
"Tante. Benar apa yang dikatakan Mas Ifan. Lebih baik, Tante batalkan saja perjodohan ini. Karena, Mas Ifan itu tidak mau dijodohkan dengan aku," ucap Widi.
"Nggak Wid. Tante tetap akan menjodohkan kamu dengan anak Tante. Tante nggak mau sampai Ifan kembali lagi dengan mantan istrinya. Tante tahu bagaimana orang tuanya Irene. Irene mendekati Ifan lagi pasti karena ada maunya "
"Tante. Mulai sekarang, jangan paksa aku untuk menikah dengan Mas Ifan. Karena aku nggak mau nikah dengan lelaki yang dihatinya aja masih ada wanita lain."
"Lho. Kamu ngomongnya gitu kenapa?"
"Pokoknya aku nggak mau Tan. Ngomong aja, sama orang tua aku. Kalau perjodohan ini dibatalkan."
"Lho. Kok gitu sih?"
"Pak berhenti Pak. Aku mau turun di sini aja," ucap Widi.
Sopir taksi menghentikan laju mobilnya. Widi kemudian ke luar dari taksi. Membuat Bu Atik bingung dengan sikap Widi.
Sejak tadi, Bu Atik masih memanggil-manggil Widi. Tapi Widi malah naik taksi lain dan meluncur pulang dengan taksi lain.
"Kenapa sih tuh anak. Kenapa dia harus ngambek begitu," ucap Bu Atik.
****
Malam ini, Indah dan Irene masih duduk berdua di ruang tengah.
"Tadi pagi ayah datang ke sini."
"Terus?" tanya Iren.
"Katanya ibu lagi sakit, dan dia lagi butuh uang."
"Terus Mbak kasih uangnya?"
"Iya. Aku kasih seratus ribu. Dan dia juga bilang sesuatu sama Mbak."
"Bilang apa?"
"Ayah bilang, kalau tadi pagi dia ke rumah Irwan. Dan Irwan katanya lagi ijab kabul dengan wanita lain."
"Apa! Mas Irwan udah nikah lagi?" Iren tampak terkejut.
"Iya."
Iren hanya bisa menghela nafas dalam. Namun, Irene tampak biasa-biasa saja. Dia tidak memperlihatkan tampang sedihnya.
"Kok kamu biasa aja gitu, dengar suami kamu nikah lagi?" tanya Mbak Indah.
"Lalu, aku harus bagaimana Mbak. Apa aku harus nangis, guling-guling gitu? kalau dia mau nikah lagi, biarkan ajalah. Suka-suka dia. Aku sih ingin cepat-cepat cerai dari dia."
"Kenapa? jangan-jangan...!"
"Apaan sih Mbak..."
"Jangan-jangan, kamu sudah punya lelaki idaman lain."
"Ish. Nggaklah."
Irene menatap lekat Indah.
__ADS_1
"Mbak. Aku mau jujur sama Mbak."
"Jujur soal apa?"
"Sebenernya sekarang ini aku lagi kerja di rumah Mas Ifan."
Indah mengernyitkan alisnya.
"Ifan siapa?"
"Ifan itu, mantan aku."
"Mantan suami?"
"Iya Mbak."
"Jangan bilang, rumah tangga kamu bubar itu, karena Irwan cemburu kalau kamu dekat lagi sama mantan suami kamu."
"Ah, nggak juga kok Mbak. Mas Irwan juga nggak ngerti kalau aku kejar di tempat Mas Ifan."
"Oh. Gitu. Terus, gimana sekarang Ifan? dia masih sama seperti dulu?"
"Beda Mbak. Beda banget. Dia sekarang sudah jadi orang sukses. Dia punya perusahaan sendiri Mbak. Dan sekarang dia juga sudah punya anak cantik.".
"Ifan udah punya anak?"
"Iya. Dan itu termasuk dalam kerjaan aku. Mengantar anak Mas Ifan ke sekolah setiap pagi."
Indah tersenyum. Entah kenapa, tiba-tiba saja dia merasa bahagia mendengar cerita Irene.
"Istrinya sudah meninggal Mbak. Sejak Alma anak Mas Ifan masih kecil."
"Ya ampun, kasihan sekali ya Ifan."
****
Empat bulan berlalu. Irene sudah resmi bercerai dengan suaminya. Sementara hubungan Ifan dan Irene sudah semakin dekat.
Bu Atik sudah tidak bisa memisahkan Ifan dan Irene lagi. Dia akhirnya mengalah juga dan merestui hubungan Ifan dan Irene. Karena Bu Atik juga tahu, kalau sebenarnya Irene itu wanita yang baik.
Dan Widi, sekarang sudah menolak untuk dijodohkan dengan Ifan. Karena dia sadar. Di luar sana, masih ada lelaki muda yang lebih pantas untuknya. Lelaki yang masih bujangan dan yang pasti mencintai Widi.
Mana mungkin Widi mau dengan lelaki yang sudah duda dan punya anak satu. Dan lelaki itu juga mencintai wanita lain. Lebih baik Widi mencari calon suami sendiri yang benar-benar sayang sama Widi.
"Irene, apakah kamu mau menikah dengan aku?" tanya Ifan yang membuat Irene terkejut.
"Apa! kamu ngelamar aku Mas?" tanya Irene.
"Iya. Aku mau melamar kamu," ucap Ifan.
Ifan kemudian merogoh kotak perhiasan yang ada di saku jasnya.
"Aku punya ini buat kamu," ucap Ifan sembari menyodorkan kotak perhiasan itu pada Iren
"Apa ini Mas?" tanya Iren.
"Buka aja Ren!" pinta Ifan.
__ADS_1
Irene kemudian membuka kotak perhiasan itu.
Irene terkejut bukan main saat melihat sebuah cincin berlian pada kotak itu.
"Mas, ini kan mahal banget Mas! kamu kenapa beli cincin ini untuk aku."
Ifan meraih tangan Irene.
"Aku belum bisa membahagiakan kamu selama ini Irene. Dulu, hidup aku sangat miskin. Aku mana mampu membeli perhiasan yang harganya puluhan juta seperti ini. Dan sekarang aku akan mempersembahkannya untuk kamu sayang," ucap Ifan.
Irene tersenyum.
"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan lelaki sebaik kamu Mas. Aku terharu banget, ternyata selama delapan tahun kita berpisah, kamu masih punya perasaan sama aku. Dan kamu masih terus memikirkan aku, setelah apa yang sudah ibu dan ayah aku lakukan?"
Ifan meraih tangan Irene. Dia kemudian mencium punggung tangan Irene.
"Kamu memang belahan jiwa aku Irene, dan kamu wanita yang baik. Kamu sayang sama anak aku. Dan Alma juga ingin sekali kamu menjadi ibunya. Apakah kamu mau menerima aku menjadi suami kamu? dan apakah kamu mau menerima Alma menjadi anak kamu?"
"Iya. Aku sayang sama Alma Mas. Dan aku juga masih cinta sama kamu."
"Sekarang sudah tidak ada lagi seseorang yang bisa memisahkan kita sayang. Kamu juga sekarang sudah resmi bercerai dari suami kamu."
"Iya Mas."
Ring ring ring...
Suara ponsel Ifan tiba-tiba saja berdering. Ifan kemudian mengangkat telponnya.
"Halo Mbok. Ada apa?"
"Pak Ifan. Ini Almanya nangis."
"Lho. Nangis. Kenapa nangis?"
"Tadi neneknya Alma sudah pulang ke rumahnya. Dan sekarang Non Alma nggak ada temannya. Non Alma nyuruh si Mbok untuk nelpon Papanya."
"Oh. Iya ya. Nanti saya akan pulang sekarang. Bilang sama Alma ya Mbok. Kalau saya akan segera pulang."
"Iya Pak Ifan."
Ifan kemudian mematikan saluran telponnya. Setelah itu dia menatap Irene.
"Kita pulang yuk Ren! Alma udah nungguin. Aku antar kamu pulang ke rumah Mbak Indah ya. Apa kamu mau nginap di rumah aku dan tidur sama Alma?"
"Nggak usah Mas. Aku mau pulang aja ke rumahnya Mbak Indah."
"Kenapa kamu nggak tinggal sama ayah dan ibu kamu saja? kenapa harus di rumahnya Mbak Indah."
"Aku malas Mas. Kalau harus berurusan dengan ayah dan ibu aku. Kamu tahukan seperti apa mereka."
"Iya sih. Ya udah. Kita pulang yuk!"
"Iya Mas."
Irene dan Ifan kemudian melangkah pergi meninggalkan cafe. Setelah satu jam mereka berada di cafe, mereka kemudian meluncur untuk pulang ke rumah mereka.
****
__ADS_1