
Sinar mentari pagi menelusup melalui celah gordeyn di unit apartemen type studio milik Audrey. Audrey mengerjapkan matanya dan melihat seorang pria tampan penuh tanggung jawab yang baru semalam meminta haknya.
Wajah Audrey bersemu merah, mengingat bagaimana semalam Kaisar begitu lembut memperlakukannya, wajah penuh kepuasan saat hasratnya terpenuhi terlihat jelas di wajah Kaisar. Bahkan setelah berhasil menerobos mahkota Audrey, Kaisar dengan penuh tanggung jawab menyuapi Audrey makan malam yang sempat tertundanya, Kaisar bahkan membantu membersihkan sisa percintaan mereka tanpa rasa canggung sedikitpun.
Audrey mencium pipi Kaisar, lalu mencium ujung hidung Kaisar.
"Morning kiss yang bikin semangat." Kata Kaisar dengan suara serak khas bangun tidur.
"Sudah bangun?" Tanya Audrey.
Kaisar mengangguk, "Sudah dari tadi." Jawabnya.
"Ishh jahil." Audrey merajuk dan Kaisar tertawa lalu memeluk Audrey dan menariknya agar berada di atas tubuh Kaisar yang masih sama sama polos.
"Kai..." Kata Audrey saat merasakan sesuatu yang sudah mengeras di bawah sana.
Kaisar menatap mata bening Audrey, wajah Audrey, kemudian mengusap pipinya. "Masih sakit gak?" Tanya Kaisar ambigu.
Audrey mengangguk, tapi sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya dan membuat Kaisar tersenyum.
"Jadi, masih sakit atau tidak?" Tanya Kaisar lagi.
"Masih sedikit perih, tapi tidak terlalu." Jawabnya.
"Apa semalam aku bermain dengan kasar?" Tanya Kaisar lagi.
"Tidak, kamu lembut sekali."
Kaisar mulai mengusap punggung Audrey yang masih polos, "Aku ingin lagi. Tapi takut membuat kamu tidak nyaman."
Audrey tersenyum, ia merasa masih tak percaya jika Kaisar selalu memperdulikan dirinya, bahkan dalam hal urusan ranjang sekalipun Kaisar tidak egois dan mementingkan kenyamanan Audrey. Padahal Audrey sangat tau jika dari semalam Kaisar menginginkannya lagi namun lebih memilih membiarkan Audrey untuk beristirahat.
"Lakukanlah, Kai... Aku milikmu, kamu bisa kapan saja menyentuhku." Jawab Audrey.
Kaisar tampak ragu, terlebih saat semalam ia melihat noda merah di sprei berwarna silver milik Audrey.
"Aku juga menginginkannya." Kata Audrey karena melihat keraguan Kaisar.
Seketika membuat Kaisar menjadi percaya diri lalu membalikan posisi mereka.
Kaisar dan Audrey kembali larut dalam percintaan mereka, suara dessahhan dan erangan menggema di dalam apartemen milik Audrey itu. Tidak hentinya Kaisar membuat Audrey merasakan pelepasan berkali kali hingga membuat tubuh Audrey melemas. Namun Audrey tidak ingin membuat Kaisar tak puas, sesekali Audrey mengambil alih permainan dan membuat Kaisar akhirnya terkalahkan.
Nafas mereka saling memburu, Kaisar memeluk Audrey dan menciumi wajahnya. "Jangan pernah tinggalin aku ya." Ucapnya penuh harapan.
"Jangan bicara seperti itu, Kai." Kata Audrey sambil merangkum wajah Kaisar. "Hilangkan rasa traumamu. Aku slalu ada di sisimu, tidak akan kemana mana."
__ADS_1
Kaisar tersenyum, "Maaf. Maaf jika membuatmu tidak nyaman." Kata Kaisar.
"Tidak, Kai. Malah aku belum pernah merasakan kenyamanan seperti saat aku bersama kamu." Ucap Audrey lagi.
"Jika kamu hamil, apa kamu bahagia?" Tanya Kaisar ragu ragu. "Atau kamu ingin menundanya?" Tanya nya lagi.
Audrey tersenyum. "Jika bisa, aku ingin segera hamil dan melahirkan keturunanmu, supaya kamu yakin aku tidak akan kemana mana."
Kaisar mengangguk, "Ya, kamu benar.. Lahirkan anak yang banyak untukku agar kamu tidak kemana mana."
**
Ryu tengah berada di rumah Adelia untuk mengunjungi wanita yang kini menjadi kekasihnya itu.
Dengan tampilan yang slalu memukau, ia turun dari mobilnya dengan membawa dua buket bunga.
Karena sudah terbiasa, Ryu masuk ke rumah Adelia dan langsung menuju taman belakang, tempat favorit Mutia dan Adelia duduk santai sambil mengobrol.
"Omaa, Mama Adel..." Panggil Ryu dan menghampiri dua wanita itu.
Ryu memberikan sabuket mawar merah untuk Mutia dan sebuket mawar putih untuk Adelia.
"Indah sekali ini, Ry." Kata Adelia.
"Gombal kamu, Ry. Oma udah tua, udah gak mempan di gombalin." Kata Mutia.
"Oma belum tua, Ryu belum kasih cicit ke Oma." Balas Ryu dan Adelia hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
"Loh Mas Ryu udah datang." Sahut Keiina yang baru saja turun dari kamarnya dan langsung menuju taman belakang.
Keiina melihat Mutia dan juga Adelia yang masing masing memegang sebuket bunga. "Bunga untukku mana?" Tanya Keiina pada Ryu.
Ryu mengambil satu tangkai mawar merah muda yang ia selipkan di belakang tubuhnya dan memberikannya pada Keiina.
"Koq satu tangkai?" Tanya Keiina.
"Iya, satu tangkai itu melambangkan satu hatiku yang hanya untuk kamu seorang." Balas Ryu.
Jawaban Ryu membuat wajah Keiina bersemu merah. Sementara Mutia dan Adelia saling melempar senyum.
Mutia berdiri dari duduknya. "Adel, temani Mama ke kamar. Mama lama lama bisa kena diabetes lihat Ryu ngegombal terus."
Ryu dan Keiina tertawa. "Oma bisa aja." Kata Ryu.
"Harusnya kamu jangan jadi dokter bedah, Ry. Harusnya kamu jadi dokter cinta aja udah paling cocok." Kata Mutia.
__ADS_1
"Jangan Oma, Mas Ryu itu kan dokter cinta nya Keii." Kata Keiina yang kini merangkul lengan Ryu.
"Ishh kamu kenapa jadi bucin begini." Kali ini Adelia yang protes.
"Kan udah mau di nikahin sama Mas Ryu, Ma.." Jawab Keiina.
"Sepertinya kita benar benar akan diabetes, Ma. Melihat kebucinan dimana mana." Kata Adelia.
Ryu terus saja mengulas senyum, tidak menyangka jika kini Keiina menyambut baik cinta Ryu.
"Jadi kapan orang tuamu akan melamar resmi Keiina?" Tanya Mutia tidak sabar yang kini kembali duduk.
"Ini Ryu mau bicarakan dengan dengan Key, Oma." Jawab Ryu.
"Kak Kai dan Kak Audrey tidak ada, mereka menginap di apartemen Kak Audrey." Kata Keiina yang kini duduk bersama di sebelah Ryu.
"Katanya nanti pulang koq, tadi sudah aku telpon." jawab Ryu.
Sementara itu, Kaisar tengah membantu Audrey untuk membersihkan apartemen sebelum akhirnya ditinggalkan. Audrey ingin apartemen itu tetap terawat dan bersih meski Audrey tidak lagi tinggal di apartemennya.
"Aku merepotkanmu, padahal kamu tidak pernah melakukan pekerjaan rumah." Kata Audrey.
"Mulai saat ini, aku akan melakukan semua hal yang bisa meringankanmu termasuk mengerjakan pekerjaan rumah." Balas Kaisar dan membuat Audrey tersenyum.
"Apartemen ini akan aku lunasi." Kata Kaisar pada akhirnya.
Audrey menatap wajah Kaisar. "Sebenarnya aku ingin membelikanmu apartemen yang besar untuk sesekali kita menginap. Tapi aku tau apartemen ini berarti untukmu karena kamu membelinya dengan penghasilanmu sendiri meski masih dalam tahap cicilan." Kata Kaisar dengan hati hati. "Dan aku juga menyukai apartemenmu ini, tempat dimana aku meyakini hatiku bahwa aku benar benar jatuh cinta padamu." Imbuhnya lagi.
Audrey diam masih menunggu apa yang akan di katakan lagi oleh Kaisar.
"Aku ingin melunasinya dan merenovasi interiornya supaya lebih nyaman untuk kita berdua." Kata Kaisar lagi. "Bagaimana menurutmu?" Tanya Kaisar.
Audrey mengangguk samar.
Kaisar membawa Audrey ke dalam dekapannya, "Sesekali kita akan menginap disini, aku akan membayar orang untuk merawat apartemenmu agar tetap terawat dan bersih saat kita menginap di sini."
Audrey mengangguk, "Terimakasih." Ucap Audrey dengan tulus.
"Beritahu aku apa yang belum kamu miliki? Aku akan memberikannya untukmu." Kata Kaisar.
"Aku hanya butuh kamu sebagai tujuanku untuk tetap menjalani kehidupan yang sebelumnya aku benci." Kata Audrey.
Kaisar membelai rambut Audrey, "Aku mencintaimu, Keiina menyayangimu sebagai Kakaknya, Mama dan Oma juga begitu menyayangimu sebagai bagian dari keluarga kami. Kami semua keluargamu, Queen. Jangan pernah berpikir jika kamu hanya sendirian."
...****************...
__ADS_1