Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Nasib Ajeng


__ADS_3

"Sebenarnya aku ke sini, dipaksa Alma Ren," ucap Ifan.


"Dipaksa?" Irene menatap Ifan lekat.


"Sebenernya, aku lagi nggak enak badan. Tapi, Alma minta main ke sini dan dia juga minta kita jalan-jalan bareng."


"Jalan-jalan? Mama juga baru mau ke rumah Alma. Alma udah ke sini duluan," ucap Irene.


"Mau jalan-jalan ke mana sayang?" tanya Irene menatap Alma lekat.


"Ke mana aja Mama."


Irene tersenyum.


"Iya deh. Tapi mama Iren, mau siap-siap dulu. Mama Iren juga belum mandi. Mau mandi dulu, ganti baju dulu, Alma nggak apa-apa kan nunggu dulu."


"Iya Mama."


Beberapa saat kemudian, Mbak Indah datang dengan membawa minuman hangat untuk Ifan.


"Ini, aku bawakan teh hangat," ucap Indah sembari meletakan tiga cangkir teh hangat di atas meja.


"Duh Mbak. Repot-repot banget Mbak."


"Sama sekali nggak ngerepotin kok. Kalian udah sarapan belum?" tanya Mbak Indah.


"Belum Mbak. Kami belum sarapan. Tadi aku ke sini buru-buru karena Almanya nangis terus minta ke rumah Iren."


"Oh. Gitu? ya udah. Kebetulan banget. Saya udah masak tadi pagi-pagi banget. Dan kebetulan, saya dan Irene juga belum makan. Kalian sarapan di sini aja," ucap Indah.


"Sebenernya sih, saya mau ngajak Iren jalan-jalan. Sekalian makan di luar."


"Mas, sarapan di sini aja sama kami. Sekalian untuk nemenin Mbak Indah. Mbak Indah kan, sendirian. Suaminya belum pulang."


"Ke mana Mbak suaminya?"


"Lagi kerja di luar kota. Udah tiga bulanan lebih lah."


"Oh. Gitu? tapi komunikasi masih sering kan?" tanya Ifan.


"Ya sering sih. Transferin uang juga sebulan sekali nggak pernah telat."


"Yah, syukurin aja Mbak. Sayang banget, di kantor aku belum membutuhkan lowongan kerja. Kalau ada lowongan, kerja di perusahaan aku aja. Jadi kan nggak usah jauh-jauh," ucap Ifan.

__ADS_1


Mbak Indah dan Irene saling menatap. Mereka kemudian menatap ke arah Ifan.


"Kamu punya perusahaan?" tanya Ifan.


"Iya Mbak. Aku memang punya perusahaan."


"Oh. Kalau besok-besok, Mbak yang kerja di perusahaan kamu gimana? apa bisa?" tanya Mbak Indah.


"Kalau Mbak mau, dan ada lowongan, ya bisa-bisa aja."


Irene menatap Mbak Indah.


"Mbak mau kerja apa di kantor Mas Ifan. Mas Ifan itu kan perusahaan besar. Mbak juga cuma lulusan SMA."


"Yah, barang kali kan butuh pegawai yang untuk bersih-bersih. "


"Sudahlah Mbak. Momong anak aja di rumah. Mas Teguh juga udah kerja kok. Jangan yang aneh-aneh deh," ucap Alma.


****


Pagi ini, Irwan masih terlelap di kamarnya. Sementara sejak tadi, istrinya masih mencoba untuk membangunkannya.


"Mas, bangun Mas...!" ucap Ajeng.


Hoam...


"Sayang. Ada apa sayang? kenapa pagi-pagi gini kamu udah bangunin aku?" tanya Irwan dengan suara seraknya.


"Pagi? kamu fikir ini masih pagi? coba kamu lihat jam dinding. Apa ini masih pagi? ini udah jam sembilan Mas."


"Oh. Jam sembilan," ucap Irwan.


Ajeng hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat suaminya. Dia sudah lelah hati, melihat sikap Irwan yang pemalas.


'Kalau lama-lama seperti ini, bagaimana dengan nasib aku. Jualan aku aja sekarang semakin sepi. Mas Irwan harus kerja untuk membantu ekonomi aku' batin Ajeng.


"Mas, omset jualan aku, semakin menurun, aku takut lama-lama aku bisa bangkrut," ucap Ajeng tiba-tiba.


Irwan mengucek matanya yang tampak masih mengantuk.


"Hah! kamu bicara apa?" tanya Irwan tak mengerti.


"Mas, kamu nggak paham maksud aku?"

__ADS_1


Irwan menggeleng sembari masih mengusap-usap matanya.


"Mas, masak kamu mau malas-malasan begini terus sih Mas. Kamu usaha apa kek. Cari kerja, atau apa! gimana sih. Sejak kita menikah kamu ngomongnya akan cari kerja. Tapi, kamu malah enak-enakan cuma numpang makan sama aku. Aku itu cari suami, agar kamu mau nafkahi aku. Masak kamu, mau ngandalin aku terus sih," geram Ajeng.


Irwan diam. Dia kemudian menatap Ajeng tajam.


"Kok kamu gitu sih Jeng. Aku nganggur di omong-omong. Aku tidur juga di omong-omong. Irene aja nggak pernah mempermasalahkan masalah seperti ini."


Setiap Ajeng marah-marah pada Irwan, Irwan selalu saja mengungkit nama Irene. Dia selalu saja membandingkan Ajeng dengan mantan istrinya. Yang membuat Ajeng, semakin marah saja pada Irwan.


"Iren? kamu kenapa sih, sekarang jadi sering banget bandingin aku sama Iren? susah sekali sih Mas, ngomong sama kamu. Fikiran kamu itu cetek banget tahu nggak. Aku benar-benar muak Mas, lama-lama sama kamu!"


Ajeng buru-buru melangkah pergi meninggalkan kamarnya. Dia kemudian melangkah ke arah ruang makan.


Sejak menikah dengan Ajeng sampai sekarang, Irwan memang masih menjadi pengangguran. Sampai usia pernikahan mereka yang sudah menginjak empat bulan, Irwan masih saja menganggur dan tidak pernah berusaha untuk mencari pekerjaan.


Alasannya selalu, mencari pekerjaan sekarang itu sulit, inilah, itulah, Ajeng benar-benar geram pada Irwan.


Dia sudah menerima Irwan yang dia fikir, akan benar-benar berubah dan mau menafkahinya. Tapi ternyata, Irwan tidak ada usaha sedikit pun untuk berubah.


Dia sama sekali malas untuk mencari kerja. Dia hanya bisa menjadi benalu untuk istrinya.


Ajeng melangkah ke luar dari kamarnya. Dia kemudian duduk di ruang tengah dan menghela nafas dalam.


"Ah, kenapa sih dengan Mas Irwan. Kenapa dia suka sekali bermalas-malasan begitu. Katanya dia janji, kalau dia akan cari kerja. Tapi nyatanya, sampai sekarang dia tidak mau juga cari kerja," gerutu Ajeng.


Ajeng membereskan semua makanan yang ada di atas meja. Dia kemudian melangkah ke dapur untuk menyimpan makanan-makanan itu kembali.


Beberapa saat kemudian, Irwan datang dan menghampiri meja makan.


"Jeng, makanannya pada ke mana? kamu udah beresin ya?" tanya Irwan yang tidak melihat apapun di atas meja.


"Sudah aku beresin Mas," jawab Ajeng.


"Jeng, ambilin lagi dong!" pinta Irwan.


"Ambil aja sendiri. Kamu masih punya tangan kan Mas?" ucap Ajeng ketus.


"Lho, kamu kok gitu sih. Kamu itu kan istri aku. Sudah kewajiban kamu melayani suami kamu. Sekarang aku mau makan, kenapa kamu malah ngomong gitu. Ambilkan dong Jeng!"


"Ambil sendiri aja Mas. Bosen lama-lama aku mas sama kamu. Kamu nggak pernah mau berusaha untuk mencari kerja. Kerjaan kamu di rumah cuma bermalas-malasan."


"Lah, dari awal kan kamu sudah tahu kondisi aku. Aku habis kecelakaan. Dan aku juga masih susah cari kerjaan."

__ADS_1


"Mas, ya kamu seharusnya mau berusaha dong Mas. Bantu aku kek, untuk cari uang. Aku lagi bingung Mas. Jualan aku, semakin ke sini semakin sepi Dan siapa lagi yang mau aku andalin selain kamu. Nggak ada Mas."


"Iya deh iya. Besok aku akan cari kerjaan. Udah dong, nggak usah marah-marah terus..."


__ADS_2