Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Melabrak Ajeng


__ADS_3

Malam ini, Irene masih berada di kamarnya. Sejak tadi, Irene masih melamun memikirkan bagaimana nasibnya setelah Irwan mengusirnya dari rumahnya.


Irene masih menatap ke luar jendela kamarnya. Dia bingung sekarang. Untuk kembali ke rumah orangtunya saja, dia merasa masih bingung. Karena ke dua orang tua Irene, masih saja selalu merecoki hidup Irene.


Irene tidak mau, ke dua orang tuanya, mencampuri urusan hidupnya lagi seperti dulu. Irene benar-benar lelah, jika orang tuanya harus merecoki hidupnya lagi. Uang tabungan Irene saat ini saja sudah semakin menipis gara-gara ayah dan ibunya yang selalu meminjam uang padanya.


Entah, apa reaksi mereka setelah tahu, kalau Irwan akan menceraikan Irene.


Orang yang saat ini, masih mengerti Irene, hanya Mbak Indah saja. Kakak Irene yang ke tiga.


Irene memang punya tiga kakak perempuan, dia anak bungsu dari empat bersaudara. Dan cuma Mbak Indah, kakak yang paling dekat dengan dia saat ini.


Setetes air mata Irene membasahi pelupuk matanya. Irene menangis di kesendiriannya.


Irene tidak tahu, dengan apa yang harus dia lakukan sekarang. Irene buru-buru mengusap air matanya.


"Kenapa sih Mas Irwan jahat banget sama aku. Apa karena dia cemburu dengan kedekatan aku dengan Mas Ifan, makanya dia tiba-tiba menceraikan aku begitu saja. Atau karena ada sesuatu yang lain. Aku benar-benar nggak tahu," gumam Irene.


Ring ring ring ...


Suara ponsel Irene sejak tadi masih berdering.


Irene masih diam. Dia sama sekali tidak mau mengangkat ponselnya. Padahal dia tahu, kalau yang menelponnya itu adalah Ifan.


Ring ring ring ...


Lagi-lagi suara ponsel itu berdering. Membuat Irene pusing. Akhirnya dia mau mengangkat telpon dari Ifan.


"Halo Pak Ifan."


"Halo Ren."


"Ada apa Pak? kenapa malam-malam begini nelepon?"


"Lho Ren. Kamu kenapa? apa yang terjadi dengan kamu? kamu nangis?"


Irene mengusap sisa-sisa air matanya. Dia menghela nafas dalam. Dia mencoba untuk menenangkan diri. Dia tidak mau, Ifan bertanya macam-macam padanya. Irene tidak mau, sampai Ifan tahu tentang hal ini.


"Oh. Nggak kok Pak. Aku nggak nangis."


"Tapi suara kamu, kayak orang nangis."


"Aku cuma nggak enak badan aja Pak."


"Oh kamu lagi flu?"


"Iya Pak."


"Jadi besok, kamu bisa ke rumah aku nggak?"


"Kayaknya nggak bisa deh Pak."


"Terus, siapa yang akan ngantar Alma ke sekolah. Mbok Inah juga kan lagi repot."


"Maaf ya Pak Ifan. Mungkin lusa aku baru bisa datang lagi ke rumah Alma. Kalau besok, aku masih nggak enak badan Pak."


"Baiklah. Kalau kamu lagi nggak enak badan, kamu istirahat aja ya Ren. Jangan terlalu capek."


"Iya Pak."


"Ya udah. Aku tutup dulu ya telponnya. Maaf kalau udah ganggu."

__ADS_1


"Iya Pak."


"Selamat malam."


"Malam."


Setelah saluran telepon itu terputus, Irene kemudian duduk di sisi ranjangnya. Malam ini, dia merasa sangat lelah. Lelah hati, dan lelah fikiran. Karena sejak tadi, dia masih memikirkan suaminya. Irene benar-benar sedih dan sangat kecewa dengan sikap suaminya itu.


"Besok, aku harus temui Mas Irwan. Aku ingin bicara padanya. Aku yakin, kemarin dia ngusir aku karena dia emosi aja. Karena kemarin itu kan, dia baru saja berantem dengan Mas Ifan," gumam Irene.


Irene menghela nafas dalam. Dia meletakan ponselnya di atas nakas. Setelah itu dia mengambil selimut dan berbaring di atas tempat tidurnya. Irene kemudian menyelimuti tubuhnya dengan selimut.


Malam ini, Irene ingin tidur dengan tenang. Dia tidak mau terlalu banyak memikirkan suaminya. Irene mencoba untuk memejamkan matanya dan tidur.


Ting...


Suara notifikasi dari ponselnya berbunyi.


'Itu paling chat dari Mas Ifan. Mana mungkin itu suami aku. Biarin ajalah," batin Irene.


Irene akhirnya terlelap juga di kamarnya.


****


Pagi ini, Irene bangun lebih awal. Dia melangkah ke luar dari kamarnya sembari membawa handuknya. Dia akan ke kamar mandi, untuk mandi.


Seperti kegiatannya setiap subuh. Dia bangun, mandi, wudhu, dan melakukan rutinitasnya sholat subuh.


Selesai itu semua, Irene ganti baju dan melangkah ke luar. Irene pergi ke dapur untuk membantu kakaknya di sana.


"Mbak Indah," ucap Irene.


Indah menoleh ke arah Irene.


"Lagi ngapain Mbak Indah?" Irene mendekat ke arah Indah.


"Ini. Mbak lagi masak, untuk Bobi dan Arjun. Mereka itu kan harus sarapan dulu, kalau mau berangkat sekolah," ucap Indah.


"Oh gitu. Mas Teguh ke mana sih Mbak? kok Mas Teguh nggak pernah kelihatan?"


"Dia lagi di luar kota."


"Oh, pantas aja. Dari kemarin sejak aku datang ke sini, dia nggak ada."


"Oh iya. Kamu kok rapi banget. Mau ke mana?"


"Aku mau pergi sebentar Mbak."


"Mau ke mana? mau ke rumah ibu?"


Irene menggeleng.


"Nggak. Aku cuma ada urusan sebentar."


"Oh. Gitu. Ya udahlah. Kamu nggak mau makan dulu?"


"Nggak Mbak. Nanti saja."


"Ya udah."


"Aku pergi dulu ya Mbak"

__ADS_1


"Iya. Hati-hati ya Ren."


Irene kemudian mencium punggung tangan Indah. Setelah itu, dia pun pergi meninggalkan rumah Indah.


Irene melangkah ke arah jalan raya. Dia mendekat ke arah pangkalan ojek. Karena rumah Indah itu, tidak jauh dari pangkalan ojek.


"Mau ke mana Neng?" tanya salah satu Abang tukang ojek.


"Antarkan saya ke rumah suami saya Bang."


"Ayo Neng. Naik aja."


"Iya Bang."


Irene kemudian membonceng Abang ojek itu untuk menuju ke rumah Irwan.


Sesampai di depan rumah Irwan, Irene turun dari ojeknya.


"Bang. Tunggu dulu di sini ya Bang."


"Iya Mbak."


Irene akan melangkah ke arah rumah suaminya. Tiba-tiba saja, pandangan matanya sudah tertuju pada suaminya yang sedang bermain di depan rumah tetangga, dengan anak kecil lelaki yang tak lain adalah anak Ajeng.


"Mas Irwan, kenapa bisa akrab banget sama Dio. Apa maksud semua ini," gumam Irene.


Sejak tadi, Irene menatap Irwan tanpa sepengetahuan Irwan.


Beberapa saat kemudian, Ajeng datang dan menghampiri Irwan dan Dio.


Ajeng tampak membawakan makanan untuk Irwan dan Dio.


"Mama...!" Dio menghentikan aktivitasnya saat melihat Ajeng.


Dia kemudian melangkah mendekati ibunya.


"Ini, Mama bawa burger hangat buat kamu dan Om Irwan," ucap Ajeng.


Irwan mendekat ke arah Ajeng.


"Wah, kayaknya enak nih."


"Iya Mas. Aku biasa kok buat burger kalau pagi-pagi gini. Soalnya, kalau makan nasi, Dio nggak suka. Aku juga kurang suka. Jadi kami lebih suka makan roti. Seperti burger, dan sandwich.


"Oh. Gitu ya."


Sejak tadi, Irene hanya bisa menyaksikan Irwan dan Ajeng dengan rasa sakit.


Irene yang sudah kesal dengan pemandangan di depannya, buru-buru melangkah mendekat ke arah mereka.


Plak.


Satu tamparan sudah mengenai pipi Ajeng. Tanpa banyak fikir panjang lagi, Irene menampar janda muda cantik itu.


"Jadi kamu . Kamu orang yang sudah membuat suamiku mengusirku dan akan menceraikan aku?" Telunjuk Irene sudah menunjuk ke wajah Ajeng.


Dio, Ajeng dan Irwan terkejut saat melihat kedatangan Irene.


"Kok kamu tiba-tiba nampar aku sih Ren?" tanya Ajeng yang masih memegang pipinya yang sakit.


"Untuk apa kamu dekatin suamiku?" tanya Irene menatap Ajeng nanar.

__ADS_1


"Apa! dekatin suami kamu? siapa yang dekatin suami kamu. Orang suami kamu duluan kok yang dekatin aku."


"Nggak mungkin. Kalau kamu nggak goda suami aku, Mas Irwan juga nggak akan pernah mau dekat sama kamu."


__ADS_2