
Irene mendekat ke arah Ifan. Dia kemudian duduk di sisi Ifan.
"Aku beli dua bungkus. Satu bungkus untuk kamu ya."
Irene mengangguk.
Ifan kemudian membuka plastik yang ada dua bungkus nasi goreng. Setelah itu Ifan memberikan satu bungkus untuk Irene.
"Ini buat kamu."
"Makasih ya Mas."
"Iya Ren. Di makan ya."
Irene kemudian menyantap nasi goreng itu dengan lahap. Sementara sejak tadi, Ifan masih celingak-celinguk mencari sesuatu.
"Cari apa Mas?" tanya Irene.
"Sendok Ren. Kok yang ini nggak di kasih sendok ya. Gimana sih Abangnya."
Irene tersenyum.
"Kalau mau, pakai sendok aku aja Mas." Tiba-tiba saja Irene menawarkan sendoknya.
"Kamu yakin?"
"Kalau mau, kita barengan aja sendoknya nggak apa-apa kok."
Irene menyodorkan sendoknya pada Ifan.
"Makasih ya."
Irene mengangguk.
****
Waktu sudah menunjukkan jam 6 pagi. Ifan dan Irene masih tidur di atas sofa. Irene masih bersandar di bahu Ifan. Sementara Ifan, lekas mengerjapkan matanya.
Ifan melirik ke samping. Dia kemudian tersenyum.
"Irene. Jadi dia masih tidur."
Ifan mencoba untuk membangunkan Irene. Dia menepuk-nepuk pipi Irene.
"Ren. Bangun Ren, udah pagi."
Irene membuka matanya dengan perlahan. Dia terkejut saat menyadari kalau sejak tadi dia tidur di bahu Ifan.
"Eh, Mas. Udah pagi ya."
"Iya Ren. Bangun Ren."
Irene buru-buru menegakan tubuhnya dan merapikan bajunya.
"Maaf ya Mas."
"Maaf untuk apa?"
"Aku udah tidur di bahu kamu."
"Santai aja lagi. Kayak nggak biasanya. Dulu juga kamu sering banget tidur di bahu aku."
__ADS_1
Irene tersipu malu, saat dia di ingatkan kembali pada kejadian yang dulu. Pipinya mendadak merona merah.
"Mas, sudah deh. Jangan ingat-ingat lagi masa lalu kita. Itu semua sudah berlalu. Lebih baik, kita fokus pada masa depan kita."
"Ya udah Ren. Kalau kamu mau pulang, pulanglah. Biar nanti si Mbok yang akan aku suruh jaga anak aku di sini."
"Kamu yakin Mas?"
"Iya, aku yakin. Tapi maaf ya. Aku nggak bisa ngantar kamu pulang. Karena aku harus jagain Alma."
"Nggak apa-apa Mas. Aku cuma mau lihat suami aku dulu di rumah. Kasihan dia. Dari kemarin aku tinggal-tinggal terus."
"Iya Ren."
Irene mengambil tasnya. Dia kemudian berdiri dan menatap ke arah Ifan.
"Aku pergi dulu ya Mas. Titip salam buat Alma."
"Iya Ren."
Setelah berpamitan dengan Ifan, Irene kemudian melangkah pergi meninggalkan Ifan. Dia akan pulang ke rumahnya.
****
Sesampai di rumahnya, Irene melangkah menghampiri teras depan. Dia membuka pintu depan.
"Lho. Kok pintunya di kunci. Mana aku nggak bawa kunci lagi."
Irene menatap ke sekeliling. Tidak dilihatnya Irwan di sekitar rumahnya.
"Mas Irwan ke mana sih. Apa dia pergi."
Irene terkejut saat melihat sebuah rantang yang berisi makanan berada di atas meja yang ada di sisi teras.
Irene mengambil rantang itu dan mengamatinya perlahan.
"Punya siapa ya ini. Aku telpon Mas Irwan aja deh."
Irene kemudian menelpon suaminya.
"Halo..." suara serak dari balik telpon terdengar.
"Halo Mas. Kamu ada di mana sekarang? kenapa pagi-pagi kamu udah pergi. Dan ngunci pintunya lagi. Kamu kan tahu kalau aku nggak pegang kunci. Gimana aku bisa masuk Mas kalau kuncinya nggak ada."
"Aku baru bangun Ren. Aku tidur di rumah Mama."
"Mas. Bisa nggak sekarang kamu pulang. Aku sudah sampai nih di rumah. Aku tunggu ya Mas. Jangan lama-lama."
Tut Tut Tut...
Irene menutup saluran telponnya. Dia kemudian duduk di depan teras untuk menunggu suaminya.
"Ih, ke mana sih Mas Ifan ini. Dia lama sekali datangnya," gerutu Irene.
Irene bangkit berdiri. Dia terkejut saat melihat ada anak kecil berjalan dia tengah jalan.
"Nekat banget tuh anak kecil. Dia berdiri di tengah jalan begitu. Gimana kalau ada motor." Irene bergegas untuk menghampiri anak kecil itu.
"Awas dek. Ada motor...!"
Irene berlari kecil untuk menyelamatkan anak kecil itu. Dia kemudian menyeret tubuh anak kecil itu untuk menepi ke sisi jalan.
__ADS_1
Ajeng yang melihat dari jauh anaknya itu segera melangkah menghampiri Irene.
"Dio. Kamu nggak apa-apa Nak?" tanya Ajeng yang sudah berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Dio.
Dio hanya menggeleng. Sementara Ajeng bangkit berdiri. Dia kemudian menatap Irene.
"Makasih ya udah menyelamatkan anak aku," ucap Ajeng.
"Iya Mbak. Di jalan depan rumah aku itu banyak motor Mbak. Mending Mbak itu jangan biarkan anaknya itu bermain di tengah jalan. Bahaya Mbak. Tidak semua pengendara itu baik. Kadang ada juga pengendara anak muda yang naik motornya ugal-ugalan."
Beberapa saat kemudian, Irwan datang dengan motornya. Dia mendekat ke arah Ajeng dan Irene.
"Ada apa ini? kenapa berdiri ramai-ramai di sini?" tanya Irwan.
"Mas. Kamu dari mana aja sih? kenapa di tungguin lama sekali," gerutu Irene.
"Ren. Aku kan bilang. Kalau aku baru bangun. Ya, aku mandi dulu, makan dulu, baru aku ke sini."
"Ih. Ngeselin banget sih kamu itu Mas. Aku sudah nunggu kamu udah hampir satu jam tahu nggak."
"Ya salah kamu. Kenapa juga kamu itu pulang. Kenapa kamu nggak pulang aja ke rumah Fatma."
"Mana tahu kamu ada di situ Mas. Aku sudah terlanjur sampai sini."
"Mas Irwan," ucap Ajeng.
"Eh ada Ajeng. Ada apa Jeng?" tanya Irwan.
"Dia istri kamu ya?" tanya Ajeng.
"Iya. Dia istri aku yang paling bawel."
Irene melotot ke arah suaminya.
'Menyebalkan sekali Mas Irwan ini. Dan kenapa sih, dari tadi dia menatap wanita ini terus. Apa mereka sudah saling kenal.'
"Mas Irwan. Jadi Mas Irwan itu nggak tidur di rumah?" tanya Ajeng lagi, yang sudah mulai sok akrab dengan Irwan.
"Ngga Jeng. Aku semalam tidur di rumah orang tuaku," jawab Irwan.
"Mas Irwan. Tadi pagi aku masak. Dan aku udah taruh rantang makanan di depan teras rumah Mas Irwan. Siapa tahu. Mas Irwan mau sarapan. Nanti di makan ya?"
Irwan dan Ajeng sejak tadi masih saling menatap. Entah kenapa, ada tatapan yang aneh pada ke duanya.
"Em, maaf. Kalau boleh tahu, kamu siapa ya?" tanya Irene pada Ajeng.
"Oh. Iya. Aku lupa. Kita kan belum kenalan. Nama aku Ajeng. Dan ini anak aku Dio. Aku dan Dio, tinggal di rumah, sebelah rumah kamu."
"Oh. Kamu masih baru ya tinggal di sini?"
"Iya Mbak."
"Sama suami kamu?" tanya Irene lagi.
"Nggak Mbak. Aku nggak punya suami."
Irene terkejut saat mendengar penuturan Ajeng.
"Apa! jadi maksud kamu apa! nggak punya suami, kenapa kamu punya anak. Jangan bilang, kalau kamu itu janda?'
"Iya Mbak. Benar. Aku janda. Ngomong-ngomong, makasih ya Mbak. Sudah mau menyelamatkan anak saya."
__ADS_1
Irene buru-buru meninggalkan tempat itu dan melangkah ke arah rumahnya. Dia masih kesal dengan Irwan suaminya. Di tambah lagi, tatapan genit Irwan ke janda itu membuat Irene semakin kesal saja.