TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 75


__ADS_3

Audrey menatap kecewa pada benda pipih yang ia pegang, sudah dua bulan menikah dengan Kaisar namun dirinya masih belum juga hamil. Audrey yang merasa tubuhnya tidak enak dan telat mendapatkan periodenya mencoba benda pipih atau yang biasa di sebut tespek, namun masih saja bergaris satu yang menandakan jika Audrey tidak dalam kondisi hamil.


"Ini baru dua bulan, Audrey. Kamu pasti akan hamil di waktu yang tepat." Kata Audrey pada dirinya sendiri di depan cermin.


Audrey membuang alat tespek itu agar tidak terlihat oleh Kaisar, ia tidak ingin membuat Kaisar khawatir dan mencemaskan dirinya. Audrey membasuh wajahnya dan segera keluar dari dalam kamar mandi untuk mempersiapkan pakaian kerja Kaisar. Sementara itu Audrey sudah tidak aktif bekerja lagi, dan posisi Audrey sudah di gantikan oleh Bayu, teman Keiina semasa di daerah yang kini menjadi tim asisten Kaisar bersama Aldo.


Audrey rerkesiap saat sebuah tangan melingkar di perutnya, "Ah sayang kamu buat aku kaget saja." Kata Audrey.


Kaisar mencium aroma ceruk leher Audrey yang wangi. "Hari ini jadi antar Keii ke butik?" Tanya Kaisar.


"Jadi." Jawabnya singkat.


Pernikahan Keiina dan Ryu memang hanya tinggal menghitung hari, Audrey turun langsung untuk membantu semua persiapan adik iparnya itu.


"Jangan terlalu lelah, Queen." Kata Kaisar.


"Aku tidak lelah, Sayang.. Malah aku senang bisa pergi bersama Keii sebelum Keii menjadi istri orang." Jawab Audrey.


Kaisar melepas pelukannya dan duduk di sebuah sofa yang ada di dalam ruang ganti pakaian itu.


"Ayo cepat mandi, kamu ada rapat jam sepuluh nanti." Kata Audrey.


"Mandiin." Kata Kaisar dengan manja. "Biar cepat." Imbuhnya lagi.


"Aku sudah mandi, lagi pula kalau aku mandikan kamu, bukannya cepat malah makin lama. Kasihan asisten Bayu menunggumu dibawah." Kata Audrey yang kini merangkul kepala Kaisar di perutnya dan mengusapnya dengan sayang.


**


Audrey turun untuk membantu Adelia menyiapkan sarapan, Mutia melihat wajah Audrey yang sedikit pucat.


"Audrey, wajahmu pucat. Kamu sakit?" Tanya Mutia khawatir.


"Tidak, Oma." Kata Audrey.


Adelia juga melihat wajah Audrey, "Sudah jangan bantu Mama." Adelia membawa Audrey untuk duduk di kursi meja makan.


"Aku tidak apa apa, Ma." Kata Audrey.


"Nona Audrey, apa Nona sedang hamil?" Tanya Nina yang juga sedang membantu Adelia menyajikan sarapan di meja makan.


Mutia dan Adelia saling melirik.


"Tidak, Mbak Nina. Aku tidak sedang hamil." Jawab Audrey yakin dengan nada kecewa karena Audrey baru saja memeriksanya.


Adelia mengusap pundak Audrey, "Baru dua bulan, Audrey. Masih banyak waktu." Katanya dengan bijak.


"Ya, itu betul Audrey, mungkin Tuhan masih ingin membuat kalian saling mengenal dan memahami satu sama lain." Sahut Mutia.


Audrey tersenyum, betapa beruntungnya Audrey tidak pernah tertekan untuk persoalan anak, Mama mertua dan nenek dari suaminya begitu mengerti dan tidak banyak menuntut.


**


Akhirnya, hari pernikahan Keiina dan Ryu di gelar secara mewah. Meski Keiina masih tidak ingin identitasnya di publikasi sebagai adik kandung dari Kaisar Wiguna, Kaisar tetap membuatkan sebuah pesta yang begitu megah untuk sang adik.


Anhar pun ikut meghadiri acara sakral itu meski Keiina tidak mengijinkannya untuk mendampinginya di atas pelaminan. Bahkan Kaisarlah yang mendampingi sang adik untuk berjalan ke pelaminan.


Anhar meneteskan air matanya saat Ryu mengucapkan janji sehidup semati, Anhar masih merasa seperti mimpi jika ia mempunyai seorang putri yang wajahnya cantik seperti Adelia namun memiliki sifat sama seperti Anhar.

__ADS_1


Ryu terus saja mengulas senyum saat selesai menyematkan cincin pernikahan di jari manis Keiina. Kini Keiina adalah miliknya seutuhnya, gadis dari daerah yang pertama kali membuat Ryu jatuh cinta.


"Kamu bahagia?" Tanya Ryu sambil terus menggenggam tangan Keiina.


Keiina tersenyum. "Belum pernah aku sebahagia ini. Terimakasih, Mas karena sudah menunggu aku untuk yakin."


Ryu mengangguk, "Aku akan membuatmu selalu bahagia bersamaku." Kata Ryu.


Pesta pernikahan yang megah itu, mayoritas di hadiri oleh tamu dari pihak Ryu. Ryu dengan bangga memperkenalkan Keiina pada rekan sejawatnya dan rekan bisnis keluarganya tanpa memberitahu latar belakang Keiina.


**


Ryu dan Keiina masuk ke dalam kamar hotel yang sudah di siapkan khusus untuk ke dua pengantin ini.


Keiina tersenyum saat melihat kamar hotel bertaburkan kelopak mawar putih dan merah muda yang Keiina sukai.


Wangi aroma teraphy yang menenangkan juga membuat isi kamar itu menjadi lebih romantis.


Ryu memeluk Keiina dari belakang, kini ia bebas melakukan apa saja pada istrinya itu. "Suka?" Tanya Ryu berbisik.


"Ini indah sekali, Mas. Aku suka." Jawabnya.


Ryu membalikan tubuh Keiina untuk menghadapnya. Tangannya menelusuri wajah Keiina yang cantik.


Cuppp..


Ryu mencium sekilas bibir Keiina dan Keiina tidak menolaknya.


"Lelah tidak?" Tanya Ryu dengan suara berat.


Keiina menggelengkan kepalanya dengan samar sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona.


"Mas Ryu juga tampan sekali." Balas Keiina.


"Katakan jika kamu mencintaiku, Keii." Pinta Ryu.


Keiina menatap mata Ryu dengan tatapan lembut, "Aku mencintaimu, Mas Ryu."


Ryu tersenyum, sedetik kemudian Ryu menggendong Keiina ala bridal menuju ranjang besar.


"Mas, kita belum membersihkan diri." Kata Keiina malu malu.


"Nanti saja." Jawab Ryu yang kini menidurkan Keiina di tengah ranjang.


Ryu mencium Keiina dan Keiina hanya diam saja karena ini ada pengalaman pertamanya.


"Balas aku, Baby.." Bisik Ryu.


"Aku tidak bisa." Ucap Keiina.


Ryu tersenyum penuh kemenangan, "Buka saja mulutmu." Kata Ryu sambil mulai mencium kembali Keiina.


Perlahan Keiina terbawa oleh suasana dan mulai berani membalas ciuman Ryu, suara decitan kecapan terdengar hanya oleh mereka.


Ryu membuka jasnya, lalu kemejanya dengan cepat, lalu tangannya bergerak untuk membuka gaun yang masih melekat di tubuh istrinya.


Mata Ryu tak berkedip saat melihat tubuh indah di balik gaun itu.

__ADS_1


"Mas, jangan lihat aku seperti itu, aku malu." Kata Keiina sambil menyilangkan tangannya di depan dua bongkahannya.


Ryu menarik pelan tangan Keiina, "Cantik." Ucapnya yang membuat Keiina semakin merasa malu.


Tanpa menundanya lagi, Ryu segera melucuti semua yang melekat di tubuh Keiina dan juga dirinya sendiri. Ryu menciumi seluruh tubuh Keiina dari ujung kepala hingga ujung kaki. Keiina di buat menddessah berkali kali oleh Ryu dan juga mendapatkan pelepasan pertamanya itu.


"Itu apa, Mas?" Tanya Keiina polos.


"Kamu suka?" Tanya Ryu.


Keiina mengangguk.


"Aku akan membuatmu merasakan berkali kali pelepasanmu." Kata Ryu lagi.


"Tapi aku takut." Kata Keiina.


"Takut apa?"


Keiina melirik ke bagian bawah Ryu. "Itu besar sekali."


Ryu tertawa, "Dia akan menyesuaikan diri di dalam sini." Jawab Ryu sambil memasukan satu jarinya ke bagian Keiina yang sudah basah.


Ryu membuka lebar lebar kedua paha Keiina, menelan salivanya saat melihatnya yang menggiurkan.


Dengan segera Ryu menindih tubuh Keiina tetapi masih dengan menyangganya dengan satu tangan.


"Baby, ini akan sedikit sakit. Kamu bisa mencengkram bahuku. Tahan sedikit ya." Ucapnya lembut sambil mulai mencium kembali bibir Keiina.


Keiina mengangguk dan membalas ciuman Ryu, ia menggusar rambut Ryu yang sedang menciumi bibirnya.


Di sela sela ciumannya, Ryu memulai aksinya, perlahan ia menekan miliknya di bagian inti Keiina.


Keiina mencengkram punggung Ryu, "Mas, sakkiittt. Pelan sedikit."


"Ini sudah pelan, Baby." Kata Ryu.


"Tapi sakittt." Rintih Keiina.


"Tidak akan lama, Baby.. Sabar ya.." Bujuk Ryu.


Ryu kembali meraup bibir Keiina dan di hentakan ke empat, ia berhasil menerobos mahkota Keiina.


"Sakitt sekali, Mas..." Kata Keiina sambil meringis.


"Maaf, Baby.. Maaf. Tapi ini sudah masuk. Kamu seutuhnya milikku, Baby." Ryu mengecupi seluruh wajah Keiina.


Keiina hanya tersenyum sambil meringis, menyembunyikan rasa sakit dan perih di bagian intinya, merasakan sesuatu benda asing yang terasa cukup besar di dalam bagian intinya yang kini bergerak maju mundur memberikan rasa nikmat yang luar biasa.


Hingga mereka tiba di pelesannya bersama sama. Ryu tersenyum puas karena berhasil melepas hasrat pertamanya dengan wanita yang ia cintai.


"Mau mandi?" Tanya Ryu.


"Mas duluan saja, aku masih sakit." Jawab Keiina dan di angguki oleh Ryu.


Keiina bangun dari tempat tidur saat Ryu berada di dalam kamar mandi, ia menuju sebuah meja di mana tas nya berada, Keiina membuka sebuah botol berisikan pil kecil.


"Maafkan aku, Mas Ryu. Aku belum siap hamil. Aku masih takut akan kegagalan berumah tangga seperti Mamaku." Ucap Keiina lalu meminum pil kontrasepsi yang sudah satu minggu ini ia konsumsi.

__ADS_1


Keiina segera kembali ke tempat tidur dengan tertatih karena masih merasakan nyeri di bagian intinya.


...****************...


__ADS_2