Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Rencana Irene


__ADS_3

Hanya satu hari saja Indah di rawat di rumah sakit. Selama itu, hanya Irene yang menjaga Indah. Sementara Teguh, harus kembali bekerja.


"Ren, jangan kasih tahu ibu dan ayah dulu ya Ren,tentang masalah aku. Aku nggak mau mereka jadi khawatir dengan aku," ucap Indah yang sekarang sudah berada di rumahnya.


Tadi pagi dia di bawa ke rumah sakit. Dan setelah sore, dia sudah pulang karena dokter sudah memperbolehkannya untuk pulang.


"Iya Mbak."


Irene diam. Indah menatap Irene lekat.


"Ada apa Ren?" tanya Indah.


"Ada sesuatu yang harus Mbak tahu."


"Apa!"


"Mbak, sebenarnya Mbak itu sekarang sedang hamil."


Indah terkejut bukan main saat mendengar ucapan adiknya.


"Benarkah aku hamil?" Indah menatap lekat manik mata Irene.


"Iya Mbak. Mbak sekarang lagi hamil. Apakah Mbak nggak menyadari kehamilan Mbak?"


Mbak Indah diam. Dia tampak berfikir.


'Kenapa di saat-saat rumah tangga aku seperti ini, aku harus hamil. Padahal aku sudah ingin mengakhiri pernikahan aku dengan Mas Teguh. Ya Tuhan. Rencana apa yang sebenarnya sedang engkau rahasiakan.' batin Indah.


Indah meneteskan air matanya.


"Mbak. Kenapa Mbak malah nangis. Seharusnya Mbak seneng dong dengan kehamilan Mbak. Siapa tahu, nanti Mbak bisa punya anak perempuan. Itu kan yang Mbak inginkan?"


"Bukan itu Ren yang membuat Mbak sedih. Tapi Mas Teguh. Dia sudah punya istri lain selain Mbak. Apa Mbak sanggup Ren, untuk melewati semua ini?"


Irene meraih tangan Mbak Indah dan menggenggamnya erat.


"Jangan sedih ya Mbak. Aku yakin Mbak pasti kuat. Mbak ngga usah mikirin Mas Teguh. Yang harus Mbak fikirin sekarang, adalah bayi yang ada di dalam kandungan Mbak."


"Iya Ren."


"Mbak ingatkan pesan dokter. Mbak nggak boleh sampai stres."


"Iya Ren. Mbak tahu."


"Mbak kan pernah bilang sama aku. Kalau aku nggak boleh mikirin lelaki yang sudah berkhianat seperti Mas Irwan. Karena dia tidak pantas untuk di fikirin. Dan sekarang Mbak nggak boleh mikirin dan nangisin Mas Teguh. Karena Mas Teguh itu sudah berkhianat."


Irene sejak tadi masih mencoba untuk menghibur Mbaknya. Sepertinya, Mbak Indah sudah bisa mengendalikan emosinya dan sudah bisa sabar menghadapi masalahnya. Tidak seperti kemarin yang ngamuk-ngamuk hanya gara-gara Teguh.


****


Malam ini, Irene masih ngobrol di telpon dengan orang tuanya. Seperti rencana Irene dengan Ifan. Kalau mereka akan mempertemukan orang tua mereka untuk membicarakan hubungan mereka.


"Kamu nyuruh ibu dan ayah datang ke rumah kamu besok malam?"


"Iya Bu. Ibu mau kan? ibu juga nggak pernah kan main ke rumah Mbak Indah?"


"Emang ada acara apa Ren?"


"Udah deh. Nanti ibu juga akan tau sendiri. Aku dan Mbak Indah, akan mengundang tamu penting untuk makan malam di rumah kami. Sekalian kami ingin mengabarkan kabar gembira kepada ayah dan ibu."


"Kabar gembira apa?"


"Ya rahasia dong."

__ADS_1


"Ya udah. Ibu usahakan besok malam datang ke rumah kamu ya."


"Iya Bu. Iren tunggu ya."


"Iya Ren."


"Ya udah. Irene tutup dulu ya telponnya. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Setelah bertelponan dengan ibunya, Irene kemudian melangkah untuk ke kamar Mbak Indah.


Mbak Indah masih tampak berada di depan cermin riasnya. Sejak tadi dia masih menyisir rambutnya yang panjang. Sesekali dia menatap wajahnya yang ada di cermin.


"Apa aku sudah tidak cantik lagi. Sehingga Mas Teguh bisa berpaling dari aku. Secantik apa sih istri muda Mas Teguh itu. Sampai-sampai, dia begitu betah tinggal bersama istri mudanya."


Irene meneteskan air matanya saat melihat kakaknya bicara sendirian di depan cermin. Sejak tadi Irene masih memperhatikan kakaknya.


"Kenapa Mbak Indah jadi seperti ini lagi. Kenapa dia jadi ngobrol sendiri dengan cermin. Ya Allah, jagalah kewarasan Mbak Indah. Dia lagi hamil sekarang. Jangan sampai Mbak Indah gila hanya gara-gara Mas Teguh."


Irene mendekat ke arah Mbak Indah. Dia kemudian duduk di sisi Mbak Indah.


"Lagi ngapain Mbak?"


Indah diam. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Irene.


"Mbak Indah cantik kok. Mbak Indah itu Kakak aku yang paling cantik. Dan cantiknya luar dalam. Hati Mbak Indah juga cantiknya nggak ada yang bisa menandingi, cuma lelaki bodoh, yang mau melepaskan Mbak Indah. Karena dia tidak pernah bisa melihat kecantikan Mbak Indah."


Indah menatap ke arah adiknya. Ternyata dia masih bisa menangkap perkataan adiknya.


"Irene. Kamu dari mana?" tanya Mbak Indah dengan mata sayu.


Sejak kemarin, Teguh belum pulang juga ke rumah. Sepertinya dia kembali lagi pulang ke rumah istri ke duanya.


"Mbak. Jangan salahkan anak yang ada di kandungan Mbak. Mungkin itu rizki yang Tuhan berikan untuk Mbak setelah suami Mbak mengkhianati Mbak."


Indah mengusap perutnya.


"Aku sayang sama anak ini Ren. Tapi, ayahnya tidak pernah sayang sama dia. Mas Teguh lebih memilih pulang ke rumah istri ke duanya dari pada pulang ke rumah aku."


"Mbak. Coba Mbak. Sekarang Mbak jangan fikirin Mas Teguh. Sekali-kali coba Mbak fikirin aku. Adiknya Mbak."


Indah mengernyitkan alisnya bingung.


"Ada apa sama kamu Ren?"


"Besok malam, aku dan Mas Ifan punya rencana."


"Rencana apa?"


"Aku dan mas Ifan, akan membuat acara di rumah ini."


"Acara apa?"


"Acara makan malam ke dua keluarga."


"Ke dua keluarga?"


"Iya Mbak. Aku kan sudah lama menjalin hubungan dengan Mas Ifan. Sekarang aku ingin orang tua kita tahu kalau kami sudah menjalin hubungan lagi."


"Oh. Begitu?" Indah tersenyum lebar saat mendengar ucapan Irene.


"Dan aku pengin mengadakan acara makan malamnya di sini. Aku mau sekalian minta doa restu pada orang tua kami Mbak."

__ADS_1


"Iya iya. Mbak setuju-setuju aja kalau itu."


****


Malam ini, Ifan sudah siap untuk ke rumah Irene. Dia sudah mendandani anaknya secantik mungkin.


"Papa. Kita mau ke rumah Mama ya?" tanya Alma.


"Iya sayang."


"Papa. Kita mau ngajak nenek juga ya?"


Ifan mengangguk.


Ifan melangkah ke arah dapur untuk meminta izin pada Mbok Inah.


"Mbok...! Mbok Inah...!"seru Ifan.


Mbok Inah buru-buru melangkah ke arah majikannya.


"Iya Pak Ifan, ada apa?"


"Saya mau pergi ke rumah Iren. Tolong Mbok jaga rumah ya?"


"Oh. Iya Pak."


"Kunci aja pintunya. Takutnya saya akan lama."


"Iya Pak."


Setelah berpamitan dengan Mbok Inah, Ifan pun kemudian pergi melangkah ke luar dengan menggandeng anaknya. Sesampai di depan, Ifan membuka pintu mobilnya untuk Alma.


"Masuk sayang."


"Iya. Papa."


Alma kemudian masuk ke dalam mobilnya. Begitu juga dengan Ifan yang mengikuti Alma masuk. Setelah itu, mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah.


"Al. Papa mau jemput nenek dan kakek kamu dulu. Nanti setelah itu kita ke rumah Mama."


Alma mengangguk "Iya."


Sesampai di depan rumah Bu Atik, Ifan pun kemudian turun.


"Alma tunggu di sini dulu nggak apa-apa ya. Biar Papa yang akan masuk ke dalam untuk memanggil nenek."


"Iya Papa."


Ifan kemudian turun dan melangkah ke teras depan rumahnya. Ifan mengetuk pintu rumahnya. Beberapa saat kemudian, Bu Atik membuka pintu.


"Bu. Jadi kan Bu, ibu ikut aku?" tanya Ifan.


Bu Atik mengangguk.


"Tunggu bapak kamu dulu," ucap Bu Atik


Sebenarnya Bu Atik malas, jika dia harus bertemu lagi dengan Irene dan orang tuanya. Namun, semua itu dia lakukan demi Ifan. Dia juga tidak mungkin memaksakan kehendaknya untuk menjodohkan Ifan dengan wanita lain.


Beberapa saat kemudian, bapak Ifan melangkah ke luar.


"Bagaimana Pak? kalian sudah siap?" tanya Ifan.


"Iya Ifan. Kami sudah siap," jawab Pak Trisno ayah Ifan.

__ADS_1


Setelah semua orang siap, mereka kemudian meluncur pergi untuk ke rumah Irene.


__ADS_2