Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Impian Alma


__ADS_3

Malam semakin larut. Irene masih tampak berada di teras depan rumahnya. Sementara Indah, sejak tadi masih berada di dalam.


"Irene nggak ada di kamarnya. Kemana ya dia," ucap Indah.


Indah kemudian melangkah untuk mencari Irene di depan.


"Mungkin, dia ada di teras depan," gumam Indah.


Indah membuka pintu depan. Tampak Irene sedang duduk di teras depan. Sejak tadi, Irene masih diam. Dia masih melamun. Entah apa.yanh sedang dia fikirkan saat ini. Mungkin saja dia sedang memikirkan suaminya.


"Ren. Mbak cariin, ternyata kamu ada di sini?" ucap Mbak Indah.


Irene menoleh ke arah Indah dan tersenyum.


"Mbak belum tidur?" tanya Irene.


"Belum. Mbak belum ngantuk Ren. Mbak baru selesai beberes," jawab Indah.


"Aku juga belum ngantuk Mbak. Anak-anak udah tidur Mbak?" tanya Irene lagi.


"Udah. Mereka udah tidur."


"Oh." Irene manggut-manggut.


Indah duduk di sisi Irene.


"Sebenernya, Mbak itu mau nunggu Mas Teguh pulang," ucap Indah setelah duduk di sisi Irene.


"Mas Teguh? dia mau pulang Mbak?" tanya Irene.


"Iya. Katanya hari ini proyeknya sudah selesai."


Irene menatap ke depan. Sejak tadi dia diam dan tidak bicara apapun.


"Kamu kenapa Ren?" tanya Indah pada adiknya.


"Aku nggak apa-apa Mbak," jawab Irene.


"Kamu lagi mikirin Irwan ya?" terka Mbak Indah.


"Nggak kok Mbak. Aku nggak lagi mikirin Mas Irwan."


"Kamu bohong kan Ren. Kamu pasti lagi mikirin suami kamu sekarang. Mbak memang tidak tahu apa masalah yang sebenarnya. Tapi Mbak harap, kamu mau cerita semuanya sama Mbak," ucap Indah.


"Mbak ini kakak kamu lho Ren. Jangan ada lagi yang dirahasiakan dari Mbak. Kamu cerita aja semuanya sama Mbak Ren. Jangan ada yang ditutup-tutupi lagi. Kamu percaya kan sama Mbak. Kalau Mbak ini, bisa pegang rahasia kamu. Mbak yakin, kalau kamu mau cerita semua masalah kamu, bisa meringankan beban dalam fikiran kamu."


Irene menatap Indah lekat.


"Iya Mbak. Aku memang lagi mikirin Mas Irwan. Aku masih kefikiran kejadian kemarin."


"Kejadian apa Ren?" tanya Mbak Indah penasaran.


"Kemarin, aku ke rumahnya Mas Irwan."


"Terus?"


"Terus, kemarin aku lihat, Mas Irwan lagi dekat dengan seorang wanita."


Indah menatap adiknya tajam. Dia ingin tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Wanita siapa Ren?" tanya Indah yang sudah mulai kepo.


"Namanya Ajeng. Dia tetangga baru yang rumahnya berdekatan dengan rumah suamiku," jelas Irene.


"Oh. Dia nggak punya suami?"

__ADS_1


Irene menggeleng. "Dia janda Mbak."


"Apa!" Indah terkejut bukan main saat mendengar penuturan Mbak Indah.


"Mbak. Sepertinya Mas Irwan mau menceraikan aku, karena janda itu deh Mbak."


Indah membelalakkan matanya. Tidak menyangka dengan apa yang Irene katakan. Dia masih tidak percaya.


"Kamu serius Ren?"


"Iya Mbak. Aku serius.


Hiks...hiks...hiks...


"Ren, kenapa kamu malah nangis?" Indah terkejut saat melihat adiknya menangis. Sepertinya Irene sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan ucapannya.


"Mbak. Aku bingung Mbak. Mas Irwan sekarang sudah berubah. Dia tiba-tiba saja, ngusir aku dari rumah dengan alasan aku tidak bisa memberikan dia keturunan. Dan kemarin aku kerumahnya dia lagi mesra-mesraan sama janda genit itu."


Indah hanya bisa geleng-geleng kepala saat mendengar penuturan adiknya.


Indah bangkit berdiri.


"Sebenarnya, Mbak itu memang kurang suka dengan suamimu Ren. Dia itu beda banget dengan Ifan. Kalau Ifan, Mbak sudah kenal lama dengan dia. Dan Mbak tahu, dia itu lelaki yang baik. Mbak sangat menyayangkan perceraian kamu dengan Ifan dulu Ren."


'Aku tahu dari dulu, cuma Mbak Indah keluarga aku satu-satunya yang mendukung hubungan aku dengan Mas Ifan. Sementara semuanya, sangat membenci Mas Ifan. Mereka malah mendukung aku nikah dengan Mas Irwan. Aku benar-benar malu, dengan Mas Ifan," batin Irene.


"Mbak. Sudahlah, semua itu sudah masa lalu. Biarkan semua berlalu. Aku juga sudah tidak mau mengenang masa-masa itu lagi. Ayah sudah jahat sekali sama Mas Ifan Mbak. Aku benar-benar nggak enak sama Mas Ifan."


Indah menatap adiknya lekat.


"Sekarang Ifan menghilang. Dan di antara kita, tidak ada yang tahu, ke mana perginya dia. Gimana kabar dia sekarang ya."


"Mbak sudahlah. Nggak usah mengingat Mas Ifan lagi. Aku yakin, kalau sekarang hidupnya itu sudah bahagia."


Sorot lampu motor dari depan rumah Indah, sangat menyilaukan penglihatan Indah dan Irene. Irene dan Indah mengernyitkan alisnya saat menatap ke depan.


Teguh melangkah ke arah Irene dan Indah istrinya.


"Mas. Kamu udah pulang?" Indah buru-buru mencium punggung tangan suaminya.


"Iya."


"Cuma satu minggu doang Mas?" tanya Indah.


Teguh mengangguk. Setelah itu dia menatap Irene.


"Lho. Irene kok bisa ada di sini?"


"Irene ini, mau sementara tinggal di sini Mas."


"Tinggal di sini? emangnya Irwan udah ngebolehin dia untuk nginap di sini."


"Mas, sudahlah. Kita masuk aja dulu. Kamu itu masih capek. Nanti aja bicaranya," Indah menggandeng Irwan untuk masuk ke dalam rumah.


"Iya."


Teguh kemudian masuk ke dalam rumahnya bersamaan dengan isrtinya.


"Ren...! Masuk Ren. Jangan di luar terus, udah malam."


"Iya Mbak."


Irene kemudian masuk ke dalam rumah mengikuti kakaknya. Sebelum dia masuk, Irene menutup pintu depan dan menguncinya.


****

__ADS_1


Malam ini, Ifan masih mondar-mandir di kamarnya. Sudah dua hari, Irene tidak datang ke rumahnya. Nomernya juga tidak bisa dihubungi.


"Ke mana Irene ya. Kenapa dia nggak aktif. Dia kan harus mengantar Alma sekolah. Kalau dia nggak mengantar Alma, kasihan Alma kalau dia harus ditinggal sendiri di sekolah. Si Mbok juga lagi repot banget," ucap Ifan..


Sejak tadi, Ifan masih menggenggam ponselnya. Dia masih tampak cemas memikirkan Irene.


"Ke mana ya Irene. Kenapa dia nggak bisa dihubungi. Apa yang sebenarnya terjadi pada dia. Atau jangan-jangan, suaminya sudah melarangnya untuk kerja," gumam Ifan.


Ifan ke luar dari kamarnya. Dia kemudian melangkah ke arah Alma yang saat ini, sedang belajar di ruang keluarga.


Ifan menatap Alma yang sedang fokus belajar. Ifan kemudian menghampiri Alma dan duduk di sisi Alma.


"Wah, anak papa gambar apa?" Pandangan Ifan terfokus pada gambar anaknya yang ada di atas meja.


Alma tersenyum sembari menatap Ifan lekat.


"Coba deh papa tebak. Aku lagi gambar apa?" tanya Alma.


Ifan mengernyitkan alisnya. Menatap dan mengamati objek apa yang Alma gambar.


"Gambar apa ya?"


"Ayo... tebak Papa."


"Gambar orang sedang bergandengan tangan," ucap Ifan.


"Ini bukan orang papa. Ini papa, ini Alma, dan ini Mama."


"Oh. Ada mama Alma juga ya di sini."


"Bukan mama Weni Papa. Tapi mama Iren."


"Apa! Mama Iren? Apa maksudnya ini sayang?" Ifan terkejut dengan ucapan Alma.


"Aku pengin, suatu saat papa sama Mama Irene, bisa bersama seperti ini. Dan nanti, aku juga pengin punya adik bayi."


"Astaga sayang. Kamu bicara apa sih?"


"Papa. Aku sayang banget sama Mama Iren sekarang. Dia itu baik banget Pa sama aku."


"Iya sayang iya. Papa juga tahu itu, kalau Tante Iren itu wanita yang sangat baik."


Tiba-tiba saja Alma terlihat sedih.


"Papa, ke mana Tante Iren?" Alma menatap ayahnya lekat.


"Em, Tante Iren?"


"Iya Papa. Kok dia nggak datang ke sini?"


"Em... Papa juga bingung sayang. Ke mana Tante Iren sekarang. Dua hari ini, nomernya nggak aktif."


"Oh. Gitu ya Pa. Tante Iren nggak lagi marah kan sama Alma."


"Marah sama kamu? untuk apa Tante Iren harus marah sama Alma?" Ifan sudah menangkup wajah anaknya.


"Barangkali Alma pernah nakal dan bandel."


Ifan mengelus rambut panjang Alma.


"Alma, Tante Iren itu baik banget Alma. Mana mungkin, Tante Irene itu marah sama Alma. Malah papa seneng sekarang, semenjak Alma kenal sama Tante Irene, Alma jadi berubah. Alma udah jadi anak penurut dan nggak bandel lagi. Dan Papa seneng banget sama Alma sekarang."


Alma tersenyum.


"Papa. Besok kan hari minggu, Papa libur ke kantor kan? Alma pengin main ke rumah Tante Iren."

__ADS_1


Ifan diam. Dia tampak berfikir.


'Duh, kenapa sih ini anak aku. Dari tadi, Iren melulu yang dibahas. Nggak tahu aja, kalau suami Irene itu sudah pernah membuat aku babak belur. Mana mungkin aku berani ke sana. Nanti suami Iren akan mikir macam-macam lagi tentang aku. Aku nggak mau, merusak hubungan Irene dengan suaminya.'


__ADS_2