Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Jadilah Mama aku!


__ADS_3

"Ren, apa kamu bisa tungguin anak aku di sini dulu?" Ifan menatap Irene lekat.


"Bisa Mas. Kamu mau ke kantor lagi ya?" tanya Irene.


"Iya Ren. Aku lagi banyak kerjaan soalnya,"jawab Ifan.


"Oh. Ya udah nggak apa-apa Mas."


"Tapi nanti sore, kamu pulang kan?"


"Iya dong. Nanti sore aku akan ke sini lagi."


"Ya udah. Kalau kamu mau tinggalin Alma di sini sama aku. Nggak apa-apa. Kamu pergi aja Mas."


"Aku percaya kok Ren, sama kamu."


Setelah berpamitan pada Irene, Ifan kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah sakit. Dia akan kembali menuju kantornya.


Setelah Ifan pergi, Alma tiba-tiba saja terbangun.


"Tante..." lirih Alma sembari menatap ke arah Irene.


"Iya sayang. Tante ada di sini sayang."


"Papa mana?"


"Em, papa kamu ke kantor lagi sayang."


"Papa nggak mau menemani aku di sini?"


"Papa kamu lagi sibuk sayang. Biar Tante ya yang menemani kamu di sini."


Alma tampak sedih, saat tahu kalau ayahnya itu sudah pergi ke kantor dan meninggalkannya.


Selama ini, Ifan memang jarang sekali punya waktu untuk Alma, kecuali weekend. Alma sebenarnya masih sangat membutuhkan orang tuanya untuk menemaninya setiap hari.


Tapi mau bagaimana lagi,.


Ifan sangat sibuk sekali di kantor.Sehingga dia tidak banyak menghabiskan waktunya untuk Alma. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja dari pada di rumah.


Hiks...hiks...


Alma tiba-tiba saja menangis.


"Aku pengin sama papa. Hiks... hiks..."


"Alma. Jangan nangis dong. Kalau kamu nangis, Tante nanti juga ikutan sedih."


Irene menghapus air mata Alma.


Saat ini, Alma masih berbaring di atas ranjang rumah sakit. Irene sedih, saat melihat Alma dalam keadaan seperti sekarang. Wajah Alma masih sangat pucat, tubuh Alma juga semakin kurus karena sejak kemarin dia sudah tidak mau makan. Sejak tadi Alma masih menangis mencari ayahnya. Sementara Irene tidak berhenti untuk menenangkan Alma.


"Alma makan sama Tante ya. Nanti Tante suapi."


Alma menggeleng.


"Aku mau makan sama papa Tante."


"Tapi Papa kamu pulangnya sore sayang."


"Pokonya aku mau sama papa...! hiks...hiks.."


"Baiklah. Tante telpon papa kamu dulu ya. Atau mau Video call aja ya."


Irene kemudian mengambil ponselnya. Setelah itu, dia Vidio call ke nomer Ifan.


"Hiks...hiks... papa. Kapan papa pulang?" tanya Alma pada sosok ayahnya yang sekarang ada di layar ponsel Irene.

__ADS_1


"Aduh sayang. Papa ngga bisa pulang sekarang. Papa lagi sibuk. Tuh, kamu lihat kan. Kerjaan papa numpuk banget sayang."


"Tante Iren nyuruh aku makan. Tapi aku nggak mau. Aku mau makan sama Papa aja. Aku mau disuapi papa."


"Sayang. Kamu harus makan sama Tante Iren dulu. Setelah itu, kamu minum obat dan istirahat. Nanti sore papa akan ke rumah sakit sayang. Sekalian Papa mau ambil baju ganti untuk kamu."


"Tapi aku mau sama papa...!"


"Alma nggak boleh rewel ya sama Tante Iren. Alma kan anak hebat. Alma nggak boleh nangis. Alma harus tunggu papa. Nanti sore papa baru bisa pulang Nak."


"Tuh, dengarkan sayang. Papanya lagi sibuk. Sama Tante dulu ya."


Alma menatap Irene. Irene tersenyum dan langsung menghapus air mata anak mantan suaminya itu.


"Ya udah Mas. Kalau kamu masih sibuk. Aku bisa kok tenangin Alma. Kamu fokus aja sama kerjaan kamu."


"Iya Ren. Aku tutup dulu ya telponnya. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam Mas."


Ifan melambaikan tangannya pada Alma sebelum Irene menutup video callnya.


"Sayang. Alma sayang nggak sama Papa?"


"Sayang Tante."


"Alma nggak mau kan membuat Papa jadi sedih."


"Nggak mau Tan."


"Kalau gitu, Alma yang nurut dong. Biar papa Alma nggak ikutan sedih mikirin Alma. Alma mau makan sama Tante ya."


"Iya Tan."


"Nah, gitu dong. Tante suapi ya."


***


Malam ini, waktu sudah menunjukan jam 7 malam. Irene berbaring di atas sofa dekat Alma berbaring.


Alma masih tampak nyenyak. Begitu juga dengan Irene. Dia juga ikutan tidur di dekat Alma. Mungkin saat ini, Irene merasa sangat lelah dan mengantuk. Karena semalam dia kurang tidur.


Ifan membuka pintu ruang rawat Alma. Dia terkejut saat melihat Irene dan Alma terlelap.


"Irene jam segini udah tidur. Kasihan sekali dia. Pasti dia lelah sekali hari ini karena harus ngurusin Alma."


Ifan mendekat ke arah Irene. Dia kemudian duduk di sisi Irene.


Ifan tersenyum.


"Untung aku tadi bawa selimut. Irene pasti kedinginan sekarang."


Ifan kemudian menyelimuti Irene dengan selimutnya.


Dia sejak tadi masih menatap Irene.


"Kamu masih tetap cantik Irene. Masih sama seperti delapan tahun yang lalu." Ifan menyibak rambut Irene yang menutupi matanya.


Ifan terkejut saat tiba-tiba saja Irene menyebut nama suaminya, meraih tangan Ifan dan menggenggamnya dengan erat.


"Mas Irwan. Jangan tinggalin aku Mas. Aku mohon! jangan tinggalin aku."


Ifan tampak bingung.


"Sepertinya Irene sedang mimpi buruk," ucap Ifan.


Irene tiba-tiba saja terbangun dan langsung memeluk Ifan. Dia fikir Ifan itu adalah suaminya.

__ADS_1


"Mas, aku nggak mau kehilangan kamu Mas! tolong jangan tinggalin aku Mas...!" Irene semakin mengeratkan pelukannya yang membuat Ifan semakin bingung.


'Apa secinta itukah Irene sama suaminya. Apakah sudah tidak ada rasa sedikitpun untuk aku di hatinya'


Ifan sejak tadi masih diam. Tubuhnya seakan kaku saat berada di pelukan Irene. Irene tiba-tiba saja melepaskan pelukannya. Dia terkejut saat melihat Ifan.


"Mas Ifan. Maafkan aku..." ucap Irene tampak salah tingkah.


Ifan tersenyum.


"Kamu kenapa?" tanya Ifan.


"Aku mimpi buruk Mas."


"Kalau boleh aku tahu, kamu mimpi apa? kamu mimpiin suami kamu ya?"


"Iya. Aku mimpi, dia pergi dengan seorang wanita. Aku mimpi, suami aku mengkhianati aku. Aku mimpi, dia udah selingkuhin aku Mas."


Ifan meraih tangan Irene.


"Sudahlah. Itu cuma bunga tidur Ren. Nggak usah di fikirin."


"Iya Mas."


Sejenak, Irene dan Ifan saling beradu pandang.


"Papa, Tante, "suara Alma mengejutkan Ifan dan Irene. Mereka lantas menoleh ke arah Alma.


Irene dan Ifan kemudian melangkah mendekat ke arah Alma.


Alma beringsut duduk. Dia kemudian meraih tangan Irene dan Ifan. Dia kemudian menyatukan tangan Irene dan Ifan.


"Tante. Apakah Tante mau jadi mama aku?" tanya Alma yang membuat Irene dan Ifan terkejut.


Glek.


Irene menegak ludahnya. Dia tidak menyangka Alma akan bicara seperti itu.


"Apa maksud kamu sayang?" tanya Ifan.


"Aku tadi mimpi Mama. Mama berpesan ke aku, kata Mama, Mama sedih melihat papa selalu kesepian. Mama ingin Papa nikah lagi."


Ifan membelalakkan matanya saat mendengar ucapan putri kesayangannya itu.


Sesaat kemudian, Ifan tergelak.


"Haha... anak papa ini. Suka sekali mengada-ada. Jangan dengarkan Alma Ren...!"


"Aku nggak ngada-ngada Pa. Tadi mama memang ke sini dan bicara seperti itu. Dan aku pengin Tante Iren yang jadi ibu aku."


Ifan dan Irene saling menatap sejenak.


"Nggak bisa sayang. Tante itu, nggak bisa nikah sama papa kamu," ucap Irene.


"Tapi kenapa Tan?"


"Karena...!" Irene bingung. Bagaimana cara menjelaskannya pada anak kecil itu. Irene takut, akan membuat Alma kecewa.


"Karena apa Tan?" Alma menatap Irene lekat.


"Karena..." Irene kembali menggantungkan ucapannya.


"Tante Iren itu sudah punya suami sayang," Ifan menjelaskan.


"Yaah...tapi aku pengin Tante Iren jadi mama aku," ucap Alma.


Irene tersenyum dan mengelus rambut Alma.

__ADS_1


"Boleh kok kalau Alma mau anggap Tante Iren seperti ibu kandung Alma sendiri. Kalau Alma mau panggil Tante Mama, juga boleh. "


__ADS_2