
Adelia tengah melamun seorang diri di dekat kolam renang. Kaisar yang baru saja pulang dari bekerja segera menghampiri Adelia.
"Mama..." Panggil Kaisar dan Adelia menoleh ke arah Kaisar lalu memberikan senyum ketulusannya.
Kaisar mencium puncak kepala sang Mama kemudian duduk di dekat Adelia.
"Mama mikirin apa?" Tanya Kaisar yang merasa khawatir karena sempat melihat Adelia melamun.
Adelia menggelengkan kepalanya, "Tidak ada, Kai." Jawab Adelia.
"Jangan bohongi Kai, Ma. Kai sangat tau Mama." Ucap Kai, "Mama kenapa? Mama gak mau cerita sama Kai?" Tanya Kaisar lagi.
Adelia menghela nafas dan akhirnya mulai berbicara pada Kaisar.
"Kai, Mama mengkhawatirkan adikmu, Keii." Ucap Adelia pada akhirnya.
"Ada apa dengan Keii, Ma?" Tanya Kaisar yang juga penasaran.
"Keii memilih menunda melanjutkan kuliah dengan alasan masih ingin bermain bersama teman temannya, padahal Mama sangat tau dulu Keii begitu ingin kuliah mengambil S1." Ucap Adelia.
Kaisar nampak berpikir. "Ma, mungkin Keii masih ingin bermain dengan temannya. Tidak apa, Ma. Biar Keii menikmati masa muda yang dulu belum sempat ia rasakan, bermain, belanja, nonton bersama teman temannya." Kaisar menenangkan Adelia.
Adelia menggelengkan kepalanya. "Adikmu Keiina bukan type orang seperti itu, Kai." Adelia menghela nafas sejenak. "Bahkan Keii tidak mempunyai banyak teman, Mama sangat tau sekali. Sementara Keii setiap hari pergi dan pulamg sore. Mama takut Keii salah pergaulan." Adelia mengungkapkan rasa khawatirnya.
Kaisar dengan setia mendengarkan keluh kesah sang Mama, ia juga mencerna semua ungkapan kekhawatiran Adelia. Keiina memang setiap hari pergi terkecuali di hari sabtu dan minggu. Namun Kaisar sama sekali tidak menaruh curiga pada Keiina, Kaisar begitu mempercayai Keiina.
"Kai akan mengirim detektif untuk mencari tau semua aktifitas Keii, Ma. Mama jangan khawatir lagi ya." Ucap Kaisar dan membuat Adelia menjadi sedikit tenang.
"Kamu sudah makan?" Tanya Adelia pada Kaisar.
Kaisar menggelengkan kepalanya dan Adelia menepuk lengan Kaisar. "Kebiasaan."
"Kai cuma mau makan masakan Mama, karena itu Kai lebih milih menahan lapar sampai pulang ke rumah." Jawab Kai dan membuat hati Adelia bahagia.
Adelia berdiri dan menarik tangan Kaisar, "Ayo Mama hangatkan dulu makanannya, tadi Mama masak dendeng balado kesukaanmu."
Kaisar mengikuti sang Mama sambil merangkulnya menuju dapur.
"Nanti Mama akan mengajari istrimu memasak makanan kesukaanmu." Kata Adelia sambil memasukan makanan untuk di hangatkan ke dalam microwave.
"Istri?" Tanya Kaisar yang kini duduk di kursi meja bar.
"Umurmu Sudah cukup untuk menikah, Kai. Mama sudah bersamamu. Mulailah untuk memikirkan rumah tangga." Kata Adelia.
Kaisar tersenyum, tiba tiba saja dirinya mengingat seorang gadis introvert yang baru satu bulan ini menjadi Asistennya, Queen Audrey.
__ADS_1
"Ma.." Panggil Kaisar dan menatap mata sang Mama yang baru saja menyajikan makanan di atas piring Kaisar.
"Ya, Sayang.. Ada apa?" Tanya Adelia.
"Bagaimana jika Papa tau Mama di sini bersamaku?" Tanya Kaisar yang membuat Adelia tersenyum kecut.
"Biarkan saja, toh Mama dan Papamu sudah tidak mempunyai hubungan apapun." Jawab Adelia.
Kaisar menggenggam tangan Adelia dan membuat Adelia menatap mata Kaisar.
"Perasaan Mama pada Papamu sudah lama mati, Kai. Mama sudah tidak perduli jika nanti bertemu dengannya lagi." Kata Adelia dengan yakin.
Adelia menghembuskan nafasnya, "Hanya saja Mama takut Papamu mengetahui soal Keiina adikmu, Mama takut Papamu akan mengganggu Keiina." Ucapnya lagi dengan sendu. "Keiina sangat membenci Papamu, Kai. Keiina begitu terluka karena tumbuh tanpa seorang Ayah, Keii membentengi hatinya hingga Keii sendiri enggan menjalin hubungan dengan seorang pria." Kata Adelia lagi.
Kaisar pun mengkhawatirkan hal itu, Kaisar takut jika Anhar mengusik kehidupan Keiina dan membuat Keiina menjadi tak nyaman.
"Kai akan melakukan apapun yang terbaik untuk keluarga kita, Ma." Ucap Kaisar menenangkan Adelia.
Adelia percaya pada kemampuan Kaisar yang akan menjaga keutuhan dan ketenangan keluarganya, meski rasa takut terkadang menghantuinya.
**
Keiina berjalan menuju pantry untuk membuat teh hangat karena merasa perutnya tidak nyaman, namun ia berpapasan dengam Reno di lorong menuju pantry.
"Keii, hari ini aku mau mengajakmu nonton. Kamu mau ya?" Ajak Reno.
"Aku ngajak kamu nonton dan kamu gak bisa? Kenapa?" Tanya Reno lagi.
"Aku tidak bisa meninggalkan ibuku terlalu lama di rumah sendirian." Jawabnya berbohong.
Reno menghembuskan nafasnya kasar. "Padahal ada film bagus lho." Ucapnya ingin mencoba merayu.
"Tapi maaf, aku beneran gak bisa." Keiina tetap menolak.
Keiina tau Reno pria seperti apa, sssungguhnya Keiina sendiri merasa takut pada Reno, takut Jika Reno berbuat lebih pada Keiina. Namun Keiina mencoba menepisnya karena ia tetap ingin membalas dendam dan Reno adalah salah satu target untuk bisa membantunya membalaskan dendamnya.
"Kamu udah punya pacar, ya?" Tanya Reno menyelidik.
"Belum." jawab Keiina santai.
"Hem, baiklah kalau begitu, aku akan mengajak Rasti saja." Ucap Reno agar Keiina terpancing rasa cemburu. "kamu tau kan Rasti tergila gila padaku?" Imbuhnya lagi.
"Ya silahkan saja, Mbak Rasti mungkin bisa menemani Mas Reno." Jawabnya lalu pergi dengan santai.
"Dasar munafik!!" Gumam Reno yang terdengar oleh Keiina.
__ADS_1
Keiina berbalik menatap wajah Reno dengan sinis.
"Kamu kira kamu siapa? Berani menolakku, sementara kamu tidak menolak semua pemberianku." Cibir Reno.
"Aku tidak memintanya." Jawab Keiina dengan berani. "Lagi pula semua makanan yang kamu beri padaku, ku berikan lagi pada OB." Imbuhnya lagi.
Reno mengepalkan tangannya dan ingin menarik lengan Keiina namun Fajar datang di saat yang tepat.
"Reno!!" Pekik Fajar dan Reno menarik tangannya kembali.
Fajar menghampiri Reno dan Keiina. "Kamu mau apakan Keiina?" Tanya Fajar.
"Saya gak ngapa ngapain." jawabnya santai dan tidak menghormati Fajar sebagai pemilik showroom mobil tempatnya bekerja.
"Jangan bohong kamu, di lorong ini ada cctv, jelas saya juga melihat kamu akan berbuat kasar pada Keii.
"Jangan berlebihan Pak, tadi saya mau narik tangan Keii doang, bukan mau berbuat kasar." jawab Reno dengan suara meninggi.
"Kamu berani membentak saya?" Tanya Fajar dan membuat Reno menciut. "Kamu saya pecat, selain kamu tidak sopan pada saya, sudah dua bulan juga kamu tidak menjual mobil satupun, hanya memakan gaji buta!" Tegas Fajar.
"Tapi Pak.." Kata Reno memelas.
"Tapi apa, hah? Apa karena Anhar memiliki saham di sini? Anhar itu hanya ayah tirimu, dia juga tidak perduli padamu." Jawab Fajar pada akhirnya.
Reno mendengus kesal, "Baiklah, saya akan keluar dari sini." Jawabnya sambil meninggalkan Fajar bersama Keiina.
Fajar menghela nafas kemudian melihat ke arah Keiina. "Kamu tidak apa apa?" Tanya Fajar.
Keiina menggelengkan kepalanya, "Tidak apa apa, Tuan. Maafkan saya membuat kacau disini." Ucap Keiina menyesal.
"Tidak Keii, Reno memang slalu membuat masalah, akhirnya saya bisa memecatnya juga." Ucap Fajar dan Keiina hanya mengangguk.
Keiina kembali ke ruangannya, ia memikirkan cara lain karena kini tidak bisa memanfaatkan Reno kembali. Hingga ponselnya berbunyi notifikasi, Anhar mengiriminya sebuah pesan.
"Aku akan menjemputmu pulang kerja nanti.
...****************...
...Note:...
...Satu Like,...
...Satu Vote,...
...Satu Komentar dari kalian,...
__ADS_1
...Sangat berarti untukku menaikkan Novel ini....
...Please jangan jadi silence readers....