Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Kedatangan orang tua Irene


__ADS_3

Pagi ini, Irene masih berada di ruang makan bersama suaminya. Mereka masih menyantap makanan mereka. Tak ada sesuatu yang mereka bicarakan kali ini.


Sikap Irwan pagi ini sangat dingin. Sejak tadi, dia tidak pernah mau mengajak istrinya ngobrol. Mungkin rasa kesalnya semalam, masih dibawa sampai pagi ini.


"Ren. Aku mau ke kamar," ucap Irwan setelah dia menghabiskan makanannya.


"Iya Mas."


Irene kemudian melangkah mendekat ke arah Irwan dan mendorong kursi Irwan sampai ke kamarnya.


"Aku pengin berbaring Ren."


"Iya Mas."


Irene kemudian membantu Irwan untuk berbaring di atas ranjangnya.


"Sekarang kamu boleh ke luar Ren."


Irene duduk di sisi suaminya.


"Kamu kenapa Mas? apa kamu masih marah soal semalam?" tanya Irene.


"Aku nggak apa-apa. Udah siang Ren. Kamu nggak mau berangkat kerja."


"Maafin aku ya Mas, soal semalam."


"Iya. Aku udah maafin kok."


"Ya udah. Aku tinggal dulu ya."


Irwan hanya mengangguk.


Irene pergi meninggalkan kamarnya. Dia melangkah pergi ke teras depan. Irene terkejut saat melihat ada ke dua orang tuanya di depan rumahnya.


Irene buru-buru menghampiri ibu dan ayahnya.


"Ibu, ayah, kalian kok bisa ada di sini? sejak kapan kalian datang?" tanya Irene pada ke dua orang tuanya.


"Kalian mau datang kok nggak bilang-bilang dulu,"lanjut Irene.


Bu Nani dan Pak Feri menatap Irene tajam.


"Kamu mau ke mana? rapi banget?" tanya Bu Nani yang sejak tadi masih mempertahankan penampilan anaknya.


"Aku mau kerja Bu, Yah," jawab Irene.


"Mau kerja ke mana?" tanya Pak Feri.


"Kerja di kantor," bohong Irene. Padahal dia bukan mau ke kantor. Tapi mau ke rumah Ifan.

__ADS_1


"Kamu sekarang kerja? kenapa nggak Irwan saja yang kerja?" tanya Bu Nani.


"Ayah dan ibu lupa ya. Kalau sekarang Mas Irwan itu lumpuh. Dia dia tidak bisa jalan. Jadi, terpaksa aku yang kerja. Dan ini juga untuk sementara aja kok. Kalau Mas Irwan udah sembuh dan bisa mencari nafkah lagi, aku akan berhenti kerja,"ucap Irene.


"Oh. Iya. Ibu lupa kalau suamimu kemarin habis kecelakaan,"ucap Bu Nani.


"Kalau gitu, boleh kami masuk ke dalam?" tanya Pak Feri.


Irene bingung. Sebenarnya dia memang sudah kesiangan. Tapi, dia juga tidak bisa meninggalkan ke dua orang tuanya begitu saja.


"Boleh. Masuk aja Bu, Yah," akhirnya Irene mempersilahkan ke dua orang tuanya masuk.


Ke dua orang tua Irene kemudian masuk ke dalam rumah Irwan. Tanpa disuruh, mereka langsung duduk di ruang tamu.


"Mau ngapain sih, ayah dan ibu ke sini pagi-pagi banget gini. Nggak tahu, ada orang mau kerja apa, kenapa nggak nanti malam aja kalau aku di rumah," gerutu Irene.


Irene tidak enak sama Ifan kalau dia sering banget kesiangan datang ke rumah Ifan. Tapi, Irene juga masih sibuk ngurusin Irwan dan rumah. Makanya dia selalu kesiangan.


Ring ring ring...


Ponsel Irene tiba-tiba saja berdering. Irene segera merogoh tas kecil untuk mengambil ponselnya. Irene terkejut saat menatap ponselnya. Ternyata sejak tadi, Ifan sudah menelponnya.


"Benarkan dugaanku. Kalau Mas Ifan itu pasti akan nelpon. Aku angkat aja deh," gumam Irene.


Irene kemudian mengangkat telpon dari Ifan.


"Halo Ren, kamu ada di mana sekarang?"


"Aku masih di rumah Mas. Maaf ya, kalau aku kesiangan lagi."


"Nggak apa-apa. Kamu mau ke sini nggak? ini Alma sejak tadi nungguin."


"Aduh, boleh nggak aku izin sebentar Mas. Aku lagi ada tamu nih di rumah."


"Oh, tamu siapa?"


"Orang tuaku Mas. Tiba-tiba saja, orang tuaku datang ke rumah. Nggak apa-apa kan kalau aku datang agak siangan."


"Ya udah. Kamu temui orang tua kamu dulu. Biar anak aku, sama Mbok Inah aja ke sekolahnya."


"Iya Mas. Sekali lagi, aku minta maaf ya."


"Iya. Tapi kamu tetap mau datang kan hari ini?"


"Iya. Aku akan datang kalau orang tuaku sudah pulang."


"Oh iya. Aku cuma mau ngasih tahu. Selain sekolah, Alma juga les. Jadi habis dzuhur, kamu harus mengantar Alma les."


"Iya siap Mas. Nanti aku langsung ke sekolah Alma aja deh."

__ADS_1


"Ya udah. Kamu temui dulu orang tua kamu."


"Ya udah Mas. Aku tutup dulu ya telponnya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah menutup saluran telponnya, Irene kemudian buru-buru melangkah ke dalam untuk menemui ke dua orang tuanya.


"Ibu, ayah, maaf ya udah menunggu lama." Irene duduk di dekat ibu dan ayanya.


"Kamu kerja di mana sekarang?" tanya Pak Feri yang membuat Irene bingung untuk menjawab.


'Ah, ayah. Jangan sampai dia tanya macam-macam tentang pekerjaan aku yang sekarang. Dan mudah-mudahan saja aku nggak keceplosan kalau sekarang aku kerja di rumah Mas Ifan. Bisa gawat urusannya kalau orang tuaku dan Mas Irwan sampai tahu aku kerja di mana.' batin Irene.


"Em, aku kerja di kantorlah," jawab Irene.


"Kamu kok belum berangkat kerja. Ini udah siang lho. Nanti kamu kesiangan," ucap Pak Feri lagi.


"Tadi aku udah izin sama bos aku Yah, Bu. Jadi aku berangkat nanti siangan aja."


"Oh, bos kamu baik banget ya Ren. Biasanya kalau kerja di kantor itu kan disiplin banget. Jarang ada lho, bos yang mau ngizinin karyawannya untuk datang siang," ucap Bu Nani.


Irene tersenyum. "Alhamdulillah Bu. Bosku baik banget. Makanya aku seneng kerja di kantor dia."


Bu Nani dan Pak Feri saling menatap.


"Irwan di mana?" tanya Bu Nani.


"Mas Irwan ada di kamarnya. Dia lagi istirahat Bu, Yah." jawab Irene.


"Begini Ren. Ayah dan ibu ke sini, mau pinjam uang kamu," ucap Bu Nani tanpa banyak basa-basi lagi.


'Ah, benar kan apa dugaanku. Pasti mereka datang ke sini mau minjam uang lagi. Mereka nggak tahu apa kalau aku juga lagi kesusahan.' batin Irene


"Jadi, kalian ke sini mau minjam uang lagi?" tanya Irene menatap tajam ke dua orang tuanya.


Bu Nani dan Pak Feri mengangguk.


"Iya. Kamu punya uang kan?" tanya Bu Nani.


"Bulan kemarin kalian kan udah pinjam. Dan, kalian juga belum membayarnya. Kenapa kalian pinjam uang lagi ke aku?"


"Lah, terus kami harus pinjam ke siapa lagi Ren. Kamu kan anak kami. Kamu tega ya nggak mau pinjamin ayahmu uang lagi?" Pak Feri menatap lekat anaknya.


"Bukan begitu Yah, tapi aku sekarang lagi nggak punya uang. Karena kalian kan tahu, Mas Irwan habis kecelakaan. Dan dia juga belum bisa kerja lagi seperti biasa. Dan kemarin saja, aku sudah menghabiskan uang dua puluh juta untuk operasi Mas Irwan."


"Tapi masak nggak ada sepeserpun sih Ren. Kamu pasti masih punya uang simpanan kan?" tanya Bu Nani.


Irene diam. Dia memang masih punya tabungan. Tapi, mungkinkah Irene akan terus menerus mengambil uang tabungannya. Sekarang saja, tabungan Irene sudah semakin menipis. Itu semua juga karena untuk biaya pengobatan kaki Irwan.

__ADS_1


__ADS_2