Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Keanehan Teguh


__ADS_3

Irene masih menatap ke arah laut. Rambut panjangnya tampak menyibak-nyibak terkena angin.


Ifan masih berada di sisi Irene berdiri. Sementara Alma, anak kecil itu tampak masih bermain-main di tepian pantai.


Sudah seharian, mereka berada di pantai itu. Menghabis kan waktu bersama seperti pasangan suami istri.


Irene benar-benar merasa bahagia. Dan mungkin ini semua adalah hikmah di balik rasa sakitnya di khianati oleh mantan suaminya.


'Tuhan, terimakasih. Karena Engkau sudah mengembalikan cinta sejati ku di pelukanku lagi. Aku tidak tahu, apa lagi rencana Engkau setelah itu. Aku mohon, jangan pisahkan kami lagi.'


Ifan masih menatap ke arah anaknya yang masih bermainan pasir.


"Alma...! Alma..!" seru Ifan.


Alma menatap ke arah ayahnya dan melangkah mendekat ke arah ayahnya.


"Ada apa Pa?"


"Al. Kita pulang yuk! udah sore sayang."


"Papa. Alma belum mau pulang Papa. Alma pengin melihat mata hari terbenam."


"Tapi sayang, nanti kita pulangnya kemalaman."


"Papa, aku masih ingin main Papa."


Ifan sejak tadi masih membujuk Alma untuk pulang. Namun, Alma belum mau beranjak untuk pulang. Dia justru semakin serius saja main pasirnya.


Ifan menatap ke arah Irene. Saat ini, Irene masih menatap ke arah air laut yang penuh ombak..


"Sayang, apa kamu masih ingat, dengan kenangan-kenangan manis kita dulu?" tanya Ifan.


Ifan meraih tangan Irene dan menggenggamnya erat.


"Mana mungkin aku bisa melupakannya Mas. Sampai sekarang saja aku belum bisa melupakan cinta aku."


"Benarkah begitu? tapi katanya dulu kamu itu sangat mencintai suami kamu. Apakah kamu, bisa secepat itu melupakan suami kamu?"


Irene menatap ke arah Ifan lekat.


"Mas, sejak Mas Irwan mengusir aku dan mentalak aku, cintaku ke dia itu sudah hancur tak tersisa Mas. Aku sudah sakit hati banget sama dia. Bahkan sekarang aku menjadi benci sekali pada lelaki itu."


"Ren, aku sayang sama kamu Ren. Aku ingin selamanya bersama kamu. Alma juga sayang sama kamu. Sudah dari dulu dia ingin kamu menjadi ibunya."


Irene tersenyum.


"Iya Mas. Aku tahu itu."


Setelah seharian Ifan dan Irene berada di tepi pantai, mereka kemudian memutuskan untuk pulang.


"Al. Ayo kita pulang Al. Mama kamu sudah kelelahan tuh," ucap Ifan.

__ADS_1


Alma menatap Irene.


"Iya Pa."


Ifan dan Irene kemudian melangkah pergi meninggalkan pantai itu bersama Alma.


Di perjalanan pulang, Ifan masih fokus menyetir. Sementara anaknya sudah terlelap di jok belakang mobilnya.


"Ren. Apa orang tua kamu, sudah tahu dengan hubungan kita?" tanya Ifan.


"Belum Mas. Mereka belum tahu hubungan kita."


"Apakah orang tua kamu akan merestui hubungan kita Ren? apa mereka akan menentangnya seperti dulu."


Irene menatap Ifan.


"Sepertinya nggak Mas."


"Kenapa kamu bilang begitu? gimana kalau nanti mereka tak merestui hubungan kita? apakah kamu masih mau mempertahankan aku?"


"Ya jelas dong Mas. Aku akan tetap memilih kamu. Aku nggak mau Mas, dipisahkan dari kamu lagi. Apalagi dari Alma."


Irene diam. Justru dia yang tampak sedih sekarang.


"Kamu kenapa Ren?"


"Justru seharusnya aku yang sedih. Karena ibu kamu, sekarang tidak menyukai aku. Dia merestui hubungan kita juga mungkin karena terpaksa."


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari pantai ke rumah, akhirnya Ifan sampai juga di depan rumah Irene.


Irene dan Ifan kemudian turun dari mobilnya.


"Ren, selamat malam. Setelah ini, kamu langsung tidur ya. Dan jangan begadang. Karena besok, kamu harus ke rumah aku untuk mengantar Alma sekolah."


"Iya Mas."


"Aku pulang dulu ya. Nanti, aku akan atur rencana untuk mempertemukan orang tua kita. Aku benar-benar akan melamar kamu, di depan mereka. "


"Iya Mas."


"Aku ingin, di hari pernikahan kita nanti, akan berlangsung dengan baik."


"Iya Mas. Aku masuk dulu ya."


"Iya sayang."


Irene kemudian melangkah masuk ke dalam rumahnya. Setelah Irene menutup pintu, Ifan masuk ke dalam mobilnya, dan meluncur pergi meninggalkan rumah Irene.


****


Sore ini, Arjun dan Bobi jalan-jalan ke taman yang ada di dekat rumahnya bersama ibunya.

__ADS_1


"Kapan Ma, Papa pulang? aku kangen sama Papa," ucap Arjun.


"Mama juga nggak tahu sayang."


Indah terkejut saat menatap ke sosok lelaki yang ada di taman. Lelaki yang sangat dikenalnya. Dia adalah Imran, rekan kerja suaminya.


"Mas Imran....!" seru Indah sembari berlari menghampiri Imran.


"Eh, Mbak Indah."


"Kok Mas Imran di sini? ke mana Mas Teguh? bukankah seharusnya Mas Imran lagi ada di luar kota dengan suamiku?"


Imran menatap ke arah Indah.


"Teguh ada di luar kota?" tanya Imran.


"Iya. Kan empat bulan yang lalu, suamiku minta izin untuk ke Bali."


"Empat bulan yang lalu. Ya, empat bulan yang lalu, kamu memang ke Bali. Tapi cuma satu bulan aja. Nggak sampai empat bulan."


"Lho. Terus, suami aku di mana Mas?"


"Apa kamu sudah amnesia ya? suami kamu jelas ada di rumah sekarang. Kan setiap hari dia berangkat kerja bersama aku. Dan kamu kenapa malah nanya sama aku, suami kamu ada di mana. Gimana sih."


"Mas Imran, suamiku udah lama nggak pulang ke rumah aku," ucap Indah dengan mata berkaca-kaca.


"Yang benar? terus Teguh itu tinggal di mana?"


"Saya juga nggak tahu Mas. Sudah empat bulan ini, dia tidak pulang ke rumah aku. Apakah Mas Imran tahu, di mana suami ku?"


"Duh, aku fikir, dia tinggal sama kamu. Soalnya, setiap hari dia masih aktif kerja kok."


"Dan satu lagi Mas Imran. Sudah berapa hari ini, Mas Teguh juga nggak bisa dihubungi."


"Nomernya nggak aktif. Kemarin anaknya sakit dia juga nggak tahu."


"Kalian nggak lagi berantem kan? mungkin suami kamu itu, tinggal di rumah orang tuanya. Dan kamu tidak tahu."


"Nggak. Mas Teguh nggak ke sana. Kalau ke sana, pasti aku akan lihat dia. Karena kemarin juga aku habis nginap di rumah mertuaku."


Imran tampak berfikir.


' Duh, ada apa ya dengan Teguh. Dia itu orangnya sangat tertutup. Dia juga tidak banyak bicara. Apa jangan-jangan, lagi nggak ada yang nggak beres nih dengan rumah tangganya. Masak istrinya sendiri, tidak tahu Teguh tinggal di mana. Ini kan benar-benar aneh. '


"Mas Imran, Mas. Apa mas tahu sesuatu?" tanya Indah.


"Eh, iya. Ada apa?"


"Mas Imran tahu sesuatu? tadi kata Mas Imran, kalau setiap hari Mas Teguh itu masih aktif datang ke tempat kerjanya. Aku yakin, ini nggak ada yang beres."


"Aku nggak tahu. Tapi nanti aku akan tanyakan ke dia deh."

__ADS_1


"Tolong ya Mas, bilang sama Mas Teguh. Kalau istri dan anak-anaknya sangat merindukannya. Kami semua ingin Mas Teguh pulang ke rumah kami. Nggak apa-apa Mas Teguh hanya kasih uang pas-pasan. Yang penting, kami bisa berkumpul bersama."


__ADS_2