Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Sakit


__ADS_3

"Lepaskan..!"


Irwan segera menyingkirkan tangan Ifan dengan cepat. Dia kemudian merapikan kembali kerah bajunya.


"Aku minta, kamu pergi sekarang juga dari sini! jangan halangi jalanku. Aku harus buru-buru pergi dari sini," ucap Irwan mengusir Ifan dari rumahnya.


"Nggak bisa. Kamu harus jelaskan sama aku. Di mana Irene sekarang." Ifan masih ngotot ingin Irwan mengatakan keberadaan Irene sekarang.


"Aku nggak tahu di mana dia sekarang. Kalau kamu khawatirkan dia. Kenapa kamu tidak telpon dia saja," ucap Irwan dengan nada tinggi.


Irwan sudah menyalakan mesin motornya. Tampaknya dia sudah tidak mau lagi menghiraukan ucapan Ifan.


"Mau ke mana kamu dengan wanita ini?" tanya Ifan menatap tajam ke arah Ajeng.


"Aku mau ke mana itu bukan urusan kamu!"


"Jelas ini urusan aku. Karena ini menyangkut Irene. Oh, aku tahu. Kamu ngusir Irene apa hanya karena wanita ini."


"Nggak usah sok tahu deh kamu. Kalau kamu suka sama istriku, cari aja sendiri. Terserah kamu mau bawa istriku ke mana. Karena aku sudah tidak membutuhkan dia lagi."


Irwan memakai helmnya. Dia kemudian meluncur pergi meninggalkan Ifan di depan rumahnya.


"Hei. Urusan kita belum selesai yah...!" seru Ifan.


Pagi-pagi, Ifan benar-benar sudah di buat emosi oleh suami Irene. Entah di mana hati nurani Irwan saat ini. Dia mengusir Irene begitu saja dan bilang kalau dia sudah tidak membutuhkannya lagi.


Percuma juga Ifan mengejar Irwan. Karena Irwan sudah pergi jauh. Ifan hanya bisa menghela nafasnya dalam. Mencoba untuk meredam emosinya.


Saat ini, Ifan benar-benar bingung. Dia masih bertanya-tanya dalam hati. Apa yang telah terjadi pada Irene dan Irwan saat ini.


"Ah, sial. Apa sih yang sebenarnya terjadi. Kenapa aku bisa tidak tahu. Lalu, kalau seperti ini aku harus cari Irene ke mana. Aku harus bilang apa sama Alma," ucap Ifan.


Ifan kemudian melangkah kembali untuk ke mobilnya. Ifan kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di sisi anaknya.


"Papa. Mana Mama Iren?" tanya Alma.


Ifan masih diam. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Alma.


"Papa. Mama Iren mana? kenapa Papa diam aja? Mama Iren nggak mau ya ikut kita?" Alma sudah menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya yang sejak tadi diam.


Ifan menatap Alma lekat.


"Sayang. Tante Irennya tidak ada di rumah," jawab Ifan.


"Terus Mama Iren ke mana?"


"Tadi kata suami Tante Iren, Tante Iren pergi sayang. Dia sudah pindah rumah. Dan papa nggak tahu dimana Tante Iren tinggal." Ifan menjelaskan.


"Pindah rumah? kok gitu papa? kita cari Mama Iren yuk!" pinta Alma.


"Nanti saja ya sayang cari Tante Irennya. Kita jalan-jalan dulu aja ya sayang."


"Tapi aku mau sama Mama Iren. Hiks...hiks..."


Ifan terkejut saat melihat anaknya tiba-tiba saja menangis.


"Lho. Sayang. Kenapa kamu nangis?" tanya Ifan.

__ADS_1


"Aku pengin sama Tante Iren. Tapi Papa nggak ngebolehin. Hiks..hiks.."


"Iya iya. Nanti papa akan cari rumah Tante Iren. Ini papa telpon Tante Iren lagi."


Ifan meraih ponselnya. Setelah itu dia mencoba untuk menghubungi Iren. Namun nomer Irene masih saja tidak aktif.


"Ah, ke mana sih Irene ini. Kenapa dia susah sekali dihubungi. Kemana sebenarnya Irene. Dan dia sekarang tinggal di mana," gerutu Ifan.


"Sayang. Papa mau ajak Alma ke pantai. Nanti sepulang pantai, kita ke rumah Tante Iren lagi ya. Alma jangan nangis ya. Sekarang Alma bilang Alma mau apa?" Ifan menatap anaknya.


Sejak tadi dia masih mencoba untuk menghibur anaknya dan menenangkan tangisan anaknya.


"Aku nggak mau apa-apa. Aku cuma mau Mama Iren."


"Tapi Tante Iren, nggak ada di sini sayang. Kalau Tante Iren nggak ada di sini, kita harus cari Tante Iren ke mana Al. Nomernya Tante Iren aja nggak aktif."


Alma diam. Dia tampak berfikir. Alma kemudian mengusap sisa-sisa air matanya dan menatap ke arah Ifan.


"Ya udah deh. Alma mau jalan-jalan dulu. Nanti sepulang jalan-jalan kita ke rumah Tante Iren lagi ya Pa."


Ifan tersenyum.


"Nah, gitu dong. Itu baru namanya anak Papa."


Setelah Alma berhenti menangis, Ifan kemudian menyalakan mesin mobilnya. Dia kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah Irwan untuk mengajak anaknya jalan-jalan.


Ifan memang ayah idaman untuk Alma. Walau pekerjaannya sangat banyak di kantor, tapi dia tidak pernah melupakan waktu-waktunya dengan Alma.


Setiap weekend, Ifan selalu menyempatkan diri untuk mengajak Alma jalan-jalan. Entah itu ke pantai, ke mall, ke kebun binatang, atau ke tempat yang lainnya. Kadang juga, Ifan mengajak anaknya untuk berenang dengannya.


****


Sejak kemarin, dia sakit. Dia sampai lupa untuk mengaktifkan ponselnya.


"Aduh, aku belum ngabarin Mas Ifan lagi. Pasti Alma sekarang lagi nyari-nyari aku," gumam Irene.


"Aku nggak boleh terus-terusan sakit begini. Aku harus kuat. Kasihan Mas Ifan dan Alma," lanjut Irene.


Irene beringsut duduk. Dia kemudian turun dari ranjangnya. Irene menatap ke sekeliling. Namun, ponsel Irene tak nampak ada di kamarnya.


"Ke mana ponsel aku," ucap Irene


Irene mencoba mencari ponselnya. Walau kepalanya masih sakit, tapi Irene paksa untuk bangun setelah dia ingat dengan ponselnya.


Irene mencari ke laci-laci lemari. Namun ponselnya tidak ada. Irene melangkah ke luar dari kamarnya dan menuju ke ruang tengah.


Teguh dan Indah menatap Irene setelah Irene sampai ke ruang tengah.


"Ren. Kamu kok ke luar? kamu kan masih sakit?" tanya Indah.


"Ren. Kalau masih sakit, kamu istirahat aja Ren," ucap Teguh.


Irene menatap lekat ke arah Teguh dan Indah.


"Mas Teguh, Mbak Indah, lihat handphon aku nggak?" tanya Irene sembari memegangi kepalanya.


"Nggak lihat tuh Ren. Ke mana kamu naruhnya? lupa kali," ucap Indah.

__ADS_1


Irene mencoba untuk mengingat di mana terakhir dia meletakan ponselnya.


"Kemarin aku taruh di sini," ucap Irene sembari menunjuk ke lemari yang ada di sisinya.


"Kayaknya, ponselnya habis deh batrenya. Makanya nggak ada bunyi apa-apa," ucap Irene lagi.


"Coba kamu ingat-ingat lagi," ucap Indah.


"Kalau nggak, kamu tanyakan saja sama keponakan kamu itu," lanjutnya.


"Iya deh Mbak. Sekarang mereka ada di mana?" tanya Irene


"Mereka ada di kamar. Lagi main game," jawab Indah.


Irene kemudian melangkah ke arah kamar Bobi dan Arjun.


"Bobi, Arjun, kalian lihat hape Tante Iren nggak?" tanya Irene pada ke dua ponakannya itu.


Arjun dan Bobi menatap Irene dan menggeleng. Mereka kemudian melanjutkan main game lagi.


"Kalian yakin nggak ada yang lihat hape Tante?" tanya Iren lagi.


Dua ponakan Irene tidak ada yang menjawab pertanyaan Irene. Membuat Irene kesal sendiri.


Irene memutar tubuhnya untuk pergi meninggalkan kamar ponakannya.


Tiba-tiba saja...


"Tante...!" seru Bobi sembari berlari mendekat ke arah Irene.


Irene menoleh ke arah Bobi.


"Aku lihat hape Tante," ucap Bobi.


"Di mana?" Irene menatap lekat ke arah Bobi.


"Ada di lemari ruang tengah Tan. Ada di laci yang di bawah tivi. Kemarin Arjun yang mainan hapenya Tante," jelas Bobi.


"Ya udah. Lain kali, kalau mau mainan hapenya Tante, izin dulu ya sama Tante."


Bobi mengangguk.


"Iya Tan. Maafkan kami ya Tan."


"Iya. Nggak apa-apa."


Irene kemudian buru-buru melangkah ke arah di mana ponselnya berada.


"Gimana Ren?" tanya Indah yang masih duduk di ruang tengah.


"Katanya kemarin di pinjam Arjun. Dan ditaruh di situ." Irene menunjuk laci yang ada di bawah tivi.


"Ya udah. Ambil aja."


Irene kemudian mendekat ke arah laci itu dan mengambil ponselnya.


"Tuh kan benar. Udah mati. Pasti Alma udah neleponin nih dari kemarin," gumam Irene.

__ADS_1


Setelah menemukan handphonnya, Irene kemudian melangkah kembali untuk ke kamarnya.


__ADS_2