Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Masa lalu yang menyakitkan


__ADS_3

Ajeng bangkit berdiri. Begitu juga dengan Irwan.


"Simpan dulu cincin itu Mas. Kalau kamu memang mau seriusan sama aku, kamu harus buktikan dulu sama aku. Kalau kamu itu benar-benar serius sama aku. Aku nggak mau, asal terima lelaki begitu saja. Apalagi kita baru saling kenal. Dan aku juga punya anak. Aku ingin kamu juga mau menerima anak aku Mas," ucap Ajeng.


"Tentu dong Jeng. Aku sayang banget sama anak kamu. Aku tidak akan mungkin menyia-nyiakan Dio. Aku sudah menganggap dia anak kandung aku sendiri," ucap Irwan.


Ajeng menatap tajam ke arah Irwan.


"Aku nggak mau Mas. Sampai


di cap orang sebagai perebut suami orang. Karena aku nggak pernah merebut kamu dari Irene. Kamu sendiri kan yang ngejar-ngejar aku dan minta aku untuk menikah dengan kamu."


"Iya Jeng. Aku akan buktikan kalau aku cinta sama kamu dan sayang sama anak kamu."


"Ya udah. Selesaikan dulu urusan kamu sama istri kamu. Setelah kamu resmi jadi duda, baru aku bisa pertimbangkan lagi. Untuk menerima kamu, atau tidak. Karena kita juga kan baru saling kenal."


"Baiklah Jeng. Aku akan ceraikan dulu Irene."


Irwan menyimpan cincin itu kembali ke dalam sakunya saat Ajeng menolak cincin pemberiannya.


"Udah malam Mas Irwan. Sekarang kamu pulang Mas. Aku ngga enak, kalau ada tetangga yang melihat kita berduaan begini di dalam rumah aku. Apa lagi, di sini aku warga baru. Aku nggak mau, buat masalah di sini Mas."


"Baiklah. Aku titip salam untuk Dio ya. Dia udah tidur kan?" tanya Irwan sebelum pergi.


"Iya Mas. Dia udah tidur."


"Ya udah. Aku pulang dulu ya," ucap Irwan berpamitan pada Ajeng.


Ajeng mengangguk.


Setelah berpamitan dengan Ajeng, Irwan kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah Ajeng. Dia kemudian melangkah ke arah rumahnya dan masuk ke dalam rumahnya.


Entah apa yang ada di dalam fikiran Irwan saat ini. Saat melihat Ajeng, timbul keinginan untuk memiliki wanita itu. Padahal, selama ini Irwan tidak pernah mengkhianati istrinya. Tapi entah, kenapa dengan Irwan saat ini.


Mungkinkah Irwan mendekati Ajeng hanya untuk pelariannya saja. Karena dia saat ini masih cemburu buta dengan kedekatan Irene dan Ifan.


"Aku nggak ngerti. Kenapa dengan Mas Irwan. Kenapa tiba-tiba saja dia melamar aku. Dia juga mengatakan kalau dia sudah mengusir Irene dan dia akan menceraikan Irene. Apa maksud semua ini. Aku benar-benar bingung. Kenapa bisa tiba-tiba banget begini. Dan aku juga nggak mungkin, menerima begitu aja lamaran dia. Dia sudah punya istri. Dan aku juga belum tahu menahu latar belakangnya," gumam Ajeng.

__ADS_1


Ajeng meneteskan air matanya, saat dia mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, saat dia memergoki suaminya selingkuh dengan seorang gadis cantik di sebuah rumah kontrakan kecil.


Pagi itu, Ajeng mendapatkan telpon entah dari siapa. Seorang lelaki memberi tahu, kalau suami Ajeng saat ini, ada di sebuah rumah kontrakan kecil, dan dia bersama seorang perempuan cantik.


Awalnya, Ajeng tidak percaya akan hal itu. Karena dia sangat percaya pada suaminya. Namun, kepercayaan Ajeng, luntur seketika itu juga, saat dia di kirimi foto-foto mesra suaminya bersama wanita itu.


Ajeng buru-buru pergi menuju ke alamat yang di berikan seorang lelaki yang tak dikenalnya itu.


Setelah sampai di depan rumah kontrakan, Ajeng menggedor-gedor pintu rumah kontrakan itu.


"Mbak. Cari siapa?" tanya seorang wanita pada Ajeng.


"Aku mau cari suamiku. Dia ada di dalam kan?" Ajeng menatap tajam Bu Senna yang tak lain adalah pemilik rumah kontrakan itu.


"Suami kamu yang mana? di dalam nggak ada lelaki Mbak. Di dalam yang ngontrak itu seorang gadis."


Ajeng Syok bukan main saat mendengar penjelasan Bu Senna. Ajeng kemudian memperlihatkan ponselnya pada Bu Senna.


"Ini kan gadis yang ibu maksud?" tanya Ajeng.


"Oh, iya Mbak. Benar," jawab Bu Senna.


Bu Senna terkejut.


"Apa! yang benar aja? kalau benar begitu, saya akan usir gadis itu dari sini kalau ucapan kamu itu benar. Karena saya tidak mau, rumah kontrakan saya, untuk tempat berzina."


Bu Senna kemudian mengetuk pintu rumah kontrakan itu.


Tok tok tok.


"Tan. Tania. Apa kamu ada di dalam?" tanya Bu Senna dengan nada tinggi.


Beberapa saat kemudian, Tania membuka pintu rumahnya.


"Eh, ada apa ya? rame-rame begini?" tanya Tania menatap satu persatu wajah Bu Senna dan Ajeng..


Ajeng tiba-tiba saja menyerobot masuk ke dalam rumah kontrakan gadis yang bernama Tania.

__ADS_1


Ajeng terkejut saat melihat suaminya masih terlelap tanpa busana di atas kasur milik gadis itu.


"Mas Amar...!" teriak Ajeng.


Lelaki yang bernama Ammar, yang tak lain adalah suami Ajeng itu, membuka matanya saat mendengar teriakan istrinya.


"Ajeng. Kamu kok bisa ada di sini."


Ajeng langsung membuka selimut Ammar suaminya. Membuat Ammar tampak kalang kabut dibuatnya.


"Apa yang sudah kamu lakukan di sini Mas...!" geram Ajeng.


Air mata Ajeng, luruh seketika itu juga saat melihat suaminya tidur tanpa busana di tempat seorang gadis.


Ammar syok. Dia benar-benar bingung saat ini. Dia mengambil bantal, handuk, dan apa saja untuk menutupi tubuhnya yang tanpa busana itu. Sementara Ajeng, dia hanya bisa menangis sejadi-jadinya di depan Ammar.


Ajeng tidak bisa berucap apapun saat itu. Dia syok berat. Lidahnya seakan kelu untuk bicara. Amar mengambil bajunya dan buru-buru memakainya kembali.


"Apa-apaan ini. Emang kalian fikir, rumah kontrakan ini untuk tempat mesum?" Bu Senna tampak marah saat melihat Amar.


"Dia kah suami kamu Mbak?" Bu Senna menunjuk ke arah Amar


Ajeng hanya mengangguk. Dia tidak melakukan apapun. Justru Bu Senna yang buru-buru menampar Ammar begitu saja.


"Dasar lelaki brengsek. Kamu sudah berbuat zina di rumah kontrakan saya. Saya mau, kalian berdua pergi dari sini. Dan kamu Tania. Kemasin semua barang-barang kamu, dan pergi dari sini. Saya tidak mau menerima kamu untuk ngontrak di rumah saya lagi. Benar-benar memalukan...!" geram Bu Sena.


Ajeng menghela nafas dalam. Dia mengusap air matanya. Luka di masa lalu, memang benar-benar membuatnya trauma pada lelaki. Makanya, sekarang dia akan lebih berhati-hati lagi untuk memilih lelaki. Dia tidak mau, kejadian yang dulu akan terulang lagi, di pernikahan ke duanya.


"Sebenarnya aku masih belum ingin menikah lagi. Tapi, aku juga kasihan sama Dio. Dia masih butuh seorang ayah. Dan aku, juga butuh seorang suami untuk membantu aku mencari nafkah. Aku capek, hidup sendiri. Harus banting tulang sendiri," gumam Ajeng.


"Tapi, kalau aku terima Mas Irwan, dia juga kan belum punya kerjaan. Lalu, bagaimana dia bisa memberikan aku dan anak aku, nafkah. Dia aja, sekarang nganggur. Dan dia juga masih menggantungkan hidup ke istrinya. Benarkah yang di ucapkan Mas Irwan, kalau dia sudah mengusir istrinya. Atau, itu cuma sandiwara dia saja. Agar aku mau menerima cintanya."


Ajeng tidak mau, berfikir macam-macam lagi. Dia kemudian melangkah ke arah kamar anaknya untuk melihat anaknya.


Sekarang Dio, sudah terlelap di atas ranjangnya.


Ajeng tersenyum dan mendekat ke arah Dio. Dia kemudian mencium kening Dio, dan mengelus rambutnya.

__ADS_1


"Sayang, kamu nyenyak sekali tidurnya Nak. Mama sayang banget sama kamu Nak. Maafkan Mama, karena mama belum bisa menjadi Mama yang terbaik untuk kamu."


__ADS_2