Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Alma demam


__ADS_3

Malam ini, Irene masih berada di atas tempat tidurnya. Irene mengerjapkan matanya. Tiba-tiba saja Irene terbangun.


Dia meraba ke sampingnya tidur. Tampak tak ada Irwan di sampingnya. Irene mengucek matanya dan beringsut duduk. Dia kemudian menatap ke samping.


"Ke mana Mas Irwan," ucap Irene.


Irene juga menatap jam dinding. Waktu sudah menunjukkan jam 12 malam.


"Udah malam banget, kenapa Mas Irwan belum masuk kamar. Ke mana ya dia."


Irene turun dari tempat tidurnya untuk mencari Irwan. Dia ke luar dari kamarnya untuk mencari suaminya.


Irene melangkah ke dapur. Dia fikir, Irwan ada di dapur. Tapi ternyata Irwan tidak ada di dapur. Irene melangkah ke kamar mandi belakang, Irwan juga tidak terlihat di sana.


Irene kemudian melangkah ke depan. Dia terkejut saat melihat Irwan masuk diam-diam ke dalam ruang tamu.


Irene segera menyalakan lampu ruang tamu. Irene membelalakkan matanya saat melihat Irwan.


"Mas Irwan. Dari mana kamu malam-malam begini?" Irene menatap tajam ke arah Irwan.


"Em, sayang. Kamu bangun?"


Sejak tadi, Irene masih memperhatikan Irwan. Dia sudah bisa berjalan tanpa tongkat. Dan selama ini Irene tidak tahu atau mungkin selama ini, Irwan itu pura-pura tidak bisa jalan.


"Kamu udah bisa jalan tanpa tongkat Mas?" tanya Irene sembari mendekat ke arah Irwan.


"Em.. sayang. Iya sayang. Aku memang sudah bisa jalan tanpa tongkat sekarang."


"Lho. Kok aku baru tahu ya."


"Kamu kan sibuk terus kerja. Mana pernah kamu perhatian sama aku."


"Terus kamu itu dari mana aja Mas? kenapa malam-malam gini masih keluyuran di luar. Katanya kamu bilang ke aku kemarin, kamu lagi sakit dan nggak enak badan. Tapi kok malam-malam masih aja keluyuran. Apa jangan-jangan kamu cuma pura-pura sakit ya?"


"Nggak. Siapa juga yang pura-pura sakit. Dari kemarin aku memang sakit kok. Dan aku juga belum bisa jalan tanpa tongkat. Dan entah kenapa hari ini, tubuhku merasa enak. Begitu juga kaki aku."


Irene menghela nafas dalam.


"Ya udah. Sekarang masuk kamar. Nggak usah keluyuran lagi Mas."


Irwan kemudian melangkah pergi meninggalkan istrinya. Dia pergi ke kamar untuk tidur.


Sementara Irene melangkah ke arah dapur untuk mengambil minum.


Irene menuang air putih ke dalam gelas. Setelah itu dia meminumnya.


"Dari mana Mas Irwan. Kenapa sekarang jadi aneh banget begitu," gumam Irene.


Irene kemudian meletakan kembali gelasnya di atas dapur. Setelah itu, dia kembali untuk ke kamar.


Irene membuka pintu kamarnya. Dia tersenyum saat melihat suaminya sudah terlelap.

__ADS_1


"Dasar Mas Irwan. Kalau tidur cepat banget gitu. Baru tadi masuk kamar. Udah pules banget begitu."


Irene naik ke atas tempat tidurnya. Setelah itu dia mengangkat selimut untuk menyelimuti tubuh suaminya.


"Selamat tidur Mas. Selamat malam," ucap Irene.


Ting.


Irene terkejut saat mendengar suara notifikasi dari ponselnya.


Irene meraih ponselnya yang ada di atas nakas.


(Ren, Alma demam. Alma rewel dan aku nggak bisa tidur)


Irene membelalakkan matanya. Irene terkejut saat melihat pesan yang ada di ponselnya.


"Kenapa dengan Alma ya. Kenapa dia bisa demam. Kan kemarin dia baik-baik aja," gumam Irene.


Irene menatap ke arah Irwan.


'Kayaknya, Mas Irwan udah nyenyak. Aku ke luar aja deh. Aku mau telpon Mas Ifan,' batin Irene.


Irene kemudian keluar dari kamarnya untuk menelpon Ifan. Irene ke dapur dan duduk di ruang makan. Dia kemudian menekan nomer Ifan.


Beberapa saat kemudian, suara dari sebrang telpon terdengar.


"Halo..."


"Halo Mas. Ada apa? kata kamu Alma demam ya?"


"Terus gimana?"


"Tadi udah aku kompres Ren. Tapi panasnya belum juga turun."


"Duh kasihan banget ya."


"Oh iya Ren. Besok pagi, kamu bisa nggak datang lebih awal. Karena aku mau ada meeting penting di kantor. Aku harus berangkat pagi. Dan kamu harus jagain Alma di rumah."


"Terus gimana sekolah Alma?"


"Alma kayaknya nggak bisa sekolah dulu. Soalnya ini badannya panas banget."


"Ya udah. Bawa aja ke dokter Mas."


"Iya. Kalau sampai besok panasnya ngga mau turun, aku akan bawa dia ke dokter."


"Iya Mas. Kamu harus bawa ke dokter. Takut nanti terjadi apa-apa sama anak kamu."


"Ya udah ya Ren. Aku nggak enak nih sama suami kamu. Aku cuma mau ngabarin aja kok kalau Alma sakit dan besok ngga bisa sekolah dulu. Kamu cukup temani dia aja."


"Iya Mas, iya.'

__ADS_1


"Tolong ya, berangkat lebih pagi dari biasanya. Karena aku sangat membutuhkan kamu Ren."


"Iya Mas. Iya. Besok aku akan datang cepat ke rumah kamu. Aku juga kasihan sama Alma Mas."


"Makasih ya Ren. Udah dulu ya aku tutup dulu telponnya. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Setelah berteleponan dengan Ifan, Irene kemudian kembali ke kamarnya untuk tidur.


***


Sejak tadi, Ifan masih mondar-mandir di kamarnya. Dia bingung untuk membangunkan Mbok Inah. Karena malam ini, sudah sangat larut. Mbok Inah saja baru istirahat. Tidak mungkin Ifan untuk membangun pembantunya.


"Duh. Obat-obatan juga udah pada habis. Panas anak aku juga nggak mau turun-turun juga. Di kompres juga nggak mempan," gumam Ifan.


Ifan kemudian kembali mengompres Alma.


"Sayang. Sabar ya. Besok pagi papa akan bawa kamu ke dokter," ucap Ifan.


Ifan sejak tadi masih berada di kamar anaknya. Dia beberapa kali mengompres Alma. Agar panas Alma mau turun. Tapi panas Alma nggak mau turun juga.


Hoaammm...


"Papa udah ngantuk banget sayang. Besok Papa mau ada meeting di kantor. Tapi jam segini papa belum tidur. Pasti Papa akan ngantuk banget besok," ucap Ifan.


Ifan menatap jam dinding. Waktu sudah menunjukkan jam dua malam. Ifan sudah mulai mengantuk dan akhirnya dia ketiduran juga di sisi Alma.


Ring ring ring...


Suara ponsel Ifan berbunyi. Ifan buru-buru mengangkat telponnya dengan mata yang masih sangat mengantuk.


"Halo..."


"Halo Mas. Bagaimana Alma. Apa panasnya udah turun?"


Ifan menatap Alma. Dia kemudian meletakan telapak tangannya di kening Alma.


"Belum Ren."


"Aku juga nggak bisa tidur Mas. Mikirin Alma terus. Aku takut sakit Alma akan bertambah parah."


"Iya Ren. Kamu bisa kan datang ke sini nanti jam enam pagi."


"Iya Mas. Ini juga baru jam empat. Nanti jam lima aku akan siap-siap ya."


"Iya Ren. Aku tunggu kamu ya."


"Iya Mas."


Irene menghela nafas dalam. Dia tampak sedikit panik saat mendengar Alma sakit. Entah kenapa akhir-akhir ini, Irene jadi sangat sayang pada anaknya Ifan. Dia juga entah kenapa jadi ingin dekat terus dengan Alma.

__ADS_1


'Seandainya, Mas Irwan mau mengadopsi anak di panti asuhan, aku pasti akan senang banget. Aku pengin banget punya anak.' batin Irene.


Irene mengusap perutnya. Tampak sedih dengan keadaannya sekarang.


__ADS_2