
"Maaf Mas. Aku nggak mau selalu merepotkan kamu Mas. Hutang aku ke kamu aja udah banyak dan belum semua lunas. Aku nggak mau, melibatkan kamu dalam masalah aku lagi."
Ifan menundukkan kepalanya.
"Kenapa Mas?" tanya Irene.
"Aku juga lagi bingung Ren sama ibu," ucap Ifan menatap Irene lekat.
"Kenapa dengan ibu kamu?" tanya Irene.
"Dia selalu saja mau menjodoh-jodohkan aku dengan seorang wanita. Dia ingin aku menikah lagi."
"Jadi kamu mau dijodohkan dengan siapa?" tanya Irene.
"Kamu lihat kan, wanita yang bersama ibu aku waktu Alma ada di rumah sakit?"
"Iya. Kenapa?"
"Dia namanya Widi. Dan sekarang, Ibu aku lagi maksa aku untuk menikah dengan dia," jelas Ifan.
"Kenapa kamu nggak terima aja Mas. Menurut aku, Widi itu wanita yang cantik. Dia juga masih gadis dan masih muda. Kenapa kamu nggak mencoba aja."
"Aku nggak bisa Ren. Karena aku masih belum bisa melupakan masa lalu aku."
Irene menatap lekat Ifan.
"Aku tahu, memang sulit untuk melupakan masa lalu. Apalagi kamu itu sudah punya anak dari istri kamu. Tapi istri kamu itu kan sudah meninggal. Kenapa kamu nggak nyoba saja untuk membuka hati kamu ke yang lain. Dan lupakan istri kamu,"ucap Iren yang tak tahu kalau wanita yang di maksud Ifan adalah dia.
Ifan menatap ke arah Irene.
"Bukan istri aku Ren, wanita masa lalu aku. Tapi kamu," ucap Ifan tiba-tiba yang membuat Irene terkejut.
Uhuk...uhuk...uhuk..
Irene terbatuk-batuk saat mendengar ucapan Ifan. Tidak menyangka Ifan akan mengatakan hal itu padanya.
Alma yang sedang asyik makan menatap ke arah Irene.
"Mama. Mama kenapa?" tanya Alma menatap Iren khawatir.
"Mama nggak apa-apa sayang," jawab Irene
Alma langsung menyodorkan gelas ke arah Irene.
"Ini. Minuman mama."
Irene menerima air minum itu.
"Makasih ya sayang."
Irene kemudian meminum air itu.
__ADS_1
Setelah itu dia menghela nafas dalam dan meletakan gelasnya kembali ke atas meja.
"Mama, mama Iren kenapa?" tanya Alma.
"Nggak apa-apa. Cuma.." Iren menatap Ifan.
'Ah, aku harus ngomong apa. Kok aku jadi gugup gini. Apa sih, yang di ucapkan Mas Ifan. Apa aku cuma salah dengar.' batin Iren.
"Ren. Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Ifan.
"Em, nggak. Aku nggak apa-apa. Kamu bicara apa tadi? mungkin aku salah dengar tadi," ucap Irene sembari merapikan duduknya kembali.
"Nggak, kamu nggak salah dengar. Aku memang belum bisa melupakan kamu."
'Duh, kenapa aku jadi deg degan gini sih. Apa sih yang terjadi dengan hati aku' batin Irene..
"Mas, makanan kamu udah habis kan?" tanya Irene.
Ifan mengangguk. "Udah."
"Kita pulang yuk!" ajak Iren.
"Iya. Ayo Al. Habiskan makanan kamu dulu. Nanti kita antarkan Tante Iren pulang," ucap Ifan..
"Aku udah kenyang Papa. Aku nggak mau habisin yang ini."
"Ya udah. Nggak usah di habisin juga nggak apa-apa. Kita pulang aja yuk. Udah kelamaan kita di sini," ucap Ifan.
Alma mengangguk.
***
Malam ini, Indah masih berada di ruang tamu menunggu Irene pulang. Sementara Bobi dan Arjun mereka masih berada di ruang tengah menonton tivi.
Beberapa saat kemudian, deru mobil sudah terdengar dari luar rumah.
Mbak Indah mengintip dari balik jendela. Dia terkejut saat melihat ke depan. Ada sebuah mobil mewah yang datang ke rumahnya.
"Wah, mobil siapa itu. Kenapa bisa ada di depan rumah," ucap Mbak Indah.
Beberapa saat kemudian, Irene turun dari mobil Ifan. Sebelum masuk ke dalam rumah, dia melambaikan tangannya ke arah Ifan.
"Mas. Hati-hati ya di jalan," ucap Irene.
Ifan tersenyum. "Selamat malam, jangan tidur malam-malam ya. Tetap jaga kesehatan. Karena besok, kamu harus ngantar Alma sekolah. Kalau kamu mau, rumah aku terbuka lebar untuk kamu," ucap Ifan..
Irene tersenyum.
"Kamu bisa tinggal di rumah aku," lanjut Ifan..
"Iya Mas. Makasih untuk tawarannya. Aku tinggal di sini aja sama Mbak Indah. Karena Mbak Indah sendirian. Suaminya ada tugas di luar kota," ucap Irner
__ADS_1
"Iya deh. Salam ya buat Mbak Indah."
Irene mengangguk. Setelah itu Irene melangkah masuk ke dalam rumahnya. Sementara Ifan meluncur pergi meninggalkan rumah Iren.
Tok tok tok...
Irene mengetuk pintu depan rumah Indah. Beberapa saat kemudian, Indah membuka pintu.
"Ren. Siapa tadi yang ngantar kamu? dia kok pakai mobil mewah?" tanya Indah penasaran.
'Duh, ternyata Mbak Indah lihat aku pulang. Dia lihat Mas Ifan nggak ya," batin Irene.
"Tadi bos aku Mbak," jawab Iren.
"Jangan bilang, kalau kamu itu selingkuh sama bos kamu. Yang membuat tiba-tiba suami kamu menceraikan kamu," ucap Indah yang membuat Iren sedikit kesal.
"Apa! Mbak kok bisa berfikiran seperti itu sih sama aku. Untuk apa aku selingkuh dengan bos aku."
Mbak Indah menatap wajah Irene.
"Tapi wajah kamu..."
"Kenapa dengan wajah aku?"
"Tampak berseri-seri. Kelihatan seperti orang bahagia gitu."
"Sudah deh Mbak. Jangan ngawur Mbak. Kata Mbak, aku udah nggak boleh mikirin Mas Irwan lagi. Ya udah, kalau dia bukan jodoh aku, mau gimana lagi," ucap Irene.
Dia kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Indah menutup pintunya kembali. Setelah itu dia ikut masuk ke dalam.
"Lho. Kalian belum pada tidur?" tanya Irene pada Bobi dan Arjun.
"Nggak tahu nih dua anak ini. Susah banget kalau di bilangin."
"Mbak. Aku mau langsung ke kamar aja ya. Aku mau mandi. Lengket banget tubuh aku."
"Iya Ren."
Irene kemudian melangkah ke kamarnya. Dia masuk ke dalam kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Irene menatap ke langit-langit kamarnya.
"Apa sih maksud ucapan Mas Ifan waktu di cafe. Aku benar-benar nggak ngerti. Apa selama ini, Mas Ifan belum bisa melupakan aku," gumam Irene.
Irene memejamkan matanya. Dia terlihat sangat lelah dan mengantuk. Dia akhirnya terlelap juga sebelum dia ke kamar mandi.
Ting.
Suara notifikasi dari ponsel Irene berbunyi. Irene mengerjapkan matanya. Dia kemudian merogoh ponselnya yang ada di dalam tasnya. Dia menatap chat yang ternyata dari Ifan.
(Jangan fikirin macam-macam. Nggak usah mikirin suami kamu lagi. Karena di luar sana, masih ada lelaki yang sangat mencintaimu dan menginginkan kamu kembali. Kalau suami kamu pergi ninggalin kamu, ingat, aku masih ada di sini dan selalu siap untuk meminjamkan bahuku untuk kamu bersandar.)
__ADS_1
Irene tersenyum.
"Chat apaan sih ini. Panjang amat kata-katanya," gumam Irene.