TERLUKA KARENA PERPISAHAN

TERLUKA KARENA PERPISAHAN
BAB 39


__ADS_3

"Apa aku yang harus menggantikannya pakaian?" Batin Kaisar.


"Audrey.." Kaisar kembali membangunkan Audrey dengan menepuk pelan pipinya. Namun Audrey masih tetap tidak bereaksi.


"Papa...." Lirih Audrey menginggau dan mengigaunya Audrey membuat Kaisar yang biasanya bersikap tenang berubah menjadi panik.


"Audrey, hei bangunlah Audrey." Kata Kaisar lagi.


"Aku harus mengganti pakaiannya." Gumam Kaisar kembali.


Kaisar membuka lemari Audrey, ia mengambil sebuah piyama, tanpa berpikir kembali Kaisar mulai berani menyentuh kancing kemeja Audrey sambil menahan nafasnya karna degupan jantungnya yang kencang, satu persatu akhirnya kancing kancing itu terlepas dari kaitannya bersamaan dengan hembusan nafas Kaisar.


"Maaf, Audrey." Gumam Kaisar sambil perlahan melepaskan pakaian Audrey dan juga rok nya yang sengaja ia tutupi terlebih dahulu dengan selimut.


Dengan menggunakan insting tanpa melihatnya, Kaisar berhasil melepas pakaian Audrey yang masih tertutupi selimut, namun Kaisar tidak tau bagaimana caranya memakaikan kembali pakaian di tubuh Audrey jika tidak melihatnya langsung.


"Pahh... Audrey sakit, Pah..." Gumam Audrey mengigau kembali.


Kaisar membiarkan tubuh Audrey hanya tertutupkan selimut berharap suhu tubuhnya segera menurun, Kaisar juga terus terusan mengkompres dahi Audrey dan mengelap keringatnya.


"Apa aku harus memanggil Ryu? Ryu kan dokter dan juga sepupunya Audrey." Batin Kaisar. "Ah tidak, nanti Ryu bertanya macam macam mengapa Audrey bisa tidak memakai pakaian seperti ini." Gumamnya lagi.


Waktu berjalan, namun suhu tubuh Audrey malah semakin tinggi. "Kenapa obatnya tidak bereaksi." Kaisar terus saja bermonolog.


"Pahh...." Audrey masih saja mengigau.


Kaisar langsung membuka kancing kemeja dan menanggalkan pakaiannya, ia hanya memakai boxer nya saja, tanpa berpikir lebih panjang lagi, Kaisar masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh Audrey yang hanya memakai pakaian dallam nya saja, ia merapatkan tubuhnya dan meraih Audrey ke dalam pelukannya. Kaisar menggunakan metode skin to skin untuk cara terakhirnya membuat demam Audrey turun.


"Pahh.." Audrey masih saja mengigau.


"Ada aku, Audrey. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian." Tangan Kaisar membelai punggung mulus Audrey dan juga mencium puncak kepala Audrey.


Membuat Audrey yang tanpa sadar memeluk erat tubuh Kaisar dan merasakan kenyamanan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Ada aliran hangat membasahi dada bidang Kaisar yang terbuka, tanpa di sadari Audrey begitu terharu dan membuat air matanya mengalir begitu saja dan Kaisar juga semakin mempererat pelukannya.


Sementara itu, di dalam kamarnya, Keiina meraih ponsel lainnya yang di berikan oleh Kaisar. Ia menghubungi seseorang agar mengirimkan foto foto itu langsung kepada Riska.

__ADS_1


Riska yang sedang asik bermain ponsel pun terkejut dengan adanya pesan masuk dari nomer yang tidak ia kenal yang mengiriminya banyak foto. Tentu saja itu foto foto kebersamaan Anhar dengan seorang wanita yang tidak terlihat wajahnya.


Bahkan semua foto itu terlihat berbeda beda. Terlihat dari pakaian yang berbeda meski tempat dan lokasi yang sama.


"Kurang ajar!!" Pekik Riska dengan geram. "Siapa wanita yang mencoba mendekati Anhar?" Geramnya lagi, apa lagi saat melihat wajah Anhar tertawa lepas bersama Keiina.


Riska memggeser foto demi foto yang ia terima, tak satu pun foto yang memperlihatkan wajah Keiina. "Siapa wanita itu?" Tanyanya dengan mata tak lepas dari layar ponselnya.


Keiina memang membayar seseorang untuk selalu memfoto saat dirinya bertemu dengan Anhar dengan tetap menyembunyikan wajahnya. Hal itu segaja Keiina kakukan agar Riska semakin kesal dan marah sehingga membuat dirinya bertengkar dengan Anhar.


Benar saja, Riska segera mendatangi Anhar di ruang kerjanya, "Siapa wanita itu, Mas?" Tanya Riska dengan emosi.


Anhar yang sedang berbalas pesan dengan Keiina terkejut ketika Riska tiba tiba saja menerobos masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Kamu selingkuh, hah?" Tanya Riska lagi.


"Apa maksudmu, Riska??" Tanya Anhar balik.


"Kamu sering bertemu dengan wanita di sebuah cafe, siapa dia??" Amarah Riska semakin meninggi.


"Kenapa diam? Siapa dia, Mas?" Tanya Riska lagi.


"Rekan kerjaku." Jawab Anhar berbohong.


"Rekan kerja? Tapi bertemu berkali kali di tempat yang sama, Jangan bohongi aku, Mas!!"


"Jangan campuri urusanku, Riska!!" Sentak Anhar.


Riska tertawa, "Jadi kamu menyukai wanita lain?" Tanya nya sinis. "Apa kau sudah menidurinya, Mas? Sama seperti dulu kau meniduriku saat kau masih menjadi suami Adelia?"


"Diam Riska!!" Sentak Anhar lagi.


"Kenapa aku harus diam? Apa karena aku mengingatkanmu pada dosa dosamu di masa lalu pada Adelia?"


"Aku bilang diam atau kau akan ku usir dari rumah ini!!" Kata Anhar mulai mengancam.


"Mengusirku lalu membawa wanita selingkuhanmu ke rumah ini seperti saat kamu mengusir Adelia lalu membawaku ke rumah ini, Mas?"

__ADS_1


Plakkk


Anhar menampar Riska. "Aku sudah memperingatkanmu untuk diam, tapi kau terus terusan berbicara." Anhar menyapit ke dua pipi Riska lalu mendorongnya hingga tersungkur.


Riska menangis, "Tega kamu, Mas!!"


Anhar berjongkok dan mencapit dagu Riska, "Jangan berbicara keras padaku, Adelia saja bahkan tidak pernah berbicara dengan nada tinggi padaku."


"Lalu kenapa kamu menikahiku dan membuang Adelia?!" Riska berteriak frustasi.


"Karena dulu aku begitu bodoh dengan cinta." Jawab Anhar.


Anhar berdiri lalu membelakangi Riska. "Aku mendapatkanmu namun aku kehilangan kepercayaan dari Kaisar, aku juga kehilangan kasih sayang dari Mama Mutia dan itu semua karena aku mempertahankan keegoisanku untuk mengejar cintaku yang buta!"


"Kamu menyesal, Mas?" Tanya Riska ingin tau.


Anhar menghela nafasnya, selama ini ia begitu sulit mengungkapkan penyesalannya. "Aku menyesal, aku sangat menyesal atas apa yang aku perbuat di masa lalu, mengkhianati Adelia dan memisahkan Kaisar dari Adelia." Lirihnya.


"Lalu aku bagaimana, Mas? Mengapa kau sekarang berubah padaku? Mengapa aku harus merasakan apa yang Adelia rasakan dulu? Tidak bisakah jika hanya Adelia saja yang kau sakiti, tolong jangan buat aku terluka seperti Adelia, Mas." Riska menangis dan terus saja meraung melepaskan sesak di dadanya.


Riska perlahan berdiri dari duduknya, "Siapa wanita itu, Mas? Aku akan membunuhnya sebelum kamu membuangku begitu saja seperti Adelia."


Anhar berbalik menatap tajam Riska. "Jangan sentuh dia dan jangan cari tau apapun tentangnya." Ancam Anhar.


"Kenapa? Apa kau mencintainya?" Riska memukul mukul dada Anhar.


Anhar menarik lengan Riska dan menyeretnya ke luar dari ruangan kerjanya, lalu anhar menutup pintu demgam keras dan menguncinya dari dalam.


Riska terus saja berteriak dan menggedor gedor pintu ruang kerja Anhar, ia juga menghancurkan segala barang yang ada di sekitarnya.


Sementara Anhar ia berdiri di dekat jendela dan menatap langit hitam.


"Adelia, aku sudah mendapatkan karmaku, tidak bisakah kau kembali padaku? Kembalilah Adelia." Gumam Anhar.


"Keiina, mengapa wajahmu begitu mirip dengan Adelia, membuatku tidak bisa menyelami perasaanku sendiri, sebenarnya bagaimana perasaanku padamu? Mengapa aku tidak rela jika Reno mendekatimu dan aku juga khawatir jika Riska sampai menyakitimu." Kata Anhar pada dirinya sendiri.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2