
Irene sejak tadi masih cemas memikirkan Alma dan Ifan. Sejak tadi Irene mencoba untuk menghubungi Ifan. Namun, Ifan tidak pernah mau mengangkat telpon dari Irene.
'Ke mana sih Mas Ifan. Ada di mana dia sekarang. Aku nggak bisa tenang kalau Mas Ifan belum bisa dihubungi. Mas Ifan tadi sore, tiba-tiba mematikan saluran telponnya. Dan aku dengar ada seorang lelaki yang bilang ada anak kecil tenggelam. Apakah itu Alma anaknya Mas Ifan.' batin Iren.
"Ren...! Iren...!" seru Mbak Indah dari luar kamar Irene.
"Iya Mbak...!"
Irene buru-buru ke luar dari kamarnya untuk menghampiri Mbak Indah. Dia kemudian melangkah ke arah Indah yang masih ada di ruang makan.
"Ren. Makan dulu nih. Mbak mau beresin makanannya. Kalau kamu nggak makan-makan, nanti kamu bisa sakit," ucap Indah.
Irene mengangguk. "Iya Mbak."
Irene kemudian duduk di ruang makan. Sementara Mbak Indah pergi ke dapur untuk membereskan dapur.
Irene sejak tadi masih diam. Dia masih menatap makanan-makanan yang ada di atas meja. Irene sepertinya masih memikirkan Alma dan Ifan. Dia sama sekali belum mau menyentuh makanan-makanan itu.
Indah melangkah ke arah Irene. Dia hanya geleng-geleng kepala saat melihat Irene yang sejak tadi masih melamun.
"Lho, Ren. Kok kamu malah ngelamun di sini. Di suruh makan, malah ngelamun. Lagi ngelamunin apa sih?" tanya Mbak Indah sembari duduk di dekat Irene.
Irene yang di ajak bicara masih diam. Sepertinya dia tidak mendengarkan ucapan Indah.
"Ren... Iren...!" ucap Indah menaikan nada suaranya.
"Eh iya Mbak." Irene kembali menatap Indah.
"Kamu kenapa sih. Di suruh makan. Malah ngelamun. Kamu lagi mikirin Irwan ya?" terka Indah.
Irene diam.
"Sudahlah. Kalau lelaki seperti itu nggak usah difikirkan lagi. Nggak ada untungnya buat kamu. Lupakan saja si Irwan itu. Lelaki pemarah begitu. Mbak juga nggak suka. Apa jangan-jangan kamu sakit karena mikirin Irwan terus ya?"
"Aku nggak lagi mikirin Mas Irwan kok Mbak. Aku sakit, mungkin karena kondisi tubuh aku saja yang kurang fit. Cuaca sekarang juga kan nggak menentu. Kadang hujan, kadang cerah. Biasa kan, kalau lagi pergantian musim itu banyak orang yang sakit."
"Kalau nggak lagi mikirin Irwan, terus, kamu lagi mikirin siapa dong?"
"Aku lagi mikirin..." Irene menggantungkan ucapannya. Hampir saja dia keceplosan kalau saat ini dia sedang memikirkan Alma anak mantan suaminya.
"Ah, sudahlah. Aku mau makan aja. Lagian, aku juga nggak mau mikirin Mas Irwan lagi. Mau dia sama siapa kek, mau sama wanita atau siapa pun . Itu urusan dia. Aku nggak mau pusing mikirin dia."
"Nah gitu dong. Jadi wanita itu harus punya prinsip. Kalau suami sudah ngusir kamu dari rumahnya ya sudah. Lupakan saja dia. Nggak usah difikirkan, apalagi ditangisi. Di luar sana masih banyak kok, lelaki yang baik."
"Iya Mbak. Aku tahu itu kok."
Irene mengambil piring. Setelah itu dia mulai mencedokan nasi ke dalam piringnya.
__ADS_1
Irene kemudian makan.
"Kalau mau di beresin, beresin aja Mbak,"
"Iya Ren. Nanti aja. Nunggu kamu makannya selesai."
Indah menghela nafas dalam. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Mungkin saja dia sedang memikirkan suaminya yang akan pergi ke luar kota.
'Baru ketemu kemarin, Mas Teguh sudah mau pergi lagi.' batin Indah.
"Kenapa Mbak?" tanya Irene di sela-sela kunyahannya.
"Mas Teguh Ren," ucap Indah.
"Kenapa dengan Mas Teguh?" tanya Irene menatap Indah lekat.
"Satu minggu lagi, dia sudah harus ke Bali."
"Ke Bali?"
"Iya. Dan katanya dia akan lama di sana."
"Untuk proyek juga?"
"Iya Ren. Dan katanya, minimal Mas Teguh akan menghabiskan waktu satu bulan di sana."
"Mbak nggak tahu harus seneng atau nggak Ren. Karena Mbak juga sebenarnya ingin sekali Mas Teguh itu ada di rumah berkumpul bersama Mbak dan anak-anak. Sudah sejak dulu Mas Teguh itu jarang sekali di rumah."
"Yah Mbak. Maklumin ajalah Mbak. Kan itu semua juga sudah tuntutan pekerjaan."
"Iya sih."
Setelah makan, Irene bangkit berdiri. Dia kemudian membantu Mbak Indah untuk membereskan meja makan. Irene juga membantu kakaknya mencuci piring dan membereskan dapur.
"Makasih ya Ren kamu sudah banyak membantu pekerjaan Mbak di rumah ini. Sejak kamu ada di sini, pekerjaan Mbak jadi ringan."
"Iya Mbak. Seharusnya aku yang ngucapin terimakasih ke Mbak. Karena aku sudah di izinkan untuk tinggal di sini."
Indah tersenyum. "Iya Ren."
"Ya udah Mbak. Udah malam. Aku mau ke kamar ya. Kepala aku juga masih sedikit pusing Mbak."
"Iya. Jangan lupa, obatnya di minum ya Ren. Biar kamu cepat sembuh."
"Iya."
Irene kemudian melangkah untuk ke kamarnya. Begitu juga dengan Indah. Setelah semua pekerjaan selesai, Indah menyusul suaminya ke kamar.
__ADS_1
***
Malam ini, Ifan masih menemani Alma di kamarnya. Sepulang jalan-jalan, tubuh Alma mendadak panas.Mungkin itu efek dari tenggelam waktu di kolam renang.
Alma masih berbaring di atas tempat tidurnya. Matanya masih terpejam. Setelah minum obat, Alma langsung mengantuk dan tertidur. Mungkin itu semua karena efek samping obat yang diminum Alma.
"Maafkan papa ya Nak. Papa sudah membuat kamu tenggelam. Andai saja papa waktu itu nggak pergi untuk ambil handphon Papa, pasti kamu nggak akan tenggelam seperti ini," ucap Ifan sembari menggenggam tangan Alma erat.
Alma tiba-tiba saja mengerjapkan matanya. Dia kemudian menatap ayahnya dan tersenyum.
"Papa," ucap Alma.
"Sayang."
"Papa, jam berapa Pa ini?" tanya Alma.
Ifan menatap ke arah jam yang ada di dinding. Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
"Jam sepuluh sayang. Udah malam. Kenapa Alma bangun? Alma nggak tidur lagi?" tanya Ifan.
"Papa. Alma kangen sama Mama Alma. Dan Mama juga kangen sama Tante Iren. Alma pengin ketemu sama Mama Iren Papa," ucap Alma tiba-tiba.
"Papa kan udah janji sama Alma, kalau sepulang jalan-jalan, papa mau ngantar aku ketemu sama Mama Iren. Tapi kenapa papa nggak antar aku ke sana? papa lupa ya?" lanjut Alma.
"Iya sayang. Maaf ya, karena papa udah ingkar janji. Tadi sore kan kamu baru tenggelam. Dan papa khawatir sama kamu. Makanya kamu langsung papa bawa pulang."
Alma diam. Dia tampak sedih.
"Alma jangan sedih dong."
Alma membuang wajahnya ke arah lain. Sepertinya dia saat ini sedang marah dengan ayahnya.
"Ya udah. Begini aja. Papa akan telpon Tante Iren sekarang ya. Siapa tahu, Tante Iren belum tidur."
Alma melebarkan senyumnya.
"Papa yakin?"
"Iya. Papa yakin. Papa ambil ponsel Papa dulu ya."
Alma mengangguk.
Ifan kemudian bangkit berdiri untuk mengambil ponselnya. Beberapa saat kemudian, Ifan melangkah menghampiri Alma dan duduk di sisi Alma.
"Tunggu sebentar ya sayang. Papa telepon dulu Tante Irennya. Kalau nggak di angkat, berarti dia udah tidur. Dan kita telponnya besok aja ya."
"Iya Pa."
__ADS_1
Ifan kemudian menekan nomer Irene untuk menelponnya.