
Hiks...hiks...
"Tante Iren... Tante Iren..."
Sejak tadi, Alma tidak berhenti menangis. Dia masih memanggil-manggil nama Irene. Sementara Ifan, sejak tadi masih mencoba menghubungi Irene.
'Duh, kenapa nomernya nggak aktif sih.' batin Ifan.
Ifan masih menatap ponselnya. Dia kemudian menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku bajunya.
"Sayang. Udah malam. Besok aja ya, kita hubungi Tante Irene lagi. Sepertinya Tante Irene udah pulang ke rumahnya. Telponnya juga mati," ucap Ifan.
"Sudahlah Alma. Nggak usah rewel. Biarkan wanita itu pergi. Untuk apa sih, kamu tangisi dia. Sekarang kan ada Tante Widi. Dia bisa kok, jadi ibu kamu. Untuk apa kamu tangisi wanita itu. Dia itu bukan siapa-siapa kamu Alma," ucap Bu Atik.
Alma menatap tajam ke arah neneknya. Sepertinya dia tidak suka mendengar perkataan neneknya.
"Aku nggak mau sama Tante Widi. Aku cuma mau sama Tante Iren," ucap Alma.
"Bu. Sudahlah, ibu jangan ikut bicara! anak aku lagi sakit Bu. Dia ingin Irene ada di sampingnya." Ifan mencoba selalu membela anaknya.
"Papa. Aku mau Tante Iren sekarang. Aku mau papa jemput Tante Iren," rengek Alma pada Ifan.
"Iya sayang iya. Papa akan jemput Tante Iren sekarang ya," ucap Ifan pada akhirnya.
Ifan tidak tega melihat anaknya sejak tadi menangis. Akhirnya Ifan bangkit berdiri dan memutuskan untuk menjemput Irene di rumahnya.
"Mau ke mana kamu Ifan?" tanya Bu Atik menatap tajam Ifan.
"Aku mau jemput Irene di rumahnya," jawab Ifan.
"Apa! untuk apa! ibu kan sudah mengusir dia dari sini. Untuk apa kamu jemput dia lagi."
"Bu. Aku kasihan sama Alma Bu. Dari tadi dia nangis terus. Dan semua itu karena ibu."
"Lho. Kenapa kamu jadi salahin ibu."
"Bu. Pokoknya aku nggak mau ya, ibu ikut campur urusan aku dan Alma. Aku dan Irene tidak ada apa-apa. Dia itu cuma pengasuhnya Alma. Ibu itu benar-benar keterlaluan karena ibu sudah mengusir Irene dari sini," ucap Ifan dengan nada tinggi. Ifan benar-benar kesal dengan ibunya. Akhirnya dia meluapkan juga emosinya di depan ibunya.
"Tapi Ifan..."
Ifan diam. Dia tidak mau menghiraukan ibunya lagi. Ifan kemudian, buru-buru melangkah pergi meninggalkan ruangan Alma untuk menjemput Irene di rumahnya.
__ADS_1
Ifan melangkah ke luar dari rumah sakit.
"Ya ampun. Hujannya deras banget sih," gumam Ifan setelah sampai di depan rumah sakit.
Hujan di malam ini, memang sangat deras. Kalau di paksakan untuk jalan sampai ke tempat parkir, mungkin Ifan juga akan basah kuyup.
"Aku harus ke rumah Iren sekarang, aku kasihan sama Alma. Dan nggak tega melihatnya menangis terus."
Ifan melepas jaketnya. Setelah itu, dia menutupi kepalanya dengan jaketnya dan berlari ke arah parkiran rumah sakit.
Ifan buru-buru masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu mobilnya rapat-rapat. Dia kemudian meletakan jaketnya di sampingnya duduk. Setelah itu, Ifan menyalakan mesin mobilnya. Dia kemudian melajukan mobilnya ke luar dari rumah sakit.
Ifan menerjang hujan dan pekatnya malam demi untuk menjemput Irene di rumahnya. Ifan tidak mau anaknya menangis terus. Ifan tidak perduli dengan apapun, selama itu menyangkut dengan anak kesayangannya.
Ifan meluncur untuk ke rumah Irene. Sesampai di depan rumah Irene, Ifan menghentikan laju mobilnya.
Ifan kemudian turun dari mobilnya. Dia melangkah ke teras depan rumah Irene.
Tok tok tok...
Ifan mengetuk pintu rumah Irene.
"Ren..Iren..!" seru Ifan.
'Kenapa harus suaminya Iren sih yang buka pintu. Ke mana Iren? Apa dia sudah tidur?' ucap Ifan.
Irwan mencoba untuk mengingat siapa lelaki yang ada di depannya itu.
'Bukankah dia lelaki yang pernah ngantar Irene pulang?' batin Irwan.
"Cari siapa?" Irwan menatap nanar lelaki yang ada di depannya.
Ifan bingung dengan apa yang akan dia katakan. Dia tidak enak, pada Irwan.
'Apa yang akan aku katakan pada suami Iren. Bagaimana kalau nanti dia tidak mengizinkan aku bertemu dengan Iren. Tapi aku butuh Irene untuk Alma.' batin Ifan.
"Em, maaf. Apa Iren ada di dalam?" Ifan memberanikan diri untuk bertanya pada suami Irene. Walau sebenarnya dia tidak enak karena malam-malam ke rumah Irene dan mencarinya.
"Irene nggak ada di dalam. Dia belum pulang," jawab Irwan dengan ketus. Tatapannya ke Ifan sangat tidak bersahabat.
"Belum pulang? bukannya dia sudah pulang sejak tadi ya?" Ifan tampak bingung.
__ADS_1
"Aku nggak bohong. Irene memang belum. Untuk apa kamu cari Irene malam-malam begini?" Irwan sudah menatap Ifan tajam
Ifan diam. Dia masih berfikir, ke mana sebenarnya Irene. Padahal Irene sudah ke luar dari rumah sakit sudah cukup lama. Kenapa dia bisa belum pulang. Atau mungkin, Irwan memang bohong.
"Ke mana ya Irene," ucap Ifan.
"Sebenarnya kamu itu siapa sih hah...!" Irwan sudah menatap tajam ke arah Ifan.
"Kamu lelaki yang selama ini dekat dengan istri saya kan! katakan...!" Irwan sudah meninggikan nada suaranya.
Irwan sudah mencengkeram kerah baju Ifan dengan kuat. Ifan terkejut saat tiba-tiba saja Irwan memukul perutnya dengan keras. Membuat Ifan terhuyung ke belakang.
"Auh... kenapa kamu memukulku?" tanya Ifan sembari memegangi perutnya yang sakit.
"Kamu lelaki yang selama ini sudah membuat istriku berubah. Kamu selingkuhan istriku kan! sejak istriku kerja, dia jadi berubah sama aku. Apa itu semua karena kamu...!"
Ifan terkejut saat mendapatkan serangan mendadak dari Irwan. Ifan tidak melawan sedikitpun pukulan Irwan.
Bugh...bugh...bugh...
Aksi saling pukul sudah terdengar sampai ke telinga Ajeng. Ajeng yang masih berada di kamarnya segera bangun dan melangkah pergi ke luar rumah. Dia akan melihat apa yang terjadi di luar rumah.
Ajeng terkejut saat melihat Irwan memukul lelaki sampai lelaki itu babak belur.
"Mas Irwan...! hentikan ....! kamu bisa membuatnya mati Mas...!" teriak Ajeng yang membuat Irwan menghentikan pukulannya.
Irwan melepaskan cengkeramannya. Dia kemudian menatap Ajeng yang sudah mendekat ke arahnya.
"Apa yang kamu lakukan terhadap lelaki ini Mas?" tanya Ajeng.
"Aku benar-benar membencinya. Dia sudah berani datang ke sini, dan mencari istri saya. Apa kamu tahu Jeng, siapa lelaki ini?" Irwan menatap Ajeng tajam..
Ajeng menggeleng.
"Dia ini selingkuhan istri aku Jeng."
Ajeng terkejut saat mendengar ucapan Irwan.
"Tapi Mas, kamu bisa kan selesai kan masalah ini baik-baik. Dan ke mana istri kamu sekarang Mas?" tanya Ajeng.
"Aku tidak tahu Irene ada di mana. Istriku sering pulang malam, itu semua karena orang ini...!'' Irwan menunjuk ke arah Ifan yang sudah tidak berdaya.
__ADS_1
Ifan bukannya takut atau tidak bisa berkelahi. Dia tidak menyerang balik, karena dia tidak mau Irene menyalahkan dia karena membuat suaminya babak belur. Jadi dia biarkan Irwan memukulnya berkali-kali. Ifan sama sekali tidak ingin membuat Irene bersedih.