Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Nyaman ke yang lain


__ADS_3

Ajeng mendekat ke arah Ifan. Dia kemudian mencoba untuk membangunkan Ifan yang pojok bibirnya sudah mengeluarkan darah.


"Mas, kamu nggak apa-apa Mas?" tanya Ajeng pada Ifan.


"Aku nggak apa-apa," jawab Ifan sambil berdiri.


"Mas, lebih baik kamu pulang saja Mas. Sepertinya, Irene juga tidak ada di rumah. Kalau kamu mau ketemu Irene, bisa besok saja Mas. Aku kasihan sama kamu. Luka kamu sudah cukup parah," ucap Ajeng yang sangat mengkhawatirkan kondisi Ifan.


Ifan menatap Ajeng.


"Dia sudah salah paham sama aku. Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan istrinya," ucap Ifan menjelaskan.


"Iya Mas. Saya percaya. Tolong Mas pulang ya. Jangan buat keributan di sini!"


Ifan mengangguk. Dia kemudian pergi meninggalkan rumah Irwan. Sementara Ajeng mendekat ke arah Irwan.


"Kamu nggak apa-apa Mas?" tanya Ajeng.


"Nggak apa-apa. Cuma luka sedikit aja di pipi. Nggak ada yang perlu di khawatirkan," jawab Irwan.


"Mas. Luka kamu harus cepat-cepat di obati Mas. Biar nggak semakin parah. Biar aku yang obati luka kamu ya?" Ajeng menawarkan diri untuk mengobati luka Irwan.


Irwan mengangguk.


"Kita masuk aja ke rumah aku Jeng!" pinta Irwan.


Ajeng diam.


"Tapi..." Ajeng tampak ragu.


"Kamu tenang aja. Aku lagi sendiri kok. Dan Irene nggak ada di rumah sekarang. Ayo masuk Jeng!" Irwan mempersilahkan Ajeng untuk masuk.


Ajeng kemudian masuk ke dalam rumah Irene. Mereka menuju ke ruang tengah dan duduk di ruang tengah.


"Jeng. Aku punya salep luka. Coba kamu cari di laci itu!" Irwan menunjuk ke arah sebuah laci yang ada di lemari ruang tengah.


"Iya Mas."


Ajeng kemudian membuka salah satu laci lemari yang ada di ruang tengah. Dia mengambil salep luka dan mendekat ke arah Irwan. Ajeng tidak tega, melihat luka memar di pipi Irwan.


"Mas, aku obati ya?"


Irwan mengangguk. "Iya Jeng."


"Apa perlu, aku kompres juga lukanya?'


"Nggak perlu Jeng. Pakai salep aja."


"Ya udah."


Ajeng kemudian mengobati luka Irwan dengan telaten.


Irwan meraih tangan Ajeng dan menatap Ajeng lekat.

__ADS_1


"Makasih ya Jeng. Kamu udah mau perhatian sama aku," ucap Irwan.


Ajeng tersenyum.


"Iya Mas. Makasih juga, karena kamu juga udah mau sayang sama Dio."


Mereka saling menatap sejenak dan saling melempar senyum.


"Oh iya Jeng. Dingin banget malam ini ya. Gimana kalau kita bikin kopi?" tanya Irwan.


"Boleh deh."


"Kamu yang buatin ya. Di dapur ada kopi, kamu bisa kan buatkan aku kopi?"


"Iya Mas. Bisa."


Ajeng melangkah ke dapur untuk menyeduh kopi. Setelah itu, dia melangkah ke ruang tengah dengan membawa dua cangkir kopi untuknya dan untuk Irwan. Dia kemudian meletakkan dua cangkir kopi itu di atas meja.


"Di minum Mas, mumpung masih panas," ucap Ajeng sembari duduk di sisi Irwan.


Irwan kemudian mengambil cangkir kopi itu dan menyeruputnya.


"Hem, enak banget Jeng kopi buatan kamu. Tidak terlalu pahit, dan tidak terlalu manis. Pas banget di lidah aku. Kamu juga suka kopi Jeng?" tanya Irwan.


"Suka Mas."


Di sisi lain, Irfan masih menyetir mobilnya menuju ke rumah sakit.


"Maafkan Papa sayang. Papa belum bisa menemukan Tante Iren. Papa nggak tahu dia ada di mana sekarang," gumam Ifan di sela-sela menyetirnya.


Sejak tadi Ifan bergumam sendiri. Ifan terkejut saat melihat di depannya ada seorang wanita yang sedang berjalan sendiri di tengah-tengah hujan.


"Siapa wanita itu," ucap Ifan yang penglihatannya samar karena derasnya air hujan yang membasahi mobilnya.


Wanita itu masih melangkahkan kakinya ke depan. Sementara Ifan turun dari mobilnya.


"Tunggu...!" seru Ifan.


Wanita itu menoleh ke arah Ifan. Ifan terkejut saat melihat Irene yang tubuhnya sudah basah kuyup karena air hujan.


Ifan segera mendekat ke arah Irene.


"Irene. Apa yang terjadi?" tanya Ifan.


Irene tampak menggigil.


"Mas Ifan..." Irene segera memeluk Ifan.


"Aku takut...! dari tadi nggak ada mobil yang lewat sini Mas. Hiks...hiks..."


Irene menangis di pelukan Ifan. Ifan membalas pelukannya.


"Sabar ya. Kita pulang sekarang ya," ucap Ifan sembari mengusap-usap bahu Irene.

__ADS_1


Irene melepaskan pelukannya. Dia kemudian menatap lekat wajah Ifan yang penuh luka.


"Kamu kenapa Mas? wajah kamu kok babak belur begitu? kamu habis berantem? siapa yang sudah membuat kamu seperti ini Mas?"


"Aku nggak apa-apa Ren. Jangan perdulikan aku. Sekarang kamu masuk mobil. Kita akan pulang ke rumah aku."


"Apa! ke rumah kamu?"


"Tolong Ren. Sekali ini saja, nurut sama aku. Jangan pulang ke rumah kamu dulu. Dan jangan pulang ke rumah sakit. Kita cari aman dulu."


Irene mengernyitkan alisnya bingung.


"Maksud kamu apa?"


"Jangan banyak tanya. Aku akan menjelaskannya kalau sudah sampai rumah."


"Baiklah."


Irene dan Ifan kemudian masuk ke dalam mobil. Mereka meluncur ke arah rumah Ifan.


'Biarlah anak aku sama ibu dan Widi dulu . Aku harus pulang ke rumah dulu. Kalau aku ke rumah sakit lagi, pasti ibu akan tanya macam-macam sama aku. Dan aku sekarang juga akan bawa Irene pulang. Kalau aku kembalikan dia ke rumahnya, aku nggak mau, suaminya memarahinya.'


Ifan sejak tadi masih menatap Irene.


"Kenapa kamu hujan-hujanan sih Ren?" tanya Ifan sembari salah satunya tangannya mengusap pipi Irene yang basah karena air mata.


"Waktu ibu kamu nyuruh aku pergi dari rumah sakit, aku jalan kaki sampai jalan raya. Karena ponsel aku batrenya habis, jadi aku nggak bisa menghubungi kamu atau suami aku Mas . Dan nggak ada mobil atau taksi satupun yang lewat jalan itu Mas," jelas Irene.


"Begitu ya? maaf ya Ren. Aku terlambat nolong kamu. Aku fikir kamu ada di rumah. Ternyata kamu lagi kehujanan di jalan."


Irene hanya tersenyum. Dia kemudian menatap luka yang ada di wajah Ifan.


"Kamu banyak luka memar Mas. Kamu nggak apa-apa Mas? apa nggak sakit lukanya?"


"Perih sih Ren. Karena kena air hujan juga."


"Nanti aku obatin ya Mas, kalau sudah sampai rumah. Aku nggak tega Mas melihat kamu seperti ini."


"Iya Ren."


"Mas, kamu tinggalin Alma di rumah sakit sama siapa?" tanya Irene yang tiba-tiba saja teringat dengan Irene.


"Sama ibu aku Ren."


"Alma nurut sama ibu kamu?"


"Nurut kok Ren."


Beberapa saat kemudian, Ifan dan Irene turun dari mobil mereka, setelah mereka sampai di depan rumah Ifan.


Irene dan Ifan berjalan beriringan untuk sampai ke teras. Mereka kemudian mengetuk pintu rumah.


Tok tok tok...

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Mbok Inah membuka pintu dan terkejut saat melihat Ifan dan Irene. Mereka basah kuyup, dan Ifan yang cukup jelas sekali lukanya.


"Lho lho lho...Pak Ifan dan Mbak Iren dari mana aja. Kenapa Mbak Iren basah kuyup begitu? dan Pak Ifan juga kenapa terluka? apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" tanya Mbok Inah.


__ADS_2