
"Indah. Jangan di angkat! aku mohon Indah!" ucap Teguh.
Indah tidak menghiraukan kata-kata suaminya. Dia kemudian mengangkat telpon dari Dina.
"Halo," ucap Indah.
"Halo, siapa ini? mana Mas Teguh?" tanya seseorang dari balik telpon.
"Seharusnya aku yang tanya sama kamu. Siapa ini? kenapa kamu nelpon suami saya?"
"Oh. Ternyata kamu istrinya Mas Teguh. Di mana Mas Teguh? apakah sekarang dia sedang bersama mu?"
"Iya. Dia sedang bersamaku. Kenapa?"
Dina diam. Dina bingung dengan apa yang harus dia bicarakan dengan istri pertama Teguh.
Ternyata baru mendengar suara Indah saja nyali Dina sudah menciut. Bagaimana jika dia bertemu langsung dengan Indah. Pasti, dia tidak akan berani. Karena memang dia yang sudah salah. Karena dia yang sudah merebut Teguh dari Indah. Dia yang sudah menjadi orang ke tiga di kehidupan rumah tangga mereka.
"Sayang. Kembalikan ponsel aku sayang!" Teguh masih tampak memohon agar Indah mau mengembalikan ponselnya.
Karena Dina tidak mau bicara dengan Indah lagi, akhirnya ponsel Teguh pun Indah kembalikan.
"Ini. Aku nggak perduli dengan urusan kamu dengan istri baru kamu," ucap Indah. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan Teguh.
Teguh akhirnya mau juga mengangkat panggilan dari Dina.
"Halo... halo Dina...! Halo...!"
"Halo Mas."
"Maafkan aku Din. Semalam, aku pergi diam-diam dari rumah."
"Kenapa kalau mau pergi nggak izin dulu sama aku sih Mas. Aku ini kan istri kamu juga sekarang. Seharusnya kamu izin dulu sama aku kalau kamu mau pergi ke rumah istri pertama kamu."
"Maafkan aku Dina. Tapi aku nggak bisa kelamaan bersama kamu. Karena aku juga harus bersikap adil dengan Indah."
"Tapi Mas. Indah itu kan udah lama bersama kamu. Sementara aku masih baru. Aku juga masih butuh kamu Mas ada di samping aku. Apa lagi kata kamu, kamu ingin punya anak dari aku dan kita sekarang kan lagi ikut program hamil."
"Dina. Maafkan aku. Aku nggak bisa menuruti keinginan kamu. Mulai sekarang, aku ingin adil membagi waktu antara kamu dan Indah. Apalagi sekarang, Indah itu sedang hamil anak aku."
"Apa! istri kamu hamil? kenapa istri kamu bisa hamil sih Mas."
"Lho, emang kenapa kalau istri aku hamil. Aku memang mengharapkan istri aku hamil. Karena aku ingin punya anak perempuan."
"Tapi kan , kamu bisa mendapatkannya dari aku Mas."
Indah di ruang keluarga hanya bisa diam. Hatinya semakin tidak nyaman saja saat mendengar samar-samar pembicara Teguh dengan wanita itu.
Namun, Indah juga harus berusaha sabar untuk menghadapi masalahnya. Karena dia juga tidak bisa gegabah untuk mengambil keputusan di antara bercerai atau bertahan.
Jika bercerai, Indah masih ingat dengan ke dua anaknya Bobi dan Arjun. Mereka pasti akan menjadi korban perceraiannya. Di tambah lagi, sekarang dia juga lagi hamil anak ketiga. Namun, jika diteruskan, hati Indah akan semakin terluka.
__ADS_1
Tapi mungkin, seandainya Teguh mau meninggalkan wanita itu dan mau membuka lembaran yang baru bersama Indah, Indah akan bisa menerimanya dan memaafkan nya demi anak-anak.
Sekarang Indah memang masih berada di posisi yang sangat sulit. Di antara bertahan atau melepaskan.
Sejak tadi Indah masih menatap ke arah Arjun anak ke duanya. Anak itu sangat dekat sekali dengan Teguh. Bagaimana seandainya Indah dan Teguh bercerai. Indah tidak bisa membayangkan nasib anak-anaknya nanti. Apalagi anak yang masih berada di dalam kandungan. Tapi, Indah juga tidak mau hatinya terus-menerus terluka. Dia juga butuh untuk bahagia.
'Kalau sampai anak ini lahir, dan Mas Teguh belum mau meninggalkan wanita sialan itu, aku benar-benar akan menggugat cerai dia.' batin Indah
***
Sore ini, Irwan masih berada di atas tempat tidurnya. Sejak kemarin, Irwan sakit. Tubuh Irwan benar-benar sangat lemah sekarang. Dan Ajeng istrinya, sama sekali tidak peduli dengan keadaan Irwan saat ini. Padahal Irwan sangat membutuhkannya saat ini. Tapi Ajeng, lebih mementingkan jualan online nya dari pada suaminya.
"Ajeng...! Ajeng...!" seru Irwan dari dalam kamarnya.
"Ajeng...! ambilin aku minum Ajeng...! aku haus..!" ucap Irwan lagi.
Dio yang sejak tadi masih bermain game di ruang tengah, menghentikan aktifitasnya saat mendengar seruan ayah tirinya.
Dio buru-buru melangkah ke arah kamar ayah tirinya untuk melihatnya.
"Papa, ada apa?" tanya Dio menatap ayah tirinya lekat.
Irwan beringsut duduk.
"Mana ibu kamu?" tanya Irwan menatap tajam ke arah anak tiri nya.
"Mama tadi pergi Pa. Lagi nganter pesanan," jawab Dio.
"Apa! ngantar pesanan. Udah mau Maghrib begini?"
Irwan mengepalkan tangannya geram. Dia kemudian membanting gelas yang ada di atas nakas.
"Dasar istri kurang ajar! suami sakit bukannya di perhatikan, malah dia kelayapan nggak jelas." geram Irwan yang membuat Dio takut.
Dio juga terkejut saat melihat ayah tirinya memecahkan gelas di depannya.
"Kenapa kamu masih berdiri saja di situ! bersihkan ini pecahan-pecahan gelasnya," ucap Irwan memerintahkan anak tirinya.
"Tapi Pa, aku nggak mau. Gimana nanti kalau pecahan itu kena tangan aku," ucap Dio.
Irwan melotot ke arah Dio.
"Kamu mau membantah Papa hah! Papa lagi sakit Dio. Apa kamu mau nyuruh papa yang beresin? apa kamu nggak lihat, Papa ini lagi sakit..!" ucap Irwan dengan nada tinggi.
Dio diam. Dia kemudian menundukkan kepalanya. Sudah lama Irwan memperlakukan Dio dengan buruk setiap ibunya tidak ada. Itu semua karena Ajeng yang tidak pernah perduli dengan Irwan. Makanya Irwan selalu melampiaskan kemarahannya itu pada Dio anak Ajeng.
Ajeng setiap hari selalu marah-marah dengan Irwan karena Irwan tidak mau kerja. Dia hanya bisa numpang makan dan tidur di rumah Ajeng saja. Dan Irwan benar-benar membenci kehidupan rumah tangganya yang sekarang. Dia selalu membandingkan Ajeng dengan Irene mantan istrinya.
"Cepat! ambil sapu dan bersihkan!" sentak Irwan.
Dio mengangguk. "Iya Pa."
__ADS_1
Dio kemudian ke luar untuk mengambil sapu. Setelah itu, dia pun memunguti pecahan kaca itu dan membersihkannya sampai bersih.
"Ambilkan Papa minum. Papa haus. Ambilkan Papa minum air putih yang baru," ucap Irwan setelah Dio membereskan semua pecahan kaca itu.
Dio mengangguk.
"Baik Papa."
Dio kemudian melangkah untuk mengambil minuman untuk Irwan.Beberapa saat kemudian, Dio datang dengan membawa segelas air putih untuk Irwan.
"Taruh aja di situ," ucap Irwan.
Dio kemudian meletakan gelas itu di atas nakas. Setelah itu, dia pun pergi meninggalkan kamar ayah tirinya.
Dio ke luar dan duduk di teras depan rumahnya. Dia kemudian menangis sesenggukan di teras depan rumahnya.
Beberapa saat kemudian, Ajeng ibunya pulang.
Ajeng terkejut saat melihat Dio menangis di teras depan rumah. Ajeng buru-buru turun dari motornya dan menghampiri Dio anaknya.
"Dio. Kamu kenapa nangis di sini?" tanya Ajeng sembari mengusap air mata Dio.
Hiks...hiks...
"Aku nggak apa-apa Ma," jawab Dio.
"Apa ini semua karena papa kamu? apa yang sudah dia lakukan pada mu Nak?" tanya Ajeng.
"Apa dia udah kasar sama kamu?"
Dio diam. Dia bingung untuk menjawab pertanyaan dari ibunya. Dia juga takut untuk cerita kalau ayah tirinya selama ini sudah memperlakukan dia dengan buruk.
Ajeng buru-buru melangkah ke kamarnya untuk melihat suaminya.
"Mas. Kenapa Dio nangis?" tanya Ajeng menatap Irwan tajam.
Irwan yang masih berbaring di atas tempat tidurnya, hanya diam. Dia tidak menjawab pertanyaan dari istrinya.
Ajeng melangkah mendekati suaminya
"Mas. Kenapa kamu diam aja. Kamu nggak tuli kan Mas. Kamu dengar kan. Aku lagi nanya sama kamu. Kamu apakan anak aku. Kenapa dia nangis?" tanya Ajeng sekali lagi dengan nada tinggi.
Irwan menatap tajam ke arah Ajeng. Dia kemudian beringsut duduk.
"Ajeng. Kamu itu apa-apaan sih. Suami lagi sakit, bukannya di urusin malah bentak-bentak. Dosa kamu Jeng."
"Dosa, kamu bilang Mas? aku atau kamu yang berdosa. Aku yang setiap hari muter-muter mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup kita Mas. Sementara kamu, enak-enakan nggak kerja. Cuma numpang makan dan tidur aja di rumah aku. Sekarang kamu malah membuat Dio nangis."
Irwan diam. Sebenernya dia bisa saja meladeni ucapan istrinya. Tapi karena Irwan lagi sakit, jadi dia lebih memilih untuk diam dan tidak banyak bicara.
"Seharusnya kamu yang udah berdosa. Karena sebagai suami, kamu itu tidak mau kerja dan tidak mau menafkahi aku dan anak aku. Kamu kan udah janji, kalau kamu akan cari kerja. Tapi nyatanya, sampai sekarang kamu masih menjadi pengangguran Mas," ucap Ajeng panjang lebar..
__ADS_1
Irwan malah menutup telinganya saat mendengar omelan Ajeng. Membuat Ajeng geram dan langsung meninggalkan Irwan.
'Kenapa sih, sifat Ajeng, beda banget sama Irene. Irene itu penyabar. Dia tidak cerewet dan tidak banyak ngomel seperti Ajeng. Dia juga mau nerima aku apa adanya. Walaupun dia tidak bisa memberikan seorang anak untuk aku. Dan sampai sekarang, Ajeng juga belum hamil-hamil. Ah, nyesel kan aku dah menceraikan Irene demi Ajeng. Kalau tahu begini, mending aku pertahankan aja Irene."