
Ifan dan Mbok Inah terkejut saat melihat Irene tiba-tiba saja jatuh pingsan di depan mereka.
Ifan dengan sigap langsung menangkap tubuh Irene.
"Ren, Iren.." Ifan menepuk-nepuk pipi Irene.
"Sepertinya dia pingsan Pak Ifan," ucap Mbok Inah.
"Iya Mbok."
"Bawa masuk ke dalam aja Pak Ifan."
"Iya Mbok."
Ifan buru-buru melangkah masuk ke dalam rumahnya. Dia menggotong tubuh Irene dan membawa Irene masuk ke dalam kamarnya. Sementara Mbok Inah mengekor di belakang Ifan sampai ke kamar Ifan.
"Kenapa dengan Mbak Iren?" tanya Mbok Inah tampak khawatir
"Mungkin dia lelah dan kedinginan Mbok." Ifan membaringkan tubuh Irene di atas tempat tidurnya.
Ifan bingung. Apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Mbok. Mbok Inah punya baju nggak buat Irene. Daster, atau apa gitu Mbok?" tanya Ifan.
"Ada Pak,"jawab Mbok Inah.
"Bisa ambilkan Mbok?"
"Iya Pak."
Ifan mendekat ke arah Irene. Setelah itu, dia meraih tangan Irene. Dia mengusap-usap tangan Irene dengan ke dua tangannya. Mencoba memberikan kehangatan untuk Irene.
Ifan menghela nafas dalam saat melihat wajah Irene. Irene tampak sangat pucat. Ifan sangat mengkhawatirkan kondisi Irene saat ini.
"Ren, bangun Ren. Maafkan aku Ren, sudah membuat kamu seperti ini. Maafkan ibu aku juga Ren," ucap Ifan yang sejak tadi masih berada di dekat Irene.
Beberapa saat kemudian, Mbok Inah datang dan membawa baju ganti untuk Irene. Ifan bangkit berdiri. Setelah itu dia mendekat ke arah Mbok Inah.
"Ada Mbok?" tanya Ifan.
"Ada."
Mbok Inah kemudian melangkah mendekat ke arah Irene.
"Mbok. Bisa Mbok gantikan baju Irene? biar aku ke luar sebentar," ucap Ifan.
"Baik Pak."
Ifan kemudian ke luar dari kamarnya. Sementara Mbok Inah, mulai mengganti baju Irene yang basah kuyup itu dengan baju miliknya. Sementara Ifan, ke luar dari kamarnya untuk menunggu Mbok Inah, menggantikan baju Irene.
Beberapa saat kemudian, Mbok Inah ke luar dari kamar Ifan.
__ADS_1
"Gimana Mbok?" tanya Ifan.
"Sudah Pak."
"Makasih ya Mbok!"
"Iya Pak.Sama-sama."
"Kalau gitu, tolong Mbok. Buatkan minuman hangat untuk kami!" pinta Ifan.
"Iya Pak."
Mbok Inah kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Ifan untuk membuatkan Ifan dan Irene minuman hangat.
"Auh, sakit banget ini luka," gumam Ifan sembari memegangi pipinya.
Ifane mendekat ke arah cermin untuk melihat lukanya sendiri.
"Ternyata suami Irene, cukup kuat juga serangannya," gumam Ifan sembari memegang satu persatu luka yang ada di wajahnya.
Ifan kemudian menatap Irene.
"Mudah-mudahan saja, Irene cepat sadar. Kasihan dia. Pasti dia sangat kedinginan. Aku juga dingin banget begini."
Ifan mengambil handuk. Setelah itu dia membuka bajunya yang basah dan memakai handuk itu. Ifan kemudian melangkah untuk ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Mbok Inah datang dan mengetuk pintu kamar Ifan.
Tidak ada sahutan dari dalam kamar Ifan. Mbok Inah membuka pintu kamar Ifan. Tidak dilihatnya Ifan ada di dalam kamar.
"Ke mana ya Pak Ifan." Mbok Inah menatap ke sekeliling.
Gemericik air, sudah terdengar dari dalam kamar mandi.
"Pak Ifan, kayaknya lagi mandi," ucap Mbok Inah.
"Aku taruh di sini aja deh minumannya." Mbok Inah meletakan dua cangkir teh hangat di atas meja kamar Ifan. Setelah itu dia pergi meninggalkan kamar Ifan.
Di sisi lain, Bu Atik masih tampak cemas.
"Ke mana si Ifan ini. Kenapa dari tadi dia nggak mau angkat telpon dari aku," gumam Bu Atik.
Bu Atik sejak tadi masih mondar-mandir di kamar rumah sakit. Bu Atik masih cemas menunggu Ifan datang.
"Ifan nggak datang-datang ke mana sih," gerutu Bu Atik.
"Kenapa sih Tan?" tanya Widi.
"Ke mana sebenarnya si Ifan ini. Kenapa udah malam begini belum datang-datang juga. Nggak tahu apa dari tadi anaknya rewel," gerutu Bu Atik.
"Sabar Tan. Ini kan lagi hujan. Nanti dia juga datang ke sini kok" ucap Widi mencoba menenangkan Bu Atik.
__ADS_1
"Tante benar-benar kesal sekali Wid. Kenapa coba hanya karena anak kecil ini, hujan-hujan begini dia bela-belain ke rumah wanita itu."
"Tan . Sabarlah Tan. Tante jangan emosi begitu. Mas Ifan itu mungkin kasihan melihat anaknya. Dari tadi kan anaknya itu minta wanita itu untuk menemani dia. Jadi biarkan saja lah Tan."
"Aku harus telpon Ifan sekali lagi. Kenapa sih dari tadi aku telpon nggak di angkat-angkat."
Bu Atik kemudian mencoba untuk menelpon Ifan lagi. Namun, nomer Ifan tidak aktif.
"Tuh kan, tadi nggak di angkat. Sekarang nggak aktif. Ke mana sih sebenarnya si Ifan ini. Apa jangan-jangan, dia lagi bersama wanita itu."
Sejak tadi, Bu Atik masih menahan geram. Apalagi saat dia tahu kalau Ifan nekat menyusul Irene ke rumahnya.
***
Selesai mandi, Ifan melangkah ke luar dari kamar mandi. Dia kemudian menghampiri Irene yang tampak masih pingsan di atas tempat tidurnya.
Hujan di luar, juga sudah semakin mereda.Ifan menatap ke arah meja. Dilihatnya dua cangkir teh manis hangat sudah tersaji di sana.
"Ren, bangun Ren," ucap Ifan. Tangan dinginnya sudah meraih tangan Irene yang saat ini, sudah mulai hangat.
"Gimana ya caranya biar bikin Irene bangun."
Ifan mencoba mencari cara agar Irene mau bangun.
Ifan bangkit berdiri dan melangkah untuk mengambil minyak angin. Setelah itu, dia kembali dan mengoleskan minyak angin itu ke telapak kaki, tangan, dan kepala.
Beberapa saat kemudian, Irene terbangun. Dia mengerjapkan matanya dan menatap ke arah Ifan. Irene terkejut saat melihat Ifan yang masih bertelanjang dada.
"Mas Ifan," ucap Irene sembari beringsut duduk.
Irene menatap Ifan sejenak. Lalu dia membuang wajahnya ke arah lain. Ifan tidak menyadari kalau sejak tadi, dia belum ganti baju. Dia masih bertelanjang dada dengan handuk yang masih menempel di pinggangnya.
"Mas, kok kamu nggak ganti baju sih?" ucap Irene.
Ifan menatap tubuhnya sendiri.
"Oh. Ya ampun. Aku sampai lupa kalau aku belum ganti baju Ren. Ya udah. Aku ganti baju dulu ya," ucap Ifan.
Ifan bangkit berdiri.
"Tapi jangan di sini ya Mas."
"Iya. Aku akan ganti baju di kamar sebelah."
Ifan kemudian melangkah ke arah lemari untuk mengambil baju. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan kamar untuk ke kamar sebelah.
Setelah berganti baju, Ifan kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. Tampak Irene sudah duduk di sisi ranjang.
"Ren. Kamu udah nggak apa-apa?" tanya Ifan.
Ifan kemudian duduk di sisi Irene.
__ADS_1
"Mas Ifan. Kenapa kamu bawa aku ke sini. Kenapa kamu nggak bawa aku pulang? pasti sekarang suami aku lagi nyariin aku," ucap Irene.