Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Kedatangan Widi ke kantor


__ADS_3

Siang ini, Ifan masih berada di dalam ruangannya. Sementara di sisi luar, seorang wanita masih ingin memaksa masuk ke dalam ruangan Ifan untuk bertemu dengan Ifan.


"Pak Ifan tidak bisa di ganggu Mbak. Kalau Mbak mau ketemu sama Pak Ifan, Mbak harus buat janji dulu sama dia," ucap seorang satpam menatap Widi.


"Untuk apa aku buat janji. Aku ke sini saja disuruh ibunya Mas Ifan."


"Mbak. Maaf Mbak. Ini sudah peraturan kantor. Mbak nggak bisa asal masuk begitu aja. Mbak harus buat perjanjian dulu sama Pak Ifan. Sekarang saya minta, anda ke luar dari sini Mbak." Satpam mengusir Widi dari kantor Ifan. Namun, Widi masih kekeh dengan pendiriannya. Dia tidak ingin beranjak pergi meninggalkan kantor Ifan.


"Aku nggak mau ke luar dari sini! Aku mau masuk ke dalam," ucap Widi yang masih ngeyel.


"Mbak. Ngeyel banget sih kalau dibilangin."


"Pokoknya saya mau masuk ke dalam, titik. Dan anda tidak bisa halangi saya untuk masuk ke dalam. Kalau anda masih memaksa saya untuk pergi dari sini, saya bisa laporkan anda ke Tante Atik. Anda kenal kan sama dia."


Sejak tadi satpam itu masih berusaha untuk mengusir Widi dari kantor Ifan. Namun, semua sia-sia. Akhirnya Widi berhasil menyerobot masuk ke dalam kantor.


Widi kemudian melangkah masuk ke dalam untuk mencari ruangan Ifan.


Sesampai di depan sebuah ruangan, Widi menghentikan langkahnya. Dia mengamati pintu ruangan itu dengan teliti.


"Aku yakin, ini pasti ruangan Mas Ifan. Aku harus masuk ke dalam. Aku harus antar makanan ini. Aku nggak mau, buat Tante Atik kecewa," ucap Widi sebelum masuk ke dalam ruangan Ifan.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Widi kemudian buru-buru masuk ke dalam ruangan Ifan.


Ifan terkejut saat melihat Widi.


"Widi. Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Ifan.


Ifan bangkit berdiri. Setelah itu, dia mendekat ke arah Widi.


Widi diam. Dia hanya bisa menegak ludahnya saat bertatap muka langsung dengan Ifan. Widi sebenarnya masih canggung saat berdekatan dengan Ifan. Maklum, mungkin dia masih baru mengenal Ifan. Begitu juga dengan Ifan. Dia belum mengenal Widi.


"Em...ini Mas. Saya ke sini mau ngantar ini untuk kamu," ucap Widi sembari menyodorkan rantang yang ada di tangannya.


"Apa itu?" tanya Ifan.


"Ini makanan dari Tante Atik Mas," jawab Widi.


"Untuk apa ibu aku, ngirim makanan?"


"Ya untuk di makanlah Mas."


"Tapi aku kan nggak suka bawa bekal. Lagian aku juga bisa kok makan di kantin atau di luar."


"Terus, bagaimana makanannya. Aku udah sampai ke sini." Widi terlihat kecewa.


"Ya udah. Taruh saja di meja. Kalau lapar, nanti aku makan," ucap Ifan dingin.


Widi tersenyum. Setelah itu dia melangkah ke arah meja dan meletakan rantang itu di atas meja.


Widi diam. Dia masih belum mau ke luar dari ruangan Ifan.


"Terus, kenapa kamu masih berdiri saja di situ?"


"Aku..."


"Kamu ke sini cuma mau ngantar makanan itu saja kan?" Ifan menatap tajam ke arah Widi.


Dia seperti tampak kesal dengan Widi.


Widi bingung dengan apa yang akan diucapkannya. Sebenarnya Bu Atik memang sengaja menyuruh Widi untuk mengantar makanan ke kantor Ifan.

__ADS_1


Bu Atik sengaja, agar Widi mau dekat dengan Ifan. Bu Atik, ingin Widi dan Ifan itu saling kenal dan mereka bisa akrab sebelum mereka menikah.


Tapi rupanya kedatangan Widi, membuat Ifan tampak kesal. Dia malah mengusir Widi dari ruangannya.


"Kalau sudah tidak ada keperluan, kamu bisa kan ke luar dari sini...!"


"Em. Tapi Mas..."


"Tapi apa?" Ifan menaikan nada suaranya.


"Kamu ngusir aku Mas?"


"Wid. Kamu sebenarnya ke sini ada keperluan apa sih? cuma mau ngantar makanan dari ibu atau kamu mau bicara sama aku?" tanya Ifan.


"Aku mau bicara berdua dengan Mas Ifan."


"Bicara? bicara apa?"


"Boleh nggak aku duduk Mas?"


"Ya udah. Silahkan!"


Widi kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan Ifan. Begitu juga dengan Ifan yang duduk di dekat Widi.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Ifan setelah dia duduk.


"Aku mau bicara tentang perjodohan aku dengan Mas Ifan," ucap Widi.


"Perjodohan?"


"Iya. Apa Mas Ifan mau dijodohkan dengan aku?" tanya Widi.


Ifan mengernyitkan alisnya bingung. Sebenarnya dia tahu, kalau Widi itu masih polos. Usia Widi saja jauh di bawah Ifan. Widi lebih pantas menjadi adik Ifan dari pada menjadi istri.


"Menurut aku nih ya, kamu itu masih terlalu muda untuk nikah Wid. Berapa sih usia kamu? apa kamu sudah lulus kuliah?"


"Sudah Mas. Sudah dari tahun kemarin aku lulus. Aku masih 23 tahun."


"Oh. Gitu? terus kamu mau nikah dengan aku? usiaku sudah tua lho. Dan aku juga duda dan punya anak yang udah gede. Sayang banget lho, wanita secantik kamu memilih duda seperti aku."


Ifan menatap lekat ke arah Widi. Membuat Widi tidak enak sendiri.


"Kenapa Mas Ifan ngelihat aku seperti itu? apa ada yang salah dari aku?"


"Nggak ada yang salah dari kamu Wid. Menurut aku, lebih baik kamu tidak usah menerima perjodohan ini. Kamu itu masih bisa, mencari lelaki yang lebih baik dari aku. Lelaki yang masih perjaka. Apa kamu nggak malu, punya suami yang sudah berumur seperti saya."


Widi tampak berfikir. Memang benar apa yang dikatakan Ifan. Kalau Widi itu masih bisa mencari lelaki yang lebih muda dari Ifan.


"Aku nggak apa-apa kok. Kalau punya suami seperti Mas Ifan. Aku juga mau menerima anak Mas Ifan jadi anak aku."


'Ih, susah sekali gadis ini diingatkan.'


"Tapi Wid. Pernikahan itu bukan untuk main-main lho. Pernikahan itu harus ada cinta. Kalau saja kita tidak saling cinta, untuk apa kita menikah."


"Tapi, kenapa kita tidak mencoba saja untuk membuka hati kita masing-masing. Kita bisa kan belajar untuk saling mencintai."


"Tapi aku nggak bisa Wid. Aku nggak bisa mencintai kamu. Karena saat ini aku masih cinta dengan seseorang."


"Siapa? ibunya Alma? Mas Ifan belum bisa melupakan ibunya Alma ya?"


'Bukan Weni wanita itu. Tapi Irene. Aku belum bisa melupakan dia. Entah kenapa, hati ini terasa sudah tertutup untuk wanita lain. Padahal sudah bertahun-tahun kami berpisah. Tapi cinta itu masih tetap saja ada. Bahkan sampai sekarang kami dipertemukan kembali. Aku juga nggak tahu kenapa. Susah sekali untuk aku melupakan wanita itu. Ditambah lagi, Alma. Dia juga rese sekali. Kenapa dia menginginkan aku menikah dengan Irene.'

__ADS_1


Widi sejak tadi masih menatap Ifan. Ifan tampak masih melamun. Widi tidak tahu dengan apa yang sedang Ifan fikirkan sekarang.


"Mas... mas Ifan, Mas Ifan kenapa? Mas Ifan kok ngelamun?"


"Eh, aku nggak apa-apa."


Ifan menatap Widi.


"Wid. Mending sekarang kamu pulang deh. Aku mau kerja. Jam istirahat juga sudah hampir habis."


"Oh gitu ya Mas."


"Iya Wid. Kamu bisa kan pulang sekarang?"


"Oh iya Mas. Aku akan pulang sekarang."


"Ya udah. Sana tunggu apa lagi."


"Iya Mas."


Widi kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan Ifan. Dia melangkah ke arah jalan raya untuk menunggu taksi.


"Sepertinya, Mas Ifan nggak suka dengan kedatangan aku," gumam Widi.


Beberapa saat kemudian, taksi datang dan berhenti tepat di depan Widi.


Widi kemudian masuk ke dalam taksi. Dia kemudian meluncur untuk pulang ke rumahnya.


Ring ring ring...


Suara ponsel Widi tiba-tiba saja berdering.


"Halo Tan."


"Halo Wid. Gimana, apa kamu sudah nyampe ke kantor Ifan?"


"Udah Tan. Bahkan aku udah mau pulang."


"Kok pulang sih. Cepat amat."


"Sepertinya Mas Ifan tidak suka Tan, dengan kehadiran aku."


"Tapi dia mau terima makanan itu kan?"


"Iya Tan."


"Ya syukurlah. Tante seneng, karena Ifan sudah mau menerima makanan pemberian kamu."


"Ya udah ya Tan. Aku tutup dulu telponnya."


"Kamu mau langsung pulang ke rumah?"


"Iya Tan."


"Ya udah. Tante titip salam ya, buat Mama kamu."


"Iya Tan."


"Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."

__ADS_1


Widi kemudian menutup saluran teleponnya.


'Sebenarnya, makanan itu memang dari aku. Tapi aku terpaksa bohong kalau makanan itu dari Tante Atik. Karena kalau Mas Ifan tahu makanan itu dari aku, aku takut dia akan menolak makanan dari aku' batin Widi.


__ADS_2