
"Iya. Ibu sakit. Apa kamu punya uang? ayah ingin memeriksakan ibu kamu ke dokter, tapi ayah lagi nggak punya uang. Apa kamu mau pinjamin ayah uang?" tanya Pak Feri.
"Ayah. Maaf ayah. Bukannya aku nggak mau membantu. Tapi, aku emang lagi nggak punya uang. Bayar sekolah anak-anak aku juga masih nunggak. Karena Mas Teguh baru berangkat lagi. Dia belum transfer uang lagi ayah," jelas Indah.
Pak Feri diam. Dia masih ingat saja kejadian tadi waktu di rumah Irwan.
"Sebenarnya ayah ke sini ingin tahu di mana Irene. Ayah ingin menanyakan sesuatu sama dia," ucap Pak Feri.
"Ayah mau tanya soal apa?" tanya Indah penasaran.
"Soal Irwan," jawab Pak Feri singkat.
"Kenapa dengan Irwan?"
"Apa benar, Irwan dan Irene sudah bercerai?" tanya Pak Feri yang membuat Indah terkejut dan menatapnya tajam.
"Kenapa ayah bisa menanyakan itu?"
"Tadi ayah ke rumah Irwan. Dan ayah melihat Irwan sedang melakukan ijab kabul dengan seorang wanita. Setelah ayah ke sana, katanya dia dan Irene sudah bercerai. Benarkah itu?" jelas Pak Feri yang membuat Indah terkejut.
"Apa! Irwan sudah nikah lagi, dengan wanita lain?" pekik Indah.
"Ayo ayah. Kita masuk aja di dalam. Kita ngobrol di dalam. Nggak enak, kalau kita ngobrol di luar begini."
"Iya."
Indah merangkul ayahnya untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Ayo duduk ayah!" pinta Indah.
Indah kemudian duduk di ruang tamu setelah Indah mempersilahkan ayahnya duduk.
"Ayah mau minum apa? biar Indah buatkan."
"Apa aja. Ndah."
Indah kemudian melangkah ke belakang untuk membuatkan air minum untuk ayahnya.
Beberapa saat kemudian, Indah melangkah ke arah Pak Feri dan meletakan secangkir kopi di atas meja ruang tamu.
"Minum dulu Ayah. Pasti ayah capek kan."
"Iya. Makasih Ndah. Kok rumah kamu sepi. Ke mana anak-anak kamu?" tanya Pak Feri.
"Kan anak-anak aku sekolah semua ayah. Masak ayah lupa sih. "
__ADS_1
Pak Feri terdiam.
"Sebenarnya, ada apa dengan adik kamu si Irene. Lama dia tidak ada kabar, tapi kenapa tiba-tiba saja kata Irwan mereka sudah bercerai?"
"Setahu aku, mereka itu belum resmi bercerai deh Yah. Soalnya, Irene belum menandatangani surat cerai itu."
"Kamu tahu di mana Irene?" tanya Pak Feri.
"Sebenarnya, Irene itu ada di rumah aku Yah. Dan sekarang dia lagi kerja."
"Benarkan, persis seperti apa yang ayah duga. Pasti Iren ada di sini," ucap Pak Feri.
"Terus, apa Iren tahu, kalau suaminya itu sudah menikah lagi?" tanya Pak Feri lagi.
"Iren belum tahu ayah. Tapi Iren sudah lama di usir oleh Irwan," jelas Indah.
"Apa! tapi kenapa Iren nggak bicara apa-apa sama ayah. Dan kamu juga, kenapa kamu bisa-bisanya menyembunyikan semua masalah ini dari ayah. Kenapa hah! ini masalah besar."
"Maafkan aku ayah. Iren nggak membolehkan aku untuk ngomong sama ayah dan ibu."
"Ya udah. Ayah mau pulang kalau kamu nggak mau minjemin ayah uang. Biar ayah pinjem aja ke tetangga."
Pak Feri bangkit berdiri. Dia tampaknya sangat kecewa.
"Ayah. Aku punya uang. Tunggu dulu ayah."
"Cuma segini uang aku. Ayah pakai aja untuk periksa ibu ke dokter."
"Yah, lumayanlah segini. Makasih. Kalau begitu, ayah pulang dulu ya."
"Iya ayah. Hati-hati di jalan."
Indah mencium punggung tangan ayahnya. Dan setelah itu, Pak Feri kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah Indah.
"Mudah-mudahan sih, ayah nggak lagi bohongin aku. Dan kata ayah tadi, Irwan sudah menikah lagi. Apa ini, alasan Irwan ingin menceraikan Irene. Apa selama ini Irwan sudah punya wanita lain?"
Indah tiba-tiba saja teringat dengan suaminya yang sedang berada jauh darinya.
"Ya Allah, jagalah Mas Teguh untuk aku. Jauhkan lah dia dari godaan wanita-wanita perebut suami orang di luar sana. Mudah-mudahan, Mas Teguh akan selalu setia sama aku. Dan jangan sampai Mas Teguh sama seperti Irwan."
****
Sore ini, Irene masih bermain dengan Alma di taman depan rumah.
Deru mobil sudah terdengar dari luar gerbang rumah Ifan. Mbok Inah buru-buru melangkah untuk membuka gerbang.
__ADS_1
Bu Atik turun dari taksi. Dia kemudian melangkah ke arah Mbok Inah.
"Mbok. Di mana Ifan?" tanya Bu Atik.
"Pak Ifannya belum pulang Bu."
"Belum pulang? biasanya dia pulang jam berapa?"
"Tidak mesti. Kadang dia juga pulangnya malam," jawab Mbok Inah
"Di mana cucu saya?"
"Dia ada di taman depan. Lagi main sama Mbaknya."
Tiba-tiba saja, Widi turun dari mobilnya. Widi kemudian melangkah menghampiri Bu Atik. Mereka kemudian masuk dan mendekat ke arah Alma.
"Alma," ucap Bu Atik.
Alma menoleh ke arah Bu Atik.
"Kamu masih ada di sini heh!" Bu Atik menatap tajam ke arah Irene.
"Nenek. Jangan marahin mama aku," ucap Alma.
"Mama? kamu masih panggil dia dengan sebutan Mama?" Bu Atik menatap tajam ke arah cucunya.
Irene diam . Dia bingung dengan apa yang harus dia katakan. Setiap bicara dengan mantan mertuanya, Irene selalu kalah. Karena Bu Atik, selalu ingin menang sendiri. Dan Irene tidak pernah terlihat baik di mata Bu Atik.
"Irene. Racun apa yang sudah kamu masukan ke dalam otak cucuku. Kenapa dia masih memanggil kamu dengan sebutan Mama!"
"Maafkan aku Bu. Aku tidak pernah meracuni cucu ibu. Dia sendiri yang ingin memanggil aku dengan sebutan Mama."
"Apa! berani kamu melawan saya?"
"Ibu cukup! apa yang sudah ibu lakukan pada Irene?" Tiba-tiba saja Ifan sudah berada di belakang ibunya.
"Mulai sekarang, ibu berhenti untuk marah-marah pada Iren. Karena Irene tidak salah Bu. Iren di sini, cuma mau membantu Ifan untuk menjaga anak Ifan," ucap Ifan.
"Ifan. Ibu benar-benar tidak suka Iren ada di sini. Apa kamu sudah lupa, dengan apa yang sudah orang tua Iren lakukan. Dia sudah memaksa kamu untuk menandatangani surat perceraian kamu. Dan ibu tidak akan setuju, jika kamu dekat lagi dengan wanita ini. Karena ibu akan jodohkan kamu dengan Widi."
"Nggak Bu. Aku nggak bisa menikah dengan Widi. Jika ibu tetap saja memaksa aku untuk menikah dengan Widi, lebih baik aku akan menikah dengan Iren sekarang. Karena aku belum bisa melupakan dia. Aku masih sangat mencintai dia Bu."
"Oh, begitu? kamu masih sangat mencintai dia? kamu itu sudah terpengaruh oleh hasutan dia. Setelah kamu kaya, dia deketin kamu lagi. Dulu waktu kamu miskin dan belum punya kerjaan, orang tuanya sudah menghina-hina kamu."
"Tapi itu kan orang tuanya. Bukan Irene kan."
__ADS_1
Sejak tadi Ifan masih membela mati-matian mantan istrinya. Dia tidak mau, dijodohkan dengan Widi. Karena dia masih sangat mencintai Irene dan Alma juga sangat sayang pada Irene. Dia sudah memimpikan Irene untuk menjadi ibunya.