita lain?" Indah sudah benar-benar di buat kesal oleh Teguh.
Teguh benar-benar bingung untuk menjawab apa lagi sekarang. Dia fikir, dengan menikah diam-diam dengan Dina, semua rencananya, akan berjalan dengan mulus tanpa ketahuan Indah.
Namun kenyataannya, berbanding terbalik dengan apa yang ada difikiran Teguh. Justru kebohongan Teguh lebih cepat terbongkar oleh Indah.
Indah tidak sanggup lagi untuk menahan tangisannya. Air mata Indah menetes deras mengalir di pipinya. Hatinya sudah terlalu sakit karena suaminya.
Ingin rasanya Indah pergi dari rumah Teguh dan membawa dua anak-anaknya pergi. Tapi, Indah tidak akan melakukan hal gegabah seperti itu karena sekarang dia sedang hamil.
Indah juga belum bisa mandiri seperti Irene. Karena Indah tidak punya pekerjaan apapun dan dia masih mengandalkan uang dari suaminya.
"Mas, seandainya aku nggak hamil, aku akan pergi dari rumah ini dan aku akan mengurus perceraian kita mas," ucap Indah yang membuat Teguh terkejut.
Teguh meraih tangan Indah dan mengusap air mata Indah.
"Indah. Maafkan aku Indah. Aku masih sangat mencintai kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu Indah. Jangan pernah kamu berfikiran untuk kita bercerai. Karena aku sangat mencintai kamu Indah," ucap Teguh. Dia memang belum siap kehilangan Indah.
Indah mengusap air matanya dan mencoba untuk menatap suaminya.
"Mas, aku nggak sanggup hidup berpoligami. Lebih baik, aku jadi janda dari pada aku harus berbagi suami," ucap Indah. Dari dulu dia memang sudah memegang prinsip kalau dia lebih baik menjadi janda dari pada harus hidup di poligami.
Teguh diam. Teguh juga merasa bersalah karena sudah menyakiti Indah. Tidak seharusnya dia menyakiti Indah. Tapi, Teguh juga tidak bisa menolak apa yang sudah Tuhan takdirkan.
Beberapa saat kemudian, ponsel Teguh berdering. Teguh tahu kalau panggilan itu dari Dina. Sudah dari semalam Dina menelponnya. Namun, Teguh masih enggan untuk mengangkat panggilan dari Dina.
Ring ring ring ...
'Ini pasti Dina nih. Ngapain sih, di saat-saat seperti ini dia harus nelpon aku.' batin Teguh.
Teguh bingung untuk mengangkat telpon dari istri ke duanya. Apalagi sekarang dia sedang bersama Indah istri pertamanya. Teguh tidak mau, terlalu banyak menyakiti hati Indah dan membuat Indah semakin sedih.
"Telpon dari siapa Mas? istri kamu?" tanya Indah menatap tajam Teguh.
"Em, bukan sayang. Cuma orang nggak penting kok" jawab Teguh.
"Kalau dari istri kamu, kenapa kamu nggak angkat aja Mas?"
"Sudahlah sayang. Aku nggak mau ngurusin orang yang nggak penting. Sekarang aku lagi ingin bersama kamu."
"Sini Mas, ponsel kamu. Biar aku yang angkat," ucap Indah.
Teguh terkejut saat mendengar ucapan Indah.
"Apa!"
"Sini Mas. Kalau kamu nggak mau angkat telpon dari istri kamu, biar aku yang angkat telpon kamu. Aku ingin bicara dengan istri kamu."
__ADS_1
"Nggak usah Ndah. Ini memang nggak penting kok."
Indah tiba-tiba saja merebut ponsel suaminya yang ada di saku baju suaminya. Indah sebenarnya juga penasaran dengan siapa wanita yang sudah dinikahi Teguh itu.