Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
mengantar pulang


__ADS_3

"Maafkan aku Ren. Karena aku langsung bawa kamu ke sini, dan nggak bawa kamu pulang. Sebenarnya aku bingung Ren saat melihat kamu kehujanan di tengah jalan."


Irene menatap ke arah Ifan.


"Bingung kenapa?" tanya Irene.


"Aku bingung, mau bawa kamu ke mana. Di sisi lain, Alma sangat membutuhkan kamu. Dan di sisi lain, suami kamu marah besar sama aku. Dia fikir, aku itu selingkuh sama kamu," ucap Ifan menuturkan.


Irene membelalakkan matanya. Dia terkejut saat mendengar penuturan Ifan.


"Kamu ke rumah aku Mas? jangan bilang, kamu babak belur begitu karena suami aku," ucap Irene penuh kekhawatiran.


"Iya benar. Suami kamu yang sudah membuat aku babak belur begini," ucap Ifan dengan jujur.


"Apa! tega banget Mas Irwan melakukan hal ini sama kamu Mas. Tapi, kamu nggak apa-apa kan Mas?" Irene sejak tadi masih menatap wajah Ifan yang penuh luka memar.


"Nggak apa-apa Ren. Luka aku udah baik-baik aja kok. Yang penting, sekarang itu kamu Ren. Kamu udah nggak kedinginan lagi kan?" tanya Ifan.


"Nggak Mas. Aku udah nggak kedinginan kok.Luka kamu, parah banget Mas. Kamu harus segera di obati Mas," ucap Irene.


"Nggak perlu Ren. Aku nggak apa-apa kok. Nanti juga, sembuh sendiri. Oh iya. Tadi si Mbok, udah nyiapin minuman hangat untuk kita."


Ifan bangkit berdiri. Setelah itu, dia mendekat ke arah Irene sembari membawa secangkir teh hangat untuk Irene.


"Ini Ren." Ifan memberikan secangkir teh hangat itu pada Irene.


Irene dengan senang hati menerimanya.


"Makasih ya Mas," ucap Irene.


"Di minum Ren, mumpung masih hangat."


"Iya Mas. Makasih ya."


"Sama-sama Ren."


Setelah menyeruput minuman hangat itu, Irene menatap Ifan.


"Kamu nggak minum Mas?"' tanya Irene.


"Iya. Nanti aku minum."


Irene meletakan cangkir itu di atas nakas. Setelah itu, dia melangkah ke jendela kamar Ifan.


"Hujannya sudah mulai reda."


"Iya Ren. Tadinya Alma nangis, nyariin kamu. Dia meminta aku, untuk jemput kamu ke rumah kamu. Aku fikir, kamu itu ada di rumah. Ternyata kamu nggak ada di sana. Aku ketuk pintu, malah suami kamu yang bukain."


"Aku yakin, kalau Mas Irwan itu cemburu sama kamu Mas. Dia pernah lihat kamu, ngantar aku sampai rumah. Dan dia fikir, kamu itu selingkuhan aku Mas. Dia cemburu sampai sekarang. Makanya, aku melarang kamu untuk ngantar aku sampai rumah. Karena suami aku pencemburu banget."


"Aku benar-benar nggak tahu Ren soal itu. Maafkan aku ya, karena aku sudah selalu menyusahkan kamu."


Irene menggeleng dan tersenyum.


"Nggak apa-apa. Seharusnya aku yang berterima kasih sama kamu Mas, karena kamu sudah mau memberikan aku kerjaan dan meminjami aku uang untuk operasi suamiku."


"Iya Ren. Nggak usah fikirkan soal hutang-hutang itu."


Tok tok tok...


Suara ketukan sudah terdengar dari luar kamar Ifan.

__ADS_1


"Pak Ifan... Pak Ifan...!"


"Tunggu ya Ren Itu pasti si Mbok."


Ifan buru-buru melangkah ke arah pintu untuk membuka pintu kamarnya.


Ifan terkejut saat melihat Mbok Inah.


"Ada apa Mbok?" tanya Ifan.


"Ada telpon dari neneknya Alma."


Mbok Inah menyodorkan ponsel miliknya pada Ifan.


"Ini Pak."


"Iya Mbok."


Ifan kemudian mengangkat telpon dari ibunya.


"Halo..."


"Halo Ifan. Ada di mana kamu Ifan? "


"Ada di rumah Bu. Ada apa?"


"Ada apa, ada apa. Kamu tahu nggak ini jam berapa?"


"Jam dua belas Bu."


"Kamu nyuruh ibu dan Widi tungguin Alma di sini. Sementara kamu enak-enakan di rumah. Cepat ke sini! ini Widi mau pulang nih sama ibu."


"Bu. Kenapa harus pulang sih Bu. Ini kan udah malam. Kenapa ibu nggak nginap di situ aja sih."


"Bu, ibu aja nggak mau kan jaga anak aku. Lalu, kenapa ibu harus usir Irene dari rumah sakit."


"Ibu cuma tidak suka aja melihat wanita itu. Takutnya, dia mendekati kamu lagi, karena ada maunya."


"Bu. Ibu sadar nggak sih, dengan apa yang ibu ucapkan. Irene itu sudah punya suami. Mana mungkin dia akan mendekati aku lagi Bu. Irene itu sekarang kerja sama aku. Dia aku gaji, untuk jagain Alma."


"Udahlah, ibu nggak mau berdebat sama kamu. Sekarang kamu ke sini, antarkan ibu dan Widi pulang. Karena tadi kan kamu naik taksi. Dan jam segini, udah nggak ada taksi Ifan."


"Iya. Aku akan ke sana sama Irene."


"Kamu mau bawa wanita itu ke sini?"


"Bu. Kalau aku ngantar ibu dan Widi pulang, lalu Alma mau sama siapa?"


"Ya udahlah. Terserah kamu."


Setelah bertelponan dengan ibunya, Ifan melangkah menghampiri Irene.


"Ren," ucap Ifan.


"Iya Mas."


"Ibu nyuruh kita ke sana."


"Kita akan ke sana Mas?"


"Iya."

__ADS_1


"Tapi ibu kamu?"


"Sudahlah, nggak usah khawatirkan ibu. Dia nggak akan marah lagi kok sama kamu."


"Baiklah. Kita ke sana Mas."


Ifan dan Irene akhirnya pergi ke rumah sakit.


****


Sesampai di rumah sakit, Irene dan Ifan melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Rumah sakit malam ini, tampak sepi.


Di ruangan Alma, Alma tampak masih menangis. Irene dan Ifan kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan Alma. Mereka menghampiri Alma yang ada di dalam ruangan itu.


"Alma. Kamu kenapa?" tanya Ifan menatap lekat anaknya.


"Ifan. Ibu mau pulang. Tolong antarkan ibu dan Widi pulang," ucap Bu Atik.


"Iya Bu."


Tanpa menatap Irene sedikitpun, Bu Atik kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan Alma.


"Tunggu di sini dulu ya Ren. Aku mau antarkan mereka pulang."


Irene hanya mengangguk.


"Iya Mas."


Ifan kemudian melangkah ke luar dari rumah sakit bersama Widi dan ibunya.


Sebenarnya Ifan lelah malam ini, karena dia harus kerja di kantor seharian. Di tambah lagi, anaknya sakit dan tadi dia juga kehujanan. Tapi Ifan tidak mungkin menolak lagi keinginan ibunya.


Ifan sejak tadi masih fokus menyetir dan menatap ke depan.


"Ifan. Wajah kamu kenapa?" tanya ibu Ifan.


"Aku nggak apa-apa Bu."


"Kamu babak belur begitu," ucap Bu Atik.


"Jangan fikirkan aku Bu."


Bu Atik tampak khawatir saat melihat Ifan. Memar di wajah Ifan memang cukup banyak.


"Kamu habis berantem sama siapa?"


"Aku nggak apa-apa kok Bu. Sudahlah, ibu nggak usah tanya macam-macam. Ini aku mau ngantar ibu pulang."


"Tapi ibu khawatir."


"Bu. Kenapa sih, ibu harus malam-malam begini pulang. Kenapa ibu nggak nunggu besok aja pulangnya."Ifan sudah mulai kesal.


"Tapi ibu nggak enak sama orang tuanya Widi, sudah membawa Widi sampai malam."


"Lagian, kenapa ibu harus bawa Widi sih. Ibu bisa kan ke sini sendiri."


"Tapi..."


"Tapi apa! aku tahu kalau ibu mau mendekatkan aku sama dia kan. Aku itu bukan anak kecil lagi Bu. Aku udah dewasa. Aku bisa cari jodoh aku sendiri."


"Jangan bilang, kalau kamu mau kembali lagi dengan Irene."

__ADS_1


"Bu. Aku nggak mau kembali lagi dengan Irene. Sudah berapa kali sih aku bilang kalau Irene itu sudah punya suami. Aku dekat dengan Irene itu karena Alma. Ibu harusnya paham itu dong Bu."


__ADS_2