Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Menjemput Alma


__ADS_3

"Ah, kalau tahu akan seperti ini, ayah nggak akan jodohkan kamu dengan Irwan. Lebih baik, ayah jodohkan kamu sama lelaki yang lebih kaya dari Irwan. Irwan itu sudah tidak berguna buat kamu Ren. Dia sekarang aja lumpuh. Nggak bisa kerja. Dia sudah menjadi benalu dalam kehidupan kamu," ucap Pak Feri.


"Iya. Ayahmu benar. Kasihan kamu harus banting tulang sendiri. Kalau seperti ini terus, lebih baik kamu tinggalkan saja Irwan dan cari lelaki yang bisa mencari nafkah buat kamu. Ibu nggak tega, kalau harus melihat kamu kerja sendirian." Bu Nani menimpali.


"Bu, Yah, kalian itu kenapa sih. Waktu Mas Ifan juga kalian begitu. Kalian memaksa aku untuk cerai dari dia. Dan sekarang, mas Irwan sakit, kalian juga tidak ada perhatian -perhatiannya sama sekali. Padahal, kalian itu sudah sering aku kasih uang, hasil jerih payahnya Mas Irwan."Irene sudah tampak kesal.


"Irene, kami tidak ingin berlama-lama di sini Irene. Tolong, pinjami kami uang! nanti, ayah janji, akan kembalikan uang kamu secepatnya. Ayah sangat butuh uang itu sekarang Ren," ucap Pak Feri memohon.


"Sebenarnya uangnya itu mau untuk apa sih Yah?" tanya Irene.


"Mau untuk buka usaha Ren," jawab Bu Nani.


"Usaha apa Bu?"


"Rencananya, minggu depan ayahmu ini mau jualan buah. Dan nanti, kalau usaha ayah kamu sudah berjalan, kami akan segera mengembalikan uang kamu. Kami janji Ren," ucap Bu Nani meyakinkan.


"Janji, janji, janji, kalian itu janji janji terus. Tapi nggak pernah ditepati. Kalian tidak pernah mau mengembalikan hutang kalian. Waktu aku butuh uang untuk operasi Mas Irwan saja, kalian bilang nggak ada uang. Padahal hutang kalian banyak sekali sama aku," gerutu Irene.


Irene benar-benar kesal dengan orang tuanya. Sudah berkali-kali mereka meminjam uang pada Irene. Tapi mereka tidak pernah mengembalikannya.


Tapi, Irene mencoba untuk mengikhlaskan semuanya karena Bu Nani dan Pak Feri itu orang tuanya. Tapi sampai saat ini, Irwan sama sekali tidak tahu menahu soal itu. Mungkin jika saja dia tahu kalau orang tua Irene selalu merecoki istrinya, Irwan akan marah besar pada istrinya dan pada ke dua orang tua Irene.


"Baiklah. Aku akan pinjami kalian uang. Tapi kalian janji ya. Ini yang terakhir. Dan kalau kalian mau minjam uang lagi, jangan sama aku. Sama anak kalian yang lain aja. Karena aku sudah tidak punya uang lagi. Tolonglah Bu, Yah, mengertilah dengan kondisi aku saat ini," ucap Irene.


Bu Nani dan Pak Feri tersenyum.


"Iya Ren. Ibu ngerti kok. Ini yang terakhir," ucap Bu Nani.


Irene kemudian melangkah ke salah satu kamar, tempatnya menyimpan brangkas yang berisi uang dan perhiasannya. Irene kemudian membuka brangkas itu.


"Kalau ibu dan ayah minta uang terus begini, bisa terkuras habis tabungan aku. Uang ini aja, untuk biaya pengobatan kaki Mas Irwan. Ah, tapi kalau nggak dipinjami, nanti mereka nggak mau pulang-pulang."


Irene kemudian mengambil uang beberapa ratus ribu. Setelah itu dia melangkah untuk menemui ibunya kembali.


"Aku cuma punya uang segini. Aku nggak bisa pinjami kalian uang banyak." Irene menyodorkan uang kepada ibunya.


Bu Nani langsung mengambil uang itu dan menghitungnya.

__ADS_1


"Kok cuma segini Ren. Mana cukup segini Ren," ucap Bu Nani.


Bu Nani dan Pak Feri tampak kecewa. Karena Irene hanya mau memberikan mereka uang satu juta saja. Padahal, sebenarnya mereka butuh banyak uang untuk modal usaha. Tapi Pak Feri mencoba untuk bisa mengerti dan memahami kondisi anaknya sekarang. Dia tidak mungkin memaksa Irene terus.


"Iya. Bapak ngerti kondisi kamu Ren. Bapak nggak akan pinjam sama kamu lagi Ren. Bapak mau pinjam sama Mbak mu saja nanti," ucap Pak Feri setelah menerima uang dari Irene.


Irene mengangguk.


"Ya udah. Kalau begitu, kami pulang dulu ya Ren," ucap Bu Nani.


Setelah berpamitan pulang, Bu Nani dan Pak Feri kemudian melangkah pergi ke luar dari rumah Irene. Sementara Irene, melangkah ke kamar Irwan untuk memastikan Irwan itu mendengar atau tidak obrolan Irene dengan orang tuanya.


"Mas Irwan dengar nggak ya, obrolanku sama ibu dan ayah tadi. Kalau dengar, bisa gawat. Dia bisa marah besar sama aku,' batin Irene.


Irene membuka sedikit pintu kamarnya. Setelah itu dia kemudian mengintip dari balik pintu. Ternyata Irwan sudah sejak tadi tidur di kamar. Setelah minuman obat, Irwan mengantuk dan dia langsung tidur.


"Mas Irwan lelap banget pagi-pagi gini tidurnya. Mungkin pengaruh obat yang di minum tadi, membuat dia mengantuk. Aku tinggal ajalah dia. Nanti Fatma juga pasti akan ke sini."


Irene kemudian melangkah pergi meninggalkan rumahnya. Dia menuju ke jalan raya untuk menunggu taksi. Setelah taksi datang, Irene segera masuk ke dalam taksi. Sebelum ke rumah Ifan, dia menelpon Ifan terlebih dahulu.


"Halo..."


"Oh, tadi si Mbok sudah aku suruh pulang. Kamu ke sekolah Alma langsung saja. Karena sebentar lagi, Alma pulang. Dia di tinggal sendiri di sekolah."


"Oh gitu ya. Baiklah Mas, aku ke sana sekarang ya Mas."


"Iya Ren."


Setelah Irene memutuskan saluran telponnya, Irene kemudian meluncur pergi untuk ke sekolah Alma.


Sesampai di sekolah Alma, Irenepun turun dari taksi. Setelah membayar ongkos taksi, Irene kemudian masuk ke dalam sekolah Alma. Dia menunggu Alma di luar sekolah.


Setelah menunggu Alma lebih dari satu jam, tiba-tiba saja Alma sudah menghampiri Irene.


"Ayo kita pulang Tan," ucap Alma.


"Iya. Ayo sayang."

__ADS_1


Irene kemudian menggandeng tangan Alma. Mereka kemudian pergi ke luar dari sekolah.


"Tan. Kita tunggu di sini saja Tan."


"Lho, kenapa Al. Kamu mau langsung pulang kan?"


"Iya. Tapi Alma mau tunggu papa. Katanya papa mau jemput Alma pulang sekarang."


"Oh. Ya udah."


Alma dan Irene kemudian menunggu Ifan di depan sekolah Alma. Tidak lama kemudian, mobil Ifan pun datang dan berhenti tepat di depan Alma dan Irene.


"Ayo masuk!" pinta Ifan.


Irene dan Alma kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah itu, mereka meluncur untuk pulang.


"Pa, kita jadi kan ke toko boneka dulu. Aku ingin beli boneka lagi," ucap Alma.


"Iya sayang. Papa akan mampir ke toko boneka dulu."


Irene tersenyum.


"Alma mau beli boneka?"


"Iya Tante. Alma mau beli boneka lagi yang baru."


"Hehe...Alma ini memang suka sekali mengoleksi boneka. Di kamarnya saja, bonekanya udah banyak banget. Tapi, dia minta beli lagi."


Irene hanya tersenyum.


"Namanya juga anak-anak Mas. Kalau aku jadi kamu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku akan turuti apa keinginan anak aku."


Ifan kemudian meluncur ke arah toko boneka. Setelah sampai di depan toko boneka, Ifan kemudian turun dari mobilnya bersama Alma.


"Kamu mau ikut Ren atau mau tunggu di sini saja?" tanya Ifan.


"Aku ikut."

__ADS_1


Irene kemudian turun dari mobil Ifan. Dia ikut masuk ke toko boneka bersama Ifan.


Sejak tadi, Alma masih memilah-milih mainan dan boneka di dalam toko. Sementara Ifan dan Irene sejak tadi masih berada di depan toko. Mereka masih asyik mengobrol.


__ADS_2