
Semalaman Kaisar tidak bisa tidur, ia terus memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa melindungi keluarganya dari orang orang yang ingin menyakitinya.
Bulatan hitam di sekitar kantung matanya terlihat meski samar, menandakan pria itu tidak tidur sama sekali. Dirinya pun harus mempersiapkan diri jika nanti Anhar datang mencarinya.
Bukan masalah jika Adelia kembali, namun masalahnya adalah identitas Keiina. Kaisar tidak ingin membuat adik semata wayangnya itu tidak nyaman, luka yang di goreskan oleh Anhar begitu dalam sehingga membuat Keiina bahkan tidak ingin mengetahui siapa ayahnya.
Kaisar bergegas menuju perusahaan, ia bahkan melewati sarapannya hanya karena harus berkordinasi dengan Aldo agar identitas Keiina tidak terbongkar.
"Kai..." Panggil Adelia dengan lembut.
Kaisar menoleh sebelum masuk ke dalam mobil. "Mama.."
Adelia menghampiri Kaisar di samping mobilnya. "Kita akan hadapi bersama, Mama tidak akan menghindar lagi." Ucap Adelia menguatkan sambil memegang tangan Kaisar.
"Kai hanya takut Papa merusak mental Keiina, Ma. Bagaimana jika Papa tau soal Keiina dan tidak ingin mengakuinya, atau bagaimana jika Papa mengakuinya dan ingin mengambil Keiina?" Kata Kaisar mencurahkan kegundahannya.
Adelia tersenyum melihat Kaisar yang begitu perduli terhadap adiknya. "Kalau Mama mati, mama akan tenang karena Keii beesamamu." Ucap Adelia dan meneteskan air mata.
"Mama.. Mama tidak boleh bicara seperti itu. Mama akan selalu sehat untukku dan Juga Keii. Mama adalah kekuatanku." Kaisar memeluk Adelia.
"Terimakasih telah menjadi anak yang baik, Kai. Oma membesarkanmu dengan sangat baik." Adelia mengusap lembut punggung Kaisar.
Kaisar melerai pelukannya. "Mama tetaplah di rumah bersama Oma dan Keii. Doakan saja Kai agar Kai bisa menyelesaikan semua masalah ini." Kaisar mencium pelipis Adelia dan segera menuju perusahaannya.
Di WG Group,
Audrey berpapasan dengan Kaisar yang baru saja keluar dari lift dan berjalan cepat menuju ruangannya, Kaisar tersenyum tipis pada Audrey sementara Audrey menundukkan kepalanya tanda hormat. Audrey balik mengikuti Kaisar ke ruangannya bersama Aldo dan Marry.
"Cancel semua jadwalku hari ini." Kata Kaisar pada Marry.
"Baik, Tuan." Jawab Marry.
Audrey melihat wajah Kaisar yang terlihat melelahkan. Lingkaran hitam di sekitar mata Kaisar terlihat jelas oleh Audrey.
"Maaf Tuan Kai, Tuan Anhar dari perusahaan anak cabang WG Group mengajukan bertemu hari ini dengan anda." Kata Aldo memberitahu.
Kaisar memijat pelipisnya, Audrey merasakan sesuatu, ada yang terjadi pada diri Kaisar.
"Ijinkan." Jawab Kaisar.
"Detektif Harun tidak bisa memberikan laporan pada anda hari ini karena mendadak harus ke luar negri, anaknya mengalami kecelakaan disana." Laporan dari Aldo lagi.
Kaisar mengangguk, ia tak menganggap penting apa yang di selidiki oleh Harun, baginya masalah terbesarnya kini adalah Anhar dan Riska.
"Jam berapa dia akan kemari?" Tanya Kaisar.
"Asisten Tuan Anhar bilang sudah dalam perjalanan." Jawab Aldo lagi.
Kaisar memijat pangkal hidungnya. Yang ia akan hadapi adalah ayahnya sendiri. Cepat atau lambat Anhar pasti harus mengetahuinya.
Marry keluar dari ruangan Anhar, sementara Aldo dan Audrey bekerja di dalam ruangan Anhar.
__ADS_1
Audrey sesekali melirik ke arah Kaisar yang terlihat gelisah dengan melonggarkan dasinya.
Aldo yang paham hal itu, mencoba memberikan sedikit ruang untuk Audrey dan Kaisar.
"Tuan, saya permisi untuk mengambil dokumen yang baru di sah kan oleh divisi keuangan." Kata Aldo dan Kaisar mengangguk.
Setelah Aldo keluar, tinggalah Kaisar dan Audrey di dalam ruangan itu. Kaisar berdiri dari kursi kebesarannya dan menghampiri Audrey yang duduk di sofa sambil mengerjakan pekerjaannya.
"Audrey.." Panggil Kaisar.
Audrey berdiri dan berhadapan dengan Kaisar.
"Boleh aku memelukmu?" Tanya Kaisar dan Audrey terlihat bingung. "Aku.. Aku..." Kata Kaisar menggantung.
Namun Audrey segera berhambur memeluk Kaisar. Kaisar memeluk Audrey dengan erat. "Aku kacau sekali hari ini." Kata Kaisar mencoba mengadu pada kekasihnya.
Audrey hanya diam, namun tangannya terus mengusap punggung Kaisar, memberikan ketenangan untuk Kaisar.
"Beri aku keukatan, Audrey. Tetaplah bersamaku karena kamu juga adalah kekuatanku." Kata Kaisar dan Audrey mengangguk di dalam pelukan Kaisar.
Ingin sekali Audrey bertanya tentang sesuatu yang terjadi pada Kaisar, namun Audrey masih membatasi dirinya sendiri.
Kaisar melerai pelukannya. Menatap wajah Audrey yang menenangkannya, mendekatkan wajahnya dan mencium kening Audrey cukup lama. Audrey hanya tersenyum membalasnya.
"Kondisimu sudah membaik?" Tanya Kaisar yang masih mencemaskan keadaan Audrey sambil merapihkan anak rambut Audrey ke belakang telinganya.
"Sudah." Jawab Audrey.
Audrey mengangguk. "Tidak apa apa." Jawabnya masih dengan singkat.
"Apa sesuatu terjadi padamu?" Tanya Audrey.
Kaisar tersenyum. "Kamu mengkhawatirkan aku?" Tanyanya.
Audrey mengangguk samar. "Apa kamu tidak tidur semalaman? Lingkar matamu menghitam." Kata Audrey dengan tak sadar mengusap kantung mata Kaisar.
Kaisar meraih tangan Audrey dan mengecupnya. "Iya."
Audrey berjinjit dan mengecup ke dua mata Kaisar bergantian. Membuat hati Kaisar menghangat lalu memeluk pinggang Audrey, merasakan aliran kekuatan dan semangat baru dari kekasihnya itu.
Marry mengetuk pintu dan Kaisar segera melepas Audrey dengan lembut, dengan curian kecupan di bibir Audrey lalu merapihkan sedikit pakaiannya.
"Masuk." Ucapnya lalu berjalan ke arah meja kerjanya kembali. Sementara Audrey kembali duduk dan mengerjakan pekerjaannya kembali.
"Tuan Kai. Tuan Anhar sudah tiba." Ucap Marry.
Kaisar menghela nafas sejenak. "Cepat panggilkan Aldo." Kata Kaisar dan di angguki oleh Marry.
Audrey terus memperhatikan Kaisar, bertanya tanya apa yang terjadi pada pria berstatus kekasihnya itu.
Anhar masuk dan tak lama Aldo juga mengikutinya.
__ADS_1
"Kai..." Panggil Anhar.
Kaisar hanya bersikap dingin.
"Bisakah kita berbicara berdua?" Tanya Anhar pada Kaisar saat melihat keberadaan Aldo dan Audrey di ruangan Kaisar.
"Tidak bisa." Jawab Kaisar dengan nada dingin. Bahkan Audrey saja bisa merasakan aura dingin Kaisar.
"Jika ingin bicara, bicaralah. Mereka bukan orang lain untukku, di sini kau lah yang orang lain untukku." Kata Kaisar lagi.
Anhar menghembuskan nafas kasarnya, "Soal Mamamu."
"Jangan ganggu Mama lagi!" Desis Kaisar.
Anhar tersenyum tipis, "Jadi benar kau sudah menemukan Mamamu?"
"Pasti wanita murahanmu itu yang sudah memberitahumu, kan?" Tebak Kaisar.
"Kai... Tak bisakah Papa bertemu dengan Mamamu atau setidaknya ijinkan Papa datang ke rumahmu dan bertemu dengan Mamamu juga Oma."
"Untuk apa?" Tanya Kaisar dengan cepat. "Untuk menyakitinya lagi?" Tanya Kaisar dengan sinis.
Anhar hanya diam tidak menjawab, ia sendiri juga bingung untuk apa dirinya begitu ingin bertemu dengan Adelia.
"Pergilah dan jangan pernah berpikir untuk menemui Mama, kau dan Mama sama sekali sudah tidak ada hubungan apapun, secara catatan sipil kalian sudah bercerai." Ucap Kaisar dengan penuh penekanan. "Dan bilang pada wanitamu, jangan pernah berniat untuk menyakiti Mama jika tidak ingin ku buat hidupnya seperti di neraka." Desis Kaisar.
"Kai..." Lirih Anhar.
"Hidupku sudah normal kembali setelah aku menemukan Mama, jangan mengusik kehidupan kami lagi atau aku tak akan segan membuangmu seperti kau membuang Mama dulu." Tekan Kaisar.
Anhar menghela nafas, pada akhinya Anhar tetap tidak bisa menekan Kaisar.
"Aldo." Panggil Kaisar dan Aldo maju satu langkah.
"Antarkan Tuan Anhar yang terhormat ini hingga turun ke loby." Titah kaisar.
Anhar pergi dengan perasaan kecewa, sementara Kaisar terduduk lemas di kursi kebesarannya.
Audrey segera berdiri dan berjalan mendekati Kaisar, tangannya mengusap lembut pundak Kaisar, membuat Kaisar mendongak lalu memeluk pinggang Audrey, menyandarkan kepalanya di depan perut Audrey.
"Apa aku kejam?" Tanyanya lirih yang hampir tidak terdengar oleh Audrey.
"Kita pulang ya, kamu sedang tidak baik baik saja." Ajak Audrey dan Kaisar mengangguk.
...****************...
Note:
Satu Like, Satu Vote, Satu Komentar dari kalian,
Sangat berarti untukku menaikkan Novel ini.
__ADS_1
Please jangan jadi silence readers.