TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 60


__ADS_3

Siang hari, pernikahan Kaisar dan Audrey akhirnya tercatat di catatan sipil, tentu saja berkat kekuasaan dan uang keluarga Wiguna membuat semua proses berjalan dengan cepat.


Audrey menangis terharu karena kini statusnya sudah berubah menjadi istri dari Kaisar Wiguna. Raja pun terharu melihat putri semata wayangnya yang tidak pernah mau ua urusi itu akhirnya menikah dengan pria yang dicintai oleh putrinya.


Ayla kini merasa lega karena Audrey berada di tangan yang tepat, yakni keluarga Kaisar yang begitu menerima Audrey apa adanya. Ayla juga memberikan seperangkat perhiasan untuk Audrey sebagai kado pernikahannya.


"Aunty, ini terlalu berharga." Kata Audrey ingin menolak.


"Tidak, Audrey. Ini juga hadiah dari Om Regan untukmu." Jawab Ayla.


"Iya, Audrey. Om minta maaf jika slama ini Om bersikap dingin padamu. Tapi kamu harus tau, jika Om juga perduli padamu." Sahut Regan.


"Aku tau, Om." Kata Audrey dengan cepat. "Om selalu memperhatikan sekolah aku, apa yang aku butuhkan di asrama, dan Om juga yang slalu memantau perkembangan nilai nilai aku di sekolah dulu." Imbuhnya lagi.


Regan mengusap kepala Audrey, "Kami menyayangimu, Audrey. Hanya saja cara kami yang salah."


Audrey mengangguk. "Terimakasih untuk semuanya, Om. Audrey akan slalu menganggap kalian semua adalah keluarga Audrey."


Raja hanya diam memperhatikan interaksi Audrey bersama Regan dan Ayla hingga mereka berpamitan untuk pulang.


Kini Raja mendekat pada Audrey. "Papa akan kembali ke pulau K." Kata Raja.


Audrey hanya mengangguk, "Terimakasih untuk pengorbanan Papa kali ini."


Raja tersenyum tipis, "Papa tidak melakukan apapun untukmu."


"Papa mencemaskanku hingga mau kembali ke kota ini." Kata Audrey.


"Maafkan Papa, Audrey. Papa bersalah padamu."


Audrey menggelengkan kepalanya, "Darah antara ayah dan anaknya tidak akan terputus, Pa.. Suka tidak suka, mau tidak mau, Papa tetap Papa Audrey." Audrey mulai terisak membuat dada Raja ikut menjadi sesak.


Anhar melihat peristiwa itu, berharap jika suatu saat Keiina akan mempunyai hati yang luas seperti Audrey.


Raja memutuskan untuk kembali ke hotel sebelum akhirnya ia akan kembali ke pulau K esok hari. Audrey melepas Raja tanpa beban, meski Raja tidak pernah bertindak layaknya seorang Papa tetap saja Raja adalah Papa dari Queen Audrey.


Adelia pun pamit untuk pulang, Anhar berinisiatif mengantarkannya untuk pulang. Kaisar tidak mencegahnya, Kaisar yakin jika Adelia tetap pada pendiriannya, karena meskipun lembut, Adelia tetap wanita yang tegas.


Adelia tidak menolak ajakan Anhar untuk mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan, mereka hanya saling diam, hingga tiba di rumah super megah Adelia yang di berikan oleh Kaisar.


Anhar tersenyum melihat rumah yang bahkan lebih megah dari rumah utama keluarga Wiguna yang sebenarnya milik Kaisar juga.


"Kamu mau masuk dulu, Mas? Mungkin mau bertemu dengan Mamamu?" Tanya Adelia.

__ADS_1


"Boleh jika di ijinkan." Jawab Anhar.


"Bukankah Kai sudah memberimu ijin untuk bertemu dengan Mama?" Tanya Adelia dan Anhar mengangguk.


Anhar duduk di ruang tamu, ia bagaikan seorang tamu asing di rumah mantan istrinya itu.


"Mama sudah pulang, bagaimana pernikahan....." Kata Keiina yang langsung diam seketika saat melihat Anhar di ruang tamu.


Anhar berdiri dari duduknya, "Keii.." Sapanya ragu.


"Mama pulang di antar dia? Emang supir Mama kemana?" Tanya Keiina tak suka.


"Supir kan tadi langsung pulang, gak nungguin Mama di Rumah sakit. Papamu...."


"Dia bukan Papaku, sebut saja namanya!! Dia punya nama, kan?" Kata Keiina dengan cepat.


"Ya, maksud Mama, Tuan Anhar mengantar Mama pulang karena sekalian jalan pulang." Lanjut Adelia lagi.


Keiina berdecak, "Lain kali Mama pulang nunggu di jemput supir aja, jangan pulang sama dia lagi!!" Keiina melirik sinis pada Anhar.


Anhar hanya diam menerima semua perkataan Keiina, hatinya terasa sakit melihat penolakan Keiina secara langsung.


"Ada apa ini?" Tanya Mutia yang mendengar suara Keiina terdengar ketus ke ruang televisi.


"Ma.." Anhar mendekat dan mencium punggung tangan Mutia.


"Ma.. Adel pamit ke kamar dulu ya. Mas Anhar sudah ijin pada Kaisar untuk bertemu dengan Mama." Ucap Adelia. "Adel tinggal istirahat dulu ya, Ma." Imbuhnya lagi dan Mutia mengangguk. Adelia pergi ke kamarnya dan diikuti oleh Keiina.


"Duduklah." Kata Mutia pada Anhar. Mereka duduk berhadapan yang terhalang oleh meja.


"Mau bilang apa sekarang? Menyesal?" Tanya Mutia mencibir.


"Ma..."


"Sudahlah Anhar, kamu sudah tua, sudah bukan seorang pemuda seperti Kaisar yang mempunya kharismatik. Lihat rambutmu sudah banyak ubannya, ekor matamu sudah berkeriput." Ledek Mutia.


"Ma..."


Mutia menghela nafas, "Apa yang kamu tuai sekarang, itulah yang kamu tabur dulu, Anhar."


Anhar hanya menunduk mendengarkan ucapan Mutia.


"Kamu terlalu buta oleh cinta pertamamu, sampai kamu tidak bisa melihat cinta sejatimu. Kamu memberikan luka yang begitu dalam untuk Kaisar juga Keiina karena perpisahanmu dengan Adelia. Bahkan kamu tidak mengetahui keberadaan Keiina, wajar saja jika Keiina begitu membencimu."

__ADS_1


"Aku menerima semua hukumanku saat ini, Ma. Aku tengah menjalani karmaku seorang diri, menjalani apa yang dulu di rasakan oleh Adelia, sendiri dan jauh dari orang yang di sayangi." Lirih Anhar.


"Ya, kamu memang pantas mendapatkannya." Ketus Mutia. "Apa kamu berencana akan menikah kembali?" Tanya Mutia menyelidik.


Anhar mengangguk. "Jika menikah kembali dengan Adelia, aku mau Ma."


"Dihh ogahhh, Mama tidak akan merestuinya, Adel sudah lebih bahagia tanpamu, cari saja wanita lain." Kata Mutia dengan ketus kembali.


"Kalau begitu Aku tidak akan menikah kembali, Ma." Kata Anhar.


"Ya terserah, mau menikah lagi atau tidak sudah bukan urusan Mama, kamu bukan lagi sudah besar, tapi kamu tuh sudah tua." Cibir Mutia lagi.


Sementara itu, di kamar Adelia. Keiina tengah menanyai sang Mama dengan menyelidik.


"Pokoknya Keii gak mau tau, Mama gak boleh lagi pergi sama dia." Kata Keiina dengan cemberut.


"Tuan Anhar kan mau sekalian ketemu Oma, Keii." Jawab Adelia.


"Mama gak ada rencana balikan sama dia lagi kan? Nikah sama dia lagi." Tanya Keiina.


Adelia tertawa, "Ya enggalah, Keii. Sudah tidak ada alasan untuk Mama menerimanya kembali, Mama sudah tidak ada perasaan apapun pada Papamu."


"Dia bukan Papaku, Ma. Dia punya nama, sebut saja namanya." Kata Keiina.


Adelia menghela nafas. "Iya iya, Mama sudah tidak ada perasaan dengan Tuan Anhar, karena itu Mama mau pulang di antar oleh nya karena memang sudah tidak ada perasaan lagi dengannya."


Keiina hanya diam mencerna semua jawaban jawaban Adelia.


Adelia mengusap punggung Keiina, "Mama tidak mungkin mencintai pria yang sama yang sudah menyakiti Mama, meski kenyataannya dia adalah Papa dari anak anak Mama. Namun hati Mama sudah hancur lebur bersama surat cerai yang Mama terima dulu. Mama bukan protagonis yang bodoh dan mau kembali pada satu pria yang pernah menyakiti Mama dulu, Keii."


Keiina memeluk Adelia. "Begini saja sudah cukup, Ma. Ada Mama, Oma, aku, Kak Kai dan Kak Audrey. Bagiku ini sudah cukup."


Adelia tersenyum, mengendurkan pelukannya, "Percaya pada Mama, meski kamu dan Kak Kai sendiri yang meminta Mama untuk balikan dengan Tuan Anhar, Mama tidak akan mau dan lebih baik Mama memilih untuk hidup sendiri saja dari pada kembali pada Tuan Anhar."


...****************...


Note:


Di sini aku gak buat Adelia menye-menye yang bisa menerima Anhar kembali di hidupnya ya.


Sedikit Real life story di kehidupan nyata, wanita yang sudah di sakiti lebih nyaman hidup tanpa pasangan dan hanya fokus pada anak anaknya saja.


Adakah yang setuju? Atau malah kecewa?

__ADS_1


__ADS_2